Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 26 Okt 2021 07:55 WIB ·

YouTube: Ruang Privat dan Publik?


					Meneri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas (foto: ist) Perbesar

Meneri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas (foto: ist)

KEMAPALAN: Judul dalam bentuk pertanyaan tersebut patut dilayangkan. Ini mengingat berbagai pernyataan para pemimpin negeri ini yang seringkali mengungkapkan pernyataan yang diakui bersifat internal, tetapi kemudian menjadi sosial.

Salah satu penyataan terbaru yang kemudian layak mempertanyakan kembali posisi youtube sebagai media sosial atas pernyataan Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas.

Dalam sebuah Webinar yang diselenggarakan oleh Robithah Ma’ahid Islamiyah dan PBNU dalam peringatan Hari Santri, pada 20 Oktober 2021, Gus Yaqut, panggilan akrab Menteri agama, mengungkapkan “Kementerian Agama (Kemenag) hadiah negara untuk Nahdlatul Ulama (NU).”

Webinar tersebut ditayangkan secara langsung di kanal YouTube TVNU.

Tak pelak, pernyataan sederhana itu ternyata pelik. Kontroversi dan polemik menyeruak. Banyak tokoh Islam Nusantara kemudian mengungkap kekecewaan dan penyesalan atas pernyataan tersebut. Bahwa kementerian agama bukanlah milik NU saja, tapi milik umat Islam seluruh Indonesia.

Keluarga besar Nahdlatul Ulama pun seperti “kebakaran jenggot.” Ramai-ramai kemudian klarfikasi diajukan. Bahwa pernyataan Gus Yaqut bukanlah mencerminkan posisi NU yang direpresentasi oleh PBNU.

Gus Yaqut sendiri pun turut menglarfikasi. Pernyataannya itu adalah untuk konsumsi kalangan internal keluarga besar NU yang dimaksudkan untuk memotivasi para santri dan pesantren. “Itu saya sampaikan di forum internal. Intinya, sebatas memberi semangat kepada para santri dan pondok pesantren. Ibarat obrolan pasangan suami-istri, dunia ini milik kita berdua, yang lain cuma ngekos, karena itu disampaikan secara internal,” kata Gus Yaqut melalui keterangan tertulis, Senin (25/10/2021).

Namun, disinilah letak kontroversinya. Jika memang itu adalah pernyataan untuk kalangan internal, untuk memotivasi para santri mengapa kemudian dipublikasi via kanal media sosial YouTube yang notabenenya adalah bisa diakses oleh siapapun. Klarfikasi oleh Gus Yaqut itu pun kemudian menjadi tidak bermakna, muspro.

Polemiknya adalah dipicu karena itu disampaikan oleh seorang pejabat negara. Namun sayangnya pejabat negara ini tidak merepresantasi diri sebagai wakil dari seluruh umat. Seorang pejabat harus menaungi seluruh umat. Jika memang itu adalah pernyataan internal, tidak seputnya kemudian dipublikasi via media sosial yang sudah bisa dipastikan bersifat sosial.

Tak heran jika kemudian berbagai Lembaga keagamaan selain NU menyatakan bersedia keluar dari naungan kementerian agama. Ini tentu berbahaya karena kementerian agama yang memiliki kekuatan hukum untuk mengeluarkan peraturan negara yang berkekuatan hukum akan diabaikan oleh masyarakat karena itu bersifat untuk satu kalangan tertentu.

Inklusivitas kementerian agama sebagai Lembaga demokratis tentu telah ternodai.

Gus Yaqut sepatutnya bisa memilah mana wilayah internal dan mana yang publik. Tentunya dari undangan untuk melakukan webinar sudah terang dan jelas bahwa acara tersebut disiarkan secara luas oleh media sosial YouTube. Dan tidak sepatutnya pejabat publik menyampaikan pernyataan yang tidak publik. Ini menjadi kontradiksi pada dirinya sendiri.

Gus Yaqut sepatutnya bersabar untuk tidak menyampaikan pernyataanya yang khusus disampaikan kepada kaumnya. Karena ia adalah representasi umat secara keseluruhan.

Namun memang terlepas dari kontroversi di atas, apa yang terjadi adalah paradoks mengenai inklusivitas atapun moderasi dalam beragama oleh suatu golongan. Jika selama ini klaim bahwa satu golongan tertentu adalah represetasi Islam yang moderat dan inklusif, namun dengan pernyataan berseberangan akan menjadi sebuah dekonstruksi atas pernyataan inklusivitas dan moderasi tersebut.

Antara yang internal dan eksternal sepatutnya adalah sama. Apa yang disampaikan kepada generasi muda adalah konsistensi antara yang lahir dan yang batin.

Next: Dalam Filsafat agama dikenal…

Artikel ini telah dibaca 158 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Maksud Baik Risma

4 Desember 2021 - 13:19 WIB

Dudung Cocoke Ulama Opo Jenderal Medsos

4 Desember 2021 - 05:28 WIB

Mari Pangur Untu dan Kursus Dadi Matador

3 Desember 2021 - 06:16 WIB

Penyidik yang Tak Pupus

1 Desember 2021 - 13:48 WIB

Kepepet, Erick Thohir Mbanser + Nyokot Jokowi

1 Desember 2021 - 06:19 WIB

Banser Itu Elit

29 November 2021 - 15:06 WIB

Trending di kempalanalisis