Sabtu, 14 Maret 2026, pukul : 12:55 WIB
Surabaya
--°C

Sastra PSK: Menulis Satu Kalimat

Saiful Hadjar

Oleh: Saiful Hadjar (Penyair dan Penulis, di Surabaya)

KEMPALAN: SATU: Hidup dalam dinamika politik gelap, jelas rasa resah selalu menyelimuti dan banyak tanya yang ditimbulkan dari setiap pemberitaan televisi, radio, media cetak, media online atau diberbagai media sosial (medsos). Semuanya tak ada titik cahaya walaupun hanya sekejap saja.

Dalam situasi itu saya hanya merasakan terbukanya dunia informasi begitu hebat dan tak dapat dikendalikan. Sebuah perkembangan peradaban zaman serba blak-blakan, dihantam sajian statemant sampai narasi dengan disertai foto, video dan gambar dan sebagianya tak memberikan jeda berfikir atau merenung.

Terjadilah tumpukan persoalan dari waktu ke waktu tak pernah terselesaikan – jadi arena perang statemant, narasi, opini dan lainnya tak terelakan. Semua bergerak atas kemauan dan kepentingan setiap individu maupun kelompok. Jadi gaduh seperti kaleng-kaleng kosong berbunyi nyaring dan mengganggu kehidupan kita semua (baik yang terlibat maupun tidak).

Sementara kita sering dihantui dengan pendapat,  bahwa kita adalah bangsa besar, sangat kaya-raya dengan sumber daya alam maupun sumber daya manusia – negeri zamrud  katulistiwa, indah pemandangannya dan gemah ripah loh jinawi. Berbudaya tinggi, memiliki tatakrama, etika atau  sopan santun yang kuat.

Dengan latar belakang budaya tersebut tidak jarang pula terperangkap rasa ewuh pakewuh menghadapi ketidakadilan yang dilakukan penguasa. Sehingga tidak banyak yang berani, serba tidak enak mengkritisi penguasa berbuat zalim. Mengingat setiap yang bernada kritik dari pandangan kritis terhadap penguasa tersebut dianggap atau dicap tidak berbudaya, tidak sopan, pengacau keamanan dan seterusnya. Seperti terjadi penghapuaan atau pencekalan karya seni mural (lukisan dinding) oleh pemerintah dan pendukungnya di Tangerang dan Bagil-Pasuruan, Agustus bulan kemarin jadi viral ( mural: 404 Not found dan Dipaksa Sehat di Negeri Yang Sakit).

Penekanan rasa ewuh pakewuh dalam budaya tersebut sering pula dimanfaatkan sebagai retorika pembelaan terhadap pengauasa yang menjauh dari kepentingan, keiinginan, tuntutan atau kebutuhan rakyat pada umumnya. Sehingga menjadi sejenis pembodohan dan penipuan teroganisir dilakukan secara terang-terangan dan arogan oleh penguasa, disetai dengan berbagai opologi pembenaran menabrak konstitusi dan jadi teror. Rakyat jadi apatis atau pesimis dalam lingkaran kehidupan serba gamang, tertekan dan gaduh.

Berlangsunglah pembunuhan daya kritis di tengah  pandemi covid-19 berdampak buruk terhadap perkembangan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, keagamaan dan sebagainya. Semua jadi korban ketidakadilan penguasa memihak pada pemilik modal besar di tengah pandemi sedang berlangsung, menakutkan dan meresahkan.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.