Jumat, 22 Mei 2026, pukul : 02:54 WIB
Surabaya
--°C

Perang Dunia Ke III di Ambang Pintu

KEMPALAN: Serangan militer Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada 21 Juni 2025 menjadi eskalasi baru dalam konflik Timur Tengah yang telah lama memanas.

Tindakan ini menempatkan AS secara langsung dalam konfrontasi dengan Iran, yang sebelumnya telah diguncang oleh serangan Israel pada 13 Juni.

Keterlibatan AS bukan sekadar simbol dukungan terhadap Israel, melainkan sebuah langkah agresif yang berpotensi mengubah dinamika geopolitik dunia secara drastis.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, menyatakan bahwa langkah AS ini sangat membahayakan. Menurutnya, AS seolah memaksa Iran untuk memilih antara menyerah dan berdamai, atau menghadapi serangan yang lebih besar.

Ultimatum seperti ini bukan hanya mencerminkan arogansi kekuasaan, tapi juga menciptakan tekanan yang tak seharusnya diterima oleh negara mana pun yang memiliki kedaulatan.

Dalam situasi seperti ini, pilihan Iran untuk menyerah sangat kecil. Negara tersebut memiliki sejarah panjang dalam menghadapi tekanan internasional, dan balasan terhadap serangan AS kemungkinan besar akan menjadi respons yang lebih agresif, termasuk kemungkinan serangan ke kapal induk AS di wilayah Teluk atau eskalasi lanjutan terhadap Israel.

Tak kalah penting adalah respons dunia internasional terhadap perkembangan ini. Jika dukungan terhadap Iran meningkat di kalangan negara-negara Timur Tengah, Asia Tengah, bahkan negara-negara Global South, maka situasi akan menjadi jauh lebih rumit.

Dukungan itu bisa muncul sebagai bentuk solidaritas terhadap pelanggaran kedaulatan Iran, yang menurut Prof. Teuku Rezasyah dari Universitas Padjadjaran, secara sah sedang membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB.

AS dinilai telah melangkahi batas hukum internasional dan melanggar prinsip dasar kedaulatan negara lain. Dengan bertindak seperti ini, AS tidak hanya memperburuk citranya di mata dunia Islam, tapi juga di hadapan komunitas internasional yang selama ini mengupayakan penyelesaian damai berdasarkan hukum.

Apa yang terjadi saat ini sangat mungkin membuka jalan ke arah konflik global yang lebih besar. Lembaga riset Global Challenges Foundation menyebut bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah, jika melibatkan lima kekuatan besar dunia, memiliki peluang sebesar 6% untuk berkembang menjadi perang berskala global dalam satu dekade ke depan.

Statistik ini terlihat kecil di atas kertas, namun dalam konteks militer dan diplomasi internasional, angka sekecil itu sudah cukup untuk menyalakan alarm dunia.

Sejarawan dan ahli strategi internasional asal Inggris, Prof. Lawrence Freedman, pernah menyatakan bahwa “Perang dunia tidak dimulai dari konflik besar, melainkan dari akumulasi konflik kecil yang diabaikan, hingga satu ledakan besar memaksa semua negara untuk memilih pihak.”

Kutipan ini menjadi sangat relevan hari ini. Ketika AS dan Iran saling mengancam, dan Israel terus melanjutkan operasi militernya, maka negara-negara lain yang memiliki afiliasi politik, ekonomi, dan ideologis akan secara perlahan tertarik dalam pusaran konflik ini.

Rusia, meskipun saat ini masih menahan diri, bisa sewaktu-waktu mengambil langkah berbeda apabila kepentingan strategisnya di kawasan merasa terancam.

Begitu pula dengan Tiongkok yang memiliki kepentingan besar di jalur minyak Teluk dan kawasan Indo-Pasifik.

Dalam jangka pendek, serangan AS ini telah menghancurkan harapan diplomasi yang telah dibangun dalam beberapa tahun terakhir, baik melalui saluran resmi seperti PBB maupun jalur diplomasi bilateral.

Dunia kini berdiri di ambang pilihan sulit: terus membiarkan konflik ini membara atau mengambil sikap aktif untuk mendorong perdamaian. Sayangnya, suara negara-negara besar seperti Jerman, Prancis, atau bahkan Uni Eropa sejauh ini masih cenderung pasif.

Ketidakmampuan mereka untuk bersikap tegas terhadap pelanggaran hukum internasional oleh AS justru memperlihatkan bahwa tatanan dunia pasca Perang Dunia II kini berada di ujung tanduk.

Sikap Indonesia dalam hal ini menjadi krusial. Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Hikmahanto, Indonesia harus memposisikan diri di sisi perdamaian.

Dalam hal ini, bukan sekadar menjadi penonton atau pengutuk pasif, tetapi menjadi motor penggerak negara-negara yang menjunjung prinsip non-blok dan hukum internasional.

Indonesia, dengan reputasinya sebagai negara demokrasi terbesar di dunia Muslim dan pengalaman panjang dalam diplomasi internasional, harus menjadi suara moral di tengah hiruk-pikuk senjata.

AS, dalam usahanya mempertahankan dominasi geopolitik global, justru terlihat mulai kehilangan pijakan etis. Tindakan membombardir fasilitas nuklir Iran—tanpa otorisasi PBB dan dengan alasan sepihak—dapat dianggap sebagai bentuk intervensi ilegal yang hanya akan menambah panjang daftar kegagalan moral dan hukum dalam sejarah kebijakan luar negerinya.

Dalam konteks inilah, tudingan dari Teuku Rezasyah bahwa AS telah menjelma menjadi “Shaitanul Akbar” tidaklah berlebihan.

AS tidak hanya membela Israel, negara yang telah lama dituding melanggar hak asasi manusia di Palestina, tetapi juga menjadikan dirinya simbol hegemoni yang merusak perdamaian global.

Jika dunia tidak segera bersatu untuk menghentikan eskalasi ini, maka risiko pecahnya Perang Dunia Ketiga bukanlah fiksi.

Dunia telah menyaksikan bagaimana Perang Dunia Pertama dimulai karena aliansi buta, dan Perang Dunia Kedua pecah karena arogansi dan diamnya kekuatan besar terhadap agresor. Hari ini, sejarah tampaknya ingin mengulang dirinya.

Di tengah kegelapan itu, hanya diplomasi, ketegasan hukum internasional, dan solidaritas global yang berpihak pada kemanusiaan yang bisa menjadi terang penuntun.

Jika suara perdamaian tidak diperkuat, maka deru mesin perang akan menjadi simfoni baru peradaban manusia yang gagal belajar dari masa lalu. ()

Oleh: Bambang Eko Mei
                 

Surabaya Terapkan Jam Malam Anak, Pelanggar Akan Dapat Pendampingan Psikologis

Kepala DP3APPKB Surabaya Ida Widyawati.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya memberlakukan jam malam bagi anak di bawah usia 18 tahun, mulai pukul 22.00 hingga 04.00 WIB. Kebijakan ini merupakan upaya serius Pemkot Surabaya, melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya, untuk meningkatkan perlindungan anak.

Kepala DP3APPKB Surabaya Ida Widyawati menjelaskan, kebijakan jam malam ini berdasarkan Surat Edaran (SE) Walikota Nomor 400.2.4/12681/436.7.8/2025 tentang Pembatasan Jam Malam bagi Anak di Kota Surabaya.

Untuk itu, DP3APPKB Surabaya telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mendukung implementasi kebijakan ini.
Sekaligus secara aktif melakukan edukasi dan sosialisasi kepada orang tua mengenai pentingnya pengawasan anak pada malam hari. 

“Edukasi ini kami lakukan melalui Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) dan Kelas Parenting oleh Puspaga. Program-program ini bertujuan untuk membekali orang tua dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengawasi serta membina anak-anak mereka,” jelas Ida, Senin (23/6).

Terkait mekanisme pembinaan, Ida menerangkan, setiap anak yang terjaring Satpol PP karena melanggar jam malam akan mendapatkan pendampingan. “Semua anak yang melanggar ketentuan jam malam akan mendapatkan pendampingan psikologis dan psikoedukasi kepada anak dan orang tua oleh DP3APPKB,” terang dia.

Selain itu, DP3APPKB Surabaya juga berperan aktif dalam pembinaan melalui Program Rumah Perubahan. Program ini dirancang khusus untuk anak-anak yang terindikasi terlibat dalam komunitas berisiko seperti gangster, balap liar, atau pengguna Napza.

Program Rumah Perubahan merupakan respons terhadap maraknya fenomena geng motor, balap liar, dan penyalahgunaan zat seperti lem serta miras. 

“Rumah Perubahan adalah program pembinaan selama minimal 7 hari, di mana anak-anak akan dibina secara mental, psikologis, spiritual, dan kedisiplinan. Program ini melibatkan pihak-pihak berkompeten dalam memberikan materi pembinaan anak,” ungkapnya.

Setelah menyelesaikan pembinaan, orang tua wajib membuat surat pernyataan yang diketahui RT/RW setempat, berisi komitmen untuk mengawasi anak dengan baik. Hal ini untuk memastikan keberlanjutan pembinaan di lingkungan keluarga. DP3APPKB Surabaya memastikan bahwa pendekatan yang diterapkan bersifat persuasif dan edukatif, bukan represif. 

“Kami menghadirkan narasumber yang kompeten serta menyusun kurikulum Rumah Perubahan yang bersifat terpadu dalam semua aspek. Harapannya, program ini dapat menumbuhkan pemahaman dan kedisiplinan dalam diri anak agar tidak terlibat dalam hal-hal yang merugikan diri sendiri dan keluarga,” kata dia.

Ida melanjutkan, keluarga, terutama orang tua, memiliki peran krusial dalam program-program DP3APPKB Surabaya. Orang tua terlibat dalam pengawasan anak setelah anak menyelesaikan pembinaan di Rumah Perubahan. Tak hanya itu saja, Rumah Ilmu Arek Suroboyo (RIAS) dihadirkan sebagai alternatif kelanjutan pembinaan dan pendidikan bagi anak. 

“Apabila orang tua merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam pemenuhan pendidikan dan pembinaan bagi anaknya, mereka dapat mendaftarkan anaknya untuk mengikuti Program RIAS,” jelasnya.

DP3APPKB Surabaya juga menyediakan intervensi psikologis atau konseling bagi anak dan keluarga yang terlibat dalam pelanggaran jam malam. Materi terkait intervensi psikologis juga menjadi bagian dari program Rumah Perubahan.

Bagi orang tua/wali yang anaknya melanggar jam malam, akan dilakukan pendampingan dan pemberian pemahaman terkait pola pengasuhan yang baik melalui SOTH serta Puspaga Balai RW.

Pelibatan tokoh agama dan tokoh pemuda telah menjadi bagian integral dalam program-program DP3APPKB. “Dalam Program Rumah Perubahan, kami melibatkan tokoh agama dan tokoh yang mampu membangkitkan semangat serta pemahaman pada anak mengenai pentingnya pendidikan,” ujarnya.

Selanjutnya, melalui kegiatan parenting dan SOTH, peran tokoh agama, Bhabinsa/Bhabinkamtibmas, RT/RW, serta Karang Taruna juga dilibatkan dalam memberikan pengawasan dan pembinaan kepada anak-anak di wilayah setempat melalui kegiatan Kampung Ramah Perempuan dan Anak.

Ida berharap surat edaran tentang Pembatasan Jam Malam bagi Anak di Kota Surabaya akan meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran orang tua dalam mengawasi dan membina anak-anak mereka.

“Hal ini penting agar anak-anak tidak beraktivitas di luar jam yang diperbolehkan tanpa pengawasan langsung dari orang tua, demi menjamin keselamatan dan perlindungan anak,” tegasnya. (Dwi Arifin)

Gubernur Khofifah: Produksi Gula Jawa Timur Bakal Tembus 1.457.900 Ton di 2025

Gubernur Khofifah Indar Parawansa mendampingi  Wapres RI Gibran RakabumingI saat panen tebu di Kebun Tebu Jolondoro, Banyuwangi, Senin (23/6)

BANYUWANGI-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi  Wakil Presiden RI Gibran RakabumingI  panen dan tanam tebu di Kebun Tebu Jolondoro, Banyuwangi, Senin (23/6).

Turut didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani serta perwakilan petani, panen tebu juga dirangkai dengan kegiatan penanaman tebu bersama sebagai langkah menjaga keberlanjutan produksi.

Gubernur Khofifah menyampaikan, kegiatan yang dilakukan hari ini merupakan bentuk komitmen Pemprov Jatim dalam mendukung program swasembada pangan khususnya gula.

“Alhamdulillah, hari ini kami  mendampingi  Bapak Wapres, Bapak Mentan dan seluruh stakeholder bisa memanen sekaligus menanam kembali tebu di Jolondoro. Ini menegaskan komitmen kita bersama untuk menjadikan Jatim sebagai pionir swasembada gula dan pelopor ketahanan pangan nasional,” kata Khofifah

Gubernur Khofifah Indar Parawansa ikut tanam tebu.

“Dan jika nasional bertekad swasembada gula, maka dengan optimisme produktivitas yang tinggi setiap tahunnya, kami nyatakan Jatim  siap untuk mewujudkan swasembada gula nasional dari Jatim,” sambungnya.

Kebun Jolondoro ini memiliki luas lahan 405 hektare dengan target produksi rata-rata 106 ton per hektare. Kebun ini menanam dua varietas tebu unggulan, yakni BL dan HMW, yang terkenal memiliki potensi hasil tinggi serta adaptasi lingkungan yang baik.

Khofifah menyebutkan, tingginya produktivitas di kebun tebu Jolondoro menjadi salah satu pengungkit dalam menjaga dominasi Jatim sebagai sentra produksi gula nasional.

“Kami optimis produktivitas tebu Jatim tahun ini akan lebih tinggi dan mampu
melampaui target,” ujarnya.

Ia menyebut, selain padi, salah satu kekuatan terbesar Jatim sebagai lumbung pangan nasional adalah dari komoditas tebu.

Data tahun 2024 menunjukan, produksi tebu di Jatim yang digiling di pabrik gula mencapai 16,69 juta ton dari total 238.135,6 hektare lahan tebu.

Dari jumlah tersebut, dihasilkan 1.278.923 ton gula kristal putih dengan rata-rata rendemen 7,58 persen. Sementara produksi gula nasional di tahun 2024 adalah sebanyak 2.465.514 ton.

Sedangkan untuk kebutuhan gula Jawa Timur sendiri per tahun mencapai 281.397 ton. Yang artinya Jatim surplus gula sebesar 997.526 ton.

“Artinya, kontribusi Jatim bagi pasokan gula nasional stabil di kisaran 50 persen setiap tahun. Ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa swasembada gula akan dimulai dari Jatim,” ungkapnya.

Tingginya produktivitas gula juga ditopang oleh banyaknya pabrik gula di Jatim. Saat ini, ada 29 pabrik gula yang tersebar di 16 kabupaten/kota, antara lain Probolinggo, Pasuruan, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Malang, Kediri, Madiun, Tulungagung, dan Sidoarjo.

Berdasarkan data taksasi yang diterima dari seluruh pabrik gula yang ada di Jawa Timur, bahwa di tahun 2025 ini, diperkirakan luas areal panen Tebu akan meningkat.

Luas area panen tebu di tahun 2025 ditarget meningkat menjadi 252.135 hektare, dan jumlah tebu digiling mengalami peningkatan menjadi 18.777.409 ton, dengan rendemen sebesar 7,76%.

“Dengan begitu di tahun 2025 ini produksi gula Jawa Timur diperkirakan akan menembus angka 1.457.900 ton. Meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya,” tegas Khofifah.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian tahun 2024, pabrik-pabrik di Jatim menyumbang 51,87 persen dari total produksi gula nasional.

“Angka ini menempatkan Jatim sebagai sentra produksi gula terbesar di Indonesia,” tegasnya.

Untuk memperkuat sektor ini, Pemprov Jatim mendorong berbagai kebijakan strategis. Mulai dari pemberian permodalan dan insentif kepada petani, hingga pengembangan infrastruktur pertanian berbasis teknologi.

Khusus permodalan, Pemprov Jatim melaui Bank Jatim dan Dirut SGN  sebelumnya telah melaunching Kredit Usaha Rakyat Khusus (KURsus) Kluster Petani Tebu Jatim dengan suku bunga tetap 6%. Program ini ditujukan untuk memfasilitasi peremajaan kebun (> 25 tahun) dan adopsi varietas unggul yang berpotensi menaikkan rendemen gula per ton tebu dari rata-rata 7% menjadi 8–9%.

“Jatim adalah penghasil gula tertinggi di Indonesia. Maka KURsus ini adalah wujud nyata upaya kita untuk memperjuangkan kesejahteraan petani tebu. Kita ingin petani tebu naik kelas, dari buruh ladang menjadi pengusaha pangan yang tangguh dan bermartabat,” katanya

Tak hanya berhenti pada permodalan, Gubernur perempuan pertama di Jatim ini juga menekankan pentingnya hilirisasi komoditas tebu. Menurutnya, hilirisasi akan mendukung diversifikasi produk turunan, salah satunya bioetanol.

“Hilirisasi tebu akan mendukung transisi energi dari fosil ke non-fosil. Ini selaras dengan upaya kita menuju green economy dan mendukung target net zero emission. Dengan demikian, peran petani tebu Jatim tak hanya untuk Indonesia, tapi punya efek positif bagi dunia,” katanya

Sementara itu Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menegaskan, pemerintah menargetkan tercapainya swasembada pangan nasional pada tahun 2026.

“Tolong untuk semua persoalan berkaitan dengan mekanisasi di lapangan segera diatasi. Target tahun depan kita Swasembada pangan,” katanya.

“Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, pelaku usaha, dan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan dalam mewujudkan kemandirian pangan bangsa,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan kepada petani berupa pompa air beserta kelengkapannya, penyerahan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui platform Ekosistem Tebu Rakyat (Etera), serta penyerahan benih tebu untuk mendukung mitra petani tebu. (Dwi Arifin)

Mantan Wabup Blitar Sebut Permainan Proyek Dinkes Lebih Parah dari Korupsi Dam Kalibentak

BLITAR-KEMPALAN: Perkara korupsi Dam Kali Bentak yang menyeret keluarga Mantan Bupati Rini Syarifah ternyata belum seberapa. Kabar berhembus, permainan proyek di Dinas Kesehatan dan jual beli jabatan lebih parah!

Mantan Wakil Bupati Blitar, Rahmat Santoso menyebut, saat dirinya masih menjabat, diakui banyak proyek bermasalah. Namun dirinya tidak bisa berbuat banyak karena hanya wabup dan hanya bisa mengigatkan Mak Rini sebagai bupati.

“Kalau perkara Dam Kali Bentak saya tidak tahu. Tapi memang banyak proyek yang bermasalah. Paling parah ya di Dinas Kesehatan dan jual beli jabatan, karena saya tahu sendiri, ” ujar Rahmat Santoso, saat dikonfirmasi terkait pemaggilan kedua Mak Rini oleh Kejari Kabupaten Blitar terkait kasus korupsi Dam Kali Bentak.

Disebutkan Rahmat Santoso, sewaktu dirinya masih menjabat Wabup ada dana stunting dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat yang jumlahnya mencapai puluhan miliar.Namun diduga, dana itu menguap dan tidak sesuai peruntukan.

“Saya tahu itu, karena saya yang cari jalan ke pusat agar dana stunting untuk program antropometri bisa turun ke Kabupaten Blitar. Dana stunting itu harusnya buat semua Puskesmas di Kabupaten dan ada juga untuk PKK untuk menangani stunting. Coba dicek berapa jumlahnya berapa, apakah semua Puskesmas dapat, ” ucap Rahmat Santoso yang mengaku sedang dalam perjalanan dari Kalsel ke Bali ini.

Karena ikut mencarikan jalan agar dana pusat tersebut turun, Rahmat Santoso pernah menayakan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar. Namun dijawab oleh Kadinkes, dr Christine indrawati, M.Kes jika penggunaan maupun pencairan harus melalui ijin Dewan Pengawas (Dewas), Sigit Poernomo.

“Saya tanya ke dokter Chiris, dana buat PKK untuk penanganan stunting kok belum turun. Karena kebetulan istri saya juga Ketua PKK saat itu dan memang tidak pernah menerima. Tapi jawabnya, harus melalui Profesor Sri Paduka Sigit, M-banking, ” sentil Rahmat Santoso.

Disinggung kemana larinya dana stunting dari pusat itu, Rahmat Santoso mengaku tidak tahu persis. Yang diketahui, ada proyek pembangunan Rumah Sakit Ngudi Waluyo Wlingi yang sudah gonta-ganti kontraktor puluhan kali.

“Apakah buat bangunan itu atau yang lain, coba tanya Dinkes atau Sri Paduka Sigit sebagai Dewas. Yang saya ketahui bangunan proyek itu miring dan bentonya disuntik sana-sana. Kontraktornya gonta-ganti. Selain itu di Dinkes juga ada pengadaan Alkes, dana dari pusat juga APBD, coba ditelusuri, ” ujarnya.

Selain menyoroti proyek di Dinkes, Rahmat Santoso juga menyebut perkara dugaan jual beli jabatan di Kabupaten Blitar semasa dirinya menjabat. Jual beli jabatan ini mulai dari tingkat bawah hingga level jabatan kepala dinas. Salah satunya ada di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim).

“Sampai sekarang Mak Rini kenapa belum pulang. Mungkin, selain ada panggilan kedua dari Kejari terkait korupsi Dam Kalibentak, juga ditagih banyak orang yang sudah setor uang untuk modal Pilkada kemarin. Sudah dijanjikan jabatan maupun proyek. Cek juga siapa direktur rumah sakit Srengat, ” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Rahmat Santoso juga membongkar modus dalam permainan proyek di Blitar yang melibat orang-orang dekat dan keluarga Mak Rini. Selain Muchlison, kakak kandung Mak Rini yang sudah ditetapkan tersangka dalam kasus korupsi Dam Kali Bentak, juga disebutkan keterlibatan Zainal Arifin, suami Mak Rini dan sejumlah tokoh dari PETA Tulungagung.

“Proyek-proyek di Kabupaten Blitar sudah di kapling-kapling. Ada yang harus lewat Gus Ison ada yang di klaim milik Kyai Ageng Saladin dan ada kaplingnya Zainal, tokoh yang sudah terkenal di dunia blantik sapi, ” bebernya.

Meski Rahmat Santoso sudah tidak lagi sering tinggal di Blitar, namun dirinya mengaku mengetahui jika saat ini ada gerilya dari ‘pasukan’ PETA dan ‘pasukan’ Baret Merah (pendukung Mak Rini), untuk mendekati Organisasi Perangkat Daerah (OPD) maupun Aparat Penegak Hukum (APH).

“Sekarang ada yang gerilya ke OPD-OPD dan APH. Tujuannya, agar satu kata jika sewaktu-waktu kasusnya dibuka. Saya bilang begini, karena saya juga salah satu APH, yaitu advokat, ” ucap Rahmat Santoso yang Ketum DPP Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI) dan Vice Presiden Kongres Advokat Indonesia (KAI).

Diketahui, kasus korupsi di Kabupaten Blitar pada periode Bupati Mak Rini sudah mulai dibongkar oleh Kejari Kabupaten Blitar. Diawali dengan penetapan lima tersangka korupsi proyek pembangunan Dam Kali Bentak senilai Rp 5,1 miliar. Salah satu tersangka adalah Muchilson, kakak kandung mantan Bupati Mak Rini yang menerima aliran uang Rp 1,1 Miliar.

Muchlison masuk dalam Tim Percepatan Pembangunan dan Investasi (TP2ID), Lembaga ad hoc bentukan Mak Rini. Dalam TP21D juga ada nama tokoh dari Pondok PETA Mohamad Zulkarnain atau yang akrab disapa Gus Adib. Kejari Kabupaten Blitar juga sudah memeriksa Gus Adib, namun status masih saksi.

Selain itu dalam TP2ID juga ada nama Sigit Purnomo, yang menjabat Dewan Pengawas Rumah Sakit di Kabupaten Blitar. Dalam minggu ini, Kejari juga akan memanggil Mak Rini untuk kedua kalinya dalam kasus korupsi DAM Kalibentak.(Ari)

Nathan dan William Langsung Memulai Hari Pertama Cabor Golf dengan Under 1

MALANG-KEMPALAN: Dua golfer andalan Kota Surabaya dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jatim 2025, Nathan Christoper Widjaya dan William Justin Wijaya, mampu menunjukkan sinyal kepada daerah lain tentang potensi golfer Kota Pahlawan dalam debut cabor golf di Porprov Jatim kali ini.

Saat hari pertama dalam nomor individual di Araya Golf Course, Malang, Senin (23/6), Nathan dan William mampu mencatatkan skor terbaik. Uniknya mereka mampu mencatatkan skor yang sama, yaitu 71 pukulan, atau 1 pukulan di bawah par.

Duo golfer putra Kota Surabaya tersebut jauh meninggalkan golfer putra lainnya. Daffa Putra Hardian golfer putra andalan Kota Malang yang skornya terdekat dari kedua golfer Kota Surabaya itu, masih di angka 76 pukulan, empat pukulan di atas par.

Nathan menyebut, hole-hole dengan par 5 yang dia jadikan target untuk merebut banyak poin. Total tiga birdie dan satu even par dia dapat dari par 5. ’’Untungnya hari ini (kemarin, Red) tidak seberapa berangin. Sehingga, second shot di par 5 memakai shot iron tetap maksimal,’’ sebut Nathan, tentang kuncinya.

BACA JUGA: Cabor Golf Akan Dipertandingkan untuk Kali Pertama dalam Porprov Jatim 2025

Satu even par terjadi di hole 8. Nah, hole tersebut berada di first nine yang windy pada siang hari. Nathan merasakannya pada dua hole terakhir, 8-9. Meski begitu Nathan sudah banyak mengambil pelajaran dari hari pertama. ’’Taktik besok (hari ini, Red) keep it stable saja,’’ cetusnya.

William sebaliknya. Dia malah memulai hari pertama dengan triple bogey. Tetapi, dia mampu membalasnya dalam second nine. ’’Aku mencoba untuk tidak down (setelah triple bogey). Aku sadar hal-hal seperti itu tidak sepenuhnya salahku. Jadi aku pun tetap fokus pada hole-hole berikutnya,’’ timpal William.

Aksi golfer wanita Kota Surabaya Calista Allegra Dewantara dalam hari pertama cabor golf Porprov Jatim 2025. Dia jadi yang terbaik di kategori wanita. (Foto: Pengprov PGI Jatim)
Aksi golfer wanita Kota Surabaya Calista Allegra Dewantara dalam hari pertama cabor golf Porprov Jatim 2025. Dia jadi yang terbaik di kategori wanita. (Foto: Pengprov PGI Jatim)

Istimewanya, dominasi golfer-golfer Kota Surabaya juga berlanjut di sektor putri. Salah satu golfer putri andalannya, Calista Allegra Dewantara mampu mencatatkan skor terbaik, 74 pukulan atau dua pukulan di atas par.

Di bawah Calista, ada golfer putri Kota Surabaya lainnya, Phoebe Gani. Phoebe di hari pertama ini mencatatkan enam pukulan lebih banyak dari Calista. Phoebe mencatat 80 pukulan atau delapan pukulan di atas par. (YMP)

Pelatihan Digital Marketing Tim Dosen Stikosa AWS di Kampung Kue Rungkut

Kegiatan pelatihan digital branding oleh tim dosen Stikosa AWS di kampung kue Rungkut Surabaya, Minggu (22/6).

SURABAYA-KEMPALAN: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa  pelatihan digital branding dan E-Commerce UMKM oleh tim dosen Stikosa AWS dilaksanakan di Kampung Kue Rungkut, Jl Rungkut Lor Gang 2, Kelurahan Kalirungkut Surabaya, Minggu (22/6).

Walaupun sudah eksis sebagai salah satu ikon kuliner khas kota Surabaya dan menjadi sentra wisata kuliner khas Jawa Timur, namun mata jeli Mochamad Arkansyah, kordinator tim pengabdian masyarakat dari Stikosa AWS,  mengamati bahwa keberadaan Kampung Kue di Jalan Rungkut Lor II  kelurahan Kali Rungkut Surabaya ini masih bisa ditingkatkan. Khususnya trik menghadapi perkembangan teknik pemasaran di era digital.

Di mata dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) ini, para pelaku UMKM di Kampung Kue Rungkut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan pengetahuan tentang digital branding, belum optimalnya pemasaran online, hingga minimnya pemanfaatan media sosial dan marketplace secara efektif.

Penelitian dan kesimpulan Arkansyah tersebut mengantarnya untuk mendapat hibah pengabdian dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) tahun 2025. Arkansyah bersama dua anggota tim peneliti yang juga Dosen Stikosa AWS, Ratna Puspitasari dan Yunita, serta beberapa orang mahasiswa Stikosa AWS, mengadakan kegiatan pelatihan Digital Branding dan E-Commerce UMKM di Kampung Kue Rungkut Surabaya melalui Program Hibah Pengabdian Masyarakat Pemula tahun 2025 yang didanai oleh Kemdikbudristek.

Pelatihan pertama berupa workshop digital branding dan identitas visual usaha. Peserta diajak memahami pentingnya membangun citra usaha yang konsisten, mulai dari logo, warna, hingga cara komunikasi produk.

Dilanjutkan dengan pelatihan fotografi produk menggunakan ponsel, untuk meningkatkan tampilan visual produk yang akan dipasarkan secara digital.

Pada sesi manajemen media sosial, peserta belajar membuat konten promosi, menjadwalkan unggahan, dan mengenal platform yang sesuai dengan target pasar mereka. Dalam tahap pendampingan konten dan penjadwalan unggahan, peserta menerapkan ilmu yang telah diperoleh secara langsung dan berkelanjutan. Pelatihan ditutup dengan sosialisasi e-commerce dan marketplace, mengenalkan cara berjualan online melalui platform yang sudah ada, serta strategi mengelola toko digital.

Pelatihan tersebut diikuti dengan penuh minat oleh para perajin kue yang sebagian besar adalah ibu-ibu. Salah satu peserta pelatihan menyatakan sangat gembira mendapat ilmu tentang digital marketing dan cara pemasaran e-commerce dan marketplace yang sedang hit.

“Pelatihan ini dapat menjadi pemicu transformasi digital UMKM di Kampung Kue Rungkut, agar lebih berdaya saing dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas” ujar Arkansyah.

Sejak awal berdiri, tahun 2005, Kampung Kue Rungkut menjadi contoh inspirasi yang bagus, bagaimana industri rumahan dapat berkembang dan menjadi solusi untuk menambah pendapatan keluarga. Hingga kini terdapat sekitar 70 varian kue tradisional yang diproduksi oleh ibu-ibu warga Rungkut Lor Gang 2, Kelurahan Kalirungkut Kecamatan Rungkut Surabaya.

“Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, pihak perguruan tinggi bisa memberikan kontribusi keilmuan untuk lebih memaksimalkan potensi yang ada di kampung kue Rungkut” ujar Dosen Stikosa AWS ini. (Dwi Arifin)

Pemprov Jatim Raih Penghargaan Kontributor Koperasi Besar Terbaik

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

SURABAYA-KEMPALAN: Provinsi Jawa Timur kembali menorehkan prestasi membanggakan di sektor pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Melalui kontribusinya yang konsisten dalam mendorong perkembangan koperasi, Jawa Timur dianugerahi penghargaan “Provinsi Kontributor Koperasi Besar Terbaik” dari Majalah Peluang, media perkoperasian utama nasional.

Penghargaan ini diserahkan pada Malam Penganugerahan 100 Koperasi Besar Indonesia Award 2025 yang digelar di The Trans Resort Bali, Kamis (19/6) malam. Acara tersebut juga dirangkaikan dengan peluncuran Buku 100 Koperasi Besar Indonesia edisi kelima dalam dua bahasa, Indonesia–Inggris.

Atas capaian tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas penghargaan tersebut. Menurutnya, Pemprov Jatim akan terus berkomitmen untuk menjadikan koperasi sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi inklusif.

“Alhamdulillah, ini adalah wujud kerja keras seluruh insan koperasi di Jatim, dari pengurus, anggota, hingga pendamping koperasi di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan desa. Semangat gotong royong inilah yang menjadi ruh dari ekonomi kerakyatan kita,” kata Khofifah, Senin  (23/6).

Berdasarkan laporan dari online data system (ODS) per 20 Juni 2025, jumlah koperasi aktif di Jatim mencapai 28.534 unit, termasuk di dalamnya KDMP. Dari jumlah ini, yang memiliki usaha simpan pinjam/unit usaha simpan pinjam mencapai 16.444 unit koperasi (57 persen) dan koperasi yang bergerak disektor riil mencapai 12.090 unit (43 persen).

“Sebanyak 28.534 koperasi yang kita miliki alhamdulillah semuanya aktif menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Dengan capaian tersebut, Jawa Timur konsisten menempati peringkat pertama secara nasional dalam kontribusi jumlah koperasi aktif, anggota, maupun aset koperasi.

Prestasi baik juga terlihat pada pembentukan koperasi desa/kelurahan merah putih.  Berdasarkan data yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) per 22 Juni 2025 pukul 21. 00 WIB tercatat 8.026 koperasi (94,5 %) di Jatim telah resmi memperoleh SK pengesahan, dengan 23 Kabupaten / Kota di Jawa Timur telah mencapai 100%. Sementara musdes dan sosialisasi telah mencapai 100 persen.

Jumlah tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan pengesahan koperasi terbanyak di Indonesia, melampaui propinsi lainnya.

“Jawa Timur mencatatkan capaian tertinggi secara nasional dalam pengesahan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Ini tentu kerja keras semua pihak. Para Bupati/ Wali Kota, Kanwil Hukum Jatim, serta kerja keras Ikatan Notaris Indonesia Jawa Timur,” ucap Khofifah.

“Ke depan kita akan terus dorong koperasi-koperasi di Jawa Timur untuk terus tumbuh bergerak di sektor riil. Terdapat 213 koperasi besar di Jawa Timur, harapan kami koperasi besar tersebut dapat menjadi bapak angkat bagi koperasi-koperasi baru termasuk koperasi desa merah putih  sehingga dapat memberikan multiplier effect pada peningkatan ekonomi daerah,” imbuhnya.

Dengan banyaknya jumlah koperasi ini, ia menekankan pentingnya laporan keuangan dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas. Ia juga menyoroti pentingnya inovasi dalam pengelolaan keuangan koperasi untuk menghadapi tantangan yang ada.

Ia berharap penghargaan ini menjadi motivasi baru bagi Pemprov Jatim untuk terus mendorong lahirnya koperasi-koperasi potensial, progresif, dan modern di berbagai sektor.

“Kami akan terus meningkatkan literasi perkoperasian, digitalisasi manajemen koperasi, serta memperluas akses pasar agar koperasi Jatim semakin berdaya saing,” katanya

“Melalui berbagai program pemberdayaan dan penguatan kelembagaan koperasi, kami ingin koperasi di Jawa Timur tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas, maju, modern, dan adaptif terhadap teknologi digital,” tegasnya lagi

Perlu diketahui, selain Jatim, penghargaan serupa juga diberikan kepada sejumlah provinsi lain yang dinilai memiliki kontribusi signifikan dalam mendukung koperasi besar, progresif, dan potensial di Indonesia.

Sebanyak 30 koperasi besar juga hadir secara langsung, bersama lebih dari 200 pengurus dan manajer koperasi, dalam acara yang dihelat tiga tahunan tersebut. (Dwi Arifin)

Memaknai Politik Agama atau Ideologi

KEMPALAN: Dalam kehidupan bernegara, ideologi bukan sekadar simbol atau rangkaian kata yang tertulis dalam konstitusi. Ia adalah fondasi dan arah pijak sebuah bangsa.

Di Indonesia, Pancasila menjadi ideologi pemersatu yang dirumuskan bukan untuk menyingkirkan identitas kelompok tertentu, melainkan sebagai titik temu keberagaman.

Namun, dalam perjalanannya, ada saja upaya dari kelompok-kelompok tertentu yang mencoba menggiring arah bangsa dengan membawa ideologi tandingan, baik secara halus maupun terbuka.

Salah satu bentuknya adalah penggunaan politik agama atau ideologi sebagai alat untuk menantang otoritas negara yang sah.

Politik agama, yang seharusnya menjadi kekuatan moral, kini sering kali dipelintir menjadi alat legitimasi kekuasaan. Agama ditarik masuk ke arena kontestasi politik praktis, dijadikan tameng untuk menyerang kebijakan negara dan lawan politik, bahkan kerap dimanipulasi menjadi senjata ideologis.

Padahal, dalam sejarahnya, para pendiri bangsa sepakat bahwa Pancasila bukan antitesis agama. Ia justru lahir dari semangat religius yang inklusif dan kosmopolit, yang mengakomodasi nilai-nilai spiritual berbagai golongan tanpa menjadikan satu agama sebagai poros dominan.

Namun, ketika ada kelompok yang ingin mengganti sistem bernegara dengan ideologi berbasis agama tunggal atau sistem transnasional seperti khilafah, maka negara tidak boleh abai.

Ini bukan sekadar ekspresi politik, melainkan ancaman terhadap fondasi konstitusional. Pemerintah, dalam konteks ini, harus hadir dengan ketegasan. Bukan dalam arti represif terhadap kritik atau perbedaan pendapat, melainkan protektif terhadap kestabilan dan kedaulatan ideologi negara.

Tapi di sinilah paradoks demokrasi muncul. Ketika negara mengambil langkah tegas, tuduhan pun datang, dan biasanya dianggap sebagai kriminalisasi, anti-Islam, anti-oposisi, anti-demokrasi.

Kritik terhadap kebijakan negara boleh dan harus ada, namun ketika kritik bertransformasi menjadi delegitimasi total terhadap ideologi negara, maka itu bukan lagi bagian dari demokrasi.

Dalam pandangan pakar politik dan tata negara asal Jerman, Carl Schmitt, “musuh politik sejati bukanlah pihak yang berbeda pendapat, tetapi mereka yang mempertanyakan eksistensi sistem itu sendiri.”

Artinya, negara tidak boleh lengah terhadap ancaman dari dalam yang menyamar sebagai bagian dari dinamika demokrasi, padahal sebenarnya berupaya menggulingkan pilar demokrasi itu sendiri.

Literasi politik yang rendah membuat masyarakat mudah terbawa narasi-narasi manipulatif. Mereka yang tidak memahami perbedaan antara kritik sah dan agitasi subversif menjadi sasaran empuk propaganda ideologis.

Media sosial menjadi medan pertempuran utama, di mana narasi dibangun bukan atas dasar kebenaran, melainkan pengaruh.

Dalam masyarakat yang minim pendidikan politik, politik agama sangat efektif dimainkan. Emosi kolektif jauh lebih mudah dibakar ketimbang nalar kritis.

Di sinilah negara dituntut tidak hanya bersikap tegas secara hukum, tapi juga hadir secara masif dalam pendidikan politik.

Sayangnya, pendidikan politik di Indonesia masih bersifat formalitas. Ia belum menyentuh ruang-ruang substantif yang bisa membangun kesadaran ideologis warga negara.

Di tengah kekosongan itu, kelompok-kelompok ekstrem ideologis mengisi ruang dengan narasi-narasi simplistis dan menghasut.

John Rawls, filsuf politik asal Amerika Serikat, pernah menyatakan bahwa demokrasi tidak akan bertahan tanpa “reasonableness”—kemampuan warga negara untuk menimbang secara rasional kebaikan bersama.

Ketika politik agama meminggirkan akal sehat dan mendegradasi logika konstitusional, maka demokrasi sedang dipaksa untuk bunuh diri.

Penting pula menyoroti peran pemimpin dalam dinamika ini. Keteladanan pemimpin adalah bagian dari pendidikan politik yang hidup.

Ketika pemimpin bersikap ambigu terhadap ancaman ideologi ekstrem, bahkan kadang berkompromi demi kepentingan elektoral, maka pesan yang tersampaikan ke publik menjadi rancu.

Pemimpin yang menyuarakan Pancasila tetapi diam saat simbol-simbol intoleransi tumbuh di lingkar kekuasaan, adalah pemimpin yang membiarkan api kecil membakar pondasi bangsa secara perlahan.

Ketegasan ideologis seharusnya bukan hanya tertulis di naskah pidato, tetapi terwujud dalam kebijakan, penegakan hukum, dan pola komunikasi publik yang konsisten.

Dalam konteks global, banyak negara juga menghadapi dilema yang serupa. Prancis misalnya, bersikap tegas terhadap simbol-simbol politik berbasis agama di ruang publik.

Amerika Serikat menggunakan hukum internalnya untuk melindungi konstitusi dari ancaman sektarian. Artinya, sikap tegas bukanlah tanda anti-demokrasi, melainkan bukti komitmen terhadap demokrasi yang rasional dan konstitusional.

Negara yang membiarkan dirinya disandera oleh politik identitas akan kehilangan arah dan terjebak dalam konflik horizontal yang tiada akhir. Indonesia, sebagai negara dengan keragaman ekstrem, harus lebih waspada terhadap jebakan ini.

Kita tak bisa terus-menerus menganggap bahwa semua yang berbicara atas nama agama pasti benar dan tak bisa disentuh hukum.

Negara bukan lembaga teologi. Ia adalah institusi politik yang bertugas menjaga keteraturan dan keberlangsungan hidup bersama. Ketika agama dijadikan kendaraan untuk menggulingkan ideologi negara, maka itu bukan ekspresi keimanan, melainkan ekspresi kekuasaan yang berbahaya.

Maka, sikap tegas negara bukanlah bentuk perlawanan terhadap umat, melainkan perlindungan terhadap seluruh rakyat tanpa kecuali.

Menjaga Pancasila adalah menjaga rumah bersama. Jika rumah ini dirongrong oleh ideologi yang hanya berpihak pada satu warna saja, maka jutaan warna lain dalam pelangi kebangsaan akan hilang.

Demokrasi dan keberagaman hanya bisa hidup dalam ekosistem yang sehat—ekosistem yang melindungi perbedaan, tapi juga tidak kompromi terhadap ideologi yang ingin memaksakan keseragaman.

Dalam kondisi seperti inilah, ketegasan negara dan kecerdasan politik masyarakat menjadi dua sisi mata uang yang saling menguatkan.

Dan seperti kata Schmitt, “yang membedakan negara sehat dan sakit bukanlah ada tidaknya perbedaan, melainkan seberapa kuat negara menjaga dirinya dari ancaman eksistensial.”

Indonesia harus menjadi negara yang kuat menjaga jati dirinya—bukan negara yang ragu-ragu di hadapan ancaman ideologis yang dibungkus atas nama agama.

                   *

Oleh Bambang Eko Mei

Semangka

KEMPALAN : Bunali sedang pusing, kebun semangkanya setiap malam dijarah maling. Padahal akan dipanen. Sudah diakali dengan bermacam cara, masih tetap saja semangkanya banyak yang hilang. Kata banyak orang, yang mencuri itu Wonokairun. Tapi Bunali tidak berani menangkap, perlu strategi. Akhirnya Bunali menemukan cara biar malingnya kapok.

Sore hari sebelum pulang, Bunali memasang papan peringatan yang bertuliskan : “Awas hati-hati kalau mau mencuri. Salah satu semangkaku sudah saya suntik racun”. Dan, sesudah menghitung semangkanya yang masak yang jumlahnya 15, Bunali terus pulang.

Esoknya, Bunali menengok kebunnya, dan setelah dihitung semangkanya masih 15.

‘Wah, ternyata malingnya keder. Saya tipu dengan pengumuman macam begini saja sudah takut,’ pikir Bunali.

Sesudah itu Bunali melihat papan pengumumannya yang ternyata miring mau ambruk. ‘Wah paling ketiup angin,’ pikir Bunali lagi. Saat dibalik, ternyata papan pengumumannya ditambahi tulisan: “Awas sekarang ada dua (yang tersuntik racun)”.

*

Dalam konteks anekdot berjudul ‘Semangka’ ini, digambarkan bahwa si maling ternyata lebih julik daripada si pemilik kebun. Padahal pada setiap dongeng atau folklore premis moralnya selalu menyebut kebatilan akan kalah. Lha kok si maling malah bikin teror.

Tentu, anekdot ini bukan dimaksudkan untuk menyindir kondisi tertentu di sebuah tempat tertentu, meski bisa saja itu terjadi. Kalau misalnya iya, celaka benar lantaran kejahatan mengalahkan kebenaran. (Mudah-mudahan kalah hanya untuk sementara).

Dan, sosok pencuri bisa saja berbentuk hama serangga, cuaca yang tidak bersahabat, tikus, atau “tikus berkepala hitam” yang doyan : hamburger, pizza, sayur lodeh, wanita-wanita cantik bahenol, dan ngembat uang hasil pajak dari rakyat ! (Amang Mawardi).

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.