Senin, 29 Juni 2026, pukul : 18:43 WIB
Surabaya
--°C

Guru Besar ITS Gaungkan Urgensi Manufaktur Berkelanjutan bagi Industri

KEMPALAN: Industri manufaktur memegang peran penting dalam mendorong perputaran ekonomi Tanah Air. Guna mendukung sirkulasi ekonomi yang berkelanjutan, Guru Besar ke-242 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ir Maria Anityasari ST ME PhD IPU ASEAN Eng menggaungkan konsep sustainable manufacturing sebagai suatu upaya strategis bagi industri.

Dosen Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI) ITS tersebut menyampaikan bahwa dunia industri masa kini kerap berkutat pada konsep green manufacturing atau manufaktur hijau. Konsep ini menekankan efisiensi proses dan supply chain yang hanya berorientasi pada arus ke depan (forward). “Namun, green manufacturing tidak memiliki perputaran sumber daya,” paparnya.

Memiliki pandangan visioner, perempuan asal Malang ini menawarkan pendekatan yang lebih strategis melalui sustainable manufacturing atau manufaktur berkelanjutan. Berbeda dengan green manufacturing, pendekatan ini berfokus pada siklus perputaran dalam ekosistem produksi. “Adanya perputaran resources membuat kita dapat mengurangi konsumsi sumber daya dan memberikan kehidupan kedua, ketiga, dan seterusnya pada produk,” jelasnya.

BACA JUGA  Ketika Pemburu Diburu Buruan

Mengulik lebih jauh, Maria membangun fondasi keahliannya di bidang sustainable manufacturing melalui pendalaman ilmu Life Cycle Engineering (LCE). Lulusan doktor dari University of New South Wales, Australia ini memaparkan bahwa LCE menjadi pedoman krusial dalam mempertimbangkan siklus hidup produk. Melalui pendekatan LCE, produk tidak dirancang untuk sekadar dijual lalu habis tak tersisa, melainkan memiliki usia pakai yang panjang agar dapat diolah kembali oleh industri.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran 20 November 1970 ini memfokuskan keahliannya pada proses reuse, remanufacture, dan refurbish. Menurutnya, penerapan sustainable manufacturing dapat mendukung kemandirian industri dalam negeri. Dengan kemampuan tersebut, ia pun turut berkolaborasi dengan Kementerian Perindustrian RI untuk merumuskan kebijakan circular economy.

BACA JUGA  Ketika Kritik Dianggap Konspirasi: Catatan atas Tulisan Agus M. Maksum

Sebagai langkah konkret, Kepala Laboratorium Sistem Manufaktur DTSI ITS ini mengembangkan pedoman berupa Decision Support System (DSS) yang berguna untuk pengambilan keputusan industri. Di samping itu, ia juga menciptakan Core Assessment Evaluation (CAS). “CAS membantu mengevaluasi dan memutuskan apakah suatu produk bisa di-reuse, di-refurbish, atau di-remanufacture melalui teknologi untuk mendeteksi kerusakan,” beber ibu tiga putra ini.

Dengan demikian, upaya strategis ini semakin memperkuat pencapaian ITS terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Antara lain meliputi poin ke-9 terkait Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Penerapan sustainable manufacturing diharapkan dapat mendorong percepatan ekonomi nusantara secara berkelanjutan.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.