Kita pernah hidup dalam zaman tanpa sekolah, tetapi hidup kita itu tidak kalah terpelajar, terutama karena kita diberi banyak kesempatan membaca. Banyak sekolah gagal menumbuhkan budaya membaca.
Oleh: Daniel Mohammad Rosyid
KEMPALAN: Baiklah segera dinyatakan bahwa pendidikan bukan persekolahan. Sekolah hanya salah satu komponen penyusun pendidikan sebagai sistem. Komponen lain yang sama penting adalah keluarga, dan masyarakat.
Bahkan Ki Hadjar Dewantoro menyebut perguruan, bukan sekolah. Ada adagium bahwa it takes a village to raise a child.
Beda dengan pesantren yang berbasis komunitas, sekolah atau schooling adalah anak kandung revolusi industri: menyiapkan buruh yang cukup terampil untuk menjalankan mesin-mesin sekaligus cukup dungu untuk berdisiplin dan setia bekerja bagi pemilik modal dari pagi hingga petang.
Persekolahan massal paksa dengan skema instruksi yang disebut kurikulum tidak pernah dirancang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah sejak Orde Baru adalah instrumen teknokratik untuk menyiapkan bangsa ini sebagai bangsa buruh bagi kepentingan industrialisasi.
Ivan Illich, 55 tahun silam sebelum internet ada mengusulkan deschooling untuk mengurangi konsekuensi buruk persekolahan massal paksa. Dia mengusulkan learning webs yang lentur dan terbuka.
Sir Ken Robinson menyebut persekolahan dengan obsesi standard adalah institusi yang paling bertanggungjawab dalam krisis sumberdaya manusia abad 20 akibat meaningful learning yang dihilangkan persekolahan. Dan, John T. Gatto bahkan mengatakan, sekolah hanya dumbing down of peoples.
Kita perlu kembalikan tugas pendidikan kita tidak hanya pada sekolah, tapi juga keluarga dan masyarakat. Problem kita saat ini adalah too many schools and schooling, but less and less education.
Internet sudah membantu proses deschooling ini sehinga belajar sebagai proses memaknai pengalaman bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Keluarga adalah tempat belajar terbaik, dan teraman.
KI Hadjar memilih perguruan yang diselenggarakan dalam sebuah taman belajar, bukan sekolah dengan obsesi standard berlebihan seperti lini produksi dalam pabrik mobil. Pendidikan perlu digeser lebih ke perguruan.
Namun perlu dicatat, konsep guru pun perlu digeser tidak hanya guru profesional bersertifikat. Rasulullan bersabda bahwa di dunia hanya ada dua jenis pekerjaan: guru, dan selain guru.
Seseorang menjadi guru ketika memberi pelajaran, terutama dengan teladan. Petani adalah guru yang memberi pelajaran dan memberi teladan bertani. Setiap guru adalah pembelajar sepanjang hayat.
Dominasi sekolah dalam pendidikan membuat belajar menjadi kesempatan yang langka sehingga makin mahal. Seiring dengan kehadiran kecerdasan buatan, maka belajar melalui praktik dan bekerja makin penting.
Memisahkan belajar dari praktik adalah keliru. Bahkan praktik atau pengalaman adalah spring board for meaningful learning. Model bisnis pendidikan itu harus diubah untuk memastikan bahwa belajar akan memperbaiki prakiek. Belajar harus berdampak pada praktik.
Sugata Mitra mengusulkan Self Organized Learning Environment atau SOLE untuk mengurangi obsesi mutu berlebihan, birokratisasi dan kekakuan persekolahan.
Relevansi personal, spasial dan temporal lebih penting daripada mutu. Pendidikan harus kita rumuskan kembali sebagai upaya memperluas kesempatan belajar merdeka sebagai syarat budaya untuk menjadi bangsa yang merdeka.
Belajar
Belajar (itu) adalah sebuah proses emergent yang seringkali tidak direncanakan. Yang direncanakan adalah propaganda.
Jika propaganda itu massal, memaksa, sistemik, top down, seragam, dan teacher-centered ini disebut schooling atau persekolahan. Persekolahan tidak pernah dirancang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Apalagi untuk membangun jiwa merdeka. Ia adalah instrumen teknokratik untuk menyiapkan tenaga kerja yang cukup trampil menjalankan mesin-mesin, sekaligus cukup dungu untuk berdisiplin dan setia bekerja siang-malam untuk kepentingan pemilik modal. No more no less.
Belajar tidak pernah mensyaratkan formalisme dan birokrasi pendidikan seperti sekolah. Sekolah diada-adakan untuk keperluan industrialisasi. Dia anak kandung revolusi industri 200 tahun lalu. Sebagai konsep, schools are outdated.
Sudah kadaluwarso. Apalagi pada zaman internet. Namun karena disponsori oleh pemerintah selama bertahun-tahun, banyak orang yang tak bisa membayangkan hidup tanpa sekolah. Tidak sekolah nyaris langsung dianggap tidak terdidik, tidak kompeten, dan kampungan.
Pendidikan seharusnya dirumuskan sebagai upaya perluasan kesempatan belajar, bukan perluasan sekolah. Justru sekolah menjadikan belajar sebagai barang yang langka.
Salah satu penciri khas manusia sebagai spesies adalah kemampuannya untuk belajar. Manusia tidak hanya hidup di ruang nyata, dia juga hidup di ruang simbol. Homo simbolicum. Binatang belajar, tapi sangat terbatas.
Belajar adalah sebuah proses individual untuk memaknai pengalamannya. Dia bersifat pribadi. Pengalaman adalah prasyarat untuk belajar. Lalu dilanjutkan dengan berbicara, membaca dan menulis. Morfologi jemari manusia diciptakan untuk memegang pena. Jemari binatang tidak.
Sekolah perlu direposisi perannya dalam sistem pendidikan. Sekolah tidak boleh berusaha terlalu keras untuk memberi pesan dan kesan sebagai satu-satunya tempat belajar. Tempat belajar terbaik adalah keluarga dan masyarakat.
Sekolah hanya melengkapi saja. Seperti makan siang. Sarapan dan makan malam yang beragam harus disediakan keluarga dan masyarakat.
Kita pernah hidup dalam zaman tanpa sekolah, tetapi hidup kita itu tidak kalah terpelajar, terutama karena kita diberi banyak kesempatan membaca. Banyak sekolah gagal menumbuhkan budaya membaca.
Perpustakaan di banyak sekolah ditempatkan di tempat yang tidak strategis dan sulit dijangkau. Yang dipentingkan di banyak sekolah adalah latihan-latihan soal. Sekolah dikerdilkan menjadi lembaga bimbingan belajar agar lulus ujian atau lolos seleksi masuk perguruan tinggi.
Sekolah harus berubah. Jika tidak sekolah akan segera jadi museum dan guru menjadi dinosaurus.
*) Daniel Mohammad Rosyid, @Rosyid College of Arts, Guru Besar Departemen Teknik Kelautan ITS, PTDI Jawa Timur

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi