KEMPALAN: Adakah semalam hingga dini hari, lailatul-qadr menjumpai umat muslim, yang menanti-nantikannya di masjid-masjid yang mengadakan qiyamul-lail?
Sejak siang kemarin, dalil-dalil berseliweran di jagat medsos, yang mengatakan, jika malam Jum’at di sepuluh akhir Ramadhan itu jatuh pada tanggal ganjil, maka dimungkinkan lailatul-qadr datang malam itu.
Dalilnya bersandar pada Ibnu Hubairah, yang mengatakan, “Apabila malam ganjil (dan sepuluh hari terakhir Ramadhan) jatuh pada malam Jum’at, maka itu lebih diharapkan (sebagai malam lailatul-qadr) daripada malam selainnya.” Pendapat Ibnu Hubairah, itu termuat dalam kitab Latha’iful Ma’arif, hal. 203, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. (Edisi Indonesia, penerbit Al-Qowam).
Jika lihat redaksi yang disampaikannya, itu bukanlah kepastian, tapi lebih pada pengharapan. Itu tersampaikan dari kalimat, “… maka itu lebih diharapkan (sebagai malam lailatul-qadr)…”.
Juga berseliweran sejak kemarin sore, pendapat Ibnu Taimiyah, yang menyatakan, “Apabila malam Jum’at berbarengan dengan salah satu malam ganjil dari al-‘Asyr al-Awaakhir (sepuluh terakhir Ramadhan), maka malam itu berpeluang besar terjadi lailatul-qadr dengan izin Allah.”

Tentu semua kejadian di alam ini, termasuk lailatul-qadr terjadi atas izin Allah. Sehelai daun gugur, itu pun atas izin Allah ta’ala. Jika Allah mentakdirkan semalam, malam Jum’at (malam ke-25) terjadi lailatul-qadr, maka terjadilah. Apakah semalam kita rasakan kedatangan lailatul-qadr itu, apakah tampak ciri-cirinya atau tanda-tandanya?
Sedikit tentang Kaidah Imam al-Ghazali
Lailatul-qadr memang misteri, karena itu banyak yang coba ingin memecahkan misterinya. Bahkan Imam al-Ghazali, membuat semacam kaidah, jika awal Ramadhan jatuh pada hari tertentu, maka lailatul-qadr dimungkinkan jatuh pada hari kesekian, tentu jatuh pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan.
Awal Ramadhan tahun ini, 1442 H, jatuh pada hari Selasa, dan menurut kaidah al-Ghazali, maka Ramadhan jatuh pada malam ke-27. Kaidah yang dibuatnya, itu termuat dalam buku I’anatu ath-Tholibin (Menolong Para Penuntut Ilmu), karya As-Sayyid al-Bakri (Soal kaidah al-Ghazali ini, in Shaa Allah akan disinggung lagi pada tulisan berikutnya).
Kenapa al-Ghazali membuat kaidah demikian, bisa jadi itu berdasarkan pengalamannya. Namun demikian, kepastian lailatul-qadr itu hanya Allah yang tahu.

Sedang umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan kemurahan-Nya sudah diberikan kisi-kisinya. Tinggal menjalani saja pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan.
Tidak bisa dibayangkan jika kisi-kisi itu tidak diberikan-Nya, umat harus mencari lailatul-qadr dari sejak awal Ramadhan sampai Ramadhan diujungnya. Maka tiap malam qiyamul-lail mesti dilakukan. Memang kuat?
Umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam memang dimanjakan Allah ta’ala dibanding umat-umat sebelumnya. Pemberian lailatul-qadr itu tanda kasih-Nya, yang mestinya tidak patut disia-siakan… Tetaplah semangat “berburu” lailatul-qadr, semoga mendapatkannya. (Ady Amar)


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi