Selasa, 21 April 2026, pukul : 14:09 WIB
Surabaya
--°C

Beratnya Menuju Market Equilibrium yang Baru

KEMPALAN: Jabal Rahmah, sesuai namanya jabal berarti bukit dan rahmah artinya kasih sayang. Jabal Rahmah dalam beberapa catatan disebut sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa  setelah ratusan tahun terpisahkan. Setelahnya sampai beberapa kali keturunan jadilah kita dengan segala dinamikanya. Begitulah Jabal Rahmah, bukit di tepian Padang Arafah di pinggiran Kota Makkah  yang cukup melegenda, titik pertemuan dua manusia atas nama cinta.

Tidak berbeda dengan Jabal Rahmah, Market Equilibrium adalah juga merupakan titik pertemuan. Bedanya, Jabal Rahmah titik pertemuan dua manusia sedang Market Equilibrium adalah titik pertemuan dua kepentingan, permintaan dan penawaran. Dari pertemuan kurva permintaan dan kurva penawaran di titik keseimbangan yang telah disepakati tersebut lahirlah price equilibrium dan quantity equilibrium.

Tentu saja dengan disertai daya beli maka terjadilah transaksi yang pada gilirannya menggeser posisi barang dari penjual ke pembeli dan memindahkan alat pembayaran dari pembeli ke penjual. Sesederhana itulah pergerakan ekonomi yang secara akumulatif diyakini mampu menciptakan pemulihan ekonomi nasional seperti saat ini.

Mencermati hal tersebut pastilah sebenarnya tidak mudah untuk  sampai pada titik keseimbangan ini. Banyak faktor yang berpengaruh, adu bargaining power antara penjual dan pembeli tentu tak dapat dihindari, hal ini pula yang dapat menciptakan lahirnya titik-titik keseimbangan yang baru.

Pendapatan, selera, harga barang yang ditransaksikan, harga barang substitusi, harga barang komplementer-nya, juga harapan di masa berikut atas barang yang ditransaksikan  adalah faktor-faktor yang mampu menempatkan posisi titik keseimbangan penjual dan pembeli.

Di lapangan, yang tidak boleh ditinggalkan tentu saja adalah faktor kemampuan otot-ototan dan eyel-eyelan. Setelahnya, bertemulah titik keseimbangan yang disepakati antara penjual dan pembeli.

Namun ketika berada dalam pasar yang fixed price, lemah lunglai-lah konsumen. Produsen sebagai price maker bisa secara sepihak menentukan harga. Konsumen setuju dengan harga yang ditetapkan silahkan bertransaksi, tidak setuju silahkan ditingggalkan. Di ritel-ritel berjaringan kita menemukan pola fixed price ini, demikian pula di pasar online yang semakin menggurita di masa pandemi Covid-19.

Prinsip, di setiap ada kesepakatan harga maka di situlah martket equilibrium terjadi. Hari-hari ini masyarakat pengguna ATM di Jaringan ATM Link milik Bank Himbara (Mandiri, BNI, BRI, BTN) dibuat nggrundel atas pengenakan biaya cek saldo Rp 2.500,00 dan tarik tunai Rp 5.000,00. Berlaku per 1 Juni 2021  yang sebelumnya tidak berbiaya, price equilibrumnya Rp 0,00.

Ini adalah bentuk lain dari pola fixed price dengan konsumen atau nasabah atau masyarakat dalam posisi bargaining power yang lemah. Tidak mempunyai daya tawar, yang dimiliki hanyalah kemapuan nggrundel dan rasan-rasan. Memahami hal tersebut sejatinya per 1 Juni 2021 nanti telah terjadi market equilibrium yang baru, dengan price equilibrium Rp 2.500,00 untuk transaksi cek saldo dan Rp 5.000,00.

Tentu saja ini dengan catatan pengguna ATM Link masih bertahan sebagai nasabah di jaringan himbara tersebut, ceritanya akan lain ketika ternyata sang nasabah memutuskan untuk pindah ke bank lain. Fakta ini sebenarnya mirip yang terjadi beberapa tahun lalu ketika diputuskan bahwa untuk top-up e-money akan ada pengenaan biaya Rp 1.000,00 untuk sekali top-up.

Masyarakat sebagai konsumen lemah daya tawarnya, nggrundel dan rasan-rasannya tidak mampu merubah berubah harga. Masyarakat menerima posisi equilibrium yang baru dengan berat hati. Seiring berjalannya waktu dan semakin dirasakannya kemudahan dan kebermanfaatan e-money, masyarakat mulai tidak merasakan lagi pembiayaan top-up e-money sebagai beban.

Sudah terkondisi dengan market equilibrium yang baru. Tampaknya seperti inilah yang diharapkan oleh pengelola ATM Link di Jaringan Bank Himbara. Bagi masyarakat sebagai price taker yang tidak berdaya, tentu berat untuk menuju market equilibrium yang baru.

Berat dan terpaksa, namun setelah mengetahui keberagaman kenyamanan dan manfaatnya pada gilirannya diharapkan akan dapat menerima makert equilibriumnya yang baru dengan tanpa terpaksa.

Pertanyaannya sekarang, mungkinkah pengelola ATM kembali membebaskan biaya jika satu demi satu nasabah meninggalkan penggunaan ATM Link ini? Salam. (Bambang Budiarto–Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)  

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.