KEMPALAN: Suzana, artis film yang cukup melegenda dengan puluhan layar lebar yang pernah dibintangi diantaranta; Ratu Laut Selatan, Ajian Ratu Laut Kidul, juga Bangunnya Nyi Roro Kidul. Jika film-film tersebut ditawarkan ke orang-orang Swiss, mungkin saja langsung ditolak. Termasuk Water World-nya Kevin Costner.
Hal yang dapat dimaklumi. Swiss, negara elok impian destinasi masyarakat dunia ini tidak mempunyai pantai, apalagi laut. Fim-film berlatar belakang lautan tersebut tentu menjadi kurang menarik bagi negara yang sejak 1815 tidak mempunyai sejarah pertempuran melawan pemerintahan asing ini.
Menyebut kata Swiss tentu lebih terngiang cokelat ataupun kenyamanan penyimpanan uang dan keamanannya. Dengan kota-kota menawan seperti Zurich, Luzern, Zermatt, Jenewa, ataupun Basel, negara berpenduduk tidak sampai sepertiga populasi Provinsi Jawa Timur ini memiliki Gross National Product kurang lebih $700.000 miliar.
Namun, sejenak lupakan cerita Swiss dengan berbagai keindahan pegunungan es-nya, lupakan lima kota wisata di Swiss, surga para traveller dunia tersebut. Kita-pun mampu dan kita juga bisa memiliki dan menyulap kota-kota seperti Malang, Batu, Yogyakarta, Gianyar, dan Lombok menjadi kota tujuan wisata yang bisa membuka mata dunia.
Pada Kuartal I/2021 ini, sesuai release Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Swiss mencatatkan sejarah baru penanaman modal asing di Indonesia. Untuk pertama kalinya sejak republik ini berdiri dan untuk pertama kalinya pula sejak Swiss dilahirkan di 1291, negara-nya Guy Parmelin ini tercatat dalam jajaran lima besar investor asing.
Dengan realisasi investasi yang sebesar Rp 219,7 triliun di Kuartal I/2021, berarti ada kenaikan 2,3% quarter to quarter (q-t-q) dan 4,3% year on year (y-o-y). Mencermati besaran dan prosentase ini dapat dipahami bahwa telah terdapat kenaikan yang signifikan untuk Penanaman Modal Asing (PMA), Rp 111,7 triliun dari sebelumnya yang Rp 98 triliun di tahun lalu.
Fakta ini cukup mengejutkan, yang berarti telah menggeser Jepang yang selama ini masuk dalam jajaran 5 besar PMA. Dengan berkonsentrasi pada sektor-sektor makanan, minunan, kehutanan, perdagangan, reparasi, perikanan, dan industri, Swiss memiliki realisasi 500 miliar dollar AS dengan 118 proyek yang berjalan.
Terbesar kelima setelah Singapura di urutan pertama yang melakukan realisasi investasi 2,6 miliar dollar AS dengan jumlah proyek 3.634. Di urutan kedua ada China dengan 1,0 miliar dollar AS dan 813 proyek. Berikutnya Korea Selatan yang besaran realisasi investasinya 900 juta dollar AS dengan 1.220 proyek.
Korsel ini yang diyakini sebentar lagi akan naik kelas, karena pabrikan mobil sedang dipesiapkan. Urutan keempat ditempati Hongkong, 800 juta dollar AS dengan 572 jumlah proyek. Kenaikan tajam investasi ini pastinya sudah sangat diperhitungkan oleh kedua belah pihak dan bagi pemerintah Indonesia sendiri tentunya tidak boleh terlena atas besaran realisasi investasi ini. Pada tahapan berikut yang lebih penting adalah kebermanfaatan dari kenaikan realisasi investasi Swiss bagi masyarakat kita.
Dalam konsep dasar makro ekonomi ada trickle down effect, diperkenalkan Albert Hirschman. Dampak tetesan ke bawah, pentingnya peran kutub pertumbuhan sebagai penggerak utama pertumbuhan yang selanjutnya dan menyebarkan hasil pembangunan tersebut ke wilayah lain.
Pada tahapan berikut pemahaman trikle down effect ini telah mengalami perkembangan yang tidak hanya untuk pertumbuhan wilayah namun lebih pada pertumbuhan ekonomi yang tercipta yang berfokus pada pemilik uang yang menanamkan uangnya untuk kemudian merembes ke lapisan masyarakat bawah dan bermanfaat bagi semua. Mencermati pemahaman ini tentu kita boleh berharap akan nilai lebih atas kenaikan investasi dari Swiss ini.
Jangan sampai aliran profit atas investasi tersebut akhirnya akan “mengalir” deras kembali ke Swiss, sementara yang ke masyarakat kita bukan “aliran” tapi “tetesan.” Berangkat dari pemikiran yang demikian tentu pihak terkait harus sudah mulai menyusun strategi, bahwa proyek-proyek yang dilakukan haruslah proyek yang mampu melakukan penyerapan tenaga kerja, menaikkan pendapatan masyarakat, dan menciptakan pertumbuhan.
Tiga masalah ini memang utama terlebih di masa pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir seperti saat ini. Akhirnya, selamat untuk Swiss yang sudah bergabung di lima besar investor asing. Selamat datang Swiss, tapi masyarakat tidak menunggu trickle down effect-mu, kita akan berjuang mendapat “aliran”-mu.
Pertanyaannya sekarang, faktor-faktor apa yang sebenarnya menjadikan Swiss menjatuhkan keputusan untuk menaikkan investasinya di Indonesia? Silahkan direnungkan. Salam. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi