Jumat, 15 Mei 2026, pukul : 09:43 WIB
Surabaya
--°C

Domestic Travel Bubble, Kenapa Tidak?

KEMPALAN: Seorang diri Adam menjelajahi sudut-sudut bumi, sejauh mata memandang yang tampak adalah pepohonan juga hutan berganti hamparan lembah ngarai dan sesekali ketemu kelokan sungai yang bermuara di laut lepas. Seorang diri, bisa dibayangkan betapa tidak mudah menjalani yang demikian.

Yang menarik untuk diketahui adalah aktivitas yang pertama kali dilakukan Adam ketika menginjakkan kaki di bumi ini. Sementara bisa dikesampingkan dulu masalah penyebab Adam terusir dari surga, lupakan dulu baik tulusnya Adam, lupakan salah dosanya. Sejenak mari kita bayangkan kegagahan, kegigihan, ketangguhan, dan kehebatan Adam yang mampu bertahan hidup dalam kesendirian.

Dan memang seperti itulah salah satu pemikiran dalam ilmu ekonomi yang salah satunya mempelajari bagaimana seseorang harus bertahan hidup. Keperkasaan Adam dalam bertahan dan menjaga keberlangsungan hidup inilah yang menurun dan membekas kepada anak cucunya termasuk kita semua yang saat sekarang harus tetap gagah bertahan hidup dan mempertahankan keberlangsungan hidup di tengah gempuran Covid-19.

Segala bentuk penurunan produksi, pembatasan mobilitas, penyekatan pergerakan,  pelarangan kegiatan dan sejenisnya menjadikan segalanya tidak mudah untuk dilalui  namun hidup harus terus berlangsung. Begitu banyak pemikiran dan alternatif solusi untuk sampai pada situasi new normal di hampir seluruh dunia.

Travel bubble adalah salah satu opsi yang kian diminati oleh beberapa negara untuk memulai kembali perjalanan lintas negara di tengah pandemi virus Corona. Termasuk Indonesia kita yang juga berencana membuka travel bubble dengan beberapa negara lain. Gagasan atas travel bubble ini cukup mudah untuk dimengerti, ketika dua negara atau lebih yang berhasil mengontrol virus Corona sepakat untuk menciptakan sebuah gelembung atau koridor perjalanan.

Gelembung ini akan memudahkan penduduk yang tinggal di dalamnya melakukan perjalanan secara bebas, dan menghindari kewajiban karantina mandiri. Inilah alasannya, memudahkan masyarakat melintasi perbatasan dengan kerumitan minimum. Beberapa penggagas travel bubble berkesimpulan bahwa peluang bisnis akan terbuka kembali dan memberi rasa aman kepada publik.

Gagasan ini juga merupakan sebuah tantangan bagi banyak negara untuk membatasi wabah virus Corona yang dapat dilakukan pemerintah dengan  mempersiapkan pelacakan kontak bagi orang-orang yang sakit saat tiba dari luar negeri untuk menyetop merebaknya wabah pada populasi yang lebih besar.

Sejatinya, travel bubble pada awalnya ditujukan bagi pengusaha yang akan bepergian ke luar negeri. Namun, pada tahapan berikut ternyata menjadikan wisatawan mancanegara juga berpeluang untuk melakukan kunjungan.

Peluang inilah yang saat sekarang sedang ditangkap oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mencoba untuk membuat beberapa kesepakatan dengan beberapa negara dalam travel bubble dengan prioritas kunjungan pada  wisata alam. Jika hal ini dapat dilakukan tentu saja ini adalah kesempatan emas untuk meraih kembali kesempatan yang hilang, meraih kembali potensi pendapatan yang hilang.

Hal ini dapat dimaklumi sebab negeri kita memang kaya akan kepemilikan wisata alam. Labuan Bajo, Desa`Wisata Liang Ndara, Bromo, Radja Ampat, tentu sangat siap menyambut kehadiran wisatawan manca negara hasil kesepakatan dalam travel bubble. Hal ini dapat dimaklumi sebab capaian devisa dari sektor pariwisata sebelum pandemi Covid-19 di awal-awal 2020 untuk catatan selama 2019 sebesar Rp 280 triliun yang berarti ada peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang Rp 270 triliun.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyebut kontribusi sektor pariwisata pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 5,5% dengan serapan tenaga kerja sebesar 13 juta jiwa. Capaian ini tentu saja harus dipertahankan dan tidak boleh lepas.

Dengan capaian-capaian tersebut berarti sektor pariwisata sudah sangat siap bersaing dengan sektor migas dalam berkontribusi terhadap PDB. Nilai lebih sektor pariwisata dibanding sektor migas adalah pada multiplier effect-nya. Pada saat pandemi Covid-19 capaian-capaian tersebut rasanya seperti mati. Mencermati hal inilah keterlibatan dalam travel bubble menjadi penting untuk kembali mengenjot dan memulihkan sektor andalan baru kontributor PDB ini. Sejatinya di saat deal travel bubble dengan beberapa negara lain belum terjadi, tidak ada salahnya jika kita sendiri melakukan uji coba.

Dapat diberlakukan domestic travel bubble, dalam arti kunjungan tersebut dilakukan antar provinsi yang melakukan kesepakatan dengan batasan-batasan persis seperti yang tertuang dalam travel bubble yang berlaku antar negara.  Bahkan tidak menutup kemungkinan dilakukan untuk ruang lingkup yang lebih kecil, antar kota/kabupaten.

Tentu saja semua dilakukan dalam koridor yang sudah ditetapkan kesepakatan-kesepakatannya tanpa satu dan tanpa sedikitpun bertentangan dengan ketentuan pemerintah pusat ataupun ketentuan satgas Covid-19. Sebenarnya domestic travel bubble sudah terjadi, terbukti dengan tetap dibukanya objek-objek wisata di tengah pelarangan mudik 6-17 Mei 2021.

Seluruh upaya-upaya tersebut sejatinya sudah menunjukkan betapa gigihnya kita secara bersama-sama bertahan hidup layaknya Adam yang harus bertahan hidup sejak pertama kali menjejakkan kakinya di bumi.

Pertanyaannya, siapakah yang dirugikan dengan adanya domestic travel bubble? Salam. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.