Minggu, 19 April 2026, pukul : 04:45 WIB
Surabaya
--°C

Konektivitas Digital dan Konektivitas Ekonomi, Spiderman pun Tahu

KEMPALAN: Long-Distance Relationship (LDR), dikalangan milenial sering dipahami sebagai hubungan jarak jauh antar pasangan yang secara geografis mengalami pemisahan dan kurangnya kontak tatap muka. Semua dapat dijalani asalkan masih ada konektivitas dan kepercayaan diantara keduanya.

Ada juga Loan to Deposit Ratio (LDR),  LDR dalam bentuk lain  yang lebih dikenal sebagai rasio pinjaman terhadap simpanan yang digunakan untuk menilai likuiditas bank dengan membandingkan total pinjaman dengan total simpanan pada periode yang sama.

Gampangnya, apabila perhitungan LDR menunjukkan rasio tinggi, berarti bank tersebut meminjamkan banyak dana yang dimilikinya.  Artinya bank tersebut relatif tidak liquid. Tidak jauh berbeda dengan hal tersebut, adalah angka gula darah. Tinggi rendahnya dapat digunakan untuk melihat orang tersebut sehat atau tidak.

Angka LDR pun menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat bank tersebut sehat atau tidak. Sama dengan LDR-nya milenial tadi, LDR yang inipun memerlukan konektivitas dalam operasionalnya. Begitulah pentingnya konektivitas, yang di abad ini sangat diperlukan di semua lini, semua bidang, dan semua sektor, tidak hanya konektivitas manual namun juga konektivitas digital.

Adalah Spiderman si manusia laba-laba yang telah menyadarkan beberapa di antara kita atas pemahaman betapa pentingnya keterkaitan, koneksi, jaring ataupun jaringan. Dengan satu tali tentu tak akan kuat namun dengan banyak tali dalam rangkaian jaring akhirnya menjadi kuat dan lebih mudah.

Spiderman telah mengajarkan kepada kita arti penting networking. Betapa orang akan tetap dalam kesulitan ketika tidak memiliki jaringan, baik jaringan pertemanan ataupun jaringan bisnis. Jika jaringan ataupun konektivitas tidak dimiliki, sepertinya semua aktivitas-aktivitas bisnis akan sulit, bahkan terhenti tanpa memiliki makna ekonomi.

Sebagai perwujudan untuk memudahkan dan menjadikan semua aktivitas menjadi lebih baik dan lebih memiliki nilai tambah ekonomi, saat ini sedang diluncurkan Program Konektivitas 2021 oleh Kementrian Kominfo. Proram strategis ini diharapkan tidak hanya menjadi prasyarat bagi transformasi digital tapi juga menjadi akselerator bagi transformasi dan reaktivator untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Sesuai namanya tentu saja program ini berwujud pembangunan infrastruktur telekomonukasi juga pengembangan sumber daya manusia melalui talenta digital nasional. Kaitannya dengan hal tersebut Kementerian Kominfo berupaya untuk penyediaan jaringan telekomunikasi di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal.

Cukup monumental, karena membangun BTS di 4.200 desa/kelurahan pada tahun 2021 ini, dan di 3.704 desa/kelurahan pada tahun berikutnya di wilayah 3T dengan sinyal 4G.  Harapannya adalah untuk juga penyediaan akses internet bagi 150.000 titik layanan publik yang belum tersedia akses internet dari total 501.112 titik layanan publik di Indonesia.

Proyek mercusuar ini tentu saja diimpikan banyak masyarakat, cukup besar harapan disandarkan pada proyek ini yang tentu saja muaranya adalah didapatkannya nilai lebih jika memiliki konektivitas yang lebih baik. Nilai lebih tersebut tentu saja mengikuti konsep dasar yang ada adalah adanya peningkatan kesejahteraan yang dapat diproxy melalui besaran angka-angka pendapatan. Hal ini karena memang variabel target dalam pembangunan ekonomi nasional adalah adanya peningkatan pendapatan nasional.

Kita punya harapan besar terhadap proyek ini dan kita semua bangga dengan Program Konektivitas Digital 2021 ini, namun jika ternyata tidak optimal pemanfaatannya, tentu saja sia-sia. Tidak boleh hanya  bangga dengan dapat ber-swa foto berlatar belakang Program Konektivitas Digital 2021 ini, namun juga harus sampai pada muncul pernyataan dari masyarakat di wilayah 3T tadi, “alhamdulillah, dari fasilitas publik yang disediakan gratis oleh pemerintah, sekarang saya dapat mengirimkan tas-tas kulit industri rumahan ini ke Surabaya.”

Misalnya seperti itu, dan memang itulah harapannya agar nampak nyata nilai lebih program konektivitas digital ini. Pemahaman ini tentu saja meruntuhkan bangunan konsep dasar Spiderman bahwa konektivitas harus dalam bentuk manual berupa jaring-jaring kokoh untuk dapat menggapai sudut-sudut tersempit sekalipun.

Konektivitas tak harus manual, sesuai era-nya  bisa dalam bentuk    digital. Tentu saja konektivitas tersebut harus memiliki nilai lebih, menjadi konektivitas ekonomi yang pada gilirannya harus memiliki nilai lebih. Semoga. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.