KEMPALAN: Dari sekian puisi tentang lingkungan hidup yang pernah saya baca, boleh jadi inilah yang terindah.
Kritik yang disampaikan penyair M. Rohanudin melalui puisinya berjudul ‘Sungai Ciliwung’, begitu menyentuh. Dibungkus kalimat-kalimat tajam dengan beberapa sudut bait serasa persuasi, saya pastikan akan menggedor batin siapa saja yang mengaku mencintai lingkungan hidup.
Saat selintas membaca judulnya, saya membayangkan Rohan akan menulis tentang keindahan liukan sungai sepanjang 120 kilometer yang berhulu di Gunung Gede, kemudian melintasi Gunung Pangranggo, terus menyusuri Cisarua.
Juga saya bayangkan ketakjuban saya akan sungai ini mengalir ke utara, menyusuri ngarai dan persawahan, lantas menembus Bogor, melintasi Depok, meliuk dan akhirnya “membobol” kota terbesar di Indonesia, hingga bermuara di Teluk Jakarta.
Nyatanya imajinasi saya tentang keindahan sungai ini, di tangan Rohan berubah jadi antitesa.
Saya lupa –sebagaimana dinyatakan Bertold Damshauser dosen Sastra Indonesia di Universitas Bonn, Jerman di kover belakang buku kumpulan puisi Bicaralah yang Baik-Baik — puisi-puisi Rohan di buku ini sedang membicarakan Indonesia yang sedang tidak baik-baik.
Maka, yang saya jumpai adalah keindahan bahasa puisi yang berkelindan di antara jalinan makna demi makna sarat kesedihan menyayat.
Persoalan puisi ini, tampaknya berkutat di seputar Jakarta, dimana bahasannya bisa bersifat universal. Meluas. Setidaknya memperingatkan kota-kota besar di Indonesia lainnya agar mewaspadai sungai dan laut.
Sungai, sebagaimana kita tahu adalah bagian dari kebudayaan yang tak bisa kita anggap remeh. Sungai juga bagian dari pusat peradaban. Sungai adalah cermin masyarakat.
Sedangkan laut ibarat lambung kita. Makanan toxic yang masuk melalui kerongkongan (sungai) ke dalam perut, bisa merusak sistem metabolisme tubuh. Secara metaforis akan merongrong luhurnya peradaban.
Puisi yang terdiri dari enam bait ini, untaian kata per kata, baris demi baris, begitu cermat disusun Rohan. Sulit untuk mencari celah kesalahan struktur kalimat. Dan kalimat-kalimat yang tersusun pun rasionalitas makna.
Mari kita coba amati bait ke-1 dan bait ke-2 puisi ini :
kata siapa kita juara?
kata siapa?
bukankan sungai Ciliwung
tersohor sebagai sungai terkotor di dunia,
pekat bagai comberan
kita tutup rapat-rapat, tapi hati dan akal
lebih rapat dari menyumbat telinga
kata siapa laut kita indah?
kata siapa?
jutaan bangkai plastik, botol-botol mineral, kantong-kantong cairan kimia, tas kresek sampai pada jarum suntik narkoba, meracuni lautan kita, masuk ke perut hiu
hiu hamil tanpa pejantan
mati tanpa disembelih
Perhatikan dua bait di atas, masing-masing pada baris ke-1 dan baris ke-2, dimana Rohan tanpa basa-basi mencoba menggugat kondisi sungai dan laut.
Kalimat-kalimat mirip repetitif yang disampaikannya sebagai kalimat penyangkalan begitu indah namun menyodok :
kata siapa kita juara?
kata siapa?
Dst.
kata siapa laut kita indah?
kata siapa?
Dst.
Dan Rohan cukup cerdik untuk menghindari unsur klise. Konkritnya ia tidak mau terjebak menggunakan kata yang sama yaitu ‘indah’ seperti baris ke-1 pada bait ke-2 atau semacam sinonimitas, melainkan dengan meletakkan kata ‘juara’ pada bait ke-1 baris ke-1.
Kecerdikan ini selain melahirkan keindahan, juga menghadirkan makna berharga tentang ancaman terhadap lingkungan hidup.
Begitulah, sebagaimana saya awali pada beberapa alinea di atas, baris-baris puisi ini memiliki makna yang sangat kuat dan kritis tentang kondisi lingkungan di Indonesia.
Kedua bait puisi tersebut mempertanyakan anggapan bahwa Indonesia adalah “juara” atau setidaknya memiliki kebanggaan nasional. Padahal realitasnya sangat berbeda.
Bait-bait puisi ini juga menggambarkan dua contoh kondisi lingkungan yang buruk:
- Sungai Ciliwung yang terkenal sebagai salah satu sungai terkotor di dunia, menunjukkan kegagalan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
- Laut yang seharusnya indah, kenyataannya tercemar oleh sampah plastik, botol mineral, kantong kimia, bahkan jarum suntik narkoba, yang meracuni lautan dan membahayakan kehidupan laut. Itulah Teluk Jakarta.
Bait-bait puisi ini juga menekankan bahwa kita cenderung menutup mata dan telinga terhadap masalah-masalah lingkungan, dimana hati dan akal kita lebih rapat daripada sumbatan telinga kita terhadap kebenaran.
Makna keseluruhan adalah kritik terhadap kondisi lingkungan di Indonesia dan panggilan untuk berkesadaran serta tindakan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
sementara kita di kota lebih asyik bertengkar, hidup seperti berpura-pura,
sibuk bertransaksi jual beli jabatan,
jadilah yang kurus semakin kisut,
yang lapar semakin tak ada yang dimakan
yang kaya mendirikan kerajaan dimana-mana
kita sering bicara keadilan
tapi keadilan seperti apa yang ingin kita
pertontonkan
Begitulah Rohan memberi alasan pada bait ke-4 di atas, mengapa sungai dan laut kita begitu menyedihkan, yang didahuluinya dengan pernyataan sekaligus pertanyaan menggugat pada bait ke-3 dengan kalimat-kalimat menyayat :
lalu siapakah yang bertanggungjawab mencabut akar budaya ini?
laut yang kita sanjung,
dengan deburan ombaknya yang mengalun syahdu,
sungai tempat kita mandi,
berwudhu, mencuci beras, kedelai tempe,
bukan lagi menjadi mainan anak-anak berenang,
mencipratkan dan menepuk bunyian di air
Pernahkan Anda membaca puisi bernyanyi? Padahal tak ada lagu yang menyertai lirik-liriknya?
Pernahkah Anda hanyut pada musikalisasi puisi ? Padahal bait demi bait yang Anda nikmati tak satu pun disertai harmonisasi perkusi maupun alat-alat pendukung melodisitas.
Jawabannya : ‘Sungai Ciliwung’ adalah puisi bernyanyi yang cenderung balada — apalagi jika kita baca baris-baris penutup puisi tersebut :
laut keruh sungai-sungai memuntahkan banjir ke jantung kota
rakyat riuh rendah terhunus bau anyir
menyayat-nyayat masa depan
Wow… dahsyat !
(Amang Mawardi)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi