Pada usia 100 tahun, ketika banyak orang mungkin telah menyerah pada kehidupan yang pasif, Diane Friedman justru menginjak pedal gas lebih dalam.
Wanita luar biasa dari Cleveland, Ohio ini tak sekadar menikmati usia senja dengan bersantai di beranda rumah, ia justru menantang gravitasi dan stereotip usia dengan berlari—ya, benar-benar berlari—di lintasan atletik.
Lebih dari itu, ia memecahkan rekor dunia. Kisahnya bukan sekadar pencapaian atletik, melainkan cermin dari semangat manusia yang tak pernah lekang oleh waktu.
Friedman tidak tumbuh sebagai seorang atlet. Ia baru mulai berlari ketika usianya sudah memasuki 70 tahun. Sebuah keputusan yang bagi banyak orang mungkin terdengar terlambat, tapi baginya justru menjadi titik awal.
“Saya mulai ikut lomba lari karena saya ingin tetap aktif dan sehat,” katanya dalam sebuah wawancara lokal beberapa tahun lalu.
Saat itu, ia mengikuti lomba-lomba kecil di komunitasnya—5K, bahkan beberapa lomba fun run—dan sejak itu, dunia atletik veteran mengenalnya sebagai sosok yang tak mengenal kata menyerah.
Salah satu titik puncak perjalanan luar biasa ini terjadi pada 15 Agustus 2023, dalam ajang Michigan Senior Olympics.
Di sana, Diane Friedman yang saat itu berusia 100 tahun tampil mencolok, bukan karena usia tuanya, melainkan karena kecepatannya.
Dalam lomba lari 100 meter untuk kelompok usia 100–104 tahun, ia mencatat waktu 36,71 detik—memecahkan rekor sebelumnya dengan selisih hampir tiga detik.
Untuk ukuran siapa pun, terutama bagi seseorang yang hidup satu abad, ini adalah prestasi yang mengguncang batas kemungkinan.
Bukan hanya itu, ia juga mencatat rekor dunia untuk lari 200 meter, serta rekor Amerika untuk lempar lembing dalam kategori yang sama.
Tiga rekor dalam satu kejuaraan adalah sesuatu yang mungkin hanya tercatat dalam sejarah atletik senior beberapa kali, dan Diane melakukannya dalam satu hari.
Namun, prestasi Diane tidak lahir dari keajaiban seketika. Ia adalah hasil dari dedikasi bertahun-tahun terhadap kebugaran, gaya hidup aktif, serta mentalitas pantang menyerah.
Bahkan di usia 95 tahun, ia masih aktif berlatih, berpartisipasi dalam kompetisi seperti National Senior Games, dan menyempatkan diri menginspirasi orang-orang lewat wawancara, sesi motivasi, dan keterlibatan dalam komunitas olahraga lansia.
Friedman lahir pada tahun 1923 di Cleveland, Ohio. Ia tumbuh di masa ketika dunia baru saja keluar dari bayang-bayang Perang Dunia I dan menghadapi depresi besar. Ia menyaksikan berbagai peristiwa bersejarah.
Perang Dunia II, gerakan hak sipil, pendaratan di bulan, internet, hingga pandemi global. Ia adalah saksi hidup dari perubahan abad ke-20 dan ke-21.
Sebelum memasuki dunia olahraga, Diane menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga, guru, dan aktivis lokal. Ia memiliki tiga anak, dan setelah pensiun dari pekerjaan utamanya, ia merasa perlu menjaga tubuh dan pikiran agar tetap aktif.
Dari sinilah olahraga menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Uniknya, Diane tidak pernah mengejar ketenaran atau popularitas. Ia hanya ingin hidup sehat dan merasa berguna.
Dalam sebuah kutipan yang viral di media sosial, Diane berkata, “When I’m running, I don’t think of anything except keep my eyes forward and move.”
Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tapi penuh makna. Saat ia berlari, ia tidak memikirkan usia, rasa sakit, atau ketakutan—yang ia pikirkan hanya maju ke depan.
Filosofi hidup ini begitu relevan bagi siapa saja, dari generasi muda hingga manula. Fokus pada langkah ke depan, dan sisanya akan mengikuti.
Kisah Diane Friedman juga menjadi kritik halus bagi persepsi masyarakat tentang penuaan.
Dunia modern terlalu sering mengidentikkan usia tua dengan ketidakberdayaan, seolah setelah melewati usia 60 tahun, seseorang hanya layak untuk diam, duduk, dan menunggu akhir hayat.
Diane menunjukkan bahwa hidup bisa dimulai kapan saja. Usia hanyalah angka, dan tubuh manusia memiliki potensi luar biasa yang sering tidak kita sadari—selama semangat dan niat tetap menyala.
Data dari National Senior Games Association menunjukkan bahwa partisipasi lansia dalam olahraga meningkat dalam dua dekade terakhir.
Bahkan, kelompok usia 80 tahun ke atas mengalami pertumbuhan peserta tertinggi dalam event-event olahraga lansia.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari sosok inspiratif seperti Diane Friedman, yang menjadi teladan bahwa batas usia bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru yang tak kalah menarik.
Kini, Diane mungkin telah menambahkan beberapa piala lagi di rak penghargaan kecilnya, tapi yang lebih penting, ia telah menorehkan warisan inspirasi yang tak ternilai bagi dunia.
Banyak atlet muda, pelari amatir, dan bahkan orang-orang yang tidak pernah menginjak lintasan lari mulai berpikir ulang tentang apa yang bisa mereka lakukan dalam hidup ini, setelah melihat Diane berlari dengan semangat api di mata dan langkah ringan di lintasan.
Jika ada satu pesan yang bisa diambil dari hidup Diane Friedman, itu adalah sebuah nasehat, jangan pernah terlalu tua untuk memulai sesuatu.
Entah itu berlari, bermimpi, menulis, mencinta, atau sekadar mencoba sesuatu yang baru—setiap hari adalah kesempatan. Dan seperti Diane, siapa tahu, kita pun bisa memecahkan rekor—jika bukan di dunia, setidaknya di dalam diri kita sendiri.
Oleh Bambang Eko Mei
******

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi