Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 18 Sep 2021 07:18 WIB ·

Alex Noerdin dan Politik Kakus


					(Dari atas-bawah, kiri-kanan) Saiful Ilah, Puput Tantriana Sari, Hasan Aminuddin, dan Alex Noerdin (Instagram/kolase Kempalan) Perbesar

(Dari atas-bawah, kiri-kanan) Saiful Ilah, Puput Tantriana Sari, Hasan Aminuddin, dan Alex Noerdin (Instagram/kolase Kempalan)

KEMPALAN: Orang-orang kuat itu akhirnya satu persatu ditangkap dan masuk penjara. Ada yang ditangkap tangan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), ada yang dicokok oleh Kejaksaan Agung. Terbaru mantan gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, ditangkap Kejaksaan Agung atas tuduhan penyelewengan tender proyek gas bumi semasa Alex berkuasa 2010-2019.

Orang-orang kuat itu menjalani petualangan politik dengan pola yang kurang lebih sama. Mereka menjadi kepala daerah dua periode, dan selama menjadi kepala daerah terlihat sangat dominan dan menguasai perpolitikan di daerahnya. Setelah pensiun mereka tidak berhenti berkarir, tapi lanjut menjadi anggota DPR.

Ini pola jenjang karir yang umum dipakai oleh orang-orang kuat itu. Tujuannya, tentu saja, untuk mencari perlindungan politik. Dengan menjadi anggota DPR, setidaknya, ia merasa bisa mendapatkan proteksi politik, dan bersamaan dengan itu masih bisa mengontrol wilayah kekuasaannya yang lama.

Tidak sulit bagi orang-orang kuat itu untuk menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan di bekas wilayah kekuasaannya. Sepuluh tahun menjadi kepala daerah membuatnya sangat mudah mengumpulkan suara untuk menjadi anggota DPR. Logistik yang memadai dan jaringan birokrasi yang sudah dikuasai di daerah, semakin membuat langkah ke Senayan terasa enteng dan lancar.

Untuk menjaga keamanan di daerahnya orang-orang kuat itu menyiapkan suksesi, dengan memasang orang dekatnya sebagai kepala daerah. Biasanya, pilihan pertama adalah anak atau istri. Kalau tidak ada anak istri, dia mencari calon orang-orang kepercayaan.

Cara yang pertama dianggap lebih aman, atau malah paling aman. Tindakan nepotisme dengan memasang istri atau anak sebagai penerus kekuasaan dinasti menjadi modus operandi yang dilakukan orang-orang kuat itu.

Hasan Aminuddin, dari Probolinggo, memakai pola dinasti itu. Setelah dua periode berkuasa sebagai bupati, Hasan mendesain istri sambungnya, Puput Tantriana Sari, sebagai bupati penerus. Bersamaan dengan itu, Hasan meneruskan karirnya menjadi anggota DPR RI.

Sekali tembak dua burung jatuh. Sekali dayung dua pulau terlewati. Itulah pepatah yang cocok untuk menggambarkan manuver politik orang-orang kuat seperti Hasan dan lain-lainnya. Dengan menjadikan sang istri sebagai bupati penerus, sekaligus menjadikan dirinya sebagai anggota DPR, dia bisa menembak dua burung dengan satu peluru, dan melewati dua pulau dengan sekali dayung.

Artikel ini telah dibaca 287 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Kidung Sukmawati

27 Oktober 2021 - 09:26 WIB

Superman LGBT

26 Oktober 2021 - 08:32 WIB

Akil Balig

25 Oktober 2021 - 08:31 WIB

Bill Gates dan Sukmawati

24 Oktober 2021 - 06:35 WIB

Kabinet Squid Game

23 Oktober 2021 - 07:59 WIB

Republik Celeng

22 Oktober 2021 - 07:54 WIB

Trending di Kempalpagi