Hasan Aminuddin sukses mempertahankan dominasi mutlak di Probolinggo. Istrinya bisa meneruskan tradisi kekuasaan dengan baik. Sementara Hasan mengawal dari belakang menjadi bupati bayangan. Orang-orang kuat seperti ini sering disebut sebagai ‘’bupati malam’’, sementara sang istri disebut sebagai bupati siang.
Pengaruh politik Hasan masih tetap dominan, katabelecenya sangat sakti dan tidak ada yang berani membantah. Setoran dan upeti tetap mengalir lancar. Saking lancarnya, sampai upeti itu menjadi sebuah tradisi, tidak terasa sebagai korupsi. Setor upeti dengan nilai tertentu untuk menjadi kepala desa atau camat adalah tradisi, bukan korupsi.
Setor upeti untuk mendapatkan jabatan di dinas tertentu adalah tradisi, tidak terasa sebagai korupsi. Hal yang sama juga dilakukan untuk mengakali tender proyek untuk memenangkan perusahaan para kroni. Setoran sekian persen dari nilai keuntungan proyek yang diserahkan kepada para kepala daerah dianggap sebagai tradisi, bukan korupsi.
Orang-orang kuat itu menjalani tradisi ini selama puluhan tahun. Hal ini sudah menjadi habitus yang terinternalisasi secara otomatis, dan tidak terasa sebagai sebuah kejahatan. Karena tradisi ini sudah menjadi kebiasaan di lingkungan itu, maka setiap orang mengikutinya sebagai sebuah prosedur yang wajar, tidak terasa ada yang janggal.
Ibarat orang masuk kakus. Awalnya mungkin dia mencium bau tidak sedap. Dia akan melakukan adaptasi. Kalau dia tidak tahan dia akan keluar dari kakus. Kalau dia tahan dia akan beradaptasi dengan bau kakus itu. Bau busuk itu lama kelamaan tidak dia rasakannya, dan malah dia cium sebagai bau yang sedap. Setelah itu dia pun ikut mengeluarkan bau busuk dan dia menikmatinya.
Korupsi yang sudah berlangsung secara sistematis selama puluhan itu sama dengan ‘’teori kakus’’ itu. Orang yang tidak tahan akan keluar, tapi yang tahan akan tetap tinggal di dalam dan akhirnya ikut menikmati bau khas kakus itu.
Karena itu ketika seorang kepala daerah tertangkap basah oleh KPK, mereka menyangkal keras tuduhan korupsi itu. Kasus yang terjadi kepada mantan bupati Sidoarjo Saiful Ilah, mungkin bisa menjadi ilustrasi yang menarik. Ia ditangkap oleh petugas KPK yang mendatanginya di rumah dinas menjelang dinihari. Ada banyak tamu disitu, salah satunya membawa tas bingkisan berisi gebokan uang.
Petugas KPK menangkap Saiful beserta barang bukti itu. Saiful menyangkal keras bahwa ia menerima sogokan. Ia tidak merasa menerima uang itu, dan ia malah tidak tahu ada orang yang malam itu membawa uang gebokan untuknya.
Sangat mungkin bahwa Saiful tidak mengetahui malam itu ada orang yang membawa gebokan upeti. Sangat mungkin juga Saiful tidak tahu siapa saja yang memberinya upeti pada hari-hari lain sebelumnya. Semua berjalan normal menjadi habitus yang mulus, tidak terlihat ada praktik janggal dalam setor-menyetor upeti itu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi