MOSKOW-KEMPALAN: Presiden Putin yang dikabarkan akan mendatangi langsung COP26 mengatakan bahwa Rusia akan berencana untuk menjadi negara dengan nol emisi karbon pada tahun 2060. Ia juga mengatakan bahwa dengan adanya tujuan tersebut, Rusia akan menghadapi restrukturisasi ekonomi besar-besaran karena pada saat ini, Rusia sangat bergantung terhadap minyak sebagai 60% pendapatan negaranya.
Dengan adanya perubahan tersebut, banyak analis yang mengatakan bahwa Rusia akan mengalami pergeseran strategi energi besar-besaran. Rusia kemungkinan besar akan berfokus pada penggunaan tenaga nuklir dan energi terbarukan serta mengimplementasikan penangkapan karbon serta mengembangkan proyek untuk memproduksi hidrogen.
Hal tersebut sangat berkebalikan dengan apa yang ada di Rusia pada saat ini karena ekonomi Rusia masih bergantung besar kepada minyak dan gas. Gazprom, sebagai badan usaha milik negara telah mengirimkan tanda-tanda bahwa mereka akan mencapai target energi hijau kedepannya. Dalam rencana tersebut sudah dapat dilihat dari Rencana Rosneft yang mengurasi emisi hingga 30% pada tahun 2035.
Melansir dari S&P Global Platts yang merupakan media independen dengan fokus pada energi, dikatakan bahwa dibalik risiko yang dimiliki Rusia karena masih ketergantungan kepada minyak, Rusia kemungkinan besar akan menambah kapasitas produksi hidrogen. Terdapat salah satu rencana oleh Rusia bahwa pihaknya akan menargetkan pasar global sebesar 20% pada tahun 2030 untuk ekspor hidrogen. Kemudian juga Rusia telah menggelontoran banyak uangnya—sebesar 9 Miliar Rubel atau setara dengan 127 Juta USD untuk membuat proyek pengembangan hidrogen.
Rusia mengumumkan bahwa paling lambat pada tahun 2060, negaranya akan menjadi nol karbon. Hal tersebut berbarengan dengan Arab Saudi dan Tiongkok yang juga memiliki rencana yang sama.
(S&P Global Platts, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi