Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 10 Jan 2022 10:20 WIB ·

Deltacron


					Demonstrasi anti pembatasan Covid-19 di Berlin, Jerman. (Tanja Hermann-Wikipedia) Perbesar

Demonstrasi anti pembatasan Covid-19 di Berlin, Jerman. (Tanja Hermann-Wikipedia)

KEMPALAN: Dunia lelah mengejar atau dikejar virus Covid-19 dengan berbagai variannya. Masyarakat seluruh dunia sudah dibuat kelelahan dan bosan terkurung terus-menerus selama dua tahun terakhir. Survei terbaru di Indonesia juga menunjukkan bahwa masyarakat sudah jenuh dikejar-kejar pandemi.

Survei yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia menunjukkan indikasi kelelahan dan kejenuhan itu.  Ada empat indikator yang menunjukkan kejenuhan itu. Masyarakat yang tidak setuju pembatasan liburan natal dan tahun baru lebih besar ketimbang yang setuju pembatasan.

Ketika ditanya mengenai keharusan tes PCR sebagai syarat perjalanan 60 persen responden menyatakan tidak setuju. Angka yang kurang lebih sama juga didapat ketika responden ditanya mengenai rencana penerapan booster vaksinasi ketiga. Yang paling mencolok adalah penolakan responden terhadap vaksinasi anak-anak usia 3 sampai 12 tahun. Hampir 70 persen reponden menolak rencana itu.

Masyarakat sudah lelah dan jenuh, tapi varian baru terus bermunculan. Menjelang akhir tahun keadaan terlihat mulai terkendali. Tapi, tiba-tiba muncul varian baru Omicron. Wilayah Afrika yang selama ini dianggap aman ternyata menjadi sarang kemunculan varian baru yang menular dengan jauh lebih cepat dibanding varian-varian sebelumnya.

Dunia pun dibuat tunggang langgang. Amerika dan Eropa kalang kabut karena serangan Omicron yang menulari jutaan orang dalam waktu singkat. Varian baru ini tidak seganas varian Delta yang mematikan. Tetapi varian baru ini punya daya tular yang puluhan kali lebih cepat. Itulah yang menyebabkan dunia mengalami kepanikan gelombang ketiga.

Dalam waktu singkat di Indonesia tercatat sudah ada seribu orang yang terjangkit Omicron. Umumnya mereka adalah orang-orang yang baru balik dari perjalanan luar negeri, terutama dari Arab Saudi. Tapi, anehnya pemerintah malah membuka izin umrah dan rombongan pertama sudah berangkat di awal tahun ini.

Serangan Omicron belum reda, tetapi sudah muncul lagi varian baru yang dideteksi di Siprus. Nama varian ini adalah Deltacron, karena varian ini merupakan paduan varian Delta dengan Omicron. Kalau selama ini Omicron dianggap tidak mematikan meskipun menular dengan cepat, tetapi varian Delta dikenal mematikan. Indonesia dan India kalang kabut terserang varian Delta. Karena itu, kalau benar ada varian Deltacron dunia akan dibuat lebih kalang kabut.

Para epidemolog berbeda pandangan mengenai varian-varian baru ini. Terhadap varian Omicron epidemolog Pandu Riono dengan tegas mengatakan bahwa pemerintah menakut-nakuti rakyat dengan hantu Omicron.

Pandu tidak percaya ada gelombang penularan ketiga, karena itu pula Pandu tidak setuju dengan pembatasan liburan Nataru, dengan alasan pencegahan penularan gelombang ketiga oleh varian Omicron. Kebijakan pemerintah oleh Pandu dianggap tidak konsisten, dan karenanya masyarakat menjadi bingung.

Kejar-mengejar antara vaksin dan virus belum juga berhenti, dan ternyata virus bermutasi lebih cepat dari yang dibayangkan. Baru saja vaksin ditemukan tapi virus bermutasi lebih cepat untuk menghindarinya. Dengan mutasi baru itu virus bisa menyebar lebih cepat dan bisa lebih kebal terhadap vaksin.

Kejar-kejaran virus dengan vaksin ini terlihat tidak seimbang sehingga dunia terlihat tunggang langgang menghadapi serbuan makhluk kecil ini. Baru saja muncul varian Delta, bermutasi lagi menjadi Delta Plus, kemudian muncul Omicron, dan sekarang Deltacron.

Virus pada umumnya selalu bermutasi untuk mempertahankan diri. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari cara untuk memusnahkannya sebelum makin banyak mutasi terjadi, yang membuat virus makin susah dilawan.

Prinsip ini berlaku juga pada virus Corona, khususnya SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Mutasi terbaru yang membentuk varian Delta Plus  diakui oleh para ahli cukup mengejutkan, karena terjadi lebih cepat dari yang diduga.

Sosiolog Anthony Giddens sudah memprediksi kondisi tunggang langgang ini dalam ‘’Runaway World: How Globalization is Reshaping Our Lives’’ (1995), globalisasi membuat semuanya menjadi global termasuk penyakit. Giddens menyebut globalisasi mengubah hidup kita melalui proses ‘’manufacturing risks’’ risiko buatan, dan ‘’detradisionalisasi’’, pembongkaran kekuatan tradisional.

Risiko buatan adalah risiko yang dibuat oleh manusia sendiri karena eksperimennya terhadap ilmu pengetahuan. Semakin canggih ilmu pengetahuan dan teknologi semakin besar risiko yang dihadapi manusia. Bencana bom atom menghancurkan manusia pada perang dunia kedua. Bencana nuklir menyebabkan korban yang mengerikan di Chernobyl. Sekarang ini kemajuan bioteknologi menghasilkan efek samping virus Corona yang sampai sekarang tidak diketahui asal-usulnya.

Globalisasi juga mengubah…

Artikel ini telah dibaca 46 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Singapura

28 Januari 2022 - 11:09 WIB

Ekstradisi Para Bedebah

27 Januari 2022 - 11:15 WIB

Singapura-DW

Kebat Kliwat

26 Januari 2022 - 11:56 WIB

Jin Buang Anak

25 Januari 2022 - 11:14 WIB

Balapan

24 Januari 2022 - 10:46 WIB

Koruptor Milenial

23 Januari 2022 - 10:47 WIB

Trending di Kempalpagi