Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 13:43 WIB
Surabaya
--°C

Jatim-Jepang Sepakat Perkuat SDM dan Skill dalam Penanggulangan Bencana

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Konjen Jepang di Surabaya Mr.Takonai Susumu (kiri). (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com).

SURABAYA-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima kunjungan Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Mr. Takonai Susumu di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (28/7).

Gubernur Khofifah menegaskan pertemuan ini semakin mempererat persahabatan dan komitmen bersama antara Jawa Timur dan Jepang termasuk Prefektur Osaka.

“Suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami untuk menyambut kehadiran Bapak Konjen beserta seluruh delegasi,” ujar Khofifah.

Menurut Khofifah, upaya tersebut dilakukan dengan melanjutkan berbagai kerja sama di bidang penguatan sumber daya manusia. Salah satunya dengan penguatan skill tentang penanggulangan bencana yang sejauh ini rutin diselenggarakan oleh Pemerintah Jepang.

“Kami sampaikan bahwa Indonesia dan Jawa Timur ini Ring of Fire sehingga skill penanggulangan bencana harus terus di-update,” katanya.

Dinamika kebencanaan yang terjadi seperti global warming dan efeknya serta perubahan iklim di dunia menuntut semua untuk bisa beradaptasi. Oleh sebab itu ia menilai peningkatan skill penanggulangan bencana adalah sebuah keharusan.

“Terima kasih karena sejak saya di Kementerian Sosial support dari Pemerintah Jepang untuk training bagi tim penaggulangan bencana sangat luar biasa. Dan kami juga tetap mendapatkan support untuk ditingkatkan skill bagi tim penanggulangan bencana di Jawa Timur,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Khofifah mengatakan, penguatan peningkatan sumber daya manusia juga dilakukan melalui pemberian beasiswa, kursus maupun pelatihan di berbagai bidang. Menurutnya, semua yang berkaitan dengan peningkatan SDM bernilai penting bagi Jawa Timur.

“Saya menyampaikan bahwa short course atau scholarship bagi Jawa Timur itu penting di sektor apapun,” ujarnya.

Sebelumnya Jawa Timur dan Osaka telah memiliki hubungan kerja sama yang  terbangun baik. Hubungan baik tersebut telah terjalin sejak penandatanganan Perjanjian Pembentukan Hubungan Persahabatan Provinsi – Prefecture dalam rangka kerja sama Sister Province pada tahun 1984.

“Selama ini kami merasakan bahwa Konjen Jepang selalu membangun komunikasi yang sangat baik, bukan hanya dengan Pemprov tetapi juga dengan berbagai organisasi – organisasi sosial kemasyarakatan termasuk organisasi keagamaan,” ucapnya.

Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang strategis. Antara lain perdagangan dan industri, pendidikan, pertukaran sosial budaya, hingga pengembangan sumber daya manusia.

“Terima kasih atas kunjungan kehormatan ini. Semoga pertemuan hari ini menjadi babak baru dalam persahabatan yang saling menguntungkan antara masyarakat Jepang dan masyarakat Jawa Timur,” ucapnya.

Sementara itu Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Mr. Takonai Susumu menyampaikan kunjungannya ke  Grahadi  ini membahas tentang Jepang dan Indonesia khususnya Jawa Timur. Diantaranya terkait kerjasama yang bisa dilanjutkan khususnya di bidang tenaga kerja, dan pertanian.

“Kami sudah bicarakan, semakin banyak orang Indonesia dari Jawa Timur sudah bekerja di Jepang dan sekarang sudah meningkat,” Kata Takonai Susumu

Selain itu juga membahas kerja sama di sektor ketenagakerjaan dan peningkatan sumber daya manusia.

“Kami sudah berdiskusi itu dan bagaimana cara untuk meningkatkan sumber daya manusia Jawa Timur,” tutupnya. (Dwi Arifin)

Diskusi Adalah Jembatan, Bukan Ajang Debat

Oleh:
Dinda Dwimanda
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi
Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta

BUDAYA diskusi di lingkungan keluarga bukan hanya soal berbicara, melainkan tentang bagaimana kita menciptakan ruang yang aman untuk saling mendengarkan dan tumbuh bersama. Dalam dinamika keluarga Indonesia masa kini, budaya ini semakin penting, terutama ketika dunia anak dan orangtua terbentuk oleh nilai-nilai, teknologi, serta cara pandang yang berbeda. Perbedaan ini acap kali menjadi penyebab miskomunikasi yang berujung pada renggangnya relasi keluarga.

Melalui pendekatan teori komunikasi antar budaya yang dikenalkan oleh Edward T. Hall, yakni teori High Context dan Low Context, kita bisa memahami lebih dalam tentang akar persoalan komunikasi yang kerap terjadi antara generasi orangtua dan anak-anak mereka.

Budaya komunikasi konteks tinggi (high-context) cenderung tidak langsung, mengandalkan isyarat non-verbal, serta menjunjung tinggi harmoni sosial. Gaya ini umum digunakan oleh generasi yang lebih tua dan berkembang dalam masyarakat Asia, termasuk Indonesia. Sebaliknya, budaya konteks rendah (low-context), yang banyak dianut oleh generasi Z dan Alpha, lebih terbuka, langsung, dan eksplisit. Hal ini dipengaruhi oleh paparan budaya global dan digital.

Perbedaan ini berdampak besar dalam keseharian. Misalnya, orangtua bisa saja menganggap diam sebagai bentuk setuju, sementara anak justru merasa perlu menyampaikan ketidaksetujuannya secara terbuka. Tak jarang, perbedaan ini disalahartikan sebagai sikap tidak sopan dari anak, padahal mereka hanya mengekspresikan diri dalam gaya komunikasi yang berbeda.

Sebuah laporan dari Komnas Perempuan tahun 2022 menyebutkan bahwa 63% remaja di Indonesia merasa tidak bebas berdiskusi dengan orangtuanya, terutama dalam hal nilai, pilihan pendidikan, hingga pergaulan. Angka ini menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang menjadikan relasi komunikasi sebagai sesuatu yang bersifat hierarkis, bukan dialogis. Budaya diskusi yang sehat idealnya bersifat horizontal: tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dalam hak untuk berbicara dan didengar. Namun, dalam realitas banyak keluarga, status orangtua sebagai “pemberi keputusan mutlak” menjadikan diskusi terasa seperti penilaian sepihak.

Perbedaan gaya komunikasi sering kali terasa paling tajam ketika membahas isu-isu sensitif seperti kesehatan mental, seksualitas, atau pilihan gaya hidup. Dalam keluarga dengan pola konteks tinggi, isu-isu tersebut sering dianggap tabu dan tidak pantas dibahas. Padahal, generasi muda saat ini justru menganggapnya penting dan perlu diomongkan secara terbuka.

Dampak dari minimnya ruang diskusi ini sangat nyata. Anak-anak merasa tidak dipahami, bahkan tak jarang menarik diri dari orangtua. Penelitian UNICEF Indonesia (2021) menunjukkan bahwa remaja yang memiliki komunikasi terbuka dengan orangtua memiliki tingkat kebahagiaan dan ketahanan mental 38% lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak.

Lalu bagaimana solusi agar keluarga bisa menjembatani jurang komunikasi ini? Pertama, penting untuk memahami bahwa orangtua tidak harus meninggalkan seluruh nilai yang mereka yakini. Yang perlu diubah adalah pendekatannya dari reaktif menjadi reflektif.

Misalnya, alih-alih langsung menolak pandangan anak, orangtua bisa bertanya: “Mengapa kamu berpikir seperti itu?” atau “Ceritakan lebih banyak biar ayah/ibu bisa paham.”

Kedua, membiasakan adanya forum keluarga secara berkala dapat menjadi langkah konkret. Forum ini bukan ruang menghakimi, melainkan tempat untuk saling bercerita tanpa interupsi gadget. Bahkan percakapan santai saat makan malam pun bisa menjadi benih tumbuhnya budaya diskusi yang sehat.

Ketiga, perlu ada pendidikan komunikasi yang bersifat inklusif, baik untuk anak maupun orangtua. Keterampilan mendengarkan aktif, empati, serta kemampuan menyampaikan pendapat secara sopan tapi tegas, adalah bekal penting dalam membangun dialog keluarga yang bermakna.

Diskusi dalam keluarga bukan tentang siapa yang lebih benar atau lebih tua. Diskusi adalah jembatan yang menyatukan perbedaan pandangan agar kita saling memahami. Anak-anak yang diberi ruang untuk bicara, bukan hanya tumbuh dengan kepercayaan diri lebih baik, tapi juga memiliki daya kritis dan empati yang tinggi.

Perbedaan generasi memang tidak bisa dihindari. Dunia yang membentuk orangtua tentu berbeda dari dunia yang membentuk anak-anak mereka. Tapi perbedaan bukan penghalang. Justru di sanalah kesempatan untuk saling belajar dan tumbuh bersama. Orangtua belajar untuk lebih fleksibel, sementara anak belajar untuk lebih menghargai.

Budaya diskusi dalam keluarga tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil: mendengarkan tanpa menginterupsi, bertanya tanpa menghakimi, dan menghargai walau tidak sepakat. Semua itu bermula dari niat untuk saling mengerti, bukan saling mengubah.

Ketika keluarga menjadi ruang aman untuk bertanya, mengemukakan pendapat, dan bahkan berbeda pendapat, maka di sanalah fondasi sebuah masyarakat yang lebih kritis, toleran, dan inklusif sedang dibangun. Karena pada akhirnya, membangun budaya diskusi bukan hanya urusan komunikasi, tapi juga urusan cinta. Cinta yang tidak hanya ingin didengar, tetapi juga ingin mendengarkan. (*)

Cinta, Culture Shock, dan Tantangan Komunikasi Budaya Keluarga Batak-Jawa

Penulis:
Pratika MarthaLena
Magister Ilmu Komunikasi,
Universitas Sahid Pasca Sarjana Jakarta

APA jadinya jika tradisi anak marparuma dari Tanah Batak bertemu dengan nilai alon-alon asal kelakon khas Jawa? Di balik keindahan pernikahan lintas budaya, tersembunyi tarik-ulur identitas, perbedaan pola komunikasi, hingga benturan nilai dalam kehidupan keluarga. Inilah potret cinta yang diuji oleh budaya.
Dalam keluarga Batak-Jawa, cinta bukan sekadar urusan dua insan, tapi juga proses negosiasi antara dua sistem makna yang berbeda. Bagaimana mereka saling menyesuaikan diri dalam pusaran culture shock dan perbedaan ekspresi emosi?
Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman budaya, bahasa, dan adat istiadat. Dalam kehidupan bermasyarakat, keberagaman ini dapat menjadi kekuatan sekaligus tantangan, khususnya ketika terjadi percampuran budaya dalam institusi sekecil rumah tangga.
Salah satu contoh konkret adalah pernikahan antara individu dari Suku Batak (Sumatera Utara) dan Suku Jawa (Jawa Timur), yang memiliki perbedaan signifikan dalam gaya komunikasi, nilai-nilai budaya, hingga penggunaan bahasa sehari-hari. Ketika dua latar belakang ini bersatu dalam sebuah ikatan keluarga, tidak jarang muncul ketegangan yang dipicu oleh perbedaan pola pikir dan ekspresi emosional.

Suami dari suku Batak, misalnya, sering kali dikenal dengan gaya komunikasi yang tegas, terus terang, dan ekspresif. Sebaliknya, istri dari suku Jawa, terutama dari Malang, lebih cenderung menjunjung tinggi sopan santun, keharmonisan, dan menghindari konflik terbuka. Ketimpangan komunikasi ini dapat menimbulkan kesalahpahaman yang berulang jika tidak dikelola dengan baik.

Fenomena culture shock menjadi hal yang wajar dalam dinamika rumah tangga lintas budaya. Ketika pasangan dihadapkan pada kebiasaan yang sangat berbeda dari yang mereka kenal sejak kecil, rasa kaget, bingung, bahkan stres dapat terjadi. Inilah yang sering menjadi akar dari pertengkaran dalam rumah tangga multikultural.

Perbedaan bukan hanya terjadi pada gaya komunikasi verbal, tetapi juga pada bahasa tubuh, cara menyampaikan pendapat, dan ekspektasi terhadap peran gender. Dalam budaya Batak, misalnya, kepala keluarga cenderung mengambil peran dominan, sementara dalam budaya Jawa, pendekatan yang lebih egaliter kadang dianggap lebih ideal.

Bentuk-bentuk penyesuaian ini juga mencakup aspek spiritual dan adat istiadat. Ritual-ritual tertentu dari salah satu pihak bisa dianggap aneh atau tidak perlu oleh pihak lainnya. Ketegangan akan meningkat bila tidak ada dialog dan saling pengertian yang terus-menerus dilakukan. Dengan demikian, pernikahan lintas budaya tidak bisa hanya mengandalkan cinta dan komitmen emosional semata. Diperlukan kesadaran budaya, empati, dan kesediaan untuk saling belajar agar komunikasi dalam keluarga tetap sehat dan produktif.

Pertemuan dua budaya dalam rumah tangga sering kali menimbulkan gesekan. Pada awal pernikahan, pasangan dari dua budaya ini kerap mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Pertengkaran kecil dapat membesar hanya karena perbedaan cara menyampaikan emosi atau ekspektasi terhadap peran masing-masing dalam keluarga.

Misalnya, ketika suami berbicara dengan nada tinggi sebagai bentuk ekspresi biasa dalam budaya Batak, istri bisa merasa terintimidasi atau tidak dihargai. Sebaliknya, ketika istri terlalu hati-hati dan pasif dalam menyampaikan kritik, suami bisa menilainya sebagai tidak terbuka atau menyimpan ketidaksenangan.

Masalah ini bukan sekadar soal perbedaan karakter, tetapi lebih dalam lagi menyangkut nilai-nilai budaya yang tertanam sejak kecil. Pola asuh, kebiasaan makan, etika berbicara, hingga tata cara menyambut tamu, semuanya bisa menjadi sumber konflik yang tidak disadari.

Jika tidak ada kesepahaman sejak awal, konflik ini bisa berkembang menjadi ketegangan berkepanjangan. Oleh karena itu, penting bagi pasangan untuk menyadari bahwa mereka tidak hanya menikah dengan individu, tetapi juga dengan budayanya. Menghadapi perbedaan budaya dalam rumah tangga memerlukan strategi komunikasi yang matang.

Salah satu pendekatan yang relevan adalah integrative adaptation, di mana masing-masing pasangan berusaha mempertahankan identitas budayanya sambil membuka ruang untuk menerima budaya pasangannya. Strategi ini menekankan pentingnya saling mendengarkan dan menciptakan dialog yang aman untuk mengungkapkan perbedaan tanpa menghakimi. Dengan demikian, komunikasi bukan hanya alat untuk menyampaikan maksud, tetapi juga jembatan untuk membangun rasa saling menghormati.

Dalam konteks keluarga Batak-Jawa, proses adaptasi juga berarti membuka diri terhadap tradisi keluarga pasangan. Misalnya, pasangan bisa saling memperkenalkan kebiasaan budaya masing-masing melalui kegiatan harian, masakan, atau perayaan hari besar. Adaptasi membutuhkan waktu yang cukup lama dan kesabaran. Tidak ada cara instan untuk menyatukan dua nilai budaya yang sudah tertanam sejak masa kanak-kanak.

Oleh karena itu, penting untuk tidak menyerah ketika konflik muncul, tetapi menjadikannya sebagai proses pembelajaran. Selain komunikasi interpersonal, peran pihak ketiga seperti mediator keluarga atau konselor pernikahan juga bisa sangat membantu. Dengan pendekatan yang netral dan profesional, mereka dapat membantu mengurai akar konflik dan memberikan saran praktis dalam mengelola perbedaan budaya.

Pasangan perlu menciptakan budaya keluarga baru yang merupakan perpaduan dari dua budaya. Ini dapat menciptakan identitas keluarga yang unik, yang justru memperkuat keharmonisan dan solidaritas antar anggota keluarga. Pernikahan lintas budaya mencerminkan wajah asli masyarakat Indonesia yang plural.

Meski penuh tantangan, integrasi budaya melalui rumah tangga adalah Langkah konkret dalam menciptakan masyarakat yang inklusif. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam membentuk kesadaran budaya generasi berikutnya. Anak-anak yang lahir dari pasangan multikultural akan memiliki pemahaman yang lebih luas, toleran, dan fleksibel terhadap perbedaan.

Namun keberhasilan ini sangat bergantung pada bagaimana orang tua mengelola perbedaan tersebut. Jika konflik disembunyikan dan tidak diatasi dengan cara terbuka, anak justru akan mengalami kebingungan identitas dan kecenderungan menolak salah satu budaya. Refleksi ini juga menunjukkan pentingnya literasi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Sering kali, pasangan menikah tanpa pemahaman mendalam tentang budaya pasangannya, yang kemudian menjadi sumber konflik jangka panjang. Seni, media, dan pendidikan dapat memainkan peran besar dalam mengedukasi masyarakat tentang tantangan pernikahan lintas budaya.

Program pranikah atau pelatihan komunikasi antarbudaya bisa menjadi bagian dari kebijakan sosial yang progresif. Penting juga untuk memperkuat nilai-nilai lokal seperti gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati dalam konteks multikultural. Nilai-nilai ini bisa menjadi fondasi etis dalam membangun keluarga yang harmonis meski berasal dari budaya berbeda.

Kita juga perlu mendorong narasi yang lebih positif tentang pernikahan lintas budaya. Alih-alih dianggap sebagai masalah, ia seharusnya dilihat sebagai peluang untuk memperkaya pengalaman hidup dan memperkuat jalinan sosial. Dengan cara itu, komunikasi budaya tidak hanya menjadi alat untuk bertahan, tetapi juga untuk tumbuh dan menyatukan perbedaan demi tujuan bersama: keluarga yang kuat dan masyarakat yang rukun.

Perbedaan budaya dalam rumah tangga bukanlah penghalang untuk menciptakan kebahagiaan. Justru, dengan komunikasi yang tepat, perbedaan bisa menjadi sumber kekuatan dan kreativitas dalam membangun kehidupan bersama. Pasangan dari budaya Batak dan Jawa menunjukkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang usaha memahami dan menerima satu sama lain secara utuh.

Proses ini tidak selalu mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Ketika perbedaan dirangkul dan dikelola dengan bijak, keluarga menjadi tempat paling indah untuk belajar toleransi, kesetaraan, dan cinta yang tidak bersyarat. (*)

Puisi Bernyanyi ‘Sungai Ciliwung’, Otokritik Lingkungan Hidup

KEMPALAN: Dari sekian puisi tentang lingkungan hidup yang pernah saya baca, boleh jadi inilah yang terindah.

Kritik yang disampaikan penyair M. Rohanudin melalui puisinya berjudul ‘Sungai Ciliwung’, begitu menyentuh. Dibungkus kalimat-kalimat tajam dengan beberapa sudut bait serasa persuasi, saya pastikan akan menggedor batin siapa saja yang mengaku mencintai lingkungan hidup.

Saat selintas membaca judulnya, saya membayangkan Rohan akan menulis tentang keindahan liukan sungai sepanjang 120 kilometer yang berhulu di Gunung Gede, kemudian melintasi Gunung Pangranggo, terus menyusuri Cisarua.

Juga saya bayangkan ketakjuban saya akan sungai ini mengalir ke utara, menyusuri ngarai dan persawahan, lantas menembus Bogor, melintasi Depok, meliuk dan akhirnya “membobol” kota terbesar di Indonesia, hingga bermuara di Teluk Jakarta.

Nyatanya imajinasi saya tentang keindahan sungai ini, di tangan Rohan berubah jadi antitesa.

Saya lupa –sebagaimana dinyatakan Bertold Damshauser dosen Sastra Indonesia di Universitas Bonn, Jerman di kover belakang buku kumpulan puisi Bicaralah yang Baik-Baik — puisi-puisi Rohan di buku ini sedang membicarakan Indonesia yang sedang tidak baik-baik.

Maka, yang saya jumpai adalah keindahan bahasa puisi yang berkelindan di antara jalinan makna demi makna sarat kesedihan menyayat.

Persoalan puisi ini, tampaknya berkutat di seputar Jakarta, dimana bahasannya bisa bersifat universal. Meluas. Setidaknya memperingatkan kota-kota besar di Indonesia lainnya agar mewaspadai sungai dan laut.

Sungai, sebagaimana kita tahu adalah bagian dari kebudayaan yang tak bisa kita anggap remeh. Sungai juga bagian dari pusat peradaban. Sungai adalah cermin masyarakat.

Sedangkan laut ibarat lambung kita. Makanan toxic yang masuk melalui kerongkongan (sungai) ke dalam perut, bisa merusak sistem metabolisme tubuh. Secara metaforis akan merongrong luhurnya peradaban.

Puisi yang terdiri dari enam bait ini, untaian kata per kata, baris demi baris, begitu cermat disusun Rohan. Sulit untuk mencari celah kesalahan struktur kalimat. Dan kalimat-kalimat yang tersusun pun rasionalitas makna.


Mari kita coba amati bait ke-1 dan bait ke-2 puisi ini :

kata siapa kita juara?
kata siapa?
bukankan sungai Ciliwung
tersohor sebagai sungai terkotor di dunia,
pekat bagai comberan
kita tutup rapat-rapat, tapi hati dan akal
lebih rapat dari menyumbat telinga

kata siapa laut kita indah?
kata siapa?
jutaan bangkai plastik, botol-botol mineral, kantong-kantong cairan kimia, tas kresek sampai pada jarum suntik narkoba, meracuni lautan kita, masuk ke perut hiu
hiu hamil tanpa pejantan
mati tanpa disembelih

Perhatikan dua bait di atas, masing-masing pada baris ke-1 dan baris ke-2, dimana Rohan tanpa basa-basi mencoba menggugat kondisi sungai dan laut.

Kalimat-kalimat mirip repetitif yang disampaikannya sebagai kalimat penyangkalan begitu indah namun menyodok :

kata siapa kita juara?
kata siapa?
Dst.

kata siapa laut kita indah?
kata siapa?
Dst.

Dan Rohan cukup cerdik untuk menghindari unsur klise. Konkritnya ia tidak mau terjebak menggunakan kata yang sama yaitu ‘indah’ seperti baris ke-1 pada bait ke-2 atau semacam sinonimitas, melainkan dengan meletakkan kata ‘juara’ pada bait ke-1 baris ke-1.

Kecerdikan ini selain melahirkan keindahan, juga menghadirkan makna berharga tentang ancaman terhadap lingkungan hidup.

Begitulah, sebagaimana saya awali pada beberapa alinea di atas, baris-baris puisi ini memiliki makna yang sangat kuat dan kritis tentang kondisi lingkungan di Indonesia.

Kedua bait puisi tersebut mempertanyakan anggapan bahwa Indonesia adalah “juara” atau setidaknya memiliki kebanggaan nasional. Padahal realitasnya sangat berbeda.

Bait-bait puisi ini juga menggambarkan dua contoh kondisi lingkungan yang buruk:

  • Sungai Ciliwung yang terkenal sebagai salah satu sungai terkotor di dunia, menunjukkan kegagalan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
  • Laut yang seharusnya indah, kenyataannya tercemar oleh sampah plastik, botol mineral, kantong kimia, bahkan jarum suntik narkoba, yang meracuni lautan dan membahayakan kehidupan laut. Itulah Teluk Jakarta.

Bait-bait puisi ini juga menekankan bahwa kita cenderung menutup mata dan telinga terhadap masalah-masalah lingkungan, dimana hati dan akal kita lebih rapat daripada sumbatan telinga kita terhadap kebenaran.

Makna keseluruhan adalah kritik terhadap kondisi lingkungan di Indonesia dan panggilan untuk berkesadaran serta tindakan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.


sementara kita di kota lebih asyik bertengkar, hidup seperti berpura-pura,
sibuk bertransaksi jual beli jabatan,
jadilah yang kurus semakin kisut,
yang lapar semakin tak ada yang dimakan
yang kaya mendirikan kerajaan dimana-mana
kita sering bicara keadilan
tapi keadilan seperti apa yang ingin kita
pertontonkan

Begitulah Rohan memberi alasan pada bait ke-4 di atas, mengapa sungai dan laut kita begitu menyedihkan, yang didahuluinya dengan pernyataan sekaligus pertanyaan menggugat pada bait ke-3 dengan kalimat-kalimat menyayat :

lalu siapakah yang bertanggungjawab mencabut akar budaya ini?
laut yang kita sanjung,
dengan deburan ombaknya yang mengalun syahdu,
sungai tempat kita mandi,
berwudhu, mencuci beras, kedelai tempe,
bukan lagi menjadi mainan anak-anak berenang,
mencipratkan dan menepuk bunyian di air


Pernahkan Anda membaca puisi bernyanyi? Padahal tak ada lagu yang menyertai lirik-liriknya?

Pernahkah Anda hanyut pada musikalisasi puisi ? Padahal bait demi bait yang Anda nikmati tak satu pun disertai harmonisasi perkusi maupun alat-alat pendukung melodisitas.

Jawabannya : ‘Sungai Ciliwung’ adalah puisi bernyanyi yang cenderung balada — apalagi jika kita baca baris-baris penutup puisi tersebut :

laut keruh sungai-sungai memuntahkan banjir ke jantung kota
rakyat riuh rendah terhunus bau anyir
menyayat-nyayat masa depan

Wow… dahsyat !

(Amang Mawardi)

Usulan Tambah Kapal Diprotes, Gapasdap : Lebih Baik Tambah Dermaga

Surabaya – Permintaan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, kepada Kementerian Perhubungan RI untuk menambah kapal yang beroperasi di lintasan Ketapang–Gilimanuk dinilai belum tepat oleh pelaku usaha penyeberangan Gapasdap.

Permintaan tersebut disampaikan Gubernur Khofifah menyusul terjadinya kemacetan panjang akibat dihentikannya 15 kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) oleh Kemenhub dimana LCT tersebut sudah beroperasi puluhan tahun di lintasan tersebut.

Penghentian yang berlangsung sekitar lima hari itu telah menyebabkan antrean kendaraan, terutama truk, mengular hingga sepanjang 40 kilometer. Kondisi tersebut memicu protes keras masyarakat yang kemudian viral di media sosial. Dan Kini, 15 kapal tersebut telah kembali beroperasi.

Rahmatika, Ketua Bidang Tarif dan Usaha DPP Gapasdap, mengungkapkan bahwa kemacetan yang terjadi di Ketapang bukan disebabkan oleh kekurangan kapal, melainkan karena keterbatasan jumlah dermaga.

“Sebanyak 56 kapal yang ada saat ini hanya bisa dioperasikan 28 kapal karena keterbatasan dermaga. Bila penambahan kapal tetap dilakukan, hal itu hanya akan menambah deretan kapal-kapal yang menganggur karena tidak memiliki tempat sandaran (dermaga). Artinya, penambahan kapal bukan berarti menambah kapasitas muat atau daya angkut tapi malah menimbulkan antrian panjang operasional kapal karena kekurangan dermaga,” ujar alumni Teknik Perkapalan ITS Surabaya itu.

Gapasdap, kata Alumni Magister Transport ITS Surabaya ini, yang sekaligus pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyarankan agar yang ditambah bukan kapal, melainkan dermaga sebanyak minimal dua pasang maksimal lima pasang untuk mengantisipasi 28 kapal yang menanggur sehingga bisa dimanfaatkan secara maksimal, bila 3 pasang dermaga saja sudah 12 kapal yang bisa beroperasi. “Ngapain tambah kapal?! Ekonomi kita masih sulit!” Dengan penambahan dermaga tersebut sudah bisa mengantisipasi 50 persen tambahan demand kendaraan sekaligus antisipasi dermaga-dermaga yang banyak rusak saat ini serta adanya jalan tol Probowangi nantinya

Harusnya Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur tidak perlu panik dan harus mengamati kondisi lapangan yang saat ini kapal-kapal di LCT sudah dioperasikan semuanya dan bahkan sudah bisa mengantisipasi kemacetan panjang sehingga antrian sampai pada hari Minggu malam sudah 0 meter. “Silahkan Kepala Dinas lihat di lapangan langsung, jangan hanya berdasarkan laporan di media sosial! Bisa Hoax” tutupnya.

Roy Tua Menutup Gelaran JBRX Vol 2 dengan Memukul KO Wellem Reyk dalam Perebutan Sabuk Tinju Kelas Menengah Nasional

SURABAYA-KEMPALAN: Petinju Roy Tua Manihuruk mampu membuktikan kelasnya di depan lawan beratnya, Wellem Reyk. Pada ajang perebutan sabuk tinju kelas menengah nasional di Sport Center Uinsa, Surabaya, Sabtu malam, Roy Tua memukul jatuh Reyk.

Tidak tanggung-tanggung Roy Tua menang TKO atas Reyk setelah keduanya saling baku hantam dalam enam ronde. Lalu begitu duel akan memasuki ronde ketujuh, Reyk angkat tangan dan menyatakan tidak dapat meneruskan pertandingan.

Roy Tua pun berapi-api menanggapi kemenangannya ini. ’’Pada tahun ini, semua saya ratakan. Saya selalu bisa memenangi pertarungan dengan KO,’’ sebut petinju berusia 39 tahun itu. Kematangan persiapan disebut Roy Tua sebagai kunci kemenangan ini.

’’Kerja keras dan latihan. Tidak ada yang lebih hebat tanpa latihan. Semua ini dari persiapan yang matang,’’ sambungnya. Setelah ini, Roy Tua akan menyiapkan diri untuk tampil dalam sebuah ajang di luar negeri.

Kemenangan Roy Tua tersebut menutup rangkaian pertarungan tinju pada ajang JBRX Vol 2. Total, sebanyak enam partai yang dipertandingkan saat itu. Lima partai di antaranya mempertemukan antar-influencer.

Petinju Roy Tua Manihuruk (tengah) bersama Promotor Andhi Jabrix saat memenangi gelar juara tinju kelas menengah nasional dalam ajang JBRX Vol 2 di Sport Center Uinsa, Surabaya, Sabtu l26/7). (Foto: Istimewa)
Petinju Roy Tua Manihuruk (tengah) bersama Promotor Andhi Jabrix saat memenangi gelar juara tinju kelas menengah nasional dalam ajang JBRX Vol 2 di Sport Center Uinsa, Surabaya, Sabtu l26/7). (Foto: Istimewa)

Promotor JBRX Vol 2 Andhi Jabriks menyebut ajang ini tidak hanya bisa menjadi hiburan bagi pecinta tinju di kota Surabaya dan di Jatim. Lebih dari itu, dia juga menilai ini bisa jadi ajang untuk memotivasi petinju-petinju muda di Jatim.

’’Sehingga, kami mengharapkan dengan adanya ajang tinju JBRX ini nantinya bisa muncul petinju-petinju muda yang hebat dari Surabaya dan kota-kota lainnya di Jatim,’’ harap pria bernama asli Andhi Iswahyudi itu.

Senada dengan Andhi, Roy Tua juga memberikan pesan kepada para petinju yang masih muda. ’’Jangan kalian malas latihan. Sebab, latihan adalah kunci dari kesuksesan,’’ harap Roy Tua. (YMP)

Timnas Voli Indoor Senior Juarai Moji Volley Cup 2025 Usai Kalahkan Timnas U-21

BOGOR – KEMPALAN : Tim nasional bola voli indoor senior berhasil meraih gelar juara pada Turnamen Moji Volley Cup 2025 yang berlangsung di Padepokan Voli Jenderal Polisi Kunarto, Sentul, Bogor, usai menundukkan Tim nasional U-21 dalam laga final, Minggu (27/7/2025) malam.

Pada laga final tersebut, timnas senior menang 3-0 (25-20, 25-20, 25-15) atas timnas U-21 yang dipersiapkan menuju Kejuaraan Dunia U-21 yang dijadwalkan berlangsung di Surabaya, Agustus 2025 mendatang.

Dalam laga sebelumnya, Sabtu (26/7/2025) timnas senior dikalahkan juniornya dengan skor 1-3. Dengan demikian, Junaida Santi dkk. menempati peringkat kedua.

Pada turnamen yang diikuti empat tim putri, dua tim lainnya yakni Rajawali O2C Ciparay dan Mabes TNI yang masing-masing menempati peringkat ketiga dan keempat. O2C unggul  3-1 (25-19, 25-20, 24-26, 25-15) atas Mabes TNI pada perebutan tempat ketiga.

Pada partai puncak, timnas senior tidak terlalu menemui kesulitan mengalahkan juniornya. Pada set pertama dan kedua Medi Yoku dkk. unggul 25-20. Sedangkan set ketiga 25-15.

Pelatih timnas senior, Octavian mengatakan pada penampilan laga final dan sehari sebelumnya, timnya berbeda. “Saya harus mencoba menurunkan Megawati Hangesti pada laga sebelumnya, agar dia bisa merasakan tampil sebelum tampil di SEA V League nanti,” ujar Octavian usai laga.

Namun pada laga final ini, Megawati tidak dimainkan, bahkan tidak nampak di bangku cadangan. “Megawati sedang suntik untuk cedera lututnya,” tambahnya.

Sementara itu, asisten pelatih Timnas Indonesia U-21, Pedro Lilipaly mengaku timnya bermain tidak stabil di laga final, berbeda dengan laga sebelumnya menghadapi seniornya.

“Ya begitu anak-anak, tampil tidak stabil ketika mendapat tekanan dari lawannya,” tutur Pedro usai (Ambari Taufiq/ M Fasichullisan)

Bintang Putra Sidoarjo Bawa Misi Khusus di Kompetisi Liga Top Skor U 12 Tingkat Nasional di Bogor 

SIDOARJO-KEMPALAN: Bintang Putra Sidoarjo membawa misi besar ke kompetisi sepakbola kelompok umur (KU) 12 tahun Liga Top Skor (LTS) 2025 tingkat nasional 26 Juli -01 Agustus 2025 di Bogor.

Sebagai wakil Jawa Timur di tingkat nasional, Bintang Putra Sidoarjo tak ingin hanya sekedar ikut atau pelengkap di kompetisi bergengsi kelompok umur KU 12 tahun ini. 

Tim yang bermarkas di Candi Sidoarjo ini membawa misi khusus sebagai wakil Jawa Timur di tingkat nasional yakni, Juara. 

Pembina klub Bintang Putra Sidoarjo Ibnu Hambal mengatakan keberangkatan ke kompetisi sepakbola kelompok umur KU 12 di liga top skor ini sudah di 

siapkan secara matang baik mental bertanding maupun stamina pemain. 

“Kita berangkat ke kompetisi liga top skor KU 12 tahun ini semua sudah di siapkan sejak beberapa bulan yang lalu oleh  tim pelatih, sehingga persiapannya tidak di ragukan lagi,” terang Ibnu Hambal di sela-sela mendampingi tim menuju Bogor.

Ibnu Hambal juga  menambahkan Keikutsertaan nya di kompetisi kelompok umur KU 12 tahun liga top skor ini juga di dukung oleh orang tua wali pemain yang turut mendampingi ke Bogor sekaligus jadi suporternya.

Sementara itu menejer tim Bintang Putra Sidoarjo Yudhi Iriyanto tak banyak bicara. Hanya saja Yudhi meminta kepada seluruh pemain, pelatih dan official untuk tetap menjaga asa dan mensukseskan misi khusus sebagai wakil Jawa Timur di kancah kompetisi liga Top Skor U 12.

” Misi harus bisa terjaga. Apalagi ini  tidak hanya membawa nama Bintang Putra Sidoarjo tapi juga  membawa nama Jawa Timur. ” Ujar sang menejer. (Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Kejurnas Voli Pantai MAVI Cup Sukses Berkat Langkah Antisipatif Panpel 

SIDOARJO-KEMPALAN: Pelaksanaan Kejurnas voli pantai MAVI Cup 2025 di GOR voli pantai Sidoarjo 23-27 Juli berlangsung sukses dan lancar. 

Ketua pelaksana Djoko Supriyadi yang juga ketua harian Pengkab PBVSI Sidoarjo mengatakan, Suksesnya pelaksanaan Kejurnas voli pantai antar klub U17 MAVI Cup ini karena Sidoarjo sudah terbiasa dengan menggelar kejuaraan baik skala regional maupun nasional bahkan internasional. 

” Ya kita sudah siapkan langkah-langkah antisipatif demi suksesnya Kejurnas voli pantai antar klub U17 MAVI Cup ini yang juga dalam rangka mendukung dan mensukseskan HUT Bhayangkara ke 79,”ucap Djoko Supriyadi di sela sela kejuaraan.

Sementara itu Kabid voli pantai PP PBVSI Slamet Mulyatno menilai bahwa Panpel Sidoarjo cukup sigap dan tanggap meski penunjukan Sidoarjo sebagai tuan rumah cukup singkat.

” Saya akui Sidoarjo adalah kota atau daerah yang punya SDM mumpuni meski persiapan hanya dalam waktu singkat tetapi bisa menggelar event kelas nasional,” ucap Kabid voli pantai PP PBVSI di sela-sela final (27/07).

Slamet Mulyatno yang juga dedengkotnya voli pantai Indonesia ini mengatakan Sidoarjo punya segalanya termasuk GOR voli pantainya.

” Saya melihat GOR voli pantai Sidoarjo ini cukup bagus bahkan terbaik di Indonesia,” ucap sang maestro voli pantai Indonesia ini.

Slamet Mulyatno yang separuh hidupnya di curahkan untuk voli ini berharap kondisi ini bisa di pertahankan atau bahkan di tingkatan karena bukan tidak mungkin GOR voli pantai Sidoarjo ini bisa jadi tuan rumah event internasional dan yang terdekat adalah ASEAN Youth Game 2025.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.