Mengejutkan, PT LIB Tunggak 1,62 M Gaji Perangkat Pertandingan

waktu baca 2 menit
Logo Liga Indonesia Baru (*)

JAKARTA-KEMPALAN: Kabar kurang mengenakan menerpa PT Liga Indonesia Baru (LIB). Operator kompetisi Liga 1 itu disebut belum membayar honor perangkat pertandingan sejumlah Rp 1,62 miliar.

Kabar mengejutkan ini pertama kali terungkap dari laporan yang dikeluarkan Save Our Soccer. Mereka menyebut bahwa PT LIB jumlah uang yang belum dibayar sebesar Rp 2,15 miliar.

Honor perangkat pertandingan Liga 1 yang belum dibayarkan adalah mulai dari pekan 31 hingga pekan 34, dengan rincian, wasit utama Rp 10 juta, asisten wasit Rp 7,5 juta, wasit tambahan Rp 5 juta, wasit cadangan Rp 5 juta, dan match commissioner Rp 5 juta.

Dengan rincian tersebut maka biaya yang harus dibayar PT LIB per pertandingannya adalah Rp 45 juta, kemudian dikalikan empat pekan, dan dikalikan sembilan pertandingan per pekan sehingga total menjadi Rp 1,62 miliar.

“Sungguh menyedihkan dan memprihatinkan. Bahkan, ada perangkat pertandingan yang ingin menggadaikan BPKB kendaraan dan surat tanah demi memenuhi kebutuhan keluarga untuk lebaran.” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer.

“Inilah wajah buruk tata kelola sepakbola Indonesia. Entah apa alasan dari PT LIB menunda pembayaran honor perangkat pertandingan. Tapi, budaya buruk ini tidak boleh terulang kedepan.” tambahnya.

“Penundaan pembayaran honor perangkat pertandingan membuka celah terjadinya pengaturan skor. Baik itu match acting, match setting, maupun match fixing,” kata Akmal.

Akmal berharap agar PT Liga Indonesia Baru bisa lebih terbuka dan transparan terkait laporan keuangannya agar tidak terjadi penyelewengan dana di internal organisasi.

“PT LIB harus membuka laporan keuangannya secara transparan kepada pemilik saham. Kemana saja uang sponsor Liga 1 digunakan dan harus ada langkah hukum bila terjadi penggelapan. Ini demi sepakbola Indonesia yang sehat, profesionalan bermartabat.” imbuh Akmal.

Save Our Soccer mendukung langkah Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengaudit keuangan PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB).

“Semoga audit yang dilakukan bisa membuka borok sepakbola Indonesia. Kalau sakitnya sudah stadium 4 dan harus diamputasi maka pengurus PSSI harus berani melakukannya karena ini demi kebaikan sepakbola Indonesia.” kata Akmal.

(*) Edwin Fatahuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *