Menu

Mode Gelap

Kempalanbis · 3 Jan 2022 14:24 WIB ·

Status Pandemi Berlanjut dan Wisata “Wong Ndelok Wong”  


					Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat memantau salah satu mall di Surabaya, Jumat (31/12/2021) malam. Perbesar

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat memantau salah satu mall di Surabaya, Jumat (31/12/2021) malam.

Bambang Budiarto (penulis).

Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

KEMPALAN: “Menetapkan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang merupakan global pandemic sesuai pernyataan World Health Organization secara faktual masih terjadi dan belum berakhir di Indonesia”. Begitulah satu kalimat tanpa koma yang merupakan bagian dari penggalan kalimat dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2021 tertanggal 31 Desember 2021 telah menjawab silang pendapat masyarakat terkait diteruskan atau tidaknya status pandemi di bumi pertiwi.

Mempertimbangkan dengan baik pandemi dan penyebaran Covid-19 yang dinyatakan sebagai pandemi global oleh WHO sejak 11 Maret 2020 dan ditetapkan sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat berdasarkan Keppres Nomor 11/2020 serta bencana non-alam sesuai Keppres Nomor 12/2020. Belum berakhir dan masih berdampak multi aspek; kesehatan, ekonomi, dan sosial yang luas di seluruh Indonesia. Pertimbangan lain adalah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 37/PUU-XVIII/2020 yang menegaskan atas pentingnya status faktual pandemi Covid-19 di Indonesia.

Sesuai amanat Keppres 24/2021 dinyatakan bahwa  selama masa pandemi, pemerintah melaksanakan kebijakan di bidang keuangan negara dan stabilitas sistem keuangan berdasarkan UU No 2/2020 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan menjadi UU.

Mencermati situasi yang demikian tentu  pada akhirnya harus dimengerti bahwa tidak cukup kita menjadi saksi sejarah pandemi Covid-19 memasuki tahun ketiga, tapi harus tahu juga bahwa kekuatan anggaran negara di tahun ini juga akan terkonsentrasi untuk penanganan pandemi. Makna berikutnya bahwa keberadaan APBN di pusat ataupun APBD di daerah juga akan berbagi dengan pandemi Covid-19 yang memang pada tahun sebelumnya serapannya tidak kecil.

Ini adalah hal yang jauh lebih penting, meskipun pada saat diumumkan  presiden masyarakat mungkin lebih memperhatikan  implikasi dan efek dari status perpanjangan pandemi ini seperti penutupan dan penyekatan jalan ataupun pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat. Fakta ini dapat dimaklumi sebab pengumuman atas status pandemi  dilakukan bersamaan dengan momen kemeriahan Tahun Baru 2022 yang dengan segala kreasinya telah terdapat penyesuaian-penyesuaian perjalanan juga agenda cuti dan libur.

Tahun Baru jatuh di hari Sabtu yang berarti tidak menggeser sedikitpun kinerja perbankan dan beberapa perkantoran. Ditambah tidak ada cuti bersama, akibatnya untuk “memeriahkan”  jalan-jalan libur tahun baru menumpuk dan tertekan di dua hari ini; Sabtu dan Minggu.

Akibatnya tentu dapat ditebak, seperti dikomando masyarakat keluar memenuhi jalanan di dua hari ini. Macet dimana-mana. Jalanan saksi bisu kemacetan seperti Surabaya ke arah Malang atau Batu, Malioboro-nya Yogyakarta, juga Puncak Bogor seolah menjadi wisata tersendiri.

Wisata yang memang rutin dan cukup menyita media, wisata “wong ndelok wong”. Wisata Orang Melihat Orang. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah orang sesama orang, namun ternyata dapat dinikmati. Belum sampai destinasi favorit terpilih yang dituju dengan keunggulan view untuk swafoto, belum juga sempat bertransaksi untuk aneka kuliner khas wilayah tujuan. Semua terhenti di kemacetan dan saling pandang dalam agenda wisata wong ndelok wong.

Begitulah kita, yang sejatinya di era online tanpa batas ini sebenarnya setiap kita bisa membeli makanan khas daerah tujuan wisata dengan memanfaatkan jasa kirim secara gampang dengan aplikasi online. Pun untuk daerah tujuan wisata sebenarnya juga dengan sangat gampang dapat di-browsing di mesin-mesin pencarian ber-wifi untuk selanjutnya kita dapat mengetahui gambar, lokasi, dan informasinya.

Ternyata masih belum cukup, tetap memerlukan perjalanan untuk melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan destinasi dan kuliner khas yang dimaksud. Hasilnya kemacetan. Hasilnya wisata wong ndelok wong. Tapi memang disitulah dinamikanya dan serunya, dan yang harus disadari bahwa dengan adanya pergerakan masyarakat yang demikian ini adalah salah satu indikator bahwa ekoniomi masyarakat tumbuh.

Situasi yang demikian sebenarnya dapat dibaca sebagai auto pilot pergerakan ekonomi. Tanpa pemerintah berepo-repot dan ruwet memikirkan pergerakan ekonomi dengan berbagai kebijakan dan ketentuan-ketentuannya ternyata masyarakat telah mampu menggerakkan dirinya sendiri. Kira-kira seperti inilah pemikiran dari tokoh pasar bebas, Adam Smith.

Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah perpanjangan status pandemi ini akan mampu membawa ekonomi kembali normal dalam waktu yang lebih cepat dibanding jika tidak dilakukan perpanjangan status pandemi? Salam. (Bambang Budiarto–Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

 

Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Operasi Pasar Minyak Goreng di Gunung Sari, Wakil Walikota Armuji dan Crazy Rich Surabaya Gratiskan Minyak

28 Januari 2022 - 16:52 WIB

Luncurkan Aplikasi Sayang Warga, Pemkot Surabaya Libatkan Kader Identifikasi Masalah Sosial dan Kesehatan

28 Januari 2022 - 06:31 WIB

PT ISS Menangi Lelang Terbuka Perparkiran setelah Penawaran Tertinggi Rp32,09 Miliar

28 Januari 2022 - 06:20 WIB

OPPO eXperience Store Bandung Bawa Konsep Kepuasan Pelanggan

27 Januari 2022 - 22:15 WIB

Wagub Emil Apresiasi Pemkot Probolinggo Cetak Pelaku UMKM Berdaya Saing Global

27 Januari 2022 - 10:10 WIB

LaNyalla: Pemerintah Perlu Pikirkan Skema Distribusi Minyak Goreng

26 Januari 2022 - 12:18 WIB

Trending di Kempalanbis