Imlek, Kelenteng Surabaya Tak Gelar Ibadah Massal
SURABAYA-KEMPALAN: Perayaan Imlek pada masa pandemi membuat beberapa tempat ibadah umat Konghucu di Surabaya, tidak menggelar ibadah Imlek secara masal. Salah satu tempat ibadah adalah Klenteng Hok An Kiong. Klenteng yang juga dikenal dengan nama Suka Loka itu berada di Jalan Cokelat, Pabean, Surabaya.
Meski tidak ada ibadah, pengurus Kelenteng Hok An Kiong Ida Trilanksanawati mengatakan, pengelola tidak menutup kelenteng. Sehingga, klenteng tetap bisa dikunjungi.
”Malam tahun baru, kita biasanya buka dari malam sampai pagi. Kalau tahun ini kita tutup. Buka pukul 06.00–18.00 WIB, besoknya juga,” tutur Ida.
Otomatis, pengurus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Misalnya, membatasi jumlah pengunjung yang masuk, hingga menyediakan tempat cuci tangan.
”Protokol kesehatan masih diterapkan. Pembatasan pengunjung juga. Ada yang menunggu di luar, bergantian saja masuknya,” papar Ida Trilanksanawati.
Dengan Imlek di tengah pandemi Covid-19, Ida mengaku pasrah dan tetap berdoa. Dia berharap perayaan tahun baru berikutnya dapat berlangsung dengan normal.
Pameran Foto di Kampung Tambak Bayan
Ketua RT02 Tambak Bayan Tengah, Surabaya, Suseno Karja menyatakan, pihaknya bakal menggelar pameran foto yang bertema 10 tahun Kampung Tambak Bayan untuk merayaan Imlek 2572 pada 12 Februari.
“Perayaan Hari Raya Imlek sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sangat ramai. Hari Jumat besok kita hanya memutarkan slide foto satu dekade Kampung Tambak Bayan,” ujarnya.
Suseno menceritakan, dalam perayaan Imlek sebelumnya, warganya kerap memasang angpao dan sejumlah ornamen Imlek lain di sepanjang kampung pecinan tersebut. Namun, tidak pada tahun ini.
“Biasanya kan yang paling sederhana kita mempersiapkan angpao-angpao bekas, terus kita pajang sekampung, di cantol-cantolkan (digantung-gantungkan), semacam aksesoris, supaya kelihatan meriah. Tapi karena pandemi ini, ternyata kami tidak mengadakan,” lanjutnya sembari menunjuk ke lokasi biasanya angpao digantung.
Suseno menyampaikan, ada pula warganya yang telah menjadi mualaf. Namun, saat Imlek masih ikut merayakan dengan keluarga yang masih menganut agama leluhurnya dan warga sekitar. (nn/lip/ist)









