Jumat, 22 Mei 2026, pukul : 02:14 WIB
Surabaya
--°C

Produksi Kopi Jatim Capai 81.133 Ton di 2024, Terbesar di Jawa

Gubernur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming panen raya kopi di Kebun Kopi Kalisat Jampit, Kab. Bondowoso, Selasa (24/6).

BONDOWOSO-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming panen raya bersama masyarakat Petani Kopi Ijen di Kebun Kopi Kalisat Jampit, Kab. Bondowoso, Selasa (24/6).

Ikut mendampingi dalam kunjungan ini Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid, jajaran Dirut PTPN dan Forkopimda Jatim, dan Kab. Bondowoso.

Gubernur Khofifah dan Wapres Gibran melakukan panen biji kopi di area perkebunan Java Coffee Estate (JCE) seluas 3.530,77 hektare yang dirangkai dengan sortasi kopi hingga dialog interaktif bersama petani kopi di kawasan JCE.

Di hadapan Wapres Gibran, Khofifah menyatakan optimis Pemprov Jatim bakal memenuhi permintaan pasar ekspor melalui keberadaan communal branding.

“Jadi kami punya communal branding. Di sini brand-nya sudah sama sehingga kalau kita ekspor ini relatif memenuhi permintaan pasar yang besar ketika ditambah dengan Kopi Kare Madiun, Kopi Wonosalam Jombamg, dan Kopi Silo Jember,” terang Khofifah.

Optimisme itu didukung dengan fakta bahwa Jawa Timur merupakan provinsi penghasil kopi terbesar keempat nasional dan terbesar se Jawa.  Berdasarkan data dari Ditjen Perkebunan Kementan RI, produksi kopi Jatim di tahun 2024 sebanyak 81.133 ton.

Sayangnya, dengan potensi produksi serta permintaan pasar ekspor yang sangat besar, masih belum mampu tercukupi. Selama ini pasar ekspor melalui  communal branding Jatim sebagian besar berasal dari Kopi Kare Madiun, Kopi Wonosalam Jombang, dan Kopi Silo Jember.

Oleh sebab itu, Khofifah optimis potensi produksi di Kab. Bondowoso yang terkenal sebagai Republik Kopi ini  dapat membantu memenuhi permintaan pasar ekspor.

Gubernur Khofifah juga menyebut bahwa di wilayah Bondowoso telah banyak terdapat industri rumahan pengolahan kopi, utamanya untuk processing. Seperti yang ada di Kampung Arab Bondowoso, dimana produk olahan kopinya sudah ditambahkan Jahe dan  rempah-rempah lainnya, karena memang sudah punya pasar tersendiri.

“Di Bondowoso sendiri kita sudah banyak Pilot Project untuk processing. Oleh sebab itu, jika nanti ingin melakukan processing sendiri atau masalah pasar, Insya Allah Pemprov siap memfasilitasi,” tegas Khofifah.

Dengan berbagai potensi dan kesiapan ini, Khofifah berharap dapat memenuhi arahan Wapres RI Gibran untuk terus meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi petani lokal.

“Kawasan Ijen ini adalah salah satu wilayah penghasil kopi unggulan tidak hanya Jatim tapi juga nasional. Sesuai arahan Bapak Wapres, kita berharap agar terus bisa meningkatkan kesejahteraan petani lokal,” pungkasnya.

Sementara itu, Wapres RI Gibran Rakabuming menyatakan apresiasinya kepada Pemprov Jatim yang terus berkontribusi dalam produksi kopi lokal. Secara khusus, ia berpesan agar peningkatan produktivitas dan kualitas menjadi perhatian dari Petani, pengelola hingga pemerintah daerah.

“Kopi Indonesia sudah mendunia. Bahkan kita sebagai produsen kopi keempat dunia. Kita harus pastikan kualitasnya terjaga dan kuantitinya mencukupi kebutuhan dunia,” pesan Wapres Gibran.

“Saya selalu titip kepada Ibu Gubernur karena Jatim ini kan luar biasa pertanian dan perkebunannya. Saya harap bisa terus ditingkatkan sesuai dengan visi misi dari Pak Presiden yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” lanjutnya.

Di sisi lain, momen menarik terjadi ketika Wapres Gibran turut mempromosikan kemikmatan kopi lokal asli Jawa Timur. Ia mengaku bukan seorang pengkonsumsi kopi karena memiliki gangguan asam lambung, berbeda dengan Presiden Prabowo yang seorang penggemar kopi. Dari beberapa kopi yang dicoba, kopi Bondowoso ini disebutnya aman dan nyaman bagi penderita gangguan asam lambung sepertinya.

“Saran saya, minum kopi di Ijen ini ternyata aman dan nyaman di lambung. Sesuai saran Ibu Gubernur tanpa gula. Harus kopi Ijen, kopi Indonesia,” tuturnya. (Dwi Arifin)

Pemakzulan Donald Trump Langkah Terbaik

Tanggal 22 Juni 2025 mencatat sebuah titik panas dalam sejarah hubungan internasional dan ketegangan domestik Amerika Serikat.

Perintah Presiden Donald Trump untuk membombardir tiga fasilitas nuklir Iran tanpa persetujuan Kongres memicu badai politik di dalam negeri dan membuka kembali perdebatan lama tentang batas kekuasaan eksekutif di negeri Paman Sam.

Langkah ini langsung disambut dengan kecaman tajam dari Partai Demokrat, terutama oleh tokoh progresif Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) yang menyerukan pemakzulan.

Dalam pernyataan kerasnya di media sosial, AOC menyebut langkah Trump bukan hanya keputusan impulsif, tetapi juga pelanggaran terang-terangan terhadap Konstitusi AS yang mengatur otorisasi perang sebagai kewenangan Kongres, bukan presiden secara tunggal.

Langkah Trump tersebut menjadi manifestasi terbaru dari gaya kepemimpinannya yang selama ini dikenal kontroversial, keras kepala, dan kerap mengabaikan norma-norma institusional.

Dalam pandangan banyak pengamat, serangan ini bukan semata-mata reaksi militer terhadap ancaman nuklir, tetapi juga cermin dari pola lama Trump: mengedepankan aksi cepat yang memukau publik, tetapi minim kalkulasi strategis jangka panjang.

Sosiolog politik dari Jerman, Klaus Neumann, menyebut gaya Trump sebagai “populisme militeristik”—yakni perpaduan antara retorika populis dengan aksi sepihak yang berpotensi menciptakan eskalasi konflik.

Reaksi keras dari anggota Kongres seperti Sean Casten dan Hakeem Jeffries memperlihatkan adanya kekhawatiran nyata bahwa presiden telah bertindak di luar batas kewenangannya.

Casten menegaskan bahwa meskipun Iran adalah ancaman nyata, tidak ada pembenaran konstitusional untuk mengebom negara yang tidak menyerang terlebih dahulu tanpa otorisasi legislatif.

Ini bukan sekadar soal politik partisan. Ini adalah soal prinsip tata negara. Dalam sistem demokrasi yang sehat, mekanisme checks and balances harus dijaga.

Ketika presiden merasa dapat melancarkan serangan militer tanpa pengawasan, maka demokrasi mulai kehilangan napasnya.

Sejarah Amerika tidak asing dengan presiden yang melancarkan aksi militer sepihak. Bill Clinton pernah menyerang Sudan dan Afghanistan.

Barack Obama meluncurkan operasi di Libya. Trump sendiri saat menjabat periode pertama sempat memerintahkan pembunuhan Jenderal Iran, Qassem Soleimani, tanpa otorisasi kongres.

Namun serangan pada 2025 kali ini terjadi dalam konteks global yang jauh lebih rapuh, di tengah ketegangan geopolitik yang sudah membara.

Serangan ke fasilitas nuklir Iran bukan hanya menciptakan instabilitas regional, tetapi juga berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga jika Iran dan sekutunya membalas dengan kekuatan penuh.

Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance membela habis-habisan langkah Trump. Menurutnya, presiden memiliki kewenangan untuk bertindak dalam rangka mencegah penyebaran senjata pemusnah massal.

Pernyataan ini mengingatkan publik pada argumen klasik dari era invasi Irak tahun 2003, ketika Presiden George W. Bush melancarkan perang dengan dalih yang sama.

Namun, seperti banyak pengamat catat, pembenaran semacam itu seringkali menjadi tameng untuk tindakan yang pada dasarnya melanggar norma hukum internasional.

Gaya kepemimpinan Trump sejak awal memang tidak mengikuti pola konvensional. Ia lebih mengandalkan insting ketimbang analisis intelijen yang matang.

Banyak kritik menganggap gaya ini sebagai kekuatan karismatik yang berbahaya. Profesor Francis Fukuyama menyebut Trump sebagai “simbol kehancuran rasionalitas birokratik” di era modern, karena kerap mengambil keputusan besar tanpa memperhatikan prosedur atau lembaga yang seharusnya menjadi penyeimbang.

Dalam konteks serangan ke Iran, tindakan Trump seolah menegaskan kembali bahwa ia melihat sistem sebagai beban, bukan sebagai fondasi negara.

Kritikus internasional seperti mantan diplomat Swedia Carl Bildt juga mengecam keras langkah tersebut.

Menurutnya, langkah sepihak seperti itu hanya akan memperkuat argumen negara-negara otoriter bahwa sistem demokrasi Barat sendiri kerap mengabaikan hukum internasional ketika merasa terancam. Ini menurunkan posisi moral Amerika di mata dunia.

Kecenderungan Trump untuk bertindak dengan gaya “strongman” telah lama menjadi perhatian dunia. Ia membangun persona sebagai pemimpin yang “tidak akan tunduk pada siapa pun,” termasuk lembaga negaranya sendiri.

Dalam pidato-pidato publik, Trump kerap menekankan bahwa ia bertindak demi “keselamatan rakyat Amerika,” padahal banyak keputusan strategisnya malah memperburuk posisi geopolitik AS.

Serangan ke Iran adalah bukti nyata bahwa ketika arogansi pribadi bercampur dengan kekuasaan militer, maka hasilnya adalah kekacauan global yang sulit dibendung.

Meski Trump memiliki pendukung fanatik yang melihat dirinya sebagai penyelamat Amerika dari kelemahan era sebelumnya, namun dampak kebijakan luar negeri yang diambil secara sepihak jelas menimbulkan ancaman jangka panjang.

Amerika kini menghadapi risiko perang yang tidak hanya mahal secara ekonomi, tetapi juga secara moral dan reputasi.
Kita tengah menyaksikan babak baru dalam sejarah Amerika, di mana pemakzulan bukan hanya persoalan legal, tetapi juga persoalan moral.

Ketika presiden mengambil langkah yang bisa mengubah arah sejarah dunia tanpa keterlibatan rakyat melalui wakil-wakilnya di Kongres, maka demokrasi benar-benar berada di ujung tanduk.

Bukan Iran yang menjadi masalah utama dalam peristiwa ini, melainkan bagaimana seorang presiden, dengan seluruh kekuasaan yang ada padanya, mampu menabrak batas konstitusi dan hukum internasional demi sebuah aksi sepihak yang penuh risiko.

Dan ketika dunia bertanya-tanya ke mana arah kepemimpinan Amerika, jawaban itu akan bergantung pada apakah sistem Amerika cukup kuat untuk mengoreksi jalannya sendiri sebelum terlambat.
*

Oleh Bambang Eko Mei

Unair, Pemkab Probolinggo, dan PN Kraksaan Berkolaborasi Mewujudkan Birokrasi Bebas Korupsi dan Bersih Melayani

PROBOLINGGO-KEMPALAN: Program Studi Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat. Kegiatan tersebut digelar di Gedung Kantor Bupati Probolinggo, Selasa (24/6).

Kegiatan itu mengangkat tema komitmen mewujudkan birokrasi yang bersih, bebas dari praktik korupsi, dan berorientasi pada pelayanan publik yang prima. Kegiatan itu sebagai bentuk dari sinergi antara dunia akademik, pemerintah daerah, dan lembaga peradilan.

Dengan tema “Mewujudkan Birokrasi Pemerintah yang Bebas Korupsi dan Bersih Melayani”, kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama antara Fakultas Hukum UNAIR, Pemkab Probolinggo, dan Pengadilan Negeri Kraksaan, yang didukung oleh Himpunan Mahasiswa Doktor dan Ikatan Alumni Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Airlangga. 

Kegiatan dihadiri oleh para pejabat pemerintah daerah, pemerintah desa, aparatur sipil negara, akademisi, mahasiswa Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang peduli terhadap isu integritas dalam birokrasi.

Acara diisi oleh narasumber dari tiga institusi yang terlibat. Dari Universitas Airlangga, hadir Dr. Bambang Suheryadi, S.H., M.Hum., dosen dan peneliti hukum pidana, yang memberikan pemaparan terkait pemahaman tindak pidana korupsi dalam rangka mewujudkan birokrasi pemerintah yang bebas korupsi dan bersih melayani.

Perwakilan dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Dr. Diah Yuliastuti, S.H., M.H., CSSL, yang merupakan Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, memaparkan terkait perwujudan birokrasi pemerintah yang bebas dari korupsi dan bersih melayani.

Sementara itu, dari Pengadilan Negeri Kraksaan, Putu Agus Wiranata, S.H., M.H, selaku Ketua Pengadilan Negeri Kraksaan, menjelaskan terkait keterbukaan informasi publik dalam mewujudkan akuntabilitas kinerja pemerintah desa.

Ketua Program Studi Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Unair, Agus Yudha Hernoko, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata peran tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.

“Kegiatan ini diharapkan jadi ruang dialog yang sehat antara akademisi, birokrat, dan aparat penegak hukum untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya membangun sistem birokrasi yang bersih dan profesional,’’ ujarnya.

’’Komitmen menciptakan birokrasi yang bersih dan bebas dari praktik korupsi menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Melalui kolaborasi ini, diharapkan akan tercipta sinergi yang efektif dalam mengedukasi dan melatih aparatur pemerintah serta penegak hukum, sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan lebih profesional dan bertanggung jawab” sambungnya.

Sementara itu, Bupati Probolinggo yang diwakili oleh Sekretaris Daerah, Ugas Irwanto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dibangun Fakultas Hukum UNAIR.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena selaras dengan upaya kami dalam membangun tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan bebas dari praktik korupsi,’’ pujinya.

’’Kegiatan pengabdian masyarakat ini walaupun diselenggarakan oleh Fakultas Hukum UNAIR, namun sangat bermanfaat bagi seluruh peserta yang hadir, dengan harapan menjadi kontribusi nyata bagi seluruh pejabat daerah dalam melakukan tugas dan tanggung jawab yang lebih baik dan beritegritas,’’ sambungnya.

Kegiatan ini juga diwarnai sesi diskusi interaktif yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan. Diskusi tersebut memperlihatkan antusiasme dan keinginan kuat aparatur daerah untuk terlibat secara aktif dalam membentuk budaya pelayanan publik yang berintegritas.

Hal ini mengingat di dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini juga dibuka klinik hukum bagi aparatur daerah yang membutuhkan pendampingan terkait permasalahan yang terjadi di daerah kerjanya.

Pengabdian masyarakat ini diharapkan jadi pemicu terbentuknya kerja sama lanjutan dalam bentuk riset, pelatihan, maupun penguatan kapasitas hukum bagi aparatur pemerintahan daerah.

Melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor, Unair menegaskan peran strategisnya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tak hanya mencetak sarjana hukum, tetapi juga jadi penggerak perubahan sosial dan reformasi birokrasi di Indonesia. (YMP)

Birdie di Hole 18 Memanaskan Persaingan William Justin Wijaya dan Achmad Fani dalam Porprov IX Jatim

MALANG-KEMPALAN: Peta perebutan medali emas nomor perorangan putra cabor golf dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jatim 2025 pada hari kedua, Selasa (24/6), semakin ketat.

Pegolf Kota Surabaya, William Justin Wijaya, diusik pegolf Kabupaten Pasuruan Achmad Fani Nazarruddin. William dan Fani bahkan harus menyudahi hari kedua dengan selisih satu stroke.

William yang sejak awal berada di puncak, dapat menyudahi hari kedua dengan total 69 pukulan, atau tiga pukulan di bawah par. Sementara, Fani mencatatkan 70 pukulan, atau dua pukulan di bawah par.

Saking serunya adu balap kedua pegolf yang membela Jatim pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024 itu, keduanya sama-sama mampu mencatat birdie dalam hole terakhir.

BACA JUGA: Debut Golf di Porprov, Pegolf Ditantang dengan Speed Green 10

Meski begitu dalam leaderboard sementara William masih jadi yang teratas dengan total 140 pukulan, empat pukulan di bawah par. Diikuti sesama pegolf Kota Surabaya, Nathan Christoper Widjaya dengan selisih lima stroke.

Pegolf Kota Surabaya William Justin Wijaya. (Foto: PGI Jatim)
Pegolf Kota Surabaya William Justin Wijaya. (Foto: PGI Jatim)

Sementara itu, Fani menempel William dan Nathan dengan hanya berselisih satu stroke. Persaingan ketiga pegolf putra terbaik Jatim itu yang bakal menentukan peraih medali emas pertama cabor golf di Porprov.

’’Berada satu pairing dengan Fani bukan sebuah tekanan bagiku. Sebaliknya, malah ini lebih seru,’’ sebut William. Kebetulan, dalam hari ketiga yang berlangsung Rabu (25/6), dia kembali akan berada satu pairing dengan Fani.

Bukan hanya dengan Fani. William juga berada satu pairing dengan sesama pegolf yang membela Jatim di PON Jonathan Manuel Wijanto yang memperkuat Kota Kediri. William tidak merasa tertekan.

’’Besok (Rabu, Red), itu bagiku bukan final round. Menurutku, besok just another round. Biar aku tidak ada beban. Kembali lagi, aku hanya fokus dengan diriku sendiri,’’ tutur William.

Di sisi lain, Fani pun juga menginginkan medali emas itu. ’’Meraih medali emas pertama tentunya akan jadi kebanggaan. Meskipun, jika dilihat dari skor-skornya, masih belum sesuai yang aku inginkan,’’ sebut Achmad Fani.

Pegolf Kabupaten Pasuruan Achmad Fani Nazaruddin. (Foto: PGI Jatim)
Pegolf Kabupaten Pasuruan Achmad Fani Nazaruddin. (Foto: PGI Jatim)

Menurut Fani, perbedaan pairing jadi penentu permainannya. Dalam hari pertama dia berada di pairing yang cenderung lambat. Sehingga, skor yang didapat di hari pertama pun jeblok.

’’Hari ini (Selasa, Red) aku lebih menjadi diri sendiri,’’ sambung Fani. Dia sudah belajar dalam dua hari pertama untuk momen hari penentuan medali emas cabor golf pertama. ’’Mindset-nya tetap sama, jangan nafsu. Hari ini, tiga boogie itu karena aku nafsu sendiri ingin mengejar nilai under lebih besar,’’ jelasnya. (YMP)

BACA JUGA: Nathan dan William Langsung Memulai Hari Pertama Cabor Golf dengan Under 1

Ribuan Mahasiswa KKN UPN Jatim Turun Kelurahan Bangun Ekonomi Kreatif Surabaya

Mahasiswa UPN Veteran Jatim.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya menyambut baik pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Bela Negara dan Sustainable Development Goals (SDGs) 2025 yang digagas Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT). Sebanyak 4.226 mahasiswa akan diterjunkan ke 139 kelurahan di 28 kecamatan di Kota Surabaya selama satu bulan, mulai 1 hingga 31 Juli 2025.

Dengan tema “Mahasiswa UPN Kreatif Mbangun Suroboyo”, program ini bertujuan memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang solutif, inovatif, dan responsif terhadap tantangan pembangunan lokal.

KKN tidak hanya menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga wadah aktualisasi diri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pembangunan berkelanjutan.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopdag) Kota Surabaya Febrina Kusumawati mengatakan, keterlibatan mahasiswa dalam KKN dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor ekonomi kreatif. Khususnya di Sentra Wisata Kuliner (SWK) yang tersebar di berbagai wilayah Surabaya.

“SWK di Surabaya ada sekitar 52. Jika mahasiswa memiliki ide yang inovatif dan realistis, itu bisa dikembangkan menjadi prototype. Pendampingan di lapangan sangat penting, seperti melakukan analisis terhadap pedagang, ragam produk, serta kebutuhan pengembangan,” kata Febri saat dihubungi, Selasa (24/6).

Menurut dia, KKN akan lebih berdampak jika mahasiswa melakukan riset dan pendampingan berbasis kebutuhan riil masyarakat. Namun, ia menekankan bahwa ide-ide inovatif juga harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

“Jadi tidak cukup hanya teori, tapi harus aplikatif. Misal diwujudkan dalam bentuk produk atau layanan yang relevan dan dibutuhkan oleh pelaku UMKM, SWK maupun koperasi,” jelasnya.

Selain sektor kuliner, Febri menyebutkan bahwa mahasiswa KKN juga dapat terlibat dalam kegiatan sosialisasi legalitas usaha. Seperti di antaranya sosialisasi terkait pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), pembinaan koperasi, dan edukasi literasi digital.

“Nantinya mahasiswa juga bisa memberikan pendampingan UMKM agar mampu memanfaatkan pemasaran digital, memahami risiko pinjaman online ilegal hingga meningkatkan pemahaman terhadap literasi digital,” tegasnya.

Lebih jauh, Febri memaparkan sejumlah program Dinkopdag Surabaya yang dapat disinergikan dengan kegiatan mahasiswa KKN UPNVJT. Sejumlah program itu di antaranya adalah pendampingan UMKM terkait penyusunan laporan keuangan sederhana, rebranding produk, hingga pelatihan sumber daya manusia (SDM).

“Adik-adik mahasiswa nanti juga bisa memberikan pendampingan dan pengawasan koperasi. Termasuk optimalisasi penggunaan media sosial untuk mempromosikan kegiatan Dinkopdag dan produk-produk dari Sentra UKM, SWK, pasar, serta toko kelontong,” sambungnya.

Di tempat terpisah, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan KKN UPNVJT Dr. Zainal Abidin Achmad, S.Sos., M.Si., M.Ed., menegaskan bahwa pelaksanaan KKN kali ini difokuskan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya SDGs 8 tentang pertumbuhan ekonomi inklusif dan SDGs 11 tentang kota yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.

“Mahasiswa dilatih untuk memetakan potensi wilayah, mengembangkan UMKM, dan merancang solusi kreatif yang bisa diterapkan langsung oleh masyarakat. Ini menjadi bagian dari kontribusi nyata kampus terhadap pembangunan kota, sekaligus bentuk komitmen UPNVJT dalam memperkuat nilai-nilai bela negara melalui jalur pengabdian,” ujar Zainal.

Selain itu, program ini juga selaras dengan kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif. Makanya, kali ini mahasiswa tidak hanya membantu pengembangan UMKM binaan kelurahan dan koperasi warga, tetapi juga terlibat dalam promosi wisata lokal, revitalisasi kawasan Kota Lama, serta penguatan citra kampung-kampung tematik sebagai destinasi unggulan berbasis komunitas.

“Tak hanya itu, mahasiswa juga ditugaskan mengidentifikasi dan mendukung penguatan simpul ekonomi kreatif di berbagai kecamatan. Kehadiran mereka diharapkan mampu mendorong inovasi produk, memperluas akses pasar, dan mengangkat potensi lokal agar lebih dikenal secara luas, baik melalui media sosial maupun platform digital lainnya,” kata dia.

Kegiatan KKN tahun ini akan diawali dengan apel penerjunan mahasiswa di Balai Kota Surabaya pada 1 Juli 2025 dan dijadwalkan dilepas langsung oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Kerja sama antara kampus dan Pemkot Surabaya ini diyakini menjadi model kolaborasi strategis untuk memperkuat ekosistem pembangunan yang berkelanjutan dan partisipatif.

“Dengan pendekatan berbasis komunitas dan keberpihakan pada ekonomi rakyat, KKN Tematik UPNVJT 2025 tidak hanya memperkaya pengalaman mahasiswa, tetapi juga memperkuat kontribusi dunia akademik dalam membangun Surabaya sebagai kota kreatif yang tangguh dan berdaya saing,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Agar Tak Langgar Jam Malam, Dispendik Surabaya Atur dan Awasi Kegiatan Sekolah

Kepala Dispendik Kota Surabaya Yusuf Masruh.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) mengambil langkah serius dalam upaya melindungi anak-anak dengan menerapkan jam malam bagi pelajar. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan tumbuh kembang anak secara optimal serta mengantisipasi potensi kenakalan remaja. 

Kepala Dispendik Kota Surabaya Yusuf Masruh menjelaskan, berbagai upaya yang dilakukan pihaknya dalam menyukseskan program ini, termasuk pengawasan ketat terhadap siswa berisiko melanggar jam malam.

“Dispendik telah memberikan instruksi khusus kepada seluruh satuan pendidikan, khususnya SD dan SMP, untuk mensosialisasikan Surat Edaran (SE) Jam Malam Bagi Anak kepada siswa dan orang tua. Sosialisasi dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memastikan informasi sampai ke seluruh pihak,” jelas Yusuf, Selasa (24/6).

Terkait mekanisme izin bagi anak-anak yang harus mengikuti kegiatan sekolah di luar jam malam, seperti les, Pramuka, atau persiapan lomba, Yusuf menerangkan bahwa orang tua perlu bekerja sama dengan sekolah. 

“Kegiatan anak dapat terpantau dan harus diperkuat dengan surat pernyataan yang diketahui bersama. Ini menunjukkan komitmen Dispendik untuk tetap mendukung kegiatan positif siswa di luar jam pelajaran, namun dengan pengawasan yang ketat,” terangnya. 

Dispendik Surabaya juga mengatur dan mengawasi kegiatan sekolah agar tidak melanggar batas waktu jam malam. “Kegiatan sekolah seharusnya tidak melanggar jam malam, kecuali untuk kegiatan yang bersifat pembentukan karakter seperti Pramuka atau Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS),” ujar dia.

Yusuf menyebut bahwa peran guru Bimbingan Konseling (BK) sangat krusial dalam mendeteksi siswa yang berisiko melanggar aturan jam malam. Hal ini karena data siswa yang terindikasi berisiko, misal siswa dengan riwayat kedisiplinan tertentu, sudah tercatat melalui profil sekolah.

“Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang lebih intensif, khususnya dari pihak orang tua, untuk memastikan siswa tidak melanggar ketentuan,” sebutnya.

Selanjutnya, setiap sekolah diwajibkan melaporkan siswa yang terindikasi sering berada di luar rumah tanpa pengawasan pada malam hari. “Setiap permasalahan siswa sudah terdata melalui catatan guru BK dan profil sekolah, yang kemudian akan menjadi data pembinaan bagi anak yang bersangkutan,” katanya.

Dalam upaya memberikan edukasi tambahan mengenai bahaya pergaulan bebas, narkoba, dan kenakalan remaja, Dispendik sejak lama berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya.

Kolaborasi ini berfokus pada mewujudkan Sekolah Ramah Anak dan berbagai bentuk sosialisasi lain untuk mendukung tumbuh kembang anak, terutama terkait anti-kekerasan dan bullying di sekolah.

“Dispendik juga mendukung program Gerakan 1 Jam Berkualitas Tanpa Gawai Bersama Keluarga di lingkungan sekolah. Dukungan ini diwujudkan dengan melakukan sosialisasi kepada wali murid melalui pertemuan komite dan wali murid, dengan melibatkan Perangkat Daerah (PD) terkait seperti pihak kecamatan dan kelurahan agar bersama-sama dapat mengawasi kegiatan tersebut,” ungkapnya.

Yusuf menyatakan, Dispendik Surabaya juga berencana melakukan evaluasi terkait pengaruh kebijakan SE Jam Malam Bagi Anak terhadap prestasi dan kedisiplinan belajar siswa. “Hal ini berkorelasi dengan seruan 7 kebiasaan positif anak Indonesia yang mengarah pada peningkatan prestasi anak di Kota Surabaya,” tuturnya.

Terakhir, Yusuf berharap kebijakan ini akan menjadi fondasi kuat bagi terbentuknya generasi muda Surabaya yang berkualitas dan berdaya saing di kancah global.

“Harapan kami pelajar Surabaya dapat tumbuh kembang secara sehat baik jasmani maupun rohani dan dapat berprestasi baik tingkat regional, nasional hingga internasional,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Sambutan Warga di Kirab Obor Api Porprov IX Jatim 2025 Makin Meriah

MALANG- KEMPALAN :  Penyambutan estafet kirab obor api untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025 semakin meriah. Obor api Porprov yang dibawa secara estafet dari Surabaya, telah tiba di Stadion Kanjuruhan, Selasa (24/6/2025) sore.

Kirab obor api Porprov kali ini berangkat dari Tumpang menuju ke Kecamatan Poncokusumo –  Wajak – Turen – Gondanglegi – Kepanjen. Api ditempatkan di halaman luar Stadion Kanjuruhan. Tak hanya itu, tersaji juga pesta rakyat.

Sepanjang perjalanan semakin meriah dengan melibatkan berbagai komunitas kendaraan bermotor. Mulai dari puluhan jip hingga kendaraan roda dua seperti CB.

Kendati tidak semua kecamatan di Kabupaten Malang di lalui kirab obor api Poprov, antusiasme warga tidak surut. Dalam setiap perhentian selalu berlangsung meriah dengan partisipasi masyarakat yang antusias dan berbagai acara pendukung.

Dwi Setiawan (45) pengunjung asal Kalimeri, Bululawang memilih datang lebih siang bersama keluarga kecilnya karena ingin terlebih dahulu mengunjungi berbagai stand UMKM dan spot foto menarik yang ada di area kawasan Stadion Kanjuruhan.

“Saya datang ingin melihat langsung kemeriahan acara ini. Saya ajak anak dan istri, apalagi sudah liburan sekolah,” katanya.

Dwi menuturkan ini merupakan kehadirannya yang pertama kali dalam kirab obor. “Saya mau nonton langsung dan mau lihat berbagai penampilan yang ada di acara ini. Sambil belanja jajanan untuk anak sama kebutuhan istri,” ucapnya.

“Sangat bagus dan menarik. Apalagi acaranya di ruang publik,” imbuhnya.

Sejumlah pertunjukkan mulai dari atraksi bela diri, tari-tarian tradisional khas Malang seperti Tari Bapang, Tari Bedayan Malang disajikan tuan rumah. Tak ketinggalan pertunjukan seni yang menggabungkan unsur barongsai dan kuda lumping dengan menggunakan kepala sapi atau kerbau. Alias Bantengan.

Sejumlah warga pun tampak mengantri ingin merasakan berfoto dengan maskot-maskot Porprov IX Jatim 2025. Warga lainnya yakni Cika Setiowati (25) juga sangat antusias dengan hadirnya kirab obor api pesta olahraga terakbar di Jatim ini.

“Kebetulan rumah saya dekat dari sini. Tentunya sangat bangga karena dilewati kirab obor api Porprov. Semoga gelaran Porprov 2025 berjalan lancar, saya juga berencana menonton pertandingan yang ada di kawasan Stadion Kanjuruhan,” jelas Cika.

Setelah singgah di Kepanjen, obor itu dibawa menuju ke Kota Batu. Rute yang ditempuh Kepanjen -Pakisaji – Wagir -Dau – Karangploso. Di Karangploso juga menginap semalam, juga ada pesta rakyat yang digelar di Rest Area Karangploso. (Ambari Taufiq/ M Fasichullisan)

Bantai Polresta Sidoarjo 5-0 di Final, Sat Brimob Polda Jatim Juara Kapolda Cup 3 Jatim 2025

SURABAYA -KEMPALAN: Tim sepakbola Sat Brimob Polda Jatim tampil excellent di Tournament sepakbola Kapolda Cup 3 Jatim dalam rangka HUT Bhayangkara ke 79. Herry Satria Utama dan kolega tak terkalahkan hingga partai puncak. Bahkan di final mengalahkan Polresta Sidoarjo yang diperkuat sejumlah pemain liga. Meski begitu tim Sat Brimob dengan gagah berani meng-obok-obok gawang Polresta Sidoarjo dengan lima gol tanpa balas. Lima gol Sat Brimob masing-masing di sumbangkan Denny Satria Utama, Irnanda Setyoko, Hanafi Jauhar Ahmad dan Satria Gineung D. 

Dengan hasil tersebut Sat Brimob Polda Jatim tampil sebagai Juara Kapolda Cup 3 2025. Sebagai juara Sat Brimob Polda Jatim juga berhak trophy tetap, trophy bergilir serta uang pembinaan sebesar Rp 15 juta rupiah.

Sebagai catatan gelar juara Kapolda Cup tahun ini bukan pertama kalinya di sandang Sat Brimob Polda Jatim. Pada perhelatan Kapolda Cup pertama Sat Brimob Polda Jatim juga menjadi juara. Sedangkan di Kapolda Cup kedua sat Brimob tidak berpartisipasi.

Jalannya pertandingan 

Sat Brimob Polda Jatim yang didukung ratusan suporternya tak hanya sekedar pasukan Pelopor dan

 ahli penjinak bom, tapi Denny dkk juga memamerkan keahliannya memainkan si kulit bundar alias bola di hadapan Pejabat Utama Polda Jatim dan Kapolres Jajaran. 

 Tak heran jika “show of force” Sat Brimob Polda Jatim selama 2X40 menit membuat tontonan yang menarik dan menghibur di lapangan Sepakbola Mapolda Jatim pada Minggu 22Juni 2025.

Usai laga kapten tim Sat Brimob Polda Jatim Denny Satria Utama mengaku bersyukur atas suksesnya tim Sat Brimob Polda Jatim meraih gelar Juara Kapolda Cup 3 Jatim tahun ini. Padahal persiapan hanya singkat alias dua hari. Itupun tidak bisa komplet.

” Ya saya bersyukur atas kerja keras seluruh pemain dan official. Sebab tanpa kerja keras mustahil bisa juara,” ujar Denny singkat kepada kempalan.com.

Lebih lanjut pria yang bertugas di tim Gegana Brimob Polda Jatim ini menilai bahwa tahun ini lawan lawannya cukup berat dan kompetitif. Tampilnya beberapa pemain eks kompetisi Liga Indonesia dan pemain yang masih aktif dan memperkuat tim liga 2 dan liga 3 menjadikan pertandingan lebih sengit dan memacu andrinalinenya. Beruntung Sat Brimob Polda Jatim bisa mengatasi dan menjinakkan.

” Tampilnya beberapa pemain top liga Indonesia membuat persaingan kian sengit dan seru l. Beruntung Sat Brimob Polda Jatim bisa mengatasi dan meraih gelar juara,” tutup Denny.

Sementara itu wakil Komandan Sat Brimob Polda Jatim AKBP Zulfikar Iskandar S.I.K tak bisa menyembunyikan rasa kegembiraannya usai timnya membantai Polresta Sidoarjo dengan lima gol tanpa balas di final. 

” Saya memberikan apresiasi tinggi kepada para pemain yang berjuang keras di lapangan hingga meraih gelar juara. Dan ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami dan kesatuan,” Ujar AKBP Zulfikar Iskandar S.I.K yang turut menjadi saksi sejarah kesuksesan tim Satker Brimob Polda Jatim di piala Kapolda Cup Jatim tsb.

Sebagai bentuk apresiasi tentu dari kesatuan akan ada reward tersendiri, tapi masih akan di bicarakan dengan Komandan. Yang jelas  untuk sementara para pemain dan official tim mendapatkan cuti selama tiga hari. (Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

Perang Dunia Ke III di Ambang Pintu

KEMPALAN: Serangan militer Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada 21 Juni 2025 menjadi eskalasi baru dalam konflik Timur Tengah yang telah lama memanas.

Tindakan ini menempatkan AS secara langsung dalam konfrontasi dengan Iran, yang sebelumnya telah diguncang oleh serangan Israel pada 13 Juni.

Keterlibatan AS bukan sekadar simbol dukungan terhadap Israel, melainkan sebuah langkah agresif yang berpotensi mengubah dinamika geopolitik dunia secara drastis.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, menyatakan bahwa langkah AS ini sangat membahayakan. Menurutnya, AS seolah memaksa Iran untuk memilih antara menyerah dan berdamai, atau menghadapi serangan yang lebih besar.

Ultimatum seperti ini bukan hanya mencerminkan arogansi kekuasaan, tapi juga menciptakan tekanan yang tak seharusnya diterima oleh negara mana pun yang memiliki kedaulatan.

Dalam situasi seperti ini, pilihan Iran untuk menyerah sangat kecil. Negara tersebut memiliki sejarah panjang dalam menghadapi tekanan internasional, dan balasan terhadap serangan AS kemungkinan besar akan menjadi respons yang lebih agresif, termasuk kemungkinan serangan ke kapal induk AS di wilayah Teluk atau eskalasi lanjutan terhadap Israel.

Tak kalah penting adalah respons dunia internasional terhadap perkembangan ini. Jika dukungan terhadap Iran meningkat di kalangan negara-negara Timur Tengah, Asia Tengah, bahkan negara-negara Global South, maka situasi akan menjadi jauh lebih rumit.

Dukungan itu bisa muncul sebagai bentuk solidaritas terhadap pelanggaran kedaulatan Iran, yang menurut Prof. Teuku Rezasyah dari Universitas Padjadjaran, secara sah sedang membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB.

AS dinilai telah melangkahi batas hukum internasional dan melanggar prinsip dasar kedaulatan negara lain. Dengan bertindak seperti ini, AS tidak hanya memperburuk citranya di mata dunia Islam, tapi juga di hadapan komunitas internasional yang selama ini mengupayakan penyelesaian damai berdasarkan hukum.

Apa yang terjadi saat ini sangat mungkin membuka jalan ke arah konflik global yang lebih besar. Lembaga riset Global Challenges Foundation menyebut bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah, jika melibatkan lima kekuatan besar dunia, memiliki peluang sebesar 6% untuk berkembang menjadi perang berskala global dalam satu dekade ke depan.

Statistik ini terlihat kecil di atas kertas, namun dalam konteks militer dan diplomasi internasional, angka sekecil itu sudah cukup untuk menyalakan alarm dunia.

Sejarawan dan ahli strategi internasional asal Inggris, Prof. Lawrence Freedman, pernah menyatakan bahwa “Perang dunia tidak dimulai dari konflik besar, melainkan dari akumulasi konflik kecil yang diabaikan, hingga satu ledakan besar memaksa semua negara untuk memilih pihak.”

Kutipan ini menjadi sangat relevan hari ini. Ketika AS dan Iran saling mengancam, dan Israel terus melanjutkan operasi militernya, maka negara-negara lain yang memiliki afiliasi politik, ekonomi, dan ideologis akan secara perlahan tertarik dalam pusaran konflik ini.

Rusia, meskipun saat ini masih menahan diri, bisa sewaktu-waktu mengambil langkah berbeda apabila kepentingan strategisnya di kawasan merasa terancam.

Begitu pula dengan Tiongkok yang memiliki kepentingan besar di jalur minyak Teluk dan kawasan Indo-Pasifik.

Dalam jangka pendek, serangan AS ini telah menghancurkan harapan diplomasi yang telah dibangun dalam beberapa tahun terakhir, baik melalui saluran resmi seperti PBB maupun jalur diplomasi bilateral.

Dunia kini berdiri di ambang pilihan sulit: terus membiarkan konflik ini membara atau mengambil sikap aktif untuk mendorong perdamaian. Sayangnya, suara negara-negara besar seperti Jerman, Prancis, atau bahkan Uni Eropa sejauh ini masih cenderung pasif.

Ketidakmampuan mereka untuk bersikap tegas terhadap pelanggaran hukum internasional oleh AS justru memperlihatkan bahwa tatanan dunia pasca Perang Dunia II kini berada di ujung tanduk.

Sikap Indonesia dalam hal ini menjadi krusial. Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Hikmahanto, Indonesia harus memposisikan diri di sisi perdamaian.

Dalam hal ini, bukan sekadar menjadi penonton atau pengutuk pasif, tetapi menjadi motor penggerak negara-negara yang menjunjung prinsip non-blok dan hukum internasional.

Indonesia, dengan reputasinya sebagai negara demokrasi terbesar di dunia Muslim dan pengalaman panjang dalam diplomasi internasional, harus menjadi suara moral di tengah hiruk-pikuk senjata.

AS, dalam usahanya mempertahankan dominasi geopolitik global, justru terlihat mulai kehilangan pijakan etis. Tindakan membombardir fasilitas nuklir Iran—tanpa otorisasi PBB dan dengan alasan sepihak—dapat dianggap sebagai bentuk intervensi ilegal yang hanya akan menambah panjang daftar kegagalan moral dan hukum dalam sejarah kebijakan luar negerinya.

Dalam konteks inilah, tudingan dari Teuku Rezasyah bahwa AS telah menjelma menjadi “Shaitanul Akbar” tidaklah berlebihan.

AS tidak hanya membela Israel, negara yang telah lama dituding melanggar hak asasi manusia di Palestina, tetapi juga menjadikan dirinya simbol hegemoni yang merusak perdamaian global.

Jika dunia tidak segera bersatu untuk menghentikan eskalasi ini, maka risiko pecahnya Perang Dunia Ketiga bukanlah fiksi.

Dunia telah menyaksikan bagaimana Perang Dunia Pertama dimulai karena aliansi buta, dan Perang Dunia Kedua pecah karena arogansi dan diamnya kekuatan besar terhadap agresor. Hari ini, sejarah tampaknya ingin mengulang dirinya.

Di tengah kegelapan itu, hanya diplomasi, ketegasan hukum internasional, dan solidaritas global yang berpihak pada kemanusiaan yang bisa menjadi terang penuntun.

Jika suara perdamaian tidak diperkuat, maka deru mesin perang akan menjadi simfoni baru peradaban manusia yang gagal belajar dari masa lalu. ()

Oleh: Bambang Eko Mei
                 

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.