
Catatan Ekonomi Bambang Budiarto
KEMPALAN: Apapun raihannya, yang pasti sejarah telah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi tuan rumah ajang Moto GP 2022 bertajuk Pertamina GrandPrix of Indonesia di Mandalika. Gelaran balap dari Jumat sampai Minggu, dari 18 sampai 20 Maret 2022 yang telah menempatkan Miguel Oliveira sebagai jawara ini telah berakhir dengan menyisakan banyak cerita.
Mulai terbakarnya motor Alex Rins, highside-nya Marc Marquez, kegagalan Mario Suryo Aji naik podium yang finish di urutan 14 dari 28 peserta. Ada juga aksi Mbak Rara Isti Wulandari sang pawang hujan yang ternyata juga pernah dimanfaatkan jasanya saat perhelatan opening Asian Games 2018 di Jakarta.
Klaim sukses keberhasilan tentu datang dari pihak-pihak yang bersinggungan. Menparekraf menyebut acara ini telah lancar, aman, sukses, dengan para pelaku pariwisata, ekonomi kreatif serta UMKM merasakan langsung dampak kebangkitan ekonominya. Capaian tersebut sejalan dengan pernyataan Dirut Pertamina bahwa 11.000 tenaga kerja terlibat dalam big event yang berhasil menciptakan perputaran uang Rp 500 miliar ini.
Berikutnya ada Mandalika Grand Prix Association selaku penyelenggara yang me-release penjualan tiket tembus di angka 100.000 dari berbagai kategori. Tentu saja angka ini termasuk 9 selebritis tanah air yang tertangkap kamera media berkesempatan menyaksikan langsung di sirkuit dengan panjang 4,31 km tersebut. Diluar perolehan tersebut tentu masih banyak catatan-catatan positif yang dapat ditunjukkan oleh pihak-pihak yang memang berkepentingan.
Mandalika telah berlalu saatnya kembali ke Jakarta menyongsong seri Formula-E, ajang balap mobil listrik di Ancol dengan panjang sirkuit 2,4 km. Dengan label Jakarta International E-Prix Circuit, arena yang akan digunakan pada 4 Juni 2022 ini dibangun dengan anggaran di kisaran Rp 60 miliar. Jauh lebih kecil dibanding Mandalika International Street Circuit yang tembus di angka lebih dari Rp 1 triliun. Apapun dan bagaimanapun pada akhirnya selalu melibatkan hitung-hitungan anggaran.
Baik Pertamina GrandPrix of Indonesia di Mandalika ataupun Formula-E di Jakarta, keduanya adalah sebuah proyek. Tidak sekadar proyek atas terselenggaranya agenda tersebut tapi juga proyek pembangunan sarana, prasarana, fasilitas, dan segala kelengkapan lomba sesuai standarisasi internasional. Tidak sekedar proyek tapi keduanya adalah sebuah mega proyek.
Pemahaman dasarnya, sebuah mega proyek tentu dengan pendanaan besar, dan dari mega pendanaan tersebut tentu saja dalam tinjauan makro ekonomi harus mampu tidak sekedar terwujudnya proyek tersebut tapi juga terciptanya angka pengganda (multiplier effect).
Klaim atas capaian-capaian yang disebut sebelumnya, keseluruhannya adalah sebuah multiplier effect dari aktivitas utama. Penyerapan 11.000 tenaga kerja, perputaran uang di angka Rp 500 miliar, juga kebangkitan pelaku pariwisata, ekonomi, dan UMKM. Keseluruhan hal tersebut boleh dikatakan sebagai multiplier effect dari gelaran Pertamina GrandPrix of Indonesia di Mandalika. Multiplier Effect itu sendiri sebenarnya memiliki formulasi kuantitatif dalam pengukurannya, namun secara umum semua yang disebutkan sebelumnya adalah terdapatnya multiplier effect dari sebuah aktivitas.
Ada multiplier employment, multiplier income, juga multiplier economy. Konsep dasar inilah yang tidak terbantahkan, jika suatu daerah memiliki kemeriahan, hiruk pikuk, dan ruwet atas berbagai bentuk transaksi berarti daerah tersebut sedang mengalami pergerakan ekonomi. Giliran berikutnya tentu saja yang terjadi adalah terciptanya pertumbuhan ekonomi.
Kerangka berpikir inilah yang sebenarnya ideal untuk setiap adanya out of pocket money dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Dengan berbagai pertimbangan dan alasan pula biasanya mengalami pergeseran-pergeseran sesuai dengan kepentingan dan pertimbangan non ekonomi.
Pertanyaannya sekarang, manakah yang lebih disebut sebagai sebuah keberhasilan, sukses ekonomi dalam menyelenggaran ajang balap tanpa ada anak bangsa yang berhasil naik podium atau tidak menyelenggarakan ajang balap tapi ada beberapa anak bangsa yang sukses prestasi berhasil naik podium? Salam. (Bambang Budiarto–Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi