
KEMPALAN: Para petarung kilometer yang di kesehariannya berbekal motor menyusuri jalanan protokol kota untuk berbagai keperluan, utamanya kerja, saat ini memiliki kepakaran baru. Keluhan karena penyekatan jalan sudah tidak dirasakan lagi. Ke-nggrundel-an, sumpah serapah, dan caci maki karena penutupan jalan tidak ada lagi.
Bukan karena semua sudah normal kembali tapi karena saat ini sudah sangat ahli memiliki dan menemukan jalur-jalur pengganti. Jalur alternatif yang faktanya menjadikan komunitas ini sangat ahli dan menikmati. Begitulah perjalanan dunia yang kadang kala memang harus bergeser dan bergerak di situasi yang berbeda untuk sampai pada capaian tertentu. Untuk sampai pada suatu capaian tertentu biasanya didasarkan pada baseline yang sudah ditetapkan sebelumnya. Disinilah kata kunci sebuah raihan prestasi.
Angka 7 per 5 Agustus 2021 benar-benar menjadi angka keramat. Sesaat setelah disampaikan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Kuartal II/2021 sebesar 7,07% YoY, meriahlah sambutan, analisis, komentar, tanggapan atau apapun namanya atas nilai prosentase langka ini.
Biasalah dalam perjalanan pembangunan dan demokrasi ekonomi. Keterkejutan khalayak sulit dibendung, di tengah gelombang pandemi ekonomi yang belum sepenuhnya mati, ternyata diproklamirkan bahwa sebuah prestasi di bidang ekonomi telah terukir indah. Atas keseriusan dan kerja keras tak kenal lelah, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 sudah sangat lebih besar dibanding kuartal I-2021 yang masih di angka 0,74% YoY.
Capaian besar ini minimal dapat dilihat pada 4 indikator makro yang menunjukkan perbaikan ekonomi nasional; level Purchasing Manager’s Index, nilai perdagangan internasional yang peningkatannya cukup signifikan, kenaikan konsumsi barang modal, dan database perbaikan konsumsi masyarakat yang ter-proxy dari indeks kepuasan konsumen di level 104,4 pada bulan Mei yang sebelumnya di level 85 pada Februari 2021.
Namun sayang, di tengah capaian terbesar sejak 2004 ini, tidak sepenuhnya disambut meriah masyarakat. Sebaliknya, cukup banyak yang mempertanyakan dan bertanya-tanya atas angka keramat 7% yang diraih saat pelaku UMKM dan sektor informal masih penuh keterbatasan. Rintihan ekonomi masyarakat dan pelaku usaha masih terjadi.
Sangat sulit untuk memahami atas arti kata perbaikan dengan raihan pertumbuhan ekonomi 7,07% ini. Faktanya, kepedihan ekonomi masih ada disana sini. Mungkin ini fatamorgana, mungkin ini semu, mungkin ini ilusi, dan sejuta mungkin-mungkin lain yang menjadikan masyarakat sulit tersenyum menikmati angka 7% ini.
Dengan pertumbuhan ekonomi 7,07% sesuai tataran teori harusnya yang nampak didepan mata adalah kesehatan dan kenyamanan ekonomi. Temuan dalam beberapa diskusi publik, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 ini berasal dari basis pengukuran pada tingkatan terendah (low base effect), -5,32%, pertumbuhan kuartal II-2020.
Jika konsisten mengikuti alur pemikiran ini, dimungkinkan kuartal III-2021 akan menjadi lebih rendah karena pertumbuhan tahun lalu di kuartal III -3,49%. Inilah yang harus dipersiapkan pada kuartal III-2021 nanti, supaya kita tidak kembali terkaget-kaget kalau terjadi penurunan pertumbuhan di kuartal III-2021 nanti.
Fakta ini harus dipahami karena pengukurannya menggunakan pembanding yang terlalu jauh dibawahnya, sehingga sepertinya yang diperoleh menjadi terlihat sangat tinggi. 3,31%, angka pertumbuhan inilah yang terjadi jika pembandingnya adalah pertumbuhan kuartal I-2021. Mencermati hal yang demikian, akan lebih baik apabila ditengah euforia perolehan prestasi ekonomi, perlu juga untuk ditelusuri indikator capaian dan metode pengukurannya.
Memang, terkadang harus ditemukan jalur-jalur alternatif untuk sampai pada sebuah capaian, tidak berbeda dengan para petarung kilometer diatas yang terus berjuang menemukan jalan keluar.
Pertanyaannya sekarang adalah, dengan capaian pertumbuhan ekonomi 7,07% di kuartal II-2021 ini, apakah perbedaan yang dirasakan pelaku usaha dan masyarakat dengan pada saat capaian pertumbuhan ekonominya -5,32% pada kuartal II-2020? Salam. (Bambang Budiarto, Redaktur Tamu Kempalan.com, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi