SURABAYA, KEMPALAN: Fenomena adopsi spirit doll atau boneka arwah perlu mendapat perhatian. Lantaran merawat benda mati layaknya bayi mengarah kepada perilaku tidak wajar.
Hal itu disampaikan pakar psikologi Universitas Airlangga Surabaya, Prof. Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog. “Ketika seseorang menganggap boneka tersebut hidup dan percaya bahwa mereka akan bertumbuh besar, maka hal itu telah keluar dari batas akal sehat. Perilaku tersebut menjadi keanehan tersendiri yang disebabkan oleh berbagai faktor,” tutur Prof. Nurul, Kamis (6/1).
Salah satu faktor yang mungkin ada yakni mengikuti tren di kalangan selebritis. “Bisa jadi mereka hanya mencari sensasi agar popularitasnya naik,” sambung Prof. Nurul.
Meskipun demikian, segala sesuatu tetap ada batasnya agar tidak merugikan kesehatan mental seseorang. Dia mengatakan jika ketidakwajaran itu tidak segera dihentikan, maka berisiko pada keadaan psikopatologinya yakni ketidakstabilan fungsi kejiwaan yang meliputi indera, kognisi, dan emosi.
“Segala kondisi berisiko harus ditangani sedini mungkin agar tidak semakin sulit untuk mengembalikan kepada kondisi yang rasional dan realistis,” jelas Prof. Nurul.
Tetapi dia juga mengungkapkan bahwa bagi sebagian orang bahwa boneka dapat menjadi strategi pemulihan mental. Misalnya ketika seseorang pernah kehilangan anaknya, maka boneka dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka.
“Karena secara psikologis juga boneka bisa menjadi sarana penyegaran pikiran bagi individu selama tidak berlebihan dan harus tetap di bawah pendampingan dari psikolog atau psikiater,” ungkap Prof. Nurul yang dikenal sebagai ahli psikologi kepribadian, psikologi abnormal, dan kesehatan mental.
Meski punya manfaat, Prof. Nurul menegaskan boneka hanyalah benda mati yang tidak memiliki hal-hal khusus. Jika boneka diperlakukan khusus oleh pemiliknya, dia mengimbau agar mencari tahu penyebabnya. Jika mengarah kepada perilaku negatif dan diluar batas kewajaran, maka harus dihentikan.
Adapun orang sekitar yang dekat dengan individu tersebut, juga ikut aktif memberikan perhatian. Misalkan menanyakan penyebab mereka untuk bertindak demikian.
“Selagi jawabannya masih rasional, ya tidak apa-apa,” lanjutnya.

Lain halnya ketika ketidakwajaran semakin jelas terlihat, yakni benar-benar menganggap boneka tersebut hidup, maka disarankan untuk memberi nasehat bahwa perilaku mereka mulai mengkhawatirkan. Terakhir jika masih tidak ada perubahan, maka dapat membantu mengarahkan mereka untuk datang ke psikolog atau psikiater.
“Kuncinya adalah rasional, realistis, dan proporsional. Selama tiga hal itu terpenuhi, maka kita senantiasa objektif dalam memikirkan, merasakan, dan melakukan segala hal,” pungkas dosen yang juga anggota Ikatan Psikologi Klinis Indonesia tersebut.(Nani Mashita)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi