KEMPALAN : Bunali sedang pusing, kebun semangkanya setiap malam dijarah maling. Padahal akan dipanen. Sudah diakali dengan bermacam cara, masih tetap saja semangkanya banyak yang hilang. Kata banyak orang, yang mencuri itu Wonokairun. Tapi Bunali tidak berani menangkap, perlu strategi. Akhirnya Bunali menemukan cara biar malingnya kapok.
Sore hari sebelum pulang, Bunali memasang papan peringatan yang bertuliskan : “Awas hati-hati kalau mau mencuri. Salah satu semangkaku sudah saya suntik racun”. Dan, sesudah menghitung semangkanya yang masak yang jumlahnya 15, Bunali terus pulang.
Esoknya, Bunali menengok kebunnya, dan setelah dihitung semangkanya masih 15.
‘Wah, ternyata malingnya keder. Saya tipu dengan pengumuman macam begini saja sudah takut,’ pikir Bunali.
Sesudah itu Bunali melihat papan pengumumannya yang ternyata miring mau ambruk. ‘Wah paling ketiup angin,’ pikir Bunali lagi. Saat dibalik, ternyata papan pengumumannya ditambahi tulisan: “Awas sekarang ada dua (yang tersuntik racun)”.
*
Dalam konteks anekdot berjudul ‘Semangka’ ini, digambarkan bahwa si maling ternyata lebih julik daripada si pemilik kebun. Padahal pada setiap dongeng atau folklore premis moralnya selalu menyebut kebatilan akan kalah. Lha kok si maling malah bikin teror.
Tentu, anekdot ini bukan dimaksudkan untuk menyindir kondisi tertentu di sebuah tempat tertentu, meski bisa saja itu terjadi. Kalau misalnya iya, celaka benar lantaran kejahatan mengalahkan kebenaran. (Mudah-mudahan kalah hanya untuk sementara).
Dan, sosok pencuri bisa saja berbentuk hama serangga, cuaca yang tidak bersahabat, tikus, atau “tikus berkepala hitam” yang doyan : hamburger, pizza, sayur lodeh, wanita-wanita cantik bahenol, dan ngembat uang hasil pajak dari rakyat ! (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi