KEMPALAN: Roro Jonggrang – Bandung Bondowoso, kisah sedih tak pernah terwujudnya impian dua anak manusia. Roro Jonggrang si dara jelita mensyaratkan dibuatnya 1.000 arca oleh Bandung Bondowoso dalam waktu semalam.
Dengan ketidakjujurannya Roro Jonggrang akhirnya justru menjadi arca ke 1.000 menggenapi 999 arca yang sudah dibuat oleh Bandung Bondowoso. Yang tersisa sekarang adalah candi sewu (baca: seribu) saksi bisu kegagahan Bandung Bondowoso.
Legenda ini tak dapat diulangi dan jangan berharap dapat terjadi lagi, membangun candi dengan 1.000 arca dalam semalam. Semua harus melalui pembelajaran dan semua harus melalui proses, Input Proses Output.
Demikian pula dengan Program Kolaborasi 500K Eksportir Baru yang dicanangkan Kementerian Perdagangan bersama dengan Kementerian Koperasi dan UMKM. Dalam waktu sembilan tahun harus tercipta 500.000 eksportir baru, bandingkan dengan Bandung Bondowoso yang harus menciptakan 1.000 arca dalam semalam. Sanggupkah?
Ingat, eksportir adalah orang atau badan yang melakukan aktivitas pengiriman komoditas menuju negara lain yang memiliki legalitas bernomor wajib pajak dan punya Surat Izin Usaha Perdagangan. Dalam tataran teori terbagi dalam dua jenis, yakni eksportir produsen dan eksportir non-produsen.
Harapan atas keberadaan eksportir ini adalah bahwa perannya dapat meningkatkan devisa negara dan mengembangkan industri dalam negeri. Indonesia dengan jumlah UMKM sebanyak 64 juta yang kontribusinya pada PDB di kisaran 60%, ternyata sumbangannya terhadap ekspor masih sangat rendah, tidak lebih dari 14%.
Beberapa negara tetangga sudah mencatatkan rata-rata kontribusi UMKM terhadap ekspornya melebihi 30%. Padahal serapan tenaga kerja UMKM itu sebenarnya sangat besar. Selama pandemi Covid-19 di 2020 yang lalu, terdapat penurunan nilai ekspor, +/- 2,5% (yoy), meskipun nilai ekspor masih ada di US$ 163,31 miliar.
Keterlibatan semua pihak sangat diharapkan atas Serial Konferensi 500K Eksportir Baru ini karena saluran ekspor barang saat sekarang dapat dilakukan melalui berbagai pintu. Tidak harus melakukan ekspor melalui kontainer secara mandiri atau berkelompok namun dapat juga dengan penjualan langusng melalui beberpa marketplace; amazo, lazada, shopee, dan sebagainya.
Dengan perhitungan yang matang, jangka Sembilan tahun sepertinya waktu yang cukup untuk melahirkan 500.000 ekspor baru. Masalahnya adalah perwujudan 500.000 eksportir baru ini sebenarnya nanti seperti apa, mengingat jenis eksportir itu sendiri ada dua; eksportir produsen dan non produsen.
Jika semangatnya adalah untuk peningkatan nilai ekspor yang tentunya berkaitan dengan pengembangan industri dalam negeri, maka idealnya eksportir yang lahir adalah eksportir produsen. Namun, jika orientasinya hanya mengejar angka 500.000, sejatinya tidak sulit.
Tapi ingat, yang lahir pastilah hanya eksportir jenis non-produsen. Yang mampu berbuat banyak untuk dapat lebih menggerakkan ekonomi masyarakat dan menciptakan kontribusi positif terhadap PDB serta penyeerapan tenaga kerja tentunya adalah eksportir produsen.
Mencermati hal ini, kalau kolaborasi Program Penciptaan 500K Eksportir Baru ini sudah dicanangkan beberapa waktu lalu, maka mulai sekarang kita juga sudah boleh berdoa, supaya eksportir yang tercipta adalah eksportir produsen, bukan eksportir non produsen.
Sim salabim, setelah Sembilan tahun akan ada 500.000 eksportir baru. Pertanyaaannya sekarang, akan terkabulkah doa kita? Salam. (Bambang Budiarto–Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi