Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 02:51 WIB
Surabaya
--°C

Misteri Lailatul-Qadr, Kaidah Al-Ghazali, Pendapat Imam Ahmad, dan Lainnya — #2

KEMPALAN: Masih tentang misteri lailatul-qadr, yang itu memang rahasia Allah. Namun banyak pendapat dari para alim membahas tentangnya, sebagaimana Imam al-Ghazali membuat semacam kaidah untuk menentukan “kemungkinan” kemunculan lailatul-qadr.

Dalam buku l’anatu ath-Tholibin (Menolong Para Penuntut Ilmu) karya As-Sayyid al-Bakri, disebutkan tentang “kaidah Imam al-Ghazali, bahwa waktu turunnya lailatul-qadr dapat diketahui dari awal Ramadhan jatuh pada hari apa.

Berikut ini rincian kaidah yang dibuat al-Ghazali:

– Jika awal Ramadhan jatuh pada Ahad, atau Rabu, maka lailatul-qadr akan turun pada malam 29 Ramadhan.

Jika awal Ramadhan jatuh pada Senin, maka lailatul-qadr akan turun pada malam 21 Ramadhan.

Jika awal Ramadhan jatuh pada Selasa, atau Jum’at, maka lailatul-qadr akan turun pada malam 27 Ramadhan.

Jika awal Ramadhan jatuh pada Sabtu, maka lailatul-qadr akan turun pada malam 23 Ramadhan.

Ramadhan 1442 H tahun ini, dimana awal Ramadhan jatuh pada Selasa, maka menurut kaidah dari Imam al-Ghazali, lailatul-qadr kemungkinan akan turun pada malam ke-27 Ramadhan.

Turunnya lailatul-qadr versi al-Ghazali, ini bisa jadi berdasar pengalaman yang dialaminya, dan lalu dijadikan kaidah dalam penentuan “kemungkinan” turunnya lailatul-qadr. Kaidah yang dibuatnya bisa benar/tepat, tapi bisa juga tidak tepat.

Sekali lagi, kaidah itu berdasar pengalamannya. Begitu pula pendapat ulama-ulama lainnya. Tetap tidak ada ketentuan pasti kapan peristiwa lailatul-qadr itu terjadi.

“Kemungkinan” itu bukan sesuatu yang pasti. Sedang yang pasti adalah hadits yang diriwayatkan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam:

“Carilah lailatul-qadr pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.”

Begitu pula sebuah hadits riwayat Aisyah Radhiyallahu Anha, Rasulullah bersabda, “Carilah oleh kalian keutamaan lailatul-qadr (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pendapat Kuat Lailatul-Qadr pada Malam ke-27

Ada pendapat yang amat kuat tentang lailatul-qadr, itu jatuh pada malam ke-27 Ramadhan.

Ini berdasar hadits dari Sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhu, yang diriwayatkan Imam Ahmad Radhiyallahu Anhu.

Suatu hari datanglah pada Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, seorang yang sudah sangat tua, ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya sudah sangat tua sehingga saya sangat kesulitan untuk menghidupkan malam-malam saya dari mencari lailatul-qadr. Jika saja bisa, perintahkan pada saya satu malam saja, yang semoga Allah menepatkan itu dengan lailatul-qadr.

Maka Rasulullah bersabda, “Hendaknya kamu (melakukan qiyamul-lail/ibadah malammu) pada malam ke-27.” (HR Ahmad).

Demikian pendapat Imam Ahmad, pendiri mazhab Hambali, dan dishahihkan oleh seorang ahli hadits, Imam Ibnu Huzaimah.

Ada beberapa hadits yang menguatkan lailatul-qadr itu pada malam ke-27. Diantaranya hadits dari Ubay bin Ka’ab, riwayat Tirmidzi.

Ubay berkata: Demi Allah, sesungguhnya Ibnu Mas’ud tahu bahwa lailatul-qadr itu terjadi di bulan Ramadhan, dan sungguh ia adalah malam ke-27. Hanya saja Ibnu Mas’ud tidak mau memberitahu pada lainnya, ia khawatir membuat kalian malas (beribadah di malam-malam lainnya).”

Siapa Ubay bin Ka’ab itu? Ia merupakan salah satu ahli al-Qur’an dan tafsir, yang pernah dipuja Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Sedang Ibnu Mas’ud atau Abdullah bin Mas’ud, yang disebut (Ubay bin Ka’ab), adalah Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Ia orang yang tercatat keenam memeluk Islam, saat-saat awal Rasul mengawali dakwahnya di Mekkah.

Pujian Rasulullah pada dua orang Sahabat tadi, di antara empat Sahabat Radhiyallahu Anhu, itu pada kepakarannya berkenaan dengan al-Qur’an.

Sabda Rasulullah itu, “Ambillah al-Qur’an itu dari empat orang. Yaitu dari Abdullah bin Mas’ud, Salim, Muadz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab.”

Karenanya, tidaklah patut diragukan apa yang keluar dari mulut dua Sahabat Radhiyallahu Anhu, Ubay bin Ka’ab dan Abdullah bin Mas’ud tentang malam ke-27, itulah lailatul-qadr.

Meski demikian, lailatul-qadr tetaplah sebuah misteri dan hanya Allah ta’ala yang tahu kapan lailatul-qadr itu hadir. Tapi satu hal yang pasti, itu ada pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan. Wallahu a’lam. (*)

(Tulisan akhir Ady Amar pada Rubrik Ramadhan 1442 H. Jika ada salah kata, atau pendapat yang kurang tepat, atau bahkan adab penulisan yang kurang baik, mohon dibukakan pintu maaf. Terima kasih).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.