KEMPALAN: Apa yang bisa diingat ketika membaca nama ‘Meutya Hafid’ ? Tergantung seberapa usia seseorang? Lho, apa hubungan usia dengan sosok ini?
Bagi orang-orang yang berusia sekitar 50 – 70-an tahun, tentu peristiwa penyanderaan jurnalis Metro TV Meutya Hafid dan kameraman Budiyanto pada sekitar Mei 2005 oleh laskar Mujahidin, Irak, barangkali itulah kenangan yang terpatri kuat.
Pasca lulus dengan gelar Bachelor Engineering dari New South Wales University, Australia, Meutya diterima di Metro TV.
Bekerja di salah satu media televisi terbesar –sebagaimana saya kutip dari beberapa sumber– merupakan tantangan bagi ibu satu anak yang lahir pada 8 Mei 1978 ini.
Sebagai jurnalis baru, ia banyak mendapat penugasan sarat tekanan.
*
Namun, bagi sebagian generasi di bawah usia 50 tahun, boleh jadi sosok istri dari Noer Fajrieansyah itu lebih dikenal sebagai anggota DPR. Wanita energik yang juga bergelar Magister Ilmu Pemerintahan dari UI ini, pernah menjabat Ketua Komisi I DPR.
Dan, bagi segala usia –setidaknya yang amat paham literasi– sosok ini boleh jadi lebih dikenal sebagai Menteri Komunikasi dan Digital pada Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto.
*
Nah, tentang kisah penyanderaan itu, ketika sedang mengisi bensin di sebuah SPBU pada salah satu lokasi sebelum menuju Baghdad, mobil yang ditumpangi 2 awak Metro TV ini didatangi sekelompok orang
bersenjata. Sesudah itu, posisi kemudi yang dipegang orang Irak itu diambil-alih sekawanan bersenjata tersebut. Mata kedua jurnalis ini lantas ditutupi sehelai kain, dan pucuk laras bedil ditempelkan pada leher mereka.
Setelah sekira 2 jam perjalanan, kendaraan roda empat tersebut berhenti. Kain penutup dibuka, maka terbentanglah padang pasir dengan sejumlah tenda. Di situ sudah ada beberapa orang bersenjata.
Sadarlah Meutya. Dan makin yakinlah bahwa mereka berdua memang diculik, disandera, yang setelah dikalkulasi waktunya, tercatat : 168 jam.
Saya membayangkan, jika Meutya tidak fasih berbahasa Inggris, mungkin masih lama ia dan Budiyanto disandera di salah satu negara Timur Tengah yang rawan konflik yang dulu bagian dari negeri-negeri Mesopotamia itu.
Pengalaman disandera saat meliput Pemilu Irak ini, lantas dituangkan dalam buku yang ditulisnya dalam judul ‘168 Jam dalam Sandera: Memoar Jurnalis yang disandera di Irak’.
*
Maka, ketika channel ‘LvR’ (Live Visual Radio) di YouTube melintas di beranda –di situ saya jumpai Meutya Hafid baca puisi– selanjutnya tergiringlah saya dengan tontonan berjudul ‘Merah Putih Meutya Hafid’ ini.
Dengan outfit atas merah dan bawah putih, Meutya menunjukkan kesungguhannya membacakan karya maestro sastra Sapardi Djoko Damono berjudul ‘Menatap Merah Putih’.
Sebagai jurnalis, host, intelektual yang mengindikasikan gigih menggenggam idealisme, Meutya paham betul bagaimana membacakan puisi heroik ini tanpa jatuh pada bombastisme.
Ia membacakan larik-larik puisi itu step by step dengan penekanan-penekanan pada elemen kata yang perlu didiksikan dan diuraikan kandungan maksud.
Tak ada teriakan sebagaimana umumnya puisi-puisi tentang kemerdekaan dibacakan. Tapi, Meutya menggantinya dengan suara lantang tanpa jatuh pada teriak yang seringkali menghadirkan serak itu. Bahkan saat Meutya jatuh pada bait : Menatap Merah Putih/Adalah perlawanan/Melawan angkara murka/Membinasakan penindas dari negeri tercinta Indonesia — dengan menghadirkan teknik stakato, Meutya menaikkan nada tidak dengan hentakan-hentakan garang, tapi dengan lembut tapi tegas.
Tentang ketegasan ini agaknya dilatarbelakangi oleh pengalaman sebagai jurnalis –apalagi pernah pada batas hidup dan mati saat disandera dulu– juga sebagai anggota legislatif, mengendap dalam alam bawah sadarnya.
Agaknya Meutya sadar betul bagaimana menginterpretasikan puisi Sapardi Djoko Damono itu yang sarat kandungan kontemplasi.
Konten berdurasi 2 menit 45 detik ini, tersaji dengan indah jauh dari gemerlap hedonisme.
Alhasil, channel yang dikelola M. Rohanudin ini saya anggap konsisten menghadirkan konten-konten berkualitas. (Amang Mawardi).










