Siklus presiden merakyat, sederhana, dan tidak intelektual yang melekat pada Jokowi, mungkin, sudah waktunya diganti dengan siklus presiden yang intelektual, cerdas, smart, berbahasa Inggris dengan lancar. Profil itu sepenuhnya ada pada Anies Baswedan.
Prabowo Subianto, tentu saja, masih tetap beredar namanya. Mungkin publik masih menginginkan figur tentara untuk menjadi pemimpin nasional. Setelah era sipil Jokowi yang kurang stabil, mungkin publik merindukan sosok pemimpin yang tegas yang bisa menjamin stabilitas.
Profil semacam itu bisa didapat dari kalangan militer. Tapi apakah harus Prabowo orangnya? Itulah pertanyaannya. Prabowo sudah babak belur, kalah KO tiga kali berturut-turut dalam kontestasi perebutan kursi kepresidenan. Ibarat product life-cycle dalam ilmu marketing, Prabowo sudah sampai pada titik saturation yang memerlukan proses re-cycling total supaya laku jual.
Mungkin Prabowo masih bisa di-recycle. Tapi faktor umur tidak berpihak kepadanya. Umur tidak bisa dilawan. Prabowo akan berusia 73 tahun kalau dia masih mau maju pada pilpres 2024. Usia ini dianggap terlalu uzur bagi sebagian orang, meskipun kalau dibandingkan dengan Presiden Amerika Joe Biden atau dengan pemimpin Malaysia Mahathir Mohammad, Prabowo masih termasuk ABG.
Dalam kondisi seperti ini muncullah Andika Perkasa menyeruak di antara nama-nama yang ada. Ia tentara dengan citra perkasa sebagaimana namanya. Ia juga seorang intelektual yang memeroleh gelar doktoral dari perguruan tinggi terkemuka di Amerika.
Dalam hal intelektualitas Andika mungkin bisa menyamai SBY, meskipun sampai sekarang Andika belum banyak dikenal dengan pemikiran-pemikirannya yang konseptual. Dalam hal intelektualitas ini Andika juga bisa bersaing dengan Anies Baswedan, yang juga memeroleh gelar doktoral di Amerika.
Andika adalah kuda hitam yang harus diperhitungkan. Meskipun hanya punya waktu setahun untuk naik panggung, tetapi Andika punya cukup modal untuk mengerek popularitasnya dengan cepat. Dengan profilnya yang ‘’saleable’’, layak jual, tidak sulit untuk mendongkrak popularitas Andika di panggung pencitraan melalui media, apalagi selama ini Andika juga sudah cukup fasih bermain di media sosial.
Dalam waktu setahun Andika harus mampu bermain di panggung depan dan panggung belakang dengan efisien. Di panggung depan dia harus menunjukkan kemampuan leadershipnya. Sedangkan di panggung belakang Andika harus cerdik dan cermat memainkan citra dengan memanfaatkan media mainstream maupun media sosial.
Panggung depan Andika tampaknya terbentang cukup luas. Kepemimpinan militernya sudah terbukti bagus. Agustus lalu Andika menggelar latihan militer gabungan dengan Amerika Serikat yang melibatkan hampir empat ribu personel militer dari kedua pihak.
Ini merupakan latihan militer terbesar dalam sejarah hubungan militer Indonesia dengan Amerika. Latihan ini juga menyiratkan kecerdikan Andika dalam mengirim sinyal kepada China, bahwa Indonesia tetap independen dan konsisten memainkan kebijakan bebas aktif dalam percaturan politik internasional.
Indonesia bersahabat akrab dengan China dalam urusan ekonomi bisnis. Tapi dalam urusan militer Indonesia bebas berhubungan dengan siapa saja, termasuk Amerika. Itulah message yang dikirim oleh Andika dengan latihan gabungan itu.
Andika, Sang Jenderal Sultan, sudah siap masuk di panggung politik nasional. Untuk sementara ini dia menikmati spotlight yang positif dari media nasional. Publik seolah tersihir dan lupa untuk bertanya dari mana asal kekayaannya yang sampai Rp 180 miliar. Publik juga lupa mempermasalahkan kasus pembunuhan tokoh Papua Theys Eluay pada 2001, yang diduga melibatkan Andika. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi