Senin, 20 April 2026, pukul : 23:21 WIB
Surabaya
--°C

Misteri Lailatul-Qadr, Sedikit tentang Kaidah Imam Al-Ghazali

KEMPALAN: Adakah semalam hingga dini hari, lailatul-qadr menjumpai umat muslim, yang menanti-nantikannya di masjid-masjid yang mengadakan qiyamul-lail?

Sejak siang kemarin, dalil-dalil berseliweran di jagat medsos, yang mengatakan, jika malam Jum’at di sepuluh akhir Ramadhan itu jatuh pada tanggal ganjil, maka dimungkinkan lailatul-qadr datang malam itu.

Dalilnya bersandar pada Ibnu Hubairah, yang mengatakan, “Apabila malam ganjil (dan sepuluh hari terakhir Ramadhan) jatuh pada malam Jum’at, maka itu lebih diharapkan (sebagai malam lailatul-qadr) daripada malam selainnya.” Pendapat Ibnu Hubairah, itu termuat dalam kitab Latha’iful Ma’arif, hal. 203, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. (Edisi Indonesia, penerbit Al-Qowam).

Jika lihat redaksi yang disampaikannya, itu bukanlah kepastian, tapi lebih pada pengharapan. Itu tersampaikan dari kalimat, “… maka itu lebih diharapkan (sebagai malam lailatul-qadr)…”.

Juga berseliweran sejak kemarin sore, pendapat Ibnu Taimiyah, yang menyatakan, “Apabila malam Jum’at berbarengan dengan salah satu malam ganjil dari al-‘Asyr al-Awaakhir (sepuluh terakhir Ramadhan), maka malam itu berpeluang besar terjadi lailatul-qadr dengan izin Allah.”

Tentu semua kejadian di alam ini, termasuk lailatul-qadr terjadi atas izin Allah. Sehelai daun gugur, itu pun atas izin Allah ta’ala. Jika Allah mentakdirkan semalam, malam Jum’at (malam ke-25) terjadi lailatul-qadr, maka terjadilah. Apakah semalam kita rasakan kedatangan lailatul-qadr itu, apakah tampak ciri-cirinya atau tanda-tandanya?

Sedikit tentang Kaidah Imam al-Ghazali

Lailatul-qadr memang misteri, karena itu banyak yang coba ingin memecahkan misterinya. Bahkan Imam al-Ghazali, membuat semacam kaidah, jika awal Ramadhan jatuh pada hari tertentu, maka lailatul-qadr dimungkinkan jatuh pada hari kesekian, tentu jatuh pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan.

Awal Ramadhan tahun ini, 1442 H, jatuh pada hari Selasa, dan menurut kaidah al-Ghazali, maka Ramadhan jatuh pada malam ke-27. Kaidah yang dibuatnya, itu termuat dalam buku I’anatu ath-Tholibin (Menolong Para Penuntut Ilmu), karya As-Sayyid al-Bakri (Soal kaidah al-Ghazali ini, in Shaa Allah akan disinggung lagi pada tulisan berikutnya).

Kenapa al-Ghazali membuat kaidah demikian, bisa jadi itu berdasarkan pengalamannya. Namun demikian, kepastian lailatul-qadr itu hanya Allah yang tahu.

Sedang umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan kemurahan-Nya sudah diberikan kisi-kisinya. Tinggal menjalani saja pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan.

Tidak bisa dibayangkan jika kisi-kisi itu tidak diberikan-Nya, umat harus mencari lailatul-qadr dari sejak awal Ramadhan sampai Ramadhan diujungnya. Maka tiap malam qiyamul-lail mesti dilakukan. Memang kuat?

Umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam memang dimanjakan Allah ta’ala dibanding umat-umat sebelumnya. Pemberian lailatul-qadr itu tanda kasih-Nya, yang mestinya tidak patut disia-siakan… Tetaplah semangat “berburu” lailatul-qadr, semoga mendapatkannya. (Ady Amar)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.