Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 22:02 WIB
Surabaya
--°C

PKM Kebijakan Fakultas Vokasi UNESA 2025 Latih Pembuatan Emergency Box Berbasis Solar Panel untuk Santri Ponpes Raudlatul Ulum Jember

JEMBER-KEMPALAN: Dalam upaya mendukung kemandirian energi di lingkungan pesantren serta memperkenalkan teknologi ramah lingkungan kepada generasi muda, tim dosen dari Program Studi Teknik Listrik Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar kegiatan pelatihan bertajuk “Pembuatan Emergency Box Berbasis Solar Panel di Lingkungan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Kalisat, Jember”.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diketuai oleh Fithrotul Irda Amaliah, M.Tr.T., dan melibatkan beberapa dosen lainnya, yaitu Reza Rahmadian, S.ST., M.EngSc., Widi Aribowo, S.T., M.T., Nur Vidia Laksmi B., S.ST., M.Sc., Daeng Rahmatullah, S.Pd., M.T., As’ad Shidqy Aziz, S.T., M.T., dan Ayusta Lukita Wardani, S.ST., M.T., serta dua mahasiswa pendamping, Muhammad FardinAlifi dan Addriyan Bagus Saputra.

Pelatihan ini hadir sebagai solusi atas kebutuhan listrik darurat di pesantren, terutama saat terjadi pemadaman. Terlebih lagi, lokasi pesantren yang berada di area yang lapang dan mendapatkan paparan sinar matahari yang melimpah sepanjang hari, menjadi keunggulan tersendiri dalam pemanfaatan teknologi solar panel. Kondisi geografis tersebut menjadikan energi surya sebagai sumber energi alternatif yang sangat potensial dan berkelanjutan.

Dengan mengandalkan panel surya, para santri dan pengurus dapat memperoleh pasokan listrik cadangan untuk penerangan dan pengisian daya perangkat saat terjadi gangguan listrik dari jaringan utama.

Para peserta pelatihan, yang terdiri dari santri senior dan pengurus pesantren, dibekali pengetahuan dasar mengenai kelistrikan dan prinsip kerja sistem tenaga surya. Tidak hanya teori, mereka juga diajak langsung merakit emergency box yang dilengkapi panel surya, lampu LED, dan port USB.

“Kami ingin memberikan solusi yang sederhana tapi berdampak besar. Melalui pelatihan ini, santri bisa memahami teknologi energi terbarukan dan mengaplikasikannya secara langsung di lingkungan mereka,” ujar Fithrotul Irda Amaliah selaku ketua tim.

Hasil dari pelatihan ini adalah terciptanya unit emergency box yang dapat digunakan untuk penerangan atau mengisi daya perangkat mobile saat listrik padam. Selain manfaat teknis, kegiatan ini juga menjadi wahana edukatif untuk menumbuhkan kesadaran energi bersih sejak dini.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari pihak pesantren. Pimpinan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum menyampaikan apresiasinya kepada tim UNESA atas ilmu dan teknologi yang diberikan.

“Ini bukan sekadar pelatihan. Ini adalah bekal masa depan bagi para santri kami,” ungkap salah satu pengurus pesantren.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata peran kampus dalam menjawab persoalan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan secara langsung. Ke depan, tim pengabdian dari Teknik Listrik UNESA berharap pelatihan serupa bisa diterapkan di pesantren lain dan menjangkau lebih banyak komunitas yang membutuhkan teknologi alternatif. (tan)

Rinjani, Risiko, dan Renjana

Oleh: Masayu Indriaty Susanto

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi
Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Sahid Jakarta

Seorang gadis muda pendaki asal Brazil ditemukan tewas setelah terjatuh saat mendaki Gunung Rinjani, Juni lalu. Tragedi ini menyentuh banyak hati. Namun di balik kisah kehilangan itu, ada sesuatu yang jarang dibicarakan: bagaimana dua budaya—Brazil dan Indonesia—bertemu (atau justru bertabrakan) dalam cara mereka memaknai risiko dan keselamatan.

Sudah saatnya segenap otoritas wisata dan komunitas lokal memiliki pemahaman antarbudaya, terutama dalam kawasan wisata alam ekstrem. Karena keselamatan dan kepercayaan tidak dibangun dari prosedur semata. Tetapi juga dari cara kita saling memahami dan menghormati cara orang lain memaknai dunia.

Ketika wisata alam melibatkan lintas negara, sesungguhnya bukan hanya bahasa yang berbeda, tapi juga cara merasa, berpikir, dan berkomunikasi. Karena itulah, ketika gadis muda asal Brazil itu menghilang di lereng cadas Gunung Rinjani, di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan ditemukan tak bernyawa lima hari kemudian di dasar jurang, beritamenyebar cepat. Menyayat hati siapa pun yang membacanya.

Tapi yang tak terlihat di permukaan adalah benturan dua dunia: renjana (passion) yang untuk berani menantang alam, dan budaya yang meminta manusia tunduk hormat pada alam dan kemegahannya. Di antara kabut pegunungan dan linimasa media, tragedi ini bukan hanya tentang jatuhnya seorang manusia, tapi juga tentang gagalnya pemahaman antarbudaya.

Perempuan berusia 26 tahun asal Niterói, Rio de Janeiro itu adalah seorang publicist atau travel vlogger. Begitulah profil Juliana yang dideskripsikan situs CNN Brazil (24/6/25). Media itu juga menyebut Juliana sebagai seorang vlogger yang aktif berbagi kisah perjalanan secara autentik dan tanpa sponsor.

Akun Instagram-nya (@ajulianamarins) dengan lebih dari 300 ribu pengikut menampilkan foto-foto aktifitasnya, seperti berjalan di pantai, yoga, dan pole dance di Asia, yang menunjukkan semangat “fearless” dan penuh kejujuran tanpa embel-embel komersial.

Dalam unggahan terakhirnya, Juliana mencantumkan kutipan “Never try, never fly.” Media menyebut ini menggambarkan nilai hidupnya: seorang gadis yang penuh gairah, berani mencoba, menjalani hidup sepenuh hati, memiliki ekspresi diri yang tulus dan inspiratif (Negi, 2025).

Menurut laporan The New York Post (6/7/2025) bertajuk “Backpacking across Southeast Asia before her fatal hike”, Juliana Marins mendaki Gunung Rinjani sebagai bagian dari perjalanan solo backpacking panjang keliling Asia Tenggara sejak Februari 2025. Dia telah mengunjungi beberapa negara seperti Filipina, Vietnam, Thailand, sebelum akhirnya tiba di Indonesia.

Juliana mengunjungi Pulau Bali dan Lombok, di mana dia kemudian memutuskan untuk mendaki Gunung Rinjani, gunung api tertinggi kedua di Indonesia (3.729 mdpl). Dalam perjalanan mendaki itulah, Juliana kelelahan dan kemudian terjatuh di kawasan Cemara Nunggal, di bawah tebing curam yang berbatu dan berpasir, sekitar 5 km dari puncak Gunung Rinjani.

Tantangan Vs Ruang Sakral

Gunung Rinjani bukan hanya ikon wisata alam Indonesia, tetapi juga ruang pertemuan antara pelancong dari berbagai bangsa dan komunitas lokal dengan nilai dan cara pandang yang berbeda. Ketika insiden seperti ini terjadi, pertanyaan yang segera muncul adalah: apa yang salah?

Dalam kasus ini, komunikasi antara otoritas Indonesia, relawan lokal, media, serta keluarga korban dari Brazil menjadi cermin penting untuk memahami tantangan komunikasi lintas budaya dalam konteks wisata berisiko tinggi.

Psikolog sosial dan antropolog budaya asal Belanda Geert Hofstede (2010) membagi profil budaya suatu negara melalui enam dimensi utama. Dia memetakannya dengan skor 0 sampai 100. Skor ini tidak menunjukkan “baik” atau “buruk”, tapi menunjukkan kecenderungan budaya suatu negara.

Teori ini dikenal dengan Hofstede’s Cultural Dimensions Theory (Teori Dimensi Budaya) yang secara luas menjadi rujukan utama dalam memahami konflik dan kerja sama dalam cross-culture communication budaya lintas negara.

Dalam kacamata teori ini, budaya Brazil memandang gunung sebagai sebuah tantangan besar yang memunculkan renjana atau passion untuk ditaklukkan. Yang mendorong semangat petualangan personal, tetapi juga menuntut adanya sistem keselamatan dan kepastian.

Dalam budaya Brazil, petualangan adalah ekspresi diri. Nilai individualismenya yang cenderung tinggi terhadap penghindaran ketidakpastian (high uncertainty avoidance), menciptakan karakter masyarakat yang mendorong eksplorasi, tetapi dengan harapan adanya sistem keselamatan dan kontrol yang jelas.

Pendakian gunung di negara-negara Amerika Latin umumnya dilengkapi dengan infrastruktur keselamatan dan panduan profesional. Dalam konteks ini, keputusan pendaki asal Brazil untuk tetap mendaki, bahkan saat terpisah dari kelompok, mungkin dipahami sebagai bentuk pencarian jati diri atau keberanian personal.

Namun, ekspektasi bahwa sistem keselamatan akan secara otomatis aktif ketika terjadi masalah mungkin tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan di Indonesia, yang masih memiliki keterbatasan dalam respons darurat di medan ekstrem.

Sebaliknya, budaya lokal di Indonesia memaknai gunung sebagai ruang sakral yang mengandung batas simbolik. Risiko sering kali dilihat sebagai bagian dari takdir atau karma. Dalam budaya Indonesia, alam adalah ruang sakral dan berisiko.

Terutama dalam budaya lokal seperti yang tumbuh di sekitar Gunung Rinjani di Lombok, gunung sering dianggap sebagai ruang sakral yang perlu dihormati. Pendekatan masyarakat lokal terhadap gunung sarat nilai-nilai spiritual, dan risiko dipahami sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikontrol oleh manusia, melainkan bagian dari kehendak alam atau kekuatan supranatural.

Pendaki yang tidak mematuhi aturan atau berjalan sendiri kerap dianggap “menantang alam”, bukan hanya mengambil risiko secara teknis. Hal ini memengaruhi bagaimana pengelola dan masyarakat lokal memandang insiden seperti ini—lebih sebagai peringatan atau pelajaran, bukan hanya sebagai kecelakaan teknis yang harus diatasi secara prosedural.

Perbedaan budaya inilah yang kerap kali mengakibatkan miskomunikasi dalam situasi kritis. Padahal, komunikasi krisis dalam konteks antarbudaya memerlukan sensitivitas terhadap ekspektasi budaya masing-masing pihak.

Bukan itu saja. Perbedaan ini juga berpotensi menciptakan ketimpangan ekspektasi. Di satu sisi, keluarga korban dan masyarakat Brazil, yang berada ribuan kilometer dari lokasi kejadian, sangat bergantung pada kecepatan dan kejelasan informasi dari otoritas Indonesia.

Dalam budaya Brazil yang memiliki kecenderungan ekspresif dan menghindari ketidakpastian, tidak adanya pembaruan berkala atau lambatnya respons dapat menimbulkan frustrasi dan kecemasan tinggi.

Mereka mungkin menuntut kepastian dan kecepatan dalam pencarian, pembaruan informasi, serta investigasi insiden. Ini bisa dilihat dari ramainya linimasa di media sosial terhadap tragedi ini.

Sebaliknya, otoritas dan pengelola lokal di Indonesia cenderung beroperasi dalam budaya high power distance—di mana informasi disampaikan secara hierarkis dan penuh kehati-hatian. Komunikasi krisis seringkali dikendalikan oleh satuan tugas formal atau pemerintah daerah yang perlu berkonsultasi secara internal sebelum memberikan pernyataan publik.

Dalam situasi darurat, hal ini bisa menciptakan jeda komunikasi yang justru memperbesar jarak emosional dengan keluarga korban. Ketimpangan ini menciptakan jeda persepsi dan berpotensi memperbesar trauma.

Dan dalam situasi krisis seperti inilah, terutama yang melibatkan nyawa manusia, komunikasi menjadi elemen paling krusial. Ia tidak hanya berfungsi sebagai saluran informasi, tetapi juga sebagai jembatan empati, kepercayaan, dan koordinasi antar berbagai pihak.

Pada banyak kasus internasional, media menjadi saluran utama keluarga korban untuk memahami perkembangan pencarian atau penyelamatan. Namun perbedaan cara peliputan antara media Indonesia dan media Brazil juga dapat menimbulkan narasi yang tidak sinkron.

Media Brazil cenderung menampilkan narasi emosional dan mendesak klarifikasi, sejalan dengan budaya ekspresif mereka (Ting-Toomey & Chung, 2012). Media Indonesia, di sisi lain, menampilkan pemberitaan yang lebih hati-hati dan sopan, mencerminkan budaya konteks tinggi yang menekankan harmoni sosial dan penghindaran konflik terbuka (Hall, 1976).

Perbedaan ini berpotensi menimbulkan ketegangan persepsi: di satu sisi, Indonesia mungkin merasa telah melakukan upaya maksimal, sementara dari sudut pandang keluarga dan media asing, respons dianggap lambat atau tidak memadai.

Di sinilah pentingnya kehadiran penerjemah dan juru bicara budaya. Dalam konteks krisis lintas negara, peran juru bicara tidak cukup hanya sebagai penerjemah bahasa, tetapi juga sebagai penerjemah budaya. Kepekaan terhadap perbedaan cara menyampaikan duka, menghargai emosi, dan merespons trauma perlu diperhatikan dalam setiap komunikasi resmi.

Sayangnya, dalam kasus seperti ini, pendekatan komunikasi krisis di Indonesia masih jarang mengintegrasikan perspektif lintas budaya, sehingga respon-respon resmi cenderung formal dan normatif, tanpa menjangkau kebutuhan emosional keluarga korban asing.

Kompleksitas Komunikasi Antarbudaya

Apa yang bisa dipelajari dari kasus Ini? Risiko tidak dimaknai secara universal. Apa yang dianggap sebagai tindakan berani atau tantangan bagi seseorang, bisa dipandang sebagai tindakan sembrono atau melampaui batas dalam budaya lain.

Dalam konteks insiden jatuhnya pendaki asal Brazil di Gunung Rinjani, perbedaan persepsi terhadap risiko antara budaya Brazil dan Indonesia menjadi elemen penting dalam memahami latar belakang tragedi ini.

Kasus jatuhnya pendaki asal Brazil di Gunung Rinjani bukan sekadar tragedi individu di medan ekstrem, tetapi juga sebuah cermin dari kompleksitas komunikasi antarbudaya dalam konteks global yang semakin saling terhubung.

Dalam dunia wisata modern yang mempertemukan pelancong dari berbagai negara dengan budaya lokal yang kaya dan beragam, kesalahpahaman tidak hanya mungkin terjadi, tetapi tak terelakkan.

Melalui kerangka Geert Hofstede, kita dapat melihat bahwa dimensi budaya bukanlah konsep teoritis semata, melainkan prinsip-prinsip nyata yang memengaruhi bagaimana manusia merespons risiko, menyampaikan informasi, dan mengekspresikan duka.

Budaya Brazil mendorong ekspresi terbuka terhadap ketidakpastian dan pencarian kejelasan, sementara budaya Indonesia mendorong kehati-hatian, kepatuhan terhadap otoritas, dan pengendalian ekspresi emosional dalam ruang publik.

Ketimpangan komunikasi yang terjadi—baik antara keluarga korban dan otoritas, antara media lokal dan internasional, maupun antara sistem sosial Indonesia dan harapan budaya luar—menunjukkan pentingnya pengelolaan komunikasi krisis yang berperspektif antarbudaya.

Dalam era global, kehadiran wisatawan asing dalam kawasan rawan seperti gunung, laut, atau hutan, menuntut tidak hanya kesiapan teknis, tetapi juga kepekaan kultural dalam membangun sistem informasi, pelaporan, dan pertolongan.

Ke depan, insiden ini seharusnya menjadi pemicu bagi otoritas wisata, media, dan komunitas lokal untuk menyadari bahwa keselamatan dan kepercayaan tidak dibangun dari prosedur semata, tetapi juga dari cara kita saling memahami dan menghormati cara orang lain memaknai dunia. Pelatihan komunikasi antarbudaya perlu diintegrasikan ke dalam sistem pariwisata dan penanggulangan bencana, terutama di kawasan wisata alam ekstrem.

Pemahamam ini penting, sehingga semua stakeholder di bidang pariwisata bisa menjamu tamu-tamu mancanegara kita itu dengan mengesankan tapi juga sekaligus menjaga keselamatannya. Dan yang terpenting lagi, mencegah dan mitigasi bencana yang bisa saja terjadi, terutama di kawasan wisata dengan tingkat bahaya ekstrem karena ketidaktahuan, ketidakdasaran, atau ketidakpahaman mereka terhadap kondisi alam dan kearifan lokal yang ada.

Gunung-gunung kita yang indah bukan hanya sekadar obyek wisata sarana meraup dolar. Namun juga sebuah narasi kehidupan dengan segenap kearifan alam yang agung, namun juga kental dengan nilai spiritualitas bahkan juga mistis. Gunung akan selalu memanggil renjana para pendaki dan pecinta alam, tapi tidak semua bisa kembali. (*)

Dukung Keselamatan Lalu Lintas, Bambang Haryo Kunjungi Ditlantas dan Tinjau RTMC Polda Jatim

SURABAYA – Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono melakukan kunjungan kerja ke Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jawa Timur, Rabu, 16 Juli 2025. Ia disambut langsung oleh Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Jatim, Kombes Pol Teddy Chandra.

Dalam kunjungannya, Bambang Haryo menyoroti persoalan serius terkait kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) dan kendaraan underspeed atau kendaraan yang melaju di bawah batas kecepatan minimum di jalan tol. Menurutnya, dua persoalan ini menjadi ancaman nyata terhadap keselamatan pengguna jalan.

“Kepolisian perlu memaksimalkan penegakan aturan terhadap ODOL dan kendaraan underspeed. Edukasi kepada masyarakat pun penting agar tercipta budaya tertib lalu lintas,” ujar politisi dari Fraksi Gerindra sekaligus anggota Badan Legislasi DPR RI itu.

Tak hanya itu, Bambang Haryo juga menyempatkan diri meninjau langsung Regional Traffic Management Center (RTMC) Polda Jatim. Ia berdialog dengan petugas terkait kemampuan sistem pemantauan lalu lintas tersebut. Dalam kesempatan itu, ia menanyakan berapa titik kamera CCTV yang sudah aktif di wilayah Jatim.

Salah satu Bintara Kepala menyampaikan bahwa saat ini telah terpasang sekitar 1.000 titik CCTV, termasuk di sejumlah perlintasan sebidang kereta api. Bambang Haryo pun mengapresiasi sistem RTMC yang dinilai mampu secara real-time memantau pergerakan kendaraan logistik maupun penumpang.

“RTMC ini sangat strategis. Dengan pemantauan yang real-time, kepolisian bisa cepat bertindak jika ada pelanggaran atau gangguan lalu lintas. Ini bagian dari upaya menjaga keselamatan masyarakat,” pungkasnya.

Diane Friedman: Batas Usia Hanya Ilusi

Pada usia 100 tahun, ketika banyak orang mungkin telah menyerah pada kehidupan yang pasif, Diane Friedman justru menginjak pedal gas lebih dalam.

Wanita luar biasa dari Cleveland, Ohio ini tak sekadar menikmati usia senja dengan bersantai di beranda rumah, ia justru menantang gravitasi dan stereotip usia dengan berlari—ya, benar-benar berlari—di lintasan atletik.

Lebih dari itu, ia memecahkan rekor dunia. Kisahnya bukan sekadar pencapaian atletik, melainkan cermin dari semangat manusia yang tak pernah lekang oleh waktu.

Friedman tidak tumbuh sebagai seorang atlet. Ia baru mulai berlari ketika usianya sudah memasuki 70 tahun. Sebuah keputusan yang bagi banyak orang mungkin terdengar terlambat, tapi baginya justru menjadi titik awal.

“Saya mulai ikut lomba lari karena saya ingin tetap aktif dan sehat,” katanya dalam sebuah wawancara lokal beberapa tahun lalu.

Saat itu, ia mengikuti lomba-lomba kecil di komunitasnya—5K, bahkan beberapa lomba fun run—dan sejak itu, dunia atletik veteran mengenalnya sebagai sosok yang tak mengenal kata menyerah.

Salah satu titik puncak perjalanan luar biasa ini terjadi pada 15 Agustus 2023, dalam ajang Michigan Senior Olympics.

Di sana, Diane Friedman yang saat itu berusia 100 tahun tampil mencolok, bukan karena usia tuanya, melainkan karena kecepatannya.

Dalam lomba lari 100 meter untuk kelompok usia 100–104 tahun, ia mencatat waktu 36,71 detik—memecahkan rekor sebelumnya dengan selisih hampir tiga detik.

Untuk ukuran siapa pun, terutama bagi seseorang yang hidup satu abad, ini adalah prestasi yang mengguncang batas kemungkinan.

Bukan hanya itu, ia juga mencatat rekor dunia untuk lari 200 meter, serta rekor Amerika untuk lempar lembing dalam kategori yang sama.

Tiga rekor dalam satu kejuaraan adalah sesuatu yang mungkin hanya tercatat dalam sejarah atletik senior beberapa kali, dan Diane melakukannya dalam satu hari.

Namun, prestasi Diane tidak lahir dari keajaiban seketika. Ia adalah hasil dari dedikasi bertahun-tahun terhadap kebugaran, gaya hidup aktif, serta mentalitas pantang menyerah.

Bahkan di usia 95 tahun, ia masih aktif berlatih, berpartisipasi dalam kompetisi seperti National Senior Games, dan menyempatkan diri menginspirasi orang-orang lewat wawancara, sesi motivasi, dan keterlibatan dalam komunitas olahraga lansia.

Friedman lahir pada tahun 1923 di Cleveland, Ohio. Ia tumbuh di masa ketika dunia baru saja keluar dari bayang-bayang Perang Dunia I dan menghadapi depresi besar. Ia menyaksikan berbagai peristiwa bersejarah.

Perang Dunia II, gerakan hak sipil, pendaratan di bulan, internet, hingga pandemi global. Ia adalah saksi hidup dari perubahan abad ke-20 dan ke-21.

Sebelum memasuki dunia olahraga, Diane menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga, guru, dan aktivis lokal. Ia memiliki tiga anak, dan setelah pensiun dari pekerjaan utamanya, ia merasa perlu menjaga tubuh dan pikiran agar tetap aktif.

Dari sinilah olahraga menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Uniknya, Diane tidak pernah mengejar ketenaran atau popularitas. Ia hanya ingin hidup sehat dan merasa berguna.

Dalam sebuah kutipan yang viral di media sosial, Diane berkata, “When I’m running, I don’t think of anything except keep my eyes forward and move.”

Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tapi penuh makna. Saat ia berlari, ia tidak memikirkan usia, rasa sakit, atau ketakutan—yang ia pikirkan hanya maju ke depan.

Filosofi hidup ini begitu relevan bagi siapa saja, dari generasi muda hingga manula. Fokus pada langkah ke depan, dan sisanya akan mengikuti.

Kisah Diane Friedman juga menjadi kritik halus bagi persepsi masyarakat tentang penuaan.

Dunia modern terlalu sering mengidentikkan usia tua dengan ketidakberdayaan, seolah setelah melewati usia 60 tahun, seseorang hanya layak untuk diam, duduk, dan menunggu akhir hayat.

Diane menunjukkan bahwa hidup bisa dimulai kapan saja. Usia hanyalah angka, dan tubuh manusia memiliki potensi luar biasa yang sering tidak kita sadari—selama semangat dan niat tetap menyala.

Data dari National Senior Games Association menunjukkan bahwa partisipasi lansia dalam olahraga meningkat dalam dua dekade terakhir.

Bahkan, kelompok usia 80 tahun ke atas mengalami pertumbuhan peserta tertinggi dalam event-event olahraga lansia.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari sosok inspiratif seperti Diane Friedman, yang menjadi teladan bahwa batas usia bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru yang tak kalah menarik.

Kini, Diane mungkin telah menambahkan beberapa piala lagi di rak penghargaan kecilnya, tapi yang lebih penting, ia telah menorehkan warisan inspirasi yang tak ternilai bagi dunia.

Banyak atlet muda, pelari amatir, dan bahkan orang-orang yang tidak pernah menginjak lintasan lari mulai berpikir ulang tentang apa yang bisa mereka lakukan dalam hidup ini, setelah melihat Diane berlari dengan semangat api di mata dan langkah ringan di lintasan.

Jika ada satu pesan yang bisa diambil dari hidup Diane Friedman, itu adalah sebuah nasehat, jangan pernah terlalu tua untuk memulai sesuatu.

Entah itu berlari, bermimpi, menulis, mencinta, atau sekadar mencoba sesuatu yang baru—setiap hari adalah kesempatan. Dan seperti Diane, siapa tahu, kita pun bisa memecahkan rekor—jika bukan di dunia, setidaknya di dalam diri kita sendiri.

Oleh Bambang Eko Mei

                       ******

Partai Koalisi Soroti Banyaknya Masalah di APBD 2024, Banjir, Jalan Rusak, Sampai Pungli Sekolah Belum Tuntas

SIDOARJO-KEMPALAN : Fraksi Partai Golkar yang tergabung dalam Koalisi Sidoarjo Maju secara tegas menyatakan penolakannya terhadap Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kabupaten Sidoarjo Tahun Anggaran 2024. Mereka menilai, pelaksanaan anggaran belum mencerminkan pemerintahan yang efektif dan berorientasi pada hasil nyata untuk masyarakat.

Ketua DPC Golkar Sidoarjo Adam Rusydi mengatakan masih banyak persoalan krusial yang belum tertangani serius oleh Pemkab Sidoarjo, mulai dari banjir, pengangguran, infrastruktur pendidikan hingga tata kelola anggaran yang dinilai amburadul.

“Kami menghargai capaian yang sudah ada, tapi kalau bicara dampaknya ke masyarakat, jujur saja masih jauh dari harapan. Banjir masih langganan tiap tahun, jalan rusak di mana-mana, program kerja tanpa indikator jelas, dan masih ada pungutan di sekolah negeri,” tegas Adam Rusydi saat Konferensi Press di Kantor DPC Golkar Rabu (16/7/2025).

Banjir tak tuntas, drainase dinilai tertinggal dari Perkembangan Wilayah

Adam menyoroti persoalan banjir yang tak kunjung selesai di sejumlah kecamatan seperti Waru, Taman, Tanggulangin, Sedati, hingga Porong. Bahkan, kini muncul titik banjir baru di wilayah Krian, Tulangan, Prambon, dan Tarik.

“Ini bukti drainase kita nggak mengikuti perkembangan tata ruang. Harus ada pembangunan drainase dan pompa otomatis yang terencana, jangan terus jadi pelanggan banjir,” ujarnya.

Salah satu dampak yang disoroti adalah SDN Banjarsari, Tanggulangin, yang minim pendaftar karena sekolahnya terdampak banjir. “Bayangkan, cuma 10 siswa yang daftar karena orang tua khawatir. Ini harusnya jadi alarm serius bagi Pemkab,” tambahnya.

Janji 100 Ribu Lapangan Kerja Dinilai Sekadar Jargon

Program unggulan bupati menciptakan 100 ribu lapangan kerja juga jadi sorotan tajam. Menurut Adam, tidak ada data jelas berapa yang sudah diciptakan dan dari sektor mana saja.

“Programnya bagus, tapi kalau tanpa indikator dan laporan berkala ke publik, ya cuma jadi slogan politik. Pengangguran kita justru masih tinggi di angka 6,49 persen, tertinggi di Jatim,” ungkapnya.

Infrastruktur Pendidikan Buruk, Pungutan Sekolah Marak

Koalisi Sidoarjo Maju juga mencatat adanya maraknya pungutan di SD dan SMP negeri dengan dalih kesepakatan komite. Infrastruktur sekolah juga dinilai memprihatinkan, banyak bangunan rusak dan kekurangan ruang kelas.

“Anggaran pendidikan itu lebih dari 20 persen APBD. Harusnya cukup untuk operasional sekolah tanpa pungutan ke orang tua. Faktanya, anggaran lebih banyak habis buat belanja rutin, bukan perbaikan sekolah,” tegas Adam.

Temuan BPK dan Jalan Rusak Jadi Bukti Lemahnya Pengawasan

Tak kalah serius, Koalisi menyoroti temuan BPK RI terkait kesalahan penganggaran di 27 OPD. Ini dinilai menunjukkan lemahnya pengawasan internal dan kultur birokrasi yang belum akuntabel.

“Ini bukan soal teknis, tapi soal integritas dan profesionalisme birokrasi. Harus ada evaluasi serius terhadap pejabat terkait,” ujarnya.

Kondisi jalan juga tak luput dari kritik. Adam menyebut masih ada 445 titik jalan rusak di berbagai kecamatan. “Ada perbaikan, tapi tambal sulam. Drainasenya juga tidak dibenahi, jadi kerusakan akan terus terulang.”

Tolak Raperda Pertanggungjawaban APBD 2024

Dengan berbagai catatan itu, Adam menegaskan Fraksi Golkar dan Koalisi Sidoarjo Maju menolak menyetujui Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2024.

“Ini bentuk tanggung jawab politik kami. APBD harus berpihak pada rakyat, bukan hanya formalitas laporan anggaran,” pungkasnya.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Timnas Voli Indoor Indonesia Susah Payah Kalahkan Filipina

JAKARTA-KEMPALAN : Timnas voli indoor putra Indonesia dengan susah payah kalahkan Filipina. Bermain di hadapan pendukungnya sendiri di GOR International Velodrome Rawamangun, JakartaTimur Rabu (16/7/2025) Rivan Nur Mulki dkk tidak mudah meraih kemenangan. Justru sebaliknya, timnas Indonesia di paksa bermain lima set dengan Filipina yakni di angka 3-2 (25-19, 19-25, 21-25, 25-22, 15-8). 

Pada laga ini tim asuhan Jeff Jiang ini sempat lengah seusai mampu unggul di set pertama dengan 25-19. Namun di set kedua dan ketiga kubu Indonesia di buat sport jantung oleh Filipina setelah menyerah 19-25 dan 21-25.

Tertinggal 2-1 Rivan Nur Mulki dkk akhirnya mampu bangkit untuk meraih kemenangan lewat pertarungan lima set dengan 25-22 dan set kelima dengan 15-8 sekaligus mengakhiri kemenangan 3-2.

Asisten pelatih Timnas voli putra Indonesia, Erwin Rusni mengungkapkan bahwa anak asuhannya masih belum konsisten dalam bermain. Diharapkan setelah melakukan evaluasi permainan timnas voli putra Indonesia bisa meningkat di laga berikutnya.

“Kami melihat akurasi para pemain di laga ini agak kurang. Kami kemudian melakukan rotasi pemain dan akhirnya berjalan dengan baik. Alfin Daniel yang bermain di laga ini tampil sangat baik karena bermain lepas dan membawa suasana dalam tim menjadi naik,” ujar Erwin.

Senada dengan Erwin, pemain Timnas voli putra Fahri Septian Putratama senang dengan strategi pelatih di laga ini. Masuknya Alfin dan Rivan membuat perubahan di lapangan.

“Masuknya Alfin dan Rivan mengubah ritme permainan. Lawan tampaknya kesulitan dalam meredam Alfin yang baru bermain hari ini. Pemain lainnya Rivan juga tampil onfire sehingga bisa mengubah pertandingan di laga ini,” ujar Fahri.

Pada pertandingan ini, Rivan menjadi topskor dengan raihan 18 angka. Fahri menambahkan dengan 17 poin.

Boy Arnes juga gemilang dengan tambahan 15 angka. Adapun Hendra Kurniawan menutup dengan 11 poin.

Pada pertandingan lainnya, Vietnam mengawali putaran kedua dengan meraih kemenangan saat melawan Kamboja dengan skor 3-0 (25-23, 25-19, 25-21).

Jadwal Kamis (17/7)

Jam 16.00 WIB: Kamboja vs Thailand

Jam 19.00 WIB: Vietnam vs Indonesia.(Ambari Taufiq M Fasichullisan)

Setelah Menangi Piala Dunia Antarklub, Chelsea Berkoar Lebih Lapar Gelar

LONDON-KEMPALAN: Chelsea mampu menutup musim 2024–2025 dengan trofi juara Piala Dunia Antarklub. Dalam final di MetLife Stadium, East Rutherford, Senin (14/7), Chelsea mempecundangi Paris Saint-Germain (PSG) dengan tiga gol tanpa balas.

Trofi tersebut jadi koleksi kedua The Blues (julukan Chelsea) sepanjang musim 2024–2025. Sebelumnya, Chelsea mampu memenangi Liga Konferensi Europa 2024–2025.

BACA JUGA: Chelsea Sudah Menangi Semua Ajang Eropa, Maresca Masih Ingin Lebih

Dalam wawancara di laman resmi klub, striker Chelsea Liam Delap berkoar klubnya bisa memenangi banyak gelar di musim 2025–2026. Bukan hanya dua trofi, tapi bisa lebih banyak trofi lagi dalam musim 2025–2026. “Tentu saja ini awal yang bagus untukku,” ujar Delap sambil tersenyum.

Yang terdekat tentunya membawa Chelsea memenangi Liga Primer Inggris. “Sekarang kami harus terus melaju ke musim depan dan membawa pulang lebih banyak trofi untuk klub yang istimewa ini,” sambung Delap.

Dia konfiden, dengan pengalaman memenangi dua ajang internasional, mentalitas Reece James dkk jadi lebih tangguh.

“Kami memiliki keyakinan dalam skuad. Aku baru berada di sini sebentar, tetapi aku bisa melihat semua orang sangat fokus pada apa yang diinginkan pelatih kepala, dan semua orang haus kemenangan. Kami telah membuktikannya, dan semoga kami dapat terus membuktikannya di masa mendatang,” tegas Delap. (YMP)

Ini Alasan Wali Kota Eri Cahyadi Tata Parkir TJU Jalan Tunjungan!

Petugas melakukan penataan parkir di Jalan Tunjungan Surabaya. (Foto: Istimewa).

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya terus melakukan penataan di kawasan Jalan Tunjungan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus memperkuat daya tarik wisata kota. Langkah ini dilakukan seiring dengan masuknya Kota Surabaya dalam daftar destinasi favorit di Asia.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan, penataan Jalan Tunjungan difokuskan pada pengaturan parkir Tepi Jalan Umum (TJU). Tujuannya adalah agar lalu lintas di kawasan tersebut lebih lancar dan keindahan kawasan tidak terhalang oleh kendaraan yang parkir di tepi jalan.

“Berarti agar itu (lalu lintas) bisa berjalan cepat dan orang nyaman, maka (Jalan Tunjungan) harus ditata terkait perparkirannya. Jadi orang itu bisa lihat jalannya,” kata Eri Cahyadi, Rabu (16/7).

Ia menilai bahwa keberadaan kendaraan yang parkir di sisi kanan dan kiri jalan membuat pengunjung sulit menikmati suasana Jalan Tunjungan. Karena itu, Pemkot Surabaya berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengatur titik-titik parkir TJU di kawasan tersebut.

“Jangan sampai orang itu ketika lewat Jalan Tunjungan tidak bisa menikmati, karena krodit kanan-kirinya ada parkir mobil atau motor. Lalu, mau lihat keindahan Jalan Tunjungan tertutup parkir kendaraan,” tuturnya.

Maka dari itu, Wali Kota Eri menegaskan bahwa pihaknya intens berkoordinasi dengan jajaran kepolisian dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya penataan kawasan tersebut.

“Sehingga kami koordinasi dengan kepolisian, titik-titik mana saja yang parkir tepi jalan umum harus kita hilangkan agar tidak menyebabkan kemacetan,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa semakin lancar arus lalu lintas dan nyaman suatu kawasan, maka semakin besar peluang menarik kunjungan wisatawan. Dampaknya akan dirasakan langsung oleh pertumbuhan ekonomi daerah.

“Semakin banyak orang datang ke Surabaya, maka PAD (Pendapatan Asli Daerah) kita semakin meningkat. PAD semakin meningkat, sejahtera orang Surabaya,” harapnya.

Sementara terkait kebijakan larangan parkir TJU Jalan Tunjungan, Wali Kota Eri menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu keputusan final dari kepolisian.

“Kita akan koreksi apakah ini nanti kepolisian akan meminta untuk menghilangkan parkir tepi jalan umum, atau tidak boleh parkir pukul 16.00 WIB, tapi boleh parkir jam berapa,” ujarnya.

Sebagai informasi, mulai 15 hingga 31 Juli 2025, Pemkot Surabaya tengah melakukan perawatan di sepanjang Jalan Tunjungan setiap hari mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini bertujuan memperindah kawasan sekaligus meningkatkan kenyamanan sebagai ruang publik.

Selama proses perawatan berlangsung, masyarakat dan wisatawan diimbau untuk memanfaatkan kantong-kantong parkir yang telah disediakan. Beberapa titik parkir alternatif yang dapat digunakan antara lain UPTSA Siola, Tunjungan Electronic Centre (TEC), Jalan Tanjung Anom, Jalan Genteng Besar, Jalan Kenari, eks Kantor BPN, serta halaman Pasar Tunjungan. (Dwi Arifin)

4.172 CPNS dan PPPK Pemprov Jatim Terima SK Pengangkatan, Terbanyak di Indonesia

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa foto selfie bersama CONS dan PPPK usai penyerahan SK pengangkatan di Gedung Graha Unesa, Rabu (16/7).

SURABAYA-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan untuk 4.172 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Formasi Tahun 2024 Pemprov Jatim di Gedung Graha Unesa Surabaya, Rabu (16/7).

Rincinya, SK pengangkatan diserahkan untuk 2.157 CPNS dan 2.015 PPPK Pemprov Jatim. Jumlah ini tercatat sebagai yang terbanyak di Indonesia.

Yang juga spesial dari momen penyerahan SK kali ini, turut dilakukan Manajemen Talent DNA bersama ESQ Corporation yang diikuti oleh seluruh ASN Pemprov Jatim dari berbagai level jabatan. Tercatat 34.457 orang PNS se-Jatim telah melakukan Tes Talent DNA.

Dalam momen tersebut, Gubernur Khofifah secara khusus berpesan kepada ribuan CASN agar bisa menerapkan budaya kerja KIS atau Konsisten, Inovatif, dan Sinergi.

“Sesuai reformasi birokrasi arahan Presiden Prabowo, ASN diharapkan bisa lebih responsif dan melakukan percepatan kebijakan. Untuk itu ASN Pemprov Jatim diharap bisa membangun konsistensi, tumbuhkan inovasi, dan luaskan sinergi,” tegasnya.

Bukan tanpa alasan, Jatim sebagai Center of Gravity dalam pembangunan Indonesia memerlukan pilar-pilar ASN yang mampu membersamai langkah Pemprov Jatim untuk terus menjadi Gerbang Baru Nusantara.

Penerapan dari KIS tersebut disebut Khofifah mampu mendorong potensi kekuatan yang telah dimiliki Jawa Timur. Sebagai provinsi dengan perekonomian tertinggi kedua di Indonesia, konsistensi kinerja ASN dapat dilihat dari tingginya capaian transaksi Misi Dagang antar provinsi yang menjadi tradisi Pemprov Jatim.

“Di NTB dan Balikpapan Misi Dagang kita tembus Rp 1 triliun. Ini bukti bahwa goal getter menjadi penting untuk terus membangun sinergi internal maupun eksternal,” terangnya. 

Di sisi inovasi, Khofifah memastikan bahwa Pemprov Jatim berkomitmen penuh untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi ASN untuk mengembangkan diri.

Melalui kerja sama dengan berbagai pihak baik dalam dan luar negeri, SDM ASN Pemprov Jatim dipastikan harus terus meningkatkan kualiatas dan jaringannya diperluas.

“Kita ada kerja sama dengan pemerintah Singapura berupa beasiswa bagi ASN dan juga beasiswa kerja sama dengan King’s College London di Malang melalui program Digital Future dan Digital Economy,” kata Khofifah.

Kerja sama ini tidak lain merupakan komitmen Pemprov Jatim untuk menyiapkan diri menghadapi target industri manufaktur Indonesia di tahun 2045 sebesar 30%. Dimana Jawa Timur pada tahun 2024 lalu telah mencapai 35%.

Lebih lanjut disampaikan Khofifah, di dalam proses pemenuhan CPNS dan PPPK ada proses mendahului, yaitu identifikasi  Talent DNA yang merupakan inisiasi dari ESQ Corporation dimana lAry Ginanjar sebagai Founder juga hadir langsung bersama tim.

Ia melanjutkan, Manajement Talent DNA merupakan bentuk komitmen Pemprov Jatim dalam rencana pengembangan manajamen talenta dan pola karier untuk PNS di seluruh level jabatan.

Pasalnya, melalui Talent DNA dapat mengidentifikasi potensi dan bakat alami pegawai, membantu individu memahami kekuatan dan kelemahan pegawai, serta memberikan panduan untuk pengembangan diri yang lebih efektif.

“Harapannya akan makin memberikan karakter, dedikasi, dan pengabdian kita termasuk keikhlasan dalam memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” tuturnya.

“Selamat bertugas dan menjalankan  mandat sebagai CPNS dan PPPK di Pemprov Jatim. Saudara  bukan hanya CPNS untuk Jawa Timur, saudara  adalah CPNS untuk Indonesia,” tegasnya, mengingatkan.l

Senada dengan Gubernur Khofifah, Founder dan CEO ESQ Corporation Ary Ginanjar Agustian menyatakan optimismenya terhadap kemajuan ASN di lingkungan Pemprov Jatim. Ia bahkan meyakini bahwa di bawah komando Gubernur Khofifah, Jatim mampu menjadi Gudang Talenta di Indonesia.

“Dimana ASN memiliki manajemen talenta sehingga mereka bisa diketahui minat dan bakatnya. Jatim ini yang pertama di Indonesia dan dampaknya bisa meningkat hingga 788 persen,” jelasnya.

“Selamat untuk Ibu Gubernur dan Jatim. Harapannya akan menjadi role model manajemen talenta berbasis AI dengan kecepatan tinggi dalam mencari dan memilih orang-orang terbaiknya,” lanjut Ary Ginanjar.

Dalam kesempatan tersebut, turut dilakukan Penandatanganan Kick Off Manajemen Talenta berbasis sistem merit oleh Gubernur Khofifah dan Penandatanganan MoU Integrasi data antara BKD Prov. Jatim dan Bank Jatim.

Kaitannya Manajemen Talenta Nasional Kakanreg II BKN Surabaya A. Darmuji mengaku siap untuk mendukung dengan data yang dimiliki. Harapannya dengan komitmen Gubernur Khofifah, maka seluruh Kab/Kota di Jatim akan turut berkomitmen membangun visi misi sebagai Gerbang Baru Nusantara.

Turut hadir Ketua Komisi A DPRD Prov Jatim Dedi Irwansah, Plt. Asisten Administrasi Umum Setdaprov Jatim Akh. Jazuli, jajaran Kepala Perangkat Daerah Prov. Jatim termasuk Kepala BKD Prov. Jatim Indah Wahyuni, serta ribuan CASN di lingkungan Pemprov Jatim. (Dwi Arifin)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.