Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 22:09 WIB
Surabaya
--°C

Anies Digoyang Attaturk

Hidayat Nurwahid, Wakil Ketua MPR RI yang politisi PKS, juga melayangkan protes terbuka. HNW yang selama ini paling getol membela dan mendukung kebijakan Anies ini meminta rencana ini dikaji ulang.

“Usulan tokoh sekuler Turki Kemal Pasha Attatürk jadi nama jalan di Jakarta hendaknya dikaji ulang. Boleh saja memberikan nama jalan Soekarno di Ankara. Tapi berlakulah seperti Maroko. Di sana ada Jalan Soekarno, tanpa minta nama jalan Raja Maroko,” twit akun @hnurwahid pada 16 Oktober 2021.

Pasalnya, kata dia, Mustafa Kemal Ataturk dikenal sebagai tokoh sekuler. Kebijakan-kebijakan Mustafa Kemal Attatürk kerap bertentangan dengan kaidah Islam yang dianut oleh sebagian besar warga Turki.

Politisi Gerindra yang juga sahabat Anies, Fadli Zon, juga menyampaikan protes. Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas bahkan menyatakan, rencana menamakan jalan dengan nama Attaturk jelas keputusan yang keblinger. Keputusan yang akan menyakiti hati umat Islam.

”Karena Attaturk itu pikirannya sesat dan menyesatkan,” tegasnya.

Presiden Jokowi meletakkan karangan bunga di Mausoleum Attaturk, pada Juli 2017 lalu. (foto suarasurabaya.net)

Penjagal Kekhalifahan Islam

Seandainya saja nama yang diusulkan bukan Attaturk, mungkin ceritanya tidak akan seheboh ini. Pasalnya, Mustafa Kemal Attaturk yang berlatar belakang militer ini, oleh sebagian besar umat Islam dianggap “musuh”. Bukan cuma di Indonesia, tapi di dunia. Attaturk, yang dalam bahasa Turki berarti “bapak bangsa”, memang founding father Republik Turki. Pendiri republik, sekalian sebagai presiden pertama.

Namun, dengan mengganti Turki menjadi negara republik, Attaturk jugalah yang dianggap mengubur kejayaan Kekhalifahan Utsmani Turki. Simbol kejayaan Islam sebagai pemimpin peradaban dunia selama 625 tahun. Attaturk dikenang sebagai orang yang bertanggungjawab memasukkan nilai-nilai sekuler pada Turki. Membentuk dan membangun Turki menjadi negara dengan sistem pemerintahan yang menjauh dari agama.

Dengan dalih modernitas, Turki menjadi negara yang jauh dari nilai-nilai islami. Sangat berbeda dengan nilai-nilai yang berlaku di sana pada masa Kekhalifahan Utsmani atau dikenal dalam ejaan barat sebagai kesultanan Ottoman yang tersohor dengan kekuatan tempur terbesar di dunia pada masa itu.

Beberapa kebijakan kontroversial Mustafa Kemal  Attaturk selama masa kepemimpinannya misalnya, mengubah azan dari bahasa arab ke bahasa Turki, pembubaran kekhalifahan, mencabut izin sekolah-sekolah berbasis agama, bahkan mengubah aturan terkait pemakaian cadar.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.