Jumat, 19 Juni 2026, pukul : 13:34 WIB
Surabaya
--°C

Menambah Kemiskinan, Yang Ternyata Juga Tidak Mudah       

Bambang Budiarto

Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

KEMPALAN: Setelah kurang lebih dua minggu lalu hampir seluruh masyarakat gembira terhibur dan dikejutkan  goyang bareng Farel Prayoga “ojo dibanding-bandingke” di depan Pak Presiden, hari-hari ini kembali masyarakat diberikan kejutan. Per 3 September 2022 Pukul 14:30 WIB, Trio BBM (pertalite, solar, pertamax) mengalami kenaikan dengan pola tidak seperti biasanya.

Test the water atas kenaikan BBM beberapa hari sebelumnya, muncul kepanikan sehingga di akhir Agustus tengah malam antrean panjang di beberapa SPBU tidak dapat dihindarkan. Hasilnya zonk, BBM tidak naik. Senyum gembira itu ternyata hanya sesaat, dan akhir pekan minggu pertama bulan September benar-benar menjadi kelabu. Trio BBM kembali mengalami penyesuaian (baca: kenaikan harga). Tanpa masyarakat dapat siap-siap menyusun antrean di SPBU, sebab diumumkan hanya satu jam menjelang kenaikan.

Seminggu sebelumnya harga telur sebenarnya juga menciptakan catatan sejarah tersendiri, di beberapa pasar tembus di angka Rp 33.000,00 per kilogram. Harga tertinggi sejak 30 tahun terakhir. Belum lagi minyak goreng, yang fluktuasinya juga sudah terasa sejak akhir tahun lalu. Ada juga LPG dan listrik, masing-masing dengan kegagahannya sendiri-sendiri dalam menciptakan efek atas kenaikan harganya.

Namun dari seluruh keragaman kenaikan harga tersebut, tampaknya kenaikan harga Trio BBM ini yang paling menyesakkan ekonomi masyarakat banyak. Situasi yang demikian dapat dimaklumi karena Trio BBM ini memang memiliki mega efek yang luar biasa. Jika seringkali ada pemahaman bahwa tidak ada di dunia ini yang tidak bersinggungan dengan masalah ekonomi, maka dapat pula dikatakan tidak ada bidang/sektor yang tidak bersinggungan dengan BBM. Hampir semua bidang/sektor akan memiliki dampak atas pergerakan dan pergeseran harga BBM.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Dalam tataran konsep dasar makro ekonomi, kenaikan harga tidak hanya memperdalam kemiskinan tapi juga akan mampu menambah kemiskinan. Fakta ini dapat dimengerti,  dengan adanya kenaikan harga atas suatu barang yang pada akhirnya juga akan  mengakibatkan kenaikan harga-harga barang yang lain, sudah tentu masyarakat akan menjadi merasa  lebih miskin.

Dengan pendapatan yang tetap sementara  harga barang naik, sudah pasti daya beli akan turun. Bagi yang sudah miskin akan terasa semakin dalam dan berat beban ekonominya, dan bagi yang berada pada posisi di garis batas menuju kemiskinan, mereka harus rela untuk tiba-tiba masuk dalam kelompok miskin baru. Kenaikan BBM mendorong naiknhya inflasi yang pada gilirannya menumbuhkan kemiskinan.

Sejarah mengingatkan, sesuai catatan BPS atas kenaikan BBM di Maret 2005 pada bensin (32,6%) dan solar (27,3%) yang 7 bulan kemudian dinaikkan kembali; bensin (87,5%), solar (104,8%) ternyata mendorong inflasi 11,7% yang berakibat catatan inflasi akhir tahun  17,15%. Catatan kemiskinannya bergerak naik, dari 35,10 juta jiwa menjadi 39,30 juta jiwa. Kedalaman kemiskinannya menjadi 3,43% dari sebelumnya 2,78%. Tingkat keparahannya pun bergerak naik dari 0,76 bergeser menjadi bulat di angka 1.

BACA JUGA  Catatkan 71 Pukulan, Aji Pradana Menangi Series 3 Metro Golf League 2026

Anatomi APBN memang sedang berat. Besaran anggaran subsidi dan kompensasi BBM 2022 pun telah naik 3 kali lipat, dari yang seharusnya Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502,4 triliun. Namun masyarakat terdampak  sungguh tidak memerlukan hitung-hitungan tersebut. Keinginannya hanya satu, tidak kekurangan dan kehilangan daya beli.

Hiburan untuk  masyarakat dari Kemenkeu bahwa terdapat  tambahan Bansos Rp 24,17 triliun yang akan mampu menekan angka kemiskinan sebesar 1,07% akibat kenaikan harga BBM, sepertinya tidak cukup signifikan.

Bansos dengan berbagai syarat dan ketentuannya sepertinya sudah tak mampu membendung kepanikan atas kenaikan harga BBM ini. Memahami situasi yang demikian, sepertinya juga tidaklah mudah bagi pemerintah untuk memutuskan sebuah kenaikan harga.

Pertanyaannya sekarang, atas keputusan kenaikan harga Trio BBM ini, upaya apakah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan juga dilakukan oleh masyarakat itu sendiri agar mampu mempertahankan daya belinya? (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Editor: Freddy Mutiara

 

 

 

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.