Rabu, 17 Juni 2026, pukul : 15:06 WIB
Surabaya
--°C

Orang Surabaya Tukang Tipu

KEMPALAN : Untuk pertama kali Simin akan pergi ke Surabaya guna menemui salah satu saudaranya dalam rangka mencari kerja.

Sebelum berangkat ia dinasihati sahabatnya, Wonokairun, yang pernah merantau di Surabaya, agar berhati-hati.

“Orang Surabaya dikenal suka ngaspo alias tipu-tipu. Jangan percaya omongannya. Pokoknya waspada,” tegas Wonokairun.

Dari Terminal Bungurasih, Simin meneruskan dengan bus kota menuju Terminal Joyoboyo.

Menjelang Joyoboyo, kernet bus berteriak, “Terminal Joyoboyo! Terminal Joyoboyo! Yang akan turun, kaki kiri dulu! Kaki kiri dulu!”

Mendengar teriakan kernet, Simin teringat nasihat Wonokairun, lantas berkata dalam hati, “Dipikirnya aku bodoh.”

Maka, Simin meloncat dari bus dengan kaki kanan lebih dulu. Kontan, Simin jatuh bergelimpangan. Namun dengan tubuh digagah-gagahkan ia lantas berdiri seperti tidak terjadi apa-apa, seraya ngedumel, “Aku turun dengan kaki kanan saja sudah belepotan begini, opo maneh kalau turun dengan kaki kiri, mungkin sudah masuk rumah sakit. Dasar orang Surabaya tukang tipu!”

*

Tentu saja cerita di atas sekadar anekdot, dan kalau tidak salah pernah saya baca di Majalah Gapura yang dikelola Humas Pemkot Surabaya.

Intinya: Beginilah kalau orang kurang pengalaman. Apalagi jika ditambah kurang pengetahuan.

Dalam menjalani kehidupan, orang butuh pengalaman dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Bisa saja orang kurang pengalaman, asal memiliki pengetahuan. Demikian sebaliknya, orang boleh kurang pengetahuan, asal memiliki pengalaman. Apalagi jika memiliki dua-duanya: ya pengalaman, ya pengetahuan. Tentu, tanpa mengabaikan aspek moral.

Anekdot di atas mencerminkan kurangnya pengalaman dan pengetahuan dari sosok yang bernama Simin.

Orang yang sudah beberapa kali naik bus, mustahil akan melakukan tindakan sebagaimana Simin yang turun dengan kaki kanan lebih dulu (kecuali di Amerika dimana pintu bus terletak di sebelah kanan dengan sistem arus lalu-lintas bergerak maju di bagian kanan jalan).

Demikian juga kalau orang itu memiliki (ilmu) pengetahuan. Ia tak gampang terkecoh.
Ilmu gaya (fisika) mengajarkan, jika bus dalam kondisi berjalan (pelan-pelan), dan seseorang turun dari bus, akan aman jika kaki kiri yang turun terlebih dulu, lantaran kaki kiri yang ditopang oleh daya dorong tubuh bagian kiri, akan menahan laju jatuhnya tubuh ke arah kanan.

Maka: Jangan remehkan pengalaman, jangan anggap enteng ilmu pengetahuan. (Amang Mawardi).

Gubernur Khofifah Salurkan Bansos Rp 12,9 Miliar di Bondowoso

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa

BONDOWOSO-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan Bantuan Sosial (Bansos) senilai Rp12,923 miliar untuk masyarakat Bondowoso di Pendopo Kabupaten Bondowoso, Selasa (6/5).

Penyaluran bansos ini merupakan wujud nyata upaya Pemprov Jatim dalam memberikan perlindungan sosial bagi warga tidak mampu, masyarakat kelompok rentan, dan juga yang masuk dalam kategori disabilitas.

Untuk Kabupaten Bondowoso, bantuan sosial yang disalurkan terdiri dari tiga kategori utama, yakni PKH Plus bagi lansia rentan, bantuan kemiskinan ekstrem, dan bantuan untuk penyandang disabilitas. Jumlah total penerima manfaat mencapai hampir 8.000 orang.

Untuk PKH Plus, sebanyak 1.818 orang menerima bantuan dengan total nilai Rp3.636.000.000. Bantuan ini disalurkan dalam empat tahap, masing-masing senilai Rp500.000 per penerima. Pada tahap pertama ini, diserahkan sebesar Rp909.000.000.

Sementara itu, bantuan asistensi sosial penyandang disabilitas (ASPD) disalurkan kepada 115 jiwa dengan total nilai bantuan sebesar Rp14.400.000.000. Penyaluran dilakukan dalam empat tahap, dan untuk tahap pertama telah diserahkan senilai Rp103.500.000, atau Rp900.000 per penerima.

Kategori ketiga adalah bantuan sosial untuk kemiskinan ekstrem, yang menyasar 5.862 orang penerima manfaat di Bondowoso. Setiap orang menerima bantuan sebesar Rp1.500.000 yang disalurkan satu kali dalam setahun, dengan total nilai sebesar Rp8.793.000.000.

“Alhamdulillah hari ini kita menyerahkan bantuan sosial untuk masyarakat Bondowoso dengan total nilai Rp 12,9 miliar. Bansos ini kami harapkan bisa memberikan penguatan bagi keluarga-keluarga penerima manfaat,” ujar Khofifah

“Ini bukan sekadar bantuan tunai, tapi juga bentuk perhatian dan dukungan moral dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur  agar masyarakat kuat berdaya,” imbuhnya.

Selain menyerahkan bantuan sosial, Gubernur Khofifah juga menyerahkan tali asih kepada para pilar sosial sebagai bentuk apresiasi dari Pemprov Jatim atas dedikasi mereka dalam mendampingi masyarakat serta berkontribusi dalam pembangunan kesejahteraan sosial di tingkat akar rumput.

Pilar sosial yang menerima tali asih antara lain Pendamping ASPD, Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK). Serta biaya operasional bagi pendamping PKH Plus.

Pada kesempatan yang sama, Khofifah juga memberikan sepatu sekolah kepada 10 anak-anak dari keluarga kurang mampu yang akan memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bantuan ini merupakan simbol kepedulian terhadap masa depan pendidikan anak-anak di Jawa Timur.

“Semoga sepatu ini bisa menjadi semangat baru bagi anak-anak untuk menuntut ilmu. Pendidikan adalah kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan,” ungkap Khofifah.

Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menjelaskan bahwa bantuan kemiskinan ekstrem merupakan salah satu fokus utama pemerintah pusat maupun daerah, sebagai bagian dari target penghapusan kemiskinan ekstrem di Indonesia pada 2024–2025. Jawa Timur menjadi salah satu provinsi yang berkomitmen tinggi untuk mencapai target tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah terus melakukan pembaruan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar program-program bantuan bisa lebih tepat sasaran. Sinergi antara pemerintah desa, kabupaten/kota, dan provinsi menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Penyaluran bantuan ini kita harapkan mampu menjangkau langsung warga yang benar-benar membutuhkan. Kita ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun warga Jawa Timur yang tertinggal dari perhatian negara,” katanya

“Terima kasih semuanya, sehat semua, semoga Allah anugerahkan keberkahan untuk kita semua, barokah hidup kita, barokah keluarga kita, barokah Bondowoso, barokah Jawa Timur, barokah Indonesia,” pungkas Khofifah

Kehadiran Gubernur Khofifah dalam penyerahan bantuan ini juga disambut antusias oleh masyarakat. Penerima manfaat menyampaikan rasa syukur dan haru karena merasa diperhatikan langsung oleh pemimpin daerah.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur mendapat bantuan ini. Terima kasih Ibu Gubernur, semoga Allah membalas kebaikan panjenengan,” ujar Towilah, seorang ibu yang memiliki anak penyandang disabilitas cerebral palsy usia 13 tahun.

Dengan penyaluran bantuan sosial di Kabupaten Bondowoso ini, Pemprov Jatim terus menunjukkan komitmennya dalam membangun keadilan sosial dan memperkuat ketahanan masyarakat dari bawah. Program ini diharapkan mampu menjadi pendorong transformasi sosial menuju Jawa Timur yang lebih sejahtera dan inklusif.

Untuk diketahui, pada tahun 2025 ini, Pemprov Jatim mengalokasikan anggaran sebesar Rp180.421.750.000 melalui Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur untuk sebelas program bantuan sosial di seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur.

Adapun sebelas bansos yang dialokasikan Pemprov Jatim yaitu Program Keluarga Harapan (PKH) Plus untuk 50.000 orang penerima, bantuan sosial kemiskinan ekstrem untuk 23.000 orang, bantuan asistensi sosial penyandang disabilitas (ASPD) untuk 4.000 orang.

Serta bantuan sosial permakanan bagi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU), dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas (LKSPD) masing-masing 94 orang.

Selain itu juga program Kewirausahaan Inklusif Produktif (KIP) Putri Jawara 1.610 orang, KPM Juara 700 orang, PPKS Jawara 578 orang dan Eks PPKS Jawara 132 orang. Juga ada bantuan langsung tunai (BLT) buruh pabrik rokok lintas wilayah sebanyak 15.000 orang. (Dwi Arifin)

Membangun Kembali Kesadaran Budaya Arek, FPKS Menggelar “Surabaya Hari Ini”

SURABAYA-KEMPALAN: Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) dalam kegiatan perdananya yang berbasis seni pertunjukan, pada 13 Mei 2025, Pukul 19.00 menggelar “Surabaya Hari Ini” di Teras Dewan Kesenian Surabaya (DKS) yang berada di lingkungan Kompleks Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya.

Para penampil yang telah menyatakan kesediaannya merupakan lintas generasi.
Pembacaan Puisi diisi oleh Widodo Basuki, Aming Aminoedhin, Imung Mulyanto, Ribut Wijoto, Tri Wulaning Purnami, Alfian Bahri, Peni Citrani Puspaning, Denting Kemuning, Nanda Alifya Rahmah, Igomarvel, Autar Abdillah, Harwi Mardianto, Mochamad Machmud, Heti Palestina Yunani, Deny Tri Aryanti l, Tengsoe Tjahjono dan Rohmat Djoko Prakosa.

Monolog diisi oleh Meimura dan Dody Yan Masfa. Sementara Kuncarsono Prasetyo (Begandring) akan menyampaikan Pidato Kebudayaan tentang situasi dan kondisi Surabaya Hari Ini.

Untuk mousik bakal tampil dari berbagai genre. Ada B Jon, Pardi Artin, Prof. Rubi Castubi, Arul Lamandau dan POSS Ensemble racikan Heru Prasetyono. Acara akan dipandu oleh Desemba.

Menurut Jil Kalaran, penggagas FPKS, tema Surabaya Hari Ini sengaja diangkat untuk meningkatkan eksistensi  Budaya Arek, yang tumbuh di kawasan Surabaya dan sekitarnya, mencerminkan identitas sosial masyarakat perkotaan Jawa Timur yang egaliter dan menjunjung tinggi semangat gotong royong. Dalam kajian antropologi, dua nilai ini tidak hanya menjadi ciri perilaku, tetapi juga cerminan struktur sosial yang terbentuk dari sejarah dan pengalaman kolektif masyarakatnya.

Watak egaliter masyarakat Arek tampak dalam cara mereka berinteraksi secara langsung, terbuka, dan setara. Relasi sosial yang cenderung horizontal, seperti penggunaan sapaan “rek” kepada siapa saja, mencerminkan perlawanan terhadap struktur hierarkis yang kaku. Sifat ini berakar pada latar belakang masyarakat urban pekerja dan pelajar yang terbiasa bersikap mandiri dan vokal terhadap otoritas.

Di sisi lain, gotong royong menjadi fondasi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kerja bakti lingkungan hingga solidaritas antarwarga saat menghadapi musibah, semangat ini memperkuat kohesi sosial. Dalam antropologi, gotong royong dipahami sebagai strategi bertahan komunitas. Dan ini bukan sekadar tradisi, melainkan wujud konkret dari rasa saling bergantung dan kepedulian kolektif.

Egalitarianisme dan gotong royong dalam budaya Arek saling memperkuat. Semangat kesetaraan memungkinkan kerja sama tanpa dominasi, sementara kerja sama memperkuat nilai kesetaraan. Keduanya adalah bentuk adaptasi budaya terhadap kehidupan urban yang kompleks, sekaligus bukti bahwa kearifan lokal masih menjadi fondasi penting dalam menjaga daya tahan sosial.

“Kesadaran tentang pentingnya Budaya Arek musti terus disuarakan sekaligus dibumikan kembali di tengah pertumbuhan Kota Surabaya ini,” ujar mantan wartawan Surabaya Post ini.

Budaya Arek mengajarkan bahwa nilai kesetaraan dan kebersamaan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga bekal masa depan. Dalam masyarakat yang makin individualistis, budaya ini menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas dalam kehidupan bersama, tambahnya. (Dwi Arifin)

Di YCC Munas APEKSI 2025, Delegasi Surabaya Tawarkan Solusi Cerdas Atasi Sampah

Nova Sri Widawati yang mengusung solusi inovatif terkait pengelolaan sampah

SURABAYA-KEMPALAN: Ajang Youth City Changers (YCC) 2025 merupakan bagian dari rangkaian acara Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) VII di Kota Surabaya. Ajang ini menjadi platform penting bagi 116 delegasi dari 98 kota di Indonesia untuk bertukar gagasan.

Dua delegasi dari Kota Surabaya, Nova Sri Widawati dan Mohamad Riski, turut ambil bagian dengan mengusung solusi inovatif terkait pengelolaan sampah. Dua anak muda yang aktif dalam organisasi Surabaya Next Leader (SNL) itu, menawarkan solusi pengelolaan sampah berbasis aplikasi dan mengampanyekan pentingnya gerakan memilah sampah dari rumah.

Dalam presentasinya, Nova Sri Widawati menyampaikan bahwa masalah pengelolaan sampah merupakan isu nasional yang mendesak untuk diselesaikan. Berangkat dari keprihatinan tersebut, ia bersama rekannya menggagas aplikasi “Smart Waste Sorting” sebagai solusi penanganan permasalahan sampah di Kota Surabaya.

“Sebenarnya Pemerintah Kota Surabaya telah memiliki aplikasi Si Basam untuk pengelolaan sampah. Aplikasi Smart Waste Sorting ini merupakan pengembangan lebih lanjut yang kami rancang sebagai wadah kolaborasi pentahelix, menghubungkan masyarakat, sektor pemerintah, industri, dan pelaku usaha,” jelas Nova usai sesi presentasi, Selasa (6/5).

Selain itu, Nova mengusung jargon inspiratif “Satu Kali Pilah Sampah, Sejuta Manfaat untuk Bumi”. Jargon ini menekankan pentingnya inisiatif pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga, terutama mengingat status Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dengan tingginya jumlah kafe dan potensi timbulan sampah yang signifikan di Tempat Penampungan Sementara (TPS).

“Dengan penerapan pemilahan sampah dari rumah, petugas akan sangat terbantu karena proses pemilahan sudah dilakukan dari lingkup terkecil,” tegas  mahasiswa Kedokteran Hewan Unair ini.

Sebagai salah satu pendiri Puan in Action, sebuah gerakan yang fokus pada isu lingkungan dan pemberdayaan aksi anak muda, Nova berbagi pengalamannya dalam konservasi lingkungan serta praktik pengomposan sampah organik di tingkat rumah tangga.

Menurutnya, tindakan sederhana itu akan memberikan kontribusi besar dalam pengelolaan sampah di unit terkecil, yaitu rumah tangga.

“Kami ingin merealisasikan praktik baik ini dan menjalin kolaborasi dengan program pengomposan yang sudah berjalan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya,” ungkapnya.

Alasan mendasar Nova mengangkat isu sampah dalam YCC 2025 adalah karena Indonesia tengah menghadapi kondisi darurat sampah. Ia khawatir jika kondisi ini terus diabaikan, maka situasi akan semakin memburuk.

“Ini adalah aksi iklim. Jika kita tidak terus menyuarakan dan mengambil tindakan nyata, situasinya akan semakin parah. Meskipun sistem pengelolaan sampah di Surabaya sudah tergolong baik dengan adanya PLTSA, kolaborasi aktif antar anak muda perlu ditingkatkan,” katanya.

Senada dengan Nova, Mohammad Riski menekankan betapa pentingnya peran aktif anak muda sebagai agen perubahan perilaku masyarakat dalam hal pengelolaan sampah.

“Sebagai generasi muda, kita harus menjadi teladan bagi masyarakat Surabaya untuk memilah sampah organik dan anorganik dari rumah. Sampah organik memiliki potensi untuk diolah menjadi kompos yang bermanfaat, sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi,” tutur  mahasiswa Program Studi Administrasi Negara Unesa itu.

Riski memiliki keyakinan kuat bahwa pengaruh positif dari kalangan muda dapat mendorong peningkatan kesadaran masyarakat Surabaya secara keseluruhan terhadap isu pengelolaan sampah.

Baik Nova maupun Riski memiliki harapan besar untuk dapat bekerja sama dan memberikan kontribusi yang signifikan bersama pemerintah dan sektor swasta lainnya dalam upaya menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, efisien, efektif, dan berkelanjutan.

Keduanya melihat potensi besar yang dimiliki anak muda sebagai motor penggerak dan promotor perubahan positif. Lebih jauh, Riski menyoroti peluang besar yang dapat dihasilkan dari pengelolaan sampah yang baik. Termasuk potensi penciptaan lapangan kerja, pengembangan ekonomi sirkular, dan blue economy.

“Permasalahan sampah ini sangat kompleks, dan kami berharap dapat merangkum berbagai ide konstruktif setelah acara ini,” tandasnya. (Dwi Arifin)

Forum Nasional KomDigi dan Indonesia-Korea Smart City Digelar di Surabaya

Plt..Kepala Diskominfo Kota Surabaya M Fikser..(Foto: Dok/Humas Pemkpt Surabaya).

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya bekerja sama dengan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) menyelenggarakan Forum Nasional Komunikasi dan Digital (KomDigi), Indonesia-Korea Smart City Forum & Business Matching, Coaching Clinic, serta Expo KomDigi. Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari Musyawarah Nasional (Munas) VII APEKSI Tahun 2025.

Agenda tersebut terselenggara melalui kolaborasi antara Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Surabaya, Kinarya Cipta Kreasi, serta Korea Trade-Investment Promotion Agency (KOTRA) Surabaya.

Dukungan juga diberikan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Dalam Negeri, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serta para mitra pembangunan ekosistem digital di bidang TIK dan smart city dari dalam maupun luar negeri.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskominfo Kota Surabaya M Fikser menyatakan bahwa penyelenggaraan Forum KomDigi dilatarbelakangi oleh kebijakan nasional mengenai percepatan transformasi digital di seluruh sektor pemerintahan. Termasuk di tingkat daerah.

“Fokus utama kegiatan ini mencakup pengembangan infrastruktur digital, peningkatan literasi digital masyarakat, penguatan keamanan siber, serta pengembangan smart city untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat,” kata M Fikser di kantornya, Selasa (6/5).

Fikser menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pembaruan mengenai arah kebijakan nasional dari pemerintah pusat. Sekaligus pula untuk memperkuat koordinasi antara pusat dan daerah dalam tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik berbasis teknologi.

“Selain itu, bertujuan memberikan update pengetahuan dan kolaborasi bersama para mitra pembangunan terkait digitalisasi, TIK, dan smart city dari dalam dan luar negeri. Termasuk pula untuk mendiskusikan berbagai tantangan serta peluang dalam menemukan solusi bagi persoalan TIK dan smart city di tingkat pusat dan daerah,” ujar Fikser.

Lebih rinci, Fikser menuturkan bahwa rangkaian kegiatan ini terbagi dalam beberapa format. Pertama, Forum Nasional KomDigi yang dikemas dalam bentuk pidato kunci, diskusi panel bersama para narasumber, serta sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator.

“Kemudian Indonesia-Korea Smart City Forum & Business Matching, difokuskan pada pertemuan antara pemerintah kota dan mitra pembangunan dari berbagai negara guna memperkuat kerja sama dan pertukaran informasi,” katanya.

Adapun pada kegiatan Coaching Clinic dan Expo KomDigi, peserta akan mendapatkan sesi peningkatan kapasitas dalam memanfaatkan kecerdasan buatan, khususnya Generative Artificial Intelligence (Gen AI), untuk mendukung tata kelola pemerintahan.

Mantan Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya ini mengungkapkan bahwa Forum KomDigi dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 7 Mei 2025, pukul 08.30-16.30 WIB di Ballroom Lantai 4, Grand City Convex Surabaya. Forum tersebut akan dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, yang juga hadir sebagai pembicara utama. “Paparan dari para narasumber dalam Forum Nasional KomDigi terbagi atas dua diskusi panel,” kata Fikser.

Diskusi panel pertama akan membahas pemanfaatan kecerdasan buatan untuk tata kelola digital daerah oleh Dita Aisyah (Tenaga Ahli Menteri BUMN dan Co-Founder BINAR), solusi keamanan siber dan Gen AI oleh ekosistem digital dari INTI, Google Cloud Indonesia, dan GIK, serta isu Government Cyber Security oleh Fortinet.

Sementara diskusi panel kedua, akan mengeksplorasi penguatan kolaborasi sektor swasta oleh Gensly dari Kemendagri, solusi TIK dan smart city dari NEC Indonesia, Amazon Web Services (AWS) Indonesia, ICS Compute, dan PT Infomedia Nusantara, serta city branding bersama influencer oleh Ade Bhakti Ariawan, Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang.

Selanjutnya pada Indonesia-Korea Smart City Forum, akan digelar pada Kamis, 8 Mei 2025, pukul 13.00-16.30 WIB di Stage ICE, Exhibition Hall Grand City Convex Surabaya. Forum ini menghadirkan dua diskusi utama, yakni kolaborasi dan peluang Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) oleh Lee Boreum dari KOTRA Surabaya, serta presentasi dari delapan perusahaan Korea yang menawarkan solusi TIK dan smart city.

“Business Matching dengan delapan perusahaan Korea dijadwalkan berlangsung pada 8-10 Mei 2025 di Paviliun Korea, Grand City Convex,” ungkap Fikser.

Selain itu, Expo KomDigi, Coaching Clinic, dan Business Matching juga diselenggarakan selama tiga hari, yakni pada 8-10 Mei 2025 pukul 10.00-16.00 WIB di Exhibition Hall Grand City Convex Surabaya.

“Acara ini menghadirkan booth dari mitra pembangunan dalam dan luar negeri yang menampilkan solusi TIK dan smart city, sesi coaching clinic tentang Gen AI, serta peluang kolaborasi dengan berbagai mitra,” terang dia.

Fikser menambahkan bahwa peserta forum berasal dari unsur Kepala Diskominfo Kota se-APEKSI beserta satu pendamping dari staf yang membidangi.
“Informasi lengkap mengenai jadwal forum dan rangkaian Munas APEKSI VII, masyarakat bisa mendapatkan informasi dengan mengunjungi situs munas7apeksi.surabaya.go.id,” ujarnya.

Diketahui, Forum KomDigi 2025 diorganisasi oleh Performa Optima Group, sebuah perusahaan yang telah berpengalaman dalam menghadirkan solusi strategis di bidang komunikasi, teknologi, dan pengembangan sumber daya digital di Indonesia. Acara ini turut didukung oleh sponsor utama, yaitu Fortinet dan Rainer.

CEO Performa Optima Group, Sugi Hartono menegaskan bahwa pihaknya akan terus hadir, mendukung, dan berkontribusi secara nyata dalam membangun ekosistem digital nasional. “Kami percaya bahwa masa depan digital bukan hanya untuk kita, tetapi bersama kita. The Future Is Us,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Tingkatkan Koneksitas Antar Daerah, Komisi D DPRD Jatim Dukung Pelebaran Jalan Provinsi

Anggota Komisi D DPRD Jarim Miseri Efendi.

SURABAYA-KEMPALAN: Komisi D DPRD Jawa Timur mendukung dan mengapresiasi Pemprov Jawa Timur yang mulai melakukan pelebaran jalan provinsi di sejumlah daerah. Pasalnya, pelebaran jalan ini dinilai tidak hanya mengurai kemacetan, tapi juga meningkatkan konektivitas antar daerah di Jawa Timur.

Berdasarkan  data  yang diperoleh PU Bina Marga Jatim, pelebaran jalan di sejumlah titik telah disiapkan anggarannya. Antara lain pelebaran jalan Ploso-Batas Kota Jombang Rp5.894.135.800, kemudian jalan Batas Kota Lamongan-Batas Kabupaten Mojokerto Rp 21.416.500.000.

Selain itu pelebaran jalan Ponco-Jatirogo Rp 16.528.200.000,  jalan Maospati-Magetan Rp 32.146.000.000, dan jalan Nganjuk-Kota Kediri Rp21.000.000.000.

Berikutnya pelebaran jalan Batas Kota Malang-Batas Kota Batu Rp13.287.000.000, jalan Lumajang-Jember Rp15.308.240.000, dan jalan Kasihan-Puger 30.000.000.000.

MIseri Efendi saat menimjau proyek pelebaran jalan provinsi di Pacitan.


Menurut anggota Komisi D DPRD Jatim Miseri Efendy, pelebaran jalan dilakukan dari lebar semula 6-7 meter menjadi 10-11 meter. “Pelebaran jalan ini teranggarkan di APBD 2025,” kata Miseri Efendi, Selasa (6/5).

Politisi asal Partai Demokrat ini menjelaskan bahwa pihaknya usai meninjau pelebaran jalan Kecamatan Arjosari, Pacitan-Kecamatan Purwantoro, Wonogiri. Pelebaran jalan ini dianggarkan Rp19,8 miliar.

Kendati demikian, kata dia, masih ada sekitar 13 kilometer yang belum tertangani. Untuk itu, pihaknya mendorong agar sisanya ini bisa masuk di APBD 2026.

“Dengan adanya perbaikan infrastruktur, tidak hanya melancarkan lalu lintas, tapi juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Pada kesempatan tersebut Miseri Efendi juga menegaskan bahwa pihaknya juga mengawal pelebaran jalan Maospati-Magetan dengan alokasi anggaran Rp 32 miliar lebih  di tahun anggaran 2025.

“Sebenarnya ini sempat terhenti pada empat tahun lalu, saat Covid-19. Sekarang ini kita lanjut lagi, karena sudah ada pembebasan lahan,” ungkal Miseri.

Sekedar diketahui, pada tahun 2025, Pemprov Jawa Timur melalui Dinas PU Bina Marga menggelar 20 proyek strategis untuk jalan dan jembatan. Rinciannya, pembangunan jalan (5 persen), pelebaran jalan (35 persen), pemeliharaan rutin (40 persen), pembangunan jembatan (15 persen), dan perbaikan jalan (5 persen).

Dikatakan, wiilayah Kediri, Jember, dan Pacitan menjadi fokus utama. Agar koneksi antar daerah makin lancar dan ekonomi tumbuh merata. “Tujuan proyek ini agar perjalanan lebih cepat, hemat biaya logistik, dan pastinya lebih aman bagi pengguna jalan,” ujar Miseri.

Dia lantas memberi contoh pembangunan Jalan Akses PIMPA di Surabaya, pelebaran Jalan Maospati di Madiun, plus rekonstruksi Jembatan Kutorejo. “Peta proyek juga menunjukkan penyebaran merata, dari Surabaya sampai Jember, sehingga semua daerah mendapat manfaat,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Gubernur Khofifah Luncurkan KUR Khusus Petani Tebu Jatim

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Dirut PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi.

BONDOWOSO-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Dirut PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi meluncurkan Kredit Usaha Rakyat Khusus (KURsus) Kluster Petani Tebu Jawa Timur di Kebun Tebu Prajekan, Grundo, Prajekan Kidul, Kec. Prajekan Kab. Bondowoso, Selasa (6/5).

Bantuan akses permodalan KURsus ini menjadi upaya nyata dalam mendukung pengembangan sektor perkebunan dan juga mendorong kesejahteraan petani tebu serta upaya menuju swasembada gula dan transisi energi hijau melalui bioetanol.

“Jatim adalah penghasil gula tertinggi di Indonesia. Maka KURsus ini adalah wujud nyata upaya kita untuk memperjuangkan kesejahteraan petani tebu. Kita ingin petani tebu naik kelas, dari buruh ladang menjadi pengusaha pangan yang tangguh dan bermartabat,” kata Khofifah.

Orang nomor satu di Jatim ini menjelaskan, fitur KURsus Petani Tebu memiliki suku bunga tetap 6%. Akses pengulangan kredit bertujuan untuk bisa memfasilitasi peremajaan kebun (> 25 tahun) dan adopsi varietas unggul yang berpotensi menaikkan rendemen gula per ton tebu dari rata-rata 7% menjadi 8–9%.

“KUR khusus kluster petani tebu ini merupakan jawaban dari kebutuhan modal usaha tebu rakyat yang sebelumnya telah terkena limit kredit KUR konvensional hingga Rp 500 juta,” ungkapnya.

Khofifah menyampaikan, peluncuran KUR Khusus Kluster Petani Tebu menjadi sangat penting karena melalui koordinasi bersama dengan Kemenko Perekonomian, PT SGN, dan perbankan termasuk Bank Jatim. Lebih dari itu, lanjutnya, KURsus Petani Tebu ini akan memberikan multiplier benefit.

“Ini cara kita bisa mempercepat swasembada gula, cara meningkatkan kesejahteraan para petani tebu, cara kita menuju ketahanan energi,” tegasnya.

Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menjelaskan bahwa hilirisasi tebu ini juga akan menghasilkan bioetanol. Dengan kata lain melalui hal ini pun bisa menjadi langkah awal mentransformasikan dari energi fosil ke non fosil.

“Artinya kita akan menuju green economy, kita juga akan bersama-sama seluruh elemen yang lain mewujudkan net zero emission,” ujarnya.

Khofifah menuturkan, dari kebun dengan tanaman tebu yang rata-rata tingginya mencapai 5 meter dengan bibit yang sama akan bisa menghasilkan 20 ton gula per hektar. Menurutnya ini adalah hal luar biasa yang bisa diberikan petani tebu Bondowoso di Jawa Timur untuk Indonesia bahkan hingga efek net zero emission untuk dunia.

“Maka apa yang diinisiasi oleh pak Dirut SGN ini adalah sesuatu yang out of the box, sesuatu yang luar biasa, patut diapresiasi dan tentu kita harapkan bahwa ini bisa direplikasi di lebih banyak tempat dan lebih luas lagi,” katanya.

Gubernur Jatim ini menyampaikan program KUR Klaster Petani Tebu merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama seluruh mitra strategis baik dari tingkat pusat, swasta, maupun lembaga perbankan dalam upaya memberdayakan petani tebu di seluruh pelosok wilayah Jawa Timur.

“Manfaatkan KUR ini untuk usaha produktif, bukan konsumsi. Seperti pengadaan bibit unggul, pupuk organik/ insektisida ramah lingkungan, serta alat olah tebu yang efisien. Karena keberhasilan bukan hanya diukur kuantitas gula, tetapi juga kualitas, kesinambungan,” ajaknya.

Di kesempatan yang sama juga dilakukan penyerahan secara simbolis Program Irigasi Manis berupa pompa air kebun dan Kredit Usaha Rakyat Khusus Kluster Petani Tebu Jawa Timur dengan rentang nominal Rp 35 juta hingga Rp 100 juta kepada sejumlah perwakilan petani tebu penerima manfaat. Penyerahan ini dilakukan oleh Gubernur Khofifah yang didampingi Dirut PT Sinergi Gula Nusantara, Wakil Bupati Bondowoso, dan Direktur Keuangan Treasury & Global Services Bank Jatim.

“Peluncuran KUR Khusus Kluster Petani Tebu hari ini adalah langkah nyata dalam peta jalan mewujudkan kemandirian pangan. Ini bukan sekadar soal produksi, tapi tentang membangun ekonomi rakyat yang berdaulat dan berkeadilan, serta multiplier benefit lainnya” imbuhnya.

Gubernur Khofifah mengungkapkan bahwa Jawa Timur merupakan Lumbung Pangan Nusantara dan komoditas tebu adalah salah satu kekuatan besarnya. Data tahun 2024 menunjukkan bahwa produksi tebu (yang digiling pabrik gula) Jawa Timur mencapai 16,69 juta ton dari 238.135,6 hektar lahan tebu, atau setengah dari produksi nasional.

“Dari jumlah itu, dapat dihasilkan 1,26 juta ton gula kristal putih. Angka ini menegaskan posisi Jatim sebagai kontributor utama bagi pasokan gula nasional, dengan rata-rata kontribusi sekitar 50% secara tahunan,” ucapnya.

“Sekaligus mencerminkan efisiensi rendemen rata-rata 7,58% dari tebu yang digiling,” imbuhnya.

Di sisi lain, Khofifah menyebut upaya peningkatan produktivitas, hilirisasi, dan diversifikasi menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan ekonomi provinsi dan kesejahteraan petani. Hal ini disebabkan subsektor perkebunan yang didominasi tebu berkontribusi signifikan terhadap PDRB dan struktur ekonomi Jawa Timur.

“Untuk membangun petani yang kuat dan sejahtera dibutuhkan kolaborasi yang efektif,   saya berharap kolaborasi dengan  PT. Sinergi Gula Nusantara dalam pengadaan bibit unggul dan penyerapan hasil panen tetap berjalan berkelanjutan,” pesannya.

Ia berharap semua lembaga perbankan memberikan dukungan penuh untuk pelaksanaan program KUR Khusus Kluster Petani Tebu dengan kolaborasi bersama dinas yang membidangi perkebunan di tiap kabupaten\kota di Jawa Timur. Sehingga kebutuhan modal kerja seluruh petani tebu dapat terpenuhi.

“Kepada Bank Jatim yang mempelopori berjalannya KUR khusus ini, diharapkan prosedur penyaluran KUR dapat berlangsung cepat, transparan, dan tepat sasaran, sehingga tidak ada petani yang tertinggal,” pintanya.

Sementara itu Dirut SGN Mahmudi menyampaikan bahwa KURsus petani tebu ini mampu menyelesaikan dua persoalan yang dihadapi petani tebu. Sementara melalui KURsus ini, petani tebu bisa mendapatkan KUR lagi dengan rate 6% per tahun, menjadi solusi atas masalah komposisi tanaman tebu yang tidak normal dan penataan varietas.

“Ini untuk petani seluruh Indonesia tetapi pilot projectnya di Jawa Timur dan pecah telornya di Kabupaten Bondowoso,” kata Mahmudi. (Dwi Arifin)

Dien Fahrur Romadhoni Terpilih Aklamasi Pimpin PBSI Sidoarjo, Pemprov PBSI Jatim Tegaskan Dien Sah Sebagai Ketua 

SIDOARJO-KEMPALAN : Kepengurusan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kabupaten Sidoarjo periode 2025-2029 resmi terbentuk. Dien Fatur Romadhoni terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PBSI Sidoarjo dalam Musyawarah Kabupaten (Muscab) yang digelar di salah satu hotel di Sidoarjo, Senin (5/5/2025) 

Ketua PBSI Jawa Timur, Tony Wahyudi, menyampaikan bahwa Muscab kali ini merupakan hasil dari proses yang sah dan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PBSI Jawa Timur. Sebelumnya, sempat digelar Muscab lain, namun dinyatakan tidak sah karena tidak memenuhi ketentuan organisasi.

“Sebelumnya memang ada muscab, tapi tidak sesuai AD/ART. Maka dari itu, kami dari Pengprov PBSI Jatim menunjuk Hendro Puspito sebagai Plt untuk melaksanakan proses penjaringan yang benar,” kata Tony kepada awak media Senin  (5/5/2025).

Penunjukan Hendro sebagai Plt PBSI Sidoarjo tertuang dalam Surat Keputusan Pengprov PBSI Jatim Nomor: SKEP.006/0.22.1/III/2025 tertanggal 29 Maret 2025. Tugas Plt adalah melaksanakan penjaringan, pengambilan formulir, serta sosialisasi ke seluruh klub bulu tangkis di Sidoarjo.

Tony menjelaskan, meski awalnya ada dua calon yang muncul, namun hanya satu yang akhirnya mengembalikan formulir. “Kita netral. Kita hanya fasilitasi sesuai mekanisme. Yang ambil formulir cuma satu, maka aklamasi,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat terjadi polemik. “Sekitar 80 persen klub mengirim surat tidak setuju terhadap muscab yang lama. Kita sudah undang sampai tiga kali untuk klarifikasi, tapi mereka tidak datang. Mereka malah mengadakan muscab sendiri tanpa kehadiran kami dari Pengprov. Itu jelas tidak sah,” tegas Tony.

Ketua PBSI Sidoarjo terpilih, Dien Fahrur Romadhoni, menyatakan kesiapannya membawa Sidoarjo bersaing di ajang-ajang regional. Salah satunya adalah Porprov IX Jatim yang akan digelar akhir Juni 2025.

“Kami akan siapkan atlet dan pelatih sebaik mungkin, meskipun waktu persiapan hanya sebulan. Target kami jelas, bisa bersaing dan meraih juara,” ujar Dien.

Tony menambahkan, Porprov memang dikhususkan untuk atlet daerah dan bukan dari Pelatnas. “Soal batasan umur, itu ranah KONI. Tapi kami pastikan atlet dari PBSI Sidoarjo siap bersaing,” tutup Tony.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Sharing Session dengan OJK, Khofifah Paparkan Jatim Gerbang Baru Nusantara

Gubetnur Jatim Khofifah Indar Parawansq bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, memberi leterangan pada awak media. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com).

SURABAYA-KEMPALAN: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memaparkan peran penting Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.

Hal ini disampaikannya dalam sharing session pengembangan ekonomi Jatim pada Rakor Kantor OJK Daerah bersama Dewan Komisioner OJK di Kantor OJK Jatim, Jalan Pemuda Surabaya, Senin (5/5).

saat menghadiri acara Sharing Session Pengembangan Ekonomi Jawa Timur bersama Anggota Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Periode 2022 – 2027 di Kantor OJK Surabaya, Senin (5/5) sore.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Mirza Adityaswara, serta enam anggota komisioner lainnya hadir dalam diskusi ini. Tampak pula Kepala OJK Jatim Yunita Linda Sari dan sejumlah kepala perangkat daerah Pemprov Jatim.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah situasi ekonomi nasional yang melambat. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2025 hanya 4,87 persen untuk pertama kalinya dalam delapan kuartal terakhir berada di bawah 5 persen.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyebut pentingnya peran Jawa Timur dalam mendukung konektivitas ekonomi Indonesia, khususnya antara wilayah barat dan timur.

“Sharing session ini merupakan kesempatan untuk berbagi informasi dengan Pak Ketua dan Wakil Ketua, serta Komisioner OJK, yang diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia. Yaitu memperkenalkan  misi besar Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara,” ujarnya.

Menurut Khofifah, Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara ini sebetulnya misi besarnya pada saat kampanye. Kemudian dibreakdown dalam banyak hal karena secara de facto sebetulnya sudah membangun konektivitas antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

“Kami memiliki tujuh pelabuhan besar, tujuh airport, dan 50 pelabuhan rakyat. Hampir 80 persen logistik di Indonesia Timur berasal dari Jawa Timur,” jelas Khofifah.

Khofifah juga menyampaikan bahwa pemerintah melalui Kementerian Kesehatan

menugaskan RSUD dr Soetomo untuk memberikan layanan kepada Indonesia Timur. Rumah sakit ini terbesar di Indonesia karena kapasitasnya melebihi RSCM. RSCM memiliki 1.200 tempat tidur, sedang RSUD dr Soetomo 1.300 tempat tidur. Selain itu, RSUD dr Soetomo juga sudah memiliki peralatan medis tertentu dan juga dokter spesialis tertentu yang bisa dijangkau oleh masyarakat.

Dalam aspek pendidikan, Khofifah menyebut bahwa Jawa Timur juga berperan sebagai pusat pengembangan pendidikan. Tidak hanya pendidikan formal, tetapi juga kedinasan.

“BPSDM Jawa Timur telah menjadi tempat bagi para birokrat di Indonesia Timur untuk meningkatkan kemampuan dan mengikuti berbagai program pelatihan,” ujarnya.

Selain itu, Khofifah juga menyoroti keberhasilan Jawa Timur dalam sektor pertanian, terutama dalam produksi gabah dan tebu dalam mendukung swasembada pangan.

“Insya Allah besok kita akan meluncurkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) khusus untuk tebu. Insya Allah kalau ini semua berjalan sesuai perencanaan, maka harusnya tahun ini Indonesia sudah swasembada gula juga,” tutur Khofifah.

Sementara itu, Ketua Komisioner OJK Mahendra mengungkapkan rasa terhormatnya atas kesempatan untuk mengunjungi Jawa Timur dalam rangka Rakor OJK Daerah.

“Kami merasa terhormat dapat dikunjungi Bu Gubernur (Khofifah) di Jawa Timur dan mendapatkan wawasan tentang visi dan program utama terkait dengan pembangunan Jawa Timur dalam menjalankan progam Gerbang Baru Nusantara,” katanya.

Mahendra berharap, Jawa Timur dapat terus berkontribusi dalam pengembangan ekonomi dan menarik provinsi lainnya untuk lebih mengutamakan potensi lokal serta memperkuat keterkaitan antar wilayah.
“Itu yang disampaikan Ibu Gubernur tadi. Tentunya kami siap untuk mendukung langkah-langkah dan program tersebut,” katanya.

Mahendra menyebut ada 37 kantor OJK
di seluruh daerah di Indonesia. Termasuk empat di Jawa Timur, yaitu di Surabaya, Malang, Kediri, dan Jember. Mereka hadir untuk mengikuti Rakor Kantor OJK Daerah yang digelar di Gedung Kantor OJK Jatim. (Dwi Arifin)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.