KEMPALAN : Selasa 28 April 2026, buku kumpulan puisi karya Dr. Suharmono K. “Belajar Mencintai-MU” diluncurkan dan dibahas di Ruang Teater Kampus C Unusa (Universitas NU Surabaya).
Sebagai pembahas tampil tiga orang : jurnalis senior Toto Sonata dan saya (Amang Mawardi), serta Riadi Ngasiran Ketua Lesbumi Jawa Timur.
Bertindak sebagai moderator Dr. Rudi Umar S. dosen FKIP Unusa.
Saya tampil sebagai pembahas kedua, setelah Toto Sonata yang salah satu pendiri grup diskusi sastra “Sanggar 6 Januari 73”, di mana tadinya saya mengawali bahasan secara deduktif tentang puisi-puisi dalam antologi ini.
Namun, dengan cepat intuisi saya mengajak mengubah metode, atau mendorong untuk mengalihkan strategi. Selanjutnya secara naluriah terkonversi ke metode induktif, lantaran ada salah satu dari puisi di buku ini yang paling menyita perhatian saya : Sepiring Rawon di Meja Kerjaku.
SEPIRING RAWON DI MEJA KERJAKU
sepiring rawon di meja kerjaku
yang hitam aroma kluwak
tanpa sayur tampak menyeruak
kecuali kecambah yang kelimis oleh minyak
gurih daging paha membius benak
sepiring rawon di meja kerjaku
hitam pekat tapi memikat gelora syahwat
mabuk dalam nikmat nafsu dan hasrat
terbuai rayuan syetan laknat
sepiring rawon di meja kerjaku
hitam, namun sedap dipandang nyaman dalam hidangan
membius nafsu mabuk dalam empuknya daging
pahitnya tuak
bertarung dalam medan moral dan iman merajak
Sepiring rawon di meja kerjaku
tamsil buah simalakama daging-daging yang dipatuk gagak
dimakan ibu mati tak dimakan mati bapak
sepiring rawon di meja kerjaku
hitam membengkak
Sidoarjo, Januari 2021
*
Pada realitasnya 59 puisi yang ada di “Belajar Mencintai-MU” baik yang tersurat maupun tersirat, menghadirkan pitutur, seperti : Burung Gagak, Di Manakah Jalan ke Masjid, Laron Laron, Kau Bertanya Ini Musim Apa, Surat Lembusora Kepada Dewi Kilisuci, dan lain lain.
Dan pada puisi “Sepiring Rawon di Meja Kerjaku” intuisi dan suara hati saya digedor, selanjutnya mengajak bekerja-sama dengan pikiran untuk mengungkap makna di balik baris demi baris, bait demi bait, puisi yang penyelesaian penulisannya dicatat pada Januari 2021 itu.
Jelas, kalimat-kalimat yang ada pada “Sepiring Rawon di Meja Kerjaku” bukan denotatif (bermakna tunggal), melainkan ini 99,99 prosen mengarah pada konotatif (bermakna majemuk). Baris-baris yang ada pada puisi tersebut menyiratkan sesuatu yang sarat simbol, di mana metafora menyelimuti puisi kontemplatif ini.
Ya, ini puisi metafora. Bahkan bisa dibilang : alegori — cerita kiasan utuh.
Alegori dalam konteks puisi ini, sebagaimana Anda juga tahu, adalah metafora yang diperpanjang. Dari bait 1 sampai 5, rawon konsisten menjadi simbol godaan. Jadinya, seluruh puisi tersebut adalah cerita kiasan tentang perang melawan atmosfer nafsu.
Nah, Dr. Suharmono K. banyak menghadirkan kalimat-kalimat filosofi, di mana tidak menggunakan –misalnya– ‘setan menggodaku’, melainkan ‘rawon’ yang hitam pekat sebagai simbol rayuan laknat. Dan ‘rawon’ bisa saja implementasi ‘harta, tahta, wanita’ yang banyak dikejar manusia, tetapi sesungguhnya mengancam dengan sengatannya yang tajam.
Mula-mula abtraksi saya menarasikan bahwa pada suatu siang di meja kerja peraih dua kali Anugerah Rancage dan satu kali Anugerah Sutasoma –di Kampus C Unusa ini– terhidang sepiring rawon untuk konsumsi makan siangnya, para dosen lainnya, serta staf perguruan tinggi itu.
Sebagai sastrawan yang akademisi, agaknya pisau kreativitasnya cenderung melahirkan gagasan induksi yang makin lama melebar ke spektrum lebih luas. Atau barangkali, secara bawah sadar Pak Harmono mengakumulasikan mosaik-mosaik metafora menuju karya yang alegoris, setelah melalui pergulatan hati dan pikiran. Sehingga lahirlah kalimat-kalimat menohok sarat kristalisasi : sublimatif !
Barangkali hal-hal di atas itulah sebagai tangkapan makna hasil elaborasi dari bahasan saya pada event yang secara resmi diberi judul “Kuliah Pakar & Peluncuran Buku”, dalam rangka memperingati Hari Puisi Indonesia ini — hari berpulangnya penyair besar Khairil Anwar : 28 April 1949.
*
Alhasil, event yang berlangsung lebih kurang 3,5 jam ini saya coba simpulkan sebagai acara yang dikemas rapi, lancar, dan ini yang penting : bagaimana puisi begitu dimuliakan di kampus yang masuk kawasan Surabaya Selatan ini.
Seputar 15 pembaca puisi terdiri dari mahasiswa FKIP Unusa dan sejumlah apresian, membacakan puisi-puisi “Belajar Mencintai-MU”, dipandu Presiden Penyair Jawa Timur : Aming Aminoedhin — sebelum menginjak episode bahas buku.
Tidak kurang dari 100 orang yang hadir, memberi atensi kepada episode demi episode di ruang yang sejuk, rapi, dan mewah ini.
Tentu kepada Dr. Nafiah, M.Pd. Dekan FKIP Unusa saya menaruh atensi besar, karena sebagai ujung tombak, penyelenggaraan acara ini berjalan rapi dan lancar. Sebab, tidak saja para mahasiswa yang hadir pada perhelatan itu, selain para pemangku dari Unusa seperti Dr. Muhammad Thamrin Hidayat mantan Dekan FKIP Unusa, Ir. Sukemi Direktur LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) dan Kepala Humas Unusa.
Juga undangan lainnya, seperti pakar bahasa dan sastra dari BRIN Mashuri, Nuri Maria Ulfa purna tugas Kepala Sekolah SMU Negeri III Surabaya. Selain itu hadir para jurnalis yang penulis puisi dari komunitas Warumas (Wartawan Usia Emas) : Achmad Pramuditto, Riamah M. Douliat, Sasetya Wilutama, Adam A. Chevny. Terlihat pula dua alumni Akademi Wartawan Surabaya Mushadi dan Herry Siswa yang rajin hadir pada acara-acara yang berkaitan dengan dunia literasi.
Saya percaya bahwa pemuliaan puisi di Kampus Unusa tidak berhenti pada puisi-puisi karya Pak Harmono Kasiyun. Tentu akan ada lagi. Entah karya siapa nantinya. (AM).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi