Di era despotisme baru media berkembang pesat. Tapi, fungsi media tidak lagi menjalankan kontrol sosial melainkan sekadar menjadi sumber hiburan. Pemerintah despotisme baru sangat canggih dalam memainkan media. Mereka dirangkul menjadi bagian dari kekuasan, dan media mendapat banyak keuntungan ekonomi karena hubungan strukturasi dengan kekuasaan.
Gaya despotisme lama memimpin secara otoriter. Partai-partai politik dihilangkan atau dikerdilkan. Pemilu dilaksanakan sebagai syarat demokrasi prosedural saja. Pemilu hanya menjadi basa-basi politik menjadi topeng demokrasi.
Di masa digital sekarang, dengan kecanggihan quick count, hasil pemilu bisa diketahui lima jam setelah TPS tutup. Di zaman despotisme Orde Baru, hasil pemilu bisa diketahui lima tahun sebelum TPS dibuka.
Wajah penguasa otoriter sekarang tidak garang seperti dulu. Wajah penguasa otoriter di era Despotisme Baru ramah dan merakyat. Penguasa despotism baru suka blusukan dan bagi-bagi hadiah kepada rakyat. Tapi, di balik keramahan itu mesin-mesin despotisme bergerak dengan garang memberangus suara-suara yang berseberangan.
Jangan keliru dan tidak usah khawatir. Gambaran yang diberikan John Keane itu tidak terjadi disini, tetapi di China. Keane setidaknya menyebut China 265 kali ketika menggambarkan despotisme baru.
Alhamdulillah. Kita layak bersyukur. Mari kita lapor kepada para pemimpin kita: Lapor, Pak. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi