SURABAYA-KEMPALAN: Kurang lebih sebulan sekali, dosen Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya (UBAYA) Ida Bagus Made Artadana S.Si., M.Sc. rela menempuh perjalanan 70 kilometer dari rumahnya di kawasan Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, menuju Integrated Outdoor Campus UBAYA di Trawas hingga ke Handoyo Budi Orchid, Malang. Tujuannya satu: mendistribusikan bibit anggrek fase seedling ke distributor anggrek itu.

Budi Orchid adalah salah satu distributor anggrek yang menampung bibit anggrek botolan yang ditanam green house Pusat Pembibitan Anggrek UBAYA (PPAU). Green house PPAU ini berada di bawah pengelolaan Fakultas Teknobiologi UBAYA. “Biasanya saya pergi bersama istri. Kebetulan saya hobi jalan, melihat-lihat pemandangan dan tempat-tempat baru,” ujar pria yang juga trainer senior Olimpiade Biologi nasional di Kemendikbud itu.
Hari itu, tak kurang seribuan bibit anggrek dalam fase seedling dikirimkan Arta ke Budi Orchid menggunakan mobil Honda Brio putih kesayangannya. Nilai duitnya Rp10 jutaan. Namun, selalu rutin dikirimkan ke beberapa penyalur anggrek di Jawa Timur.

“Kita juga ada kontrak penjualan anggrek dengan para penyalur anggrek ini,” terang Dekan Fakultas Teknobiologi Dr.rer.nat. Sulistyo Emantoko D.P., S.Si., M.Si. Berkat aktivitas tersebut, PPAU UBAYA memperoleh kucuran dana hibah pengabdian masyarakat sebesar Rp197 juta dari Kemenristek/BRIN. Hibah itu diperoleh melalui skim pendanaan multi-tahun Program Pengembangan Unit Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Direktorat Riset dan Pemberdayaan Masyarakat (DRPM) Direktorat Riset dan Pengembangan Kemenristek/BRIN tahun 2020 dan tahun 2021. Asal tahu saja, PPUPIK merupakan skim pendanaan untuk pengembangan unit usaha kampus yang diberikan oleh pemerintah pusat melalui Kemenristek/BRIN.
PPAU UBAYA sendiri, kata Emantoko, doktor dari Postdam University, Jerman, mulai dirintis dengan pembangunan green house berukuran 25×12 meter di Integrated Outdoor Campus UBAYA Trawas pada tahun 2019. Kampus ini berada di luar Kota Surabaya, di daerah lereng Gunung Penanggungan, Trawas, yang berhawa sejuk. Di dalam bangunan green house seluas 300 meter persegi ini, ribuan bibit anggrek dari berbagai jenis dikembangkan.

Saat itu, ujar pria yang menekuni bidang nutritional science tersebut, green house dibangun setelah mendapatkan pendanaan hibah kompetitif internal dari UBAYA senilai Rp600 juta. “Intinya, Fakultas Teknobiologi UBAYA ingin supaya bisa memiliki suatu unit yang bisa mendatangkan uang melalui unit bisnis kampus. Nah, ketika ada skema hibah PPUPIK dari pemerintah, saya berpikir untuk mengajukan hibah pengembangan unit usaha kampus ke pemerintah dan membentuk Pusat Pembibitan Anggrek UBAYA (PPAU),” terang Emantoko.
Wakil Dekan Fakultas Teknobiologi Dr. Ir. Popy Hartatie Hardjo, M.Si. menambahkan anggrek yang dikembangkan dan dijual oleh PPAU UBAYA adalah dari jenis dendrobium dan phalaenopsis atau anggrek bulan. “Kami juga menyilangkan sendiri anggrek-anggrek, sehingga akan menghasilkan anggrek yang berbeda dengan yang ada di toko,” ujar dosen senior yang juga pakar penyilangan tanaman ini.
Selain melalui penyalur dan toko anggrek mulai Malang, Batu, hingga Surabaya, penjualan anggrek juga dilakukan melalui outlet yang ada di kampus UBAYA, market place e-commerce Tokopedia hingga media sosial. “Terus kami kembangkan. Omzet kami sudah tembus ratusan juta per tahun 2021 ini. Pasar anggrek masih luas, mulai dari penghobi anggrek, hotel, kantor-kantor, dan sebagainya,” pungkas Popy. (Freddy Mutiara)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi