Kamis, 11 Juni 2026, pukul : 13:29 WIB
Surabaya
--°C

Menurut Kajian Terbaru, Vaksin Sinopharm Tak Seberapa Lindungi Lansia

BUDAPEST-KEMPALAN: Sebuah studi baru menunjukkan bahwa vaksin Sinopharm menawarkan perlindungan yang buruk dari COVID-19 di kalangan orang tua, hal ini menimbulkan pertanyaan bagi lusinan negara yang telah memberikan suntikan perusahaan China kepada populasi mereka yang paling rentan.

Melansir The Associated Press, sebuah survei sampel darah yang diambil dari 450 orang di Hungaria setidaknya dua minggu setelah dosis Sinopharm kedua mereka menemukan bahwa 90 persen di bawah 50 tahun mengembangkan antibodi pelindung. Tetapi persentasenya menurun seiring bertambahnya usia, dan 50 persen dari mereka yang berusia di atas 80 tahun tidak memilikinya.

Studi oleh dua peneliti Hungaria diunggah secara daring minggu ini tetapi belum ditinjau oleh ilmuwan lain. Tiga ahli luar mengatakan mereka tidak memiliki masalah dengan metodologi studi vaksin yang dikembangkan oleh Institut Produk Biologi Beijing Sinopharm.

“(Temuan) ini sangat, sangat mengkhawatirkan bahwa orang-orang ini, yang berisiko tinggi, memiliki respons antibodi yang buruk,” kata Jin Dong-yan, ahli virologi Universitas Hong Kong yang tidak berafiliasi dengan penelitian ini.

Tingkat antibodi bukanlah ukuran langsung tentang seberapa terlindunginya seseorang dari COVID-19, tetapi ada semakin banyak bukti bahwa mereka adalah proxy yang baik. Seorang ahli memperingatkan bahwa pilihan alat tes dapat membatasi keakuratan pengukuran.

BACA JUGA  Mengapa Rudal-rudal Iran Seolah Tidak Ada Habisnya?

Namun, temuan penelitian ini memiliki nilai dan merupakan upaya ilmiah publik pertama untuk menganalisis efek vaksin Sinopharm pada orang tua, kata Wang Chenguang, mantan profesor di Peking Union Medical College dan pakar imunologi.

Komisi Kesehatan Nasional China menolak mengomentari penelitian tersebut, dengan mengatakan itu hanya akan menanggapi penelitian oleh pemerintah atau lembaga penelitian besar.

Seorang juru bicara WHO mengatakan pada Rabu (21/7) bahwa para ahlinya “mengetahui penelitian ini dan terus melihat semua bukti yang tersedia.” Penasihat badan tersebut mengajukan pertanyaan beberapa bulan yang lalu tentang apakah vaksin itu memberikan perlindungan pada orang berusia 60 tahun ke atas, tetapi ketika itu hasilnya baik-baik saja, seorang ahli WHO mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk berpikir vaksin tersebut akan bekerja secara berbeda pada lansia.

Vaksin ini adalah salah satu dari dua suntikan serupa yang dikembangkan oleh Sinopharm. Penelitian perusahaan milik negara China menunjukkan bahwa hampir semua peserta dalam uji klinis tahap akhir berusia di bawah 60 tahun – dan penelitinya sendiri mengatakan tidak ada cukup bukti untuk mengatakan apakah vaksin tersebut bekerja pada lansia. Secara keseluruhan, vaksin Beijing Institute itu 78% efektif.

BACA JUGA  Mengapa Rudal-rudal Iran Seolah Tidak Ada Habisnya?

Di Hungaria, kekhawatiran tentang suntikan membuat banyak orang mencari tes antibodi privat. Akhirnya ibu kota Budapest menawarkan pengujian gratis kepada penduduk lanjut usia sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk melakukan survei sendiri yang lebih luas dan memberikan suntikan penguat kepada mereka yang membutuhkannya.

Setelah awalnya menolak seruan agar pemerintahah bertindak terhadap masalah kemanjuran – termasuk dari penulis studi antibodi di atas, yakni Balazs Sarkadi dan Tamas Ferenci – Perdana Menteri Viktor Orban akhirnya menyetujui pada minggu lalu ketika menghadapi amarah publik yang meningkat. Dia mengumumkan bahwa pemerintah akan memberi warganya suntikan ketiga. (The Associated Press, reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.