Catatan Reza Maulana Hikam

Cimol Sosialis

  • Whatsapp
Pedagang cimol di Wonorejo (istimewa).

KEMPALAN: Sekitar dua tahun yang lalu, saya bersama kawan saya yang berinisial ER mampir ke sebuah kedai yang di depannya ada penjual Cimol. Sang penjual Cimol sangat murah senyum dan bersemangat. Ia melayani dengan rasa senang di wajahnya, sehingga yang membeli pun ikut senang memakan cimolnya. Bumbunya juga enak sehingga lengkap sudah kenikmatan yang sederhana dari cimol.

Pada suatu titik, saya melihat seorang datang kepada penjual cimol itu memesan barang dagangannya, setelah diberikan, sang pembeli itu lupa membawa uang. Karena sang penjual cimol itu tahu bahwa sang pembeli juga seorang pedagang, ia berkata, wes engkok ae gampang, podo-podo dagang ae kok (sudah nanti saja, gampang, sama-sama pedagang aja kok).

Seketika saya teringat sosialisme, bagaimana kerelaan dan kesetaraan (menempatkan diri sama-sama pedagang) menjadi landasan utama dari pemikiran tersebut. Sosialisme mengajarkan kita akan kemanusiaan, ora kedonyan (tidak terlalu terikat pada harta benda), seperti kata Rutger Bergman, sosialisme sudah berjalan seperti biasa di masyarakat, karena pada dasarnya manusia itu baik.

Dalam sosialisme memang ada diferensiasi (pembedaan) antara satu orang dengan lainnya, seseorang bekerja sebagai pedagang, lainnya menjadi nelayan, peternak, atau petani, namun dalam statusnya sebagai orang yang bekerja, mereka semua sama. Sosialisme tidak berusaha untuk menghilangkan keberagaman ini, tapi strata yang terbentuk akibat keinginan seseorang untuk menguasai orang lainnya.

Pada kasus pedagang cimol itu, ia tidak menempatkan dirinya di atas pembelinya, bahkan merelakan barang dagangannya untuk dibawa sang pembeli yang belum membayar. Kepercayaan yang dipegang oleh pedagang cimol itu melampaui kepercayaan diri Narcissus (figur yang begitu mencintai dirinya sendiri dalam kisah-kisah Yunani).

Menurut Will Kenton dalam artikelnya di Investopedia, salah satu cita-cita sosialisme adalah memproduksi sesuatu untuk digunakan, tidak serta-merta untuk keuntungan pribadi, sang pedagang cimol membuka jalan untuk barang produksinya agar bisa digunakan oleh orang lain, tanpa terlalu membebankan masalah transaksi atau keuntungan pribadinya, namun kita tidak boleh tidak manusiawi dengan menyarankan penjual itu tidak boleh mendapatkan keuntungan, namanya jualan cari untung itu manusiawi.

Pemberian hasil produksinya kepada pembeli itu adalah bentuk keadilan pada konsumen, ia akan menarik dan menerima uang dari mereka yang mampu membayar, dan menangguhkan atau mungkin tidak menarik uang sama sekali bagi mereka yang belum bisa atau tidak bisa membayar secara langsung. Ini adalah model fair distribution ala sosialisme yang tanpa teori, sudah dipraktikkan oleh pedagang cimol itu.

Dari pedagang cimol itu bisa dilihat bagaimana sebenarnya sosialisme bukanlah teori tanpa pijakan, namun teori yang berlandaskan pada kenyataan yang ada di masyarakat. Pedagang cimol itu hanyalah satu dari (mungkin) jutaan orang yang mempraktikkan sosialisme tanpa mengetahui teori tentang sosialisme itu sendiri, karena sosialisme lahir dari rahim masyarakat manusia. (*)

Berita Terkait