Selasa, 23 Juni 2026, pukul : 18:17 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: Sumi merasa lega kasusnya sementara sudah beres.  Meski dia masih merasa khawatir karena Dipo sepertinya nggak akan berhenti sampai di situ. Sumi berterima kasih kepada Andi Wijaya yang sudah membantu penyelesaian kasusnya. Dia melihat dua sisi yang berbeda dari Dipo dan Andi. Dipo begitu iri dan benci kepada dirinya. Sepertinya tidak habis-habisnya perasaan iri dan bencinya ke dia. Sementara Andi rela membelanya tanpa minta bayaran. Sumi berpikir sesama manusia kenapa ada 2 kutub  ekstrim sikap manusia yang bertolak belakang. Mungkin itu yang membuat dunia berputar. Jika semua manusia baik, maka surga tidak berarti.

Sumi bersama mboknya datang ke kantor Andi.

Kali ini keduanya tidak takut lagi.

Naik mobil menyusuri jalan dari Cokro ke arah Janti lalu belok kanan ke arah Tegalgondo melewati Sidowayah..

Tidak berapa lama sudah sampai Kartosuro. Lanjut ke Slamet Riyadi Solo.

” kulonuwun…”

” Oo silakan….” sambut sekretaris Andi.

Andi pun segera keluar menyambut.

Keduanya masuk ke ruang dalam. Beberapa klien sudah selesai dilayani. Giliran Sumi. Andi merasa ada tamu istimewa.

” Silakan mbak Sumi. Selamat ya.”

Mbok Kartiyem memberikan oleh-oleh belut goreng dan opor bebek ke Andi.

” Pak Andi kami datang untuk mengucapkan terima kasih.”

” Oo ya mbak sama -sama. Saya kok senang bisa membantu.”

” Pak jadi kami merasa berhutang budi. Berapa kami harus bayar fee untuk konsultasi dan pembelaan?”

” Oh mbak benar, saya tidak minta fee. Ikhlas membantu.”

Suasana hening sejenak.

” Ko Andi nggak ingat sama saya to? ” tanya Lik Kartiyem nekat.

” Hmm…saya agak lupa bu.”

” Saya dulu yang momong waktu koko masih kecil.Nyuapi, memandikan.”

” Oh…papa pernah cerita. Tapi saya lupa. Ini ya Mbok Kartiyem.” kata Andi sambil memegang tangan Lik Kartiyem hangat.

” Wah sekarang sudah besar, ganteng, gagah.” sahut Kartiyem makin berani sambil menepuk-nepuk pundak Andi.

“Wah terima kasih bu..” Andi agak salah tingkah.

Andi bolak balik melirik Sumi yang duduk sambil senyum-senyum melihat mboknya bicara ceplas-ceplos.

” Hmm cantiknya wanita ini”  batin Andi.

” Silakan kalau sedang renang ke Cokro mampir ya Pak. Toko Ijo, Cokro ya.”

” Oh ya dengan senang hati.”

Lalu keduanya minta pamit.

Andi merasa berat ketika keduanya pamitan. Andi ingin mengobrol lebih lama dengan Sumi.

Keduanya bersama sopir pulang dan mampir di soto Ledokan Kartosuro. Sumi sengaja mengajak mboknya menikmati kebahagiaan.

” Ayo mbok ini sotonya seger, gurih. Nggak pakai motto, kaldu sapi asli.” ajak Sumi.

” Wah soto lik Marto kalah ini.”

” Wo yo mesti..wong ini banyak daging sapinya.”

Keduanya lahap menikmati soto sambil menikmati gorengan.

Tidak lupa mereka pesan jeruk nipis anget dan teh manis.

Di depan warung serombongan orang memainkan musik keroncong asli lengkap dengan gitar, bas betot, biola dan ukelele.

” Bengawan Solo…riwayatmu ini.”.

Sumi dan mboknya nglaras makan soto diiringi lagu keroncong. Sungguh suasana yang menyenangkan.

Hari itu lengkap kebahagiaan Sumi dan Lik Kartiyem.

Tidak lama mereka sampai ke Cokro lewat tengah hari.

Sejak Sumi menjadi pemilik Toko dia dikenal oleh orang-orang di sekitarnya sebagai orang yang tidak lupa akan asalnya. Dia dikenal pemurah dan tidak jadi sombong. Jika ada acara di desanya,  Sumi sangat mudah untuk memberi sumbangan. Dia juga tidak pelit membantu tetangga jika ada tetangga yang sakit. Sumi ingin keberadaannya bermanfaat bagi sesama. Meski tidak seberapa tapi peran itu ingin dia jaga karena dia menilai dirinya sudah diberi nasib baik dalam hidup.

Di rumah Andi, bapaknya heran dengan begitu antusiasnya Andi membela kliennya. Andi sendiri begitu bersemangat melihat Sumi. Perempuan cantik bersih kulitnya dan ada pancaran kecerdasan dari mukanya. Andi sebenarnya tertarik pada Sumi pada pandangan pertamanya. Mirip apa tang terjadi pada Sindhu. Andi sementara mengutamakan keperluan kliennya itu. Ia takut kehilangan obyektifitasnya ketika ada rasa lain.

“Kamu menangani kasus apa kok sepertinya sangat antusias?” tanya tuan Shanghai pada anaknya selepas makan malam.

“Ya itu yang aneh, kok saya begitu semangat ya Pa.”

“Siapa klienmu itu?”

“Namanya Sumiati.”

“Dari?”

“Cokro Tulung. Orangnya cantik, putih. Nggak seperti orang desa. ”

“Ha?”

“Kenapa Pa? Dia juga nampak cerdas.”

“Jangan-jangan itu…”

“Apa Pa? Kok seperti kenal?”

Tuan Shanghai tidak melanjutkan kata-katanya. Dia selama ini merahasiakan kalau dirinya sempat punya anak dengan pembantunya. Rahasia ini yang tahu hanya dia dan istrinya.

Dia takut anaknya akan terguncang jika tahu cerita ini. Jadi lebih baik dia simpan rapat cerita buruk ini.

“Waktu itu dia datang ke kantor diantar ibunya.”

“Siapa namanya?” tanya tuan Shanghai penuh rasa ingin tahu sembari menyimpan rasa bersalah.

“Kalau dilihat di kartu keluarganya, ibunya bernama Kartiyem. Bapaknya Sugiyono.ibunya hitam kulitnya. Entah bagaimana Sumi bisa berkulit putih seperti itu. ”

“Kartiyem?”

“Iya Kartiyem. Kenapa Pa?”

“oo iya Kartiyem dulu pernah membantu di rumah kita beberapa puluh tahun lalu. Ketika kamu kecil.”

” Oh…”.

” Kamu jatuh cinta ke dia?”

Andi gelagapan perasaan kecilnya diketahui bapaknya.

“Nggak. Cuma dia gadis langka.”

” Baiklah.Sebaiknya jangan ada rasa lebih.”

“Lalu apa yang terjadi dengan Kartiyem Pa?”

“Ya dia minta pulang.”

“Kenapa Pa kok minta pulang? Apa yang terjadi?”

“emm…tepatnya diminta pergi sama mamamu.”

“hmm apa salahnya?”

Tuan Shanghai diam lagi. Dia berpikir keras untuk berani mengatakan apa yang terjadi.

“Nggak salah. Yang salah Papamu.”

“Maksud Papa apa?”

“Kamu jangan kaget atau menyalahkan Papa ya kalau Papa ceritakan yang sebenarnya.”

“hm…aku nggak tahu Pa. Aku mulai menduga-duga. Kulihat ada kemiripan wajah antara  aku dengan klienku itu”, sahut Andi dengan perasaan tidak menentu. Dia tertarik karena mukanya mirip.

“Hmm..Iya dia itu masih saudaramu.”

“Ha jadi papa?”

“Maafkan Papa. Papa teledor. Papa tidak bisa mengendalikan diri. “ tuan Shanghai meneteskan air mata. Dia orang baik yang pernah terpeleset. Cuma karena istrinya sangat tidak mau dia berbagi dengan wanita lain maka Kartiyem diusir. Tuan Shanghai sebenarnya ingin membantu lebih terutama untuk anak yang dikandung Kartiyem.

“Mamamu mengusirnya ketika dia hamil 3 bulan…”

Kini giliran Andi tidak bisa berkata-kata. Perasaannya campur aduk antara benci dan juga kasihan dan juga kehilangan. Benci kenapa papanya yang melakukan perbuatan seperti itu. Kasihan kenapa perempuan yang sedang mengandung itu harus diusir. Kehilangan karena bibit-bibit cinta itu harus dibuangnya jauh-jauh. Andi langsung terbayang wajah Sumi, wajah yang dia pertama melihat langsung jatuh kasihan, simpati dan juga ada getar asmara. Tidak heran secara alami hatinya langsung berkata untuk tidak perlu meminta bayaran atas jasa yang telah dia berikan sebagai pembela kasus Sumiati. Hmm Andi lemas terduduk di kursi meja makan. Dia kehilangan semangat.

**

Sumiati sendiri tidak tahu bahwa dia dan Andi adalah anak dari bapak yang sama. Simboknya pernah menceritakan tapi belum lengkap. Selentingan Cino gosong ketika dia kecil dulu semakin jelas mengarah kemana.

“Mbok jadi Pak Andi itu siapa? Kenapa dia begitu baik?”

“Ya dia anak bekas juragan simbok dulu nduk.”

“Mosok begitu saja mbok? Ada yang bisik-bisik katanya wajahnya mirip wajahku mbok.”

“iya to?” Kartiyem pura-pura tidak tahu. Padahal dia sendiri ketika ketemu Andi memang membaca hal yang sama. Dia sudah lama menyimpan cerita soal asal usul Sumiati.

“Mosok simbok nggak melihat kemiripan to?”

Kartiyem mau bilang iya tapi dia takut Sumi merasakan derita yang berlebihan.

“Jadi simbok dulu kenapa pergi dari toko Shanghai dan memilih jadi tukang pasir?”

“Simbok diusir nyonya Shanghai..”

“Simbok nyuri? Atau apa?”

Kartiyem terisak.

“Nggak nduk..nggak.”

“Terus kenapa mbok?”

“Jangan salahkan simbok ya nduk. Simbok sudah lama menderita.”

“Katakan saja mbok.”

:Simbok mengalami apa yang kamu alami. Tapi simbok melakukannya dengan cinta nduk. Tuan Shanghai baik sama simbok.”

“Jadi benar aku bukan anaknya bapak?”

“Bukan, bapakmu itu datang sesudah kamu lahir.”

Kali ini Sumi benar-benar terpukul. Mengapa nasib serupa ternyata menimpa mboknya. Pedih nasib perempuan kelas bawah. Boleh saja mboknya merasakan cinta. Tapi jika saja mboknya lebih berdaya entah dari sisi pendidikan atau ekonomi apakah tuan Shanghai akan begitu saja memperlakukan simboknya.Tapi dia nggak mau menyalahkan mboknya. Dia tahu mboknya adalah korban dan simboknya sudah cukup menderita.

Sumi berjanji pada diri sendiri, nanti kalau punya anak perempuan harus diberi modal, modal keberdayaan. Tidak boleh lagi rantai penderitaan mendera anaknya. Kasus yang menimpa dirinya termasuk tidak menyerah pada Dipo baginya sudah cukup membuktikan bahwa dia tidak lagi diperlakukan seburuk simboknya.

“Mbok apakah nanti kalau aku menikah boleh aku mengundang bapak asliku?”

“Ya boleh. Boleh nduk. Bagus itu biar bapakmu tahu anaknya sudah dewasa. Tapi simbok tidak tahu bagaimana caranya.”

Sumi membayangkan bapaknya bisa hadir menjadi orang yang menikahkannya. Meski dia tidak tahu akan menikah dengan siapa.  Sumi mulai berpikir bagaimana cara dia menghubungi bapaknya. Jika saja nyonya Shanghai sudah tidak ada pasti semua akan mudah. Dia juga khawatir protes dari anak-anak tuan Shanghai.

Sumi juga mulai berpikir bagaimana mas Sindhu akan menerimanya jika tahu dia anak haram yang lahir di luar perkawinan yang sah. Apakah mau menerimanya. Bapaknya Sarmo sempat meremehkannya.  Itulah yang membuat dia merasa tidak nyaman lagi berhubungan dengan Sarmo. Dia berharap semoga mas Sindhu bisa lebih bijaksana. Dia hanya korban dari egosime laki-laki..

Ya Sarmo semakin sukses di dunia politik. Dia memang akhirnya berhasil jadi anggota dewan di kabupaten Curup. Semakin terkenal namanya. Pakliknya malah merencanakan keponakannya itu nanti bisa maju jadi calon bupati Curup. Langkah-langkah disiapkan semenjak sekarang. Sarmo juga makin merasa hutang budi pada pakliknya. Tapi Sarmo punya rencana untuk menemui Sumi. Sudah cukup lama semenjak sibuk mempersiapkan kampanye, tidak ada komunikasi dengan Sumi. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.