KEMPALAN: Xin Nian Kuai Le. Setelah sehari penuh dirayakan, selesai sudah perayaan imlek dengan segala batasan-batasannya karena masih dalam masa pandemi Covid-19. Jika ditarik mundur sedikit saja, sejenak akan teringat bahwa perhelatan tahun baru ini benar-benar mengalami senyapnya sejak terbit Inpres No. 14/1967 Tentang Larangan Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Sejak itulah episode perayaan Imlek haram dimeriahkan di depan publik, hanya bisa dirayakan terbatas didalam rumah dengan anggota keluarga saja.
Baju baru pun hanya bisa dipakai di dalam rumah. Fakta kelam perayaan imlek ini akhirnya berakhir sejak terbitnya Inpres No. 6/2000 oleh Gur Dur yang presiden saat itu. Mulailah di Tahun 2000 komunitas Tionghoa kembali bebas menjalankan kepercayaan dan budayanya. Dan, nama Gus Dur pun sampai sekarang tetap dikenang sebagai pribadi pluralis, meskipun sebenarnya ada satu nama lagi yang sebenarnya juga berperan penting.
Dialah Habibie, presiden dengan masa bakti singkat ini di Tahun 1998 setelah reformasi menerbitkan Inpres No. 26/1998 yang membatalkan aturan-aturan diskriminatif terhadap komunitas Tionghoa.
Apapun, yang pasti kemeriahan imlek sekarang ini sudah tidak kehilangan maknanya. Keberadaan Imlek sebagai sebuah perayaan, kemeriahannya sudah sejajar dengan Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, juga Hari Raya Natal dan Tahun Baru.
Sebagai hari besar yang keberadaannya dilegalkan dengan libur nasional tentu hari-hari libur tersebut mempunyai implikasi ekonomi tidak sedikit. Dampak ekonomi yang tercipta dari puasa ramadhan dilanjutkan idul fitri tentulah sangat besar, pun demikian idul adha sebagai hari raya qurban, juga peringatan natal dan tahun baru.
Yang tak dapat diingkari perannya dalam menciptakan pergerakan ekonomi adalah Imlek itu sendiri. Semuanya itu, mulai dari Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru, juga Imlek dapat dikatakan sebagai autopilot dalam menggerakkan ekonomi nasional.
Sang pilot (baca: pemerintah) sudah tidak perlu repot mengemudi atau mengatur kecepatan naik turun juga putar balik, tinggal dari jauh memantau situasi. Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Tahun Baru dan Imlek sudah dapat bergerak dengan kreativitasnya sendiri-sendiri yang pada gilirannya akan menggairahkan sektor pariwisata, sektor makanan dan minuman, sektor transportasi, juga sektor-sektor lain baik langsung maupun tidak langsung dapat menjadi lebih hidup karena keberadaan para autopilot tersebut.
Semua senang, semua nyaman, semua menikmati keindahan ini, baik pemerintah, pengusaha, ataupun masyarakat. Disinilah hebatnya para autopilot tersebut dalam menggerakkan ekonomi nasional.
Tapi itu cerita lalu, di 2020. Tahun 2021 ini cerita-cerita sukses tersebut sementara harus ditahan dahulu. Ya, semua karena corona. Satu demi satu para autopilot tersebut terkapar. Diawali Idul Fitri di 2020. Idul Fitri tak mampu menunjukkan tajinya sebagai penggerak ekonomi nasional karena banyaknya batasan aktivitas dan mobilitas, diikuti oleh Idul Adha, dan kemudian Natal serta Tahun Baru. Terkini tentu saja Imlek.
Mall-mall metropolitan yang biasanya seminggu sebelum imlek sudah berbenah dengan berbagai agenda, dibuat tidak berkutik. Para pelaku usaha di beberapa unit kegiatan ekonomi pendukung pun tertunduk lesu. Produksi kue Imlek, pernik-pernik Imlek, dan lain-lain simbol kemeriahan imlek semuanya terjun bebas.
Inilah yang perlu dipikirkan bersama, sang autopilot sekarang sepertinya memerlukan sentuhan para pengambil kebijakan. Para pengembil keputusan supaya episode babak belurnya sang autopilot ini segera berakhir. Lima belas hari setelah imlek adalah perayaan cap go meh.
Tapi sepertinya nasib cap go meh juga tidak akan lebih baik dari hari raya ketupat, yang dilaksanakan tujuh hari setelah hari raya Idul Fitri. Tetap belum mampu menggerakan ekonomi nasional di masa pandemi covid-19.
Barangkali bisa dibayangkan yang akan terjadi, jika menggerakkan ekonomi saja sulit, apakah masih mungkin para autopilot termasuk Imlek ini menjadi tulang punggung pemulihan ekonomi nasional? Mungkin kini saatnya kita merenung nasional. (Bambang Budiarto adalah pengamat ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi