Dengan begitu, Geopolitik Sebagai Ilmunya Ketahanan Nasional, ditantang untuk Mereaktualisasi Tradisi dan kearifan lokal Nusantara sebagai sumber inspirasi dan tuntunan menghadapi arus globalisasi dan modernisasi.
Oleh: Hendrajit
KEMPALAN: Dalam kerangka Perang Hibrida yang mengombinasikan Perang Asimetris yang bersifat nir-militer maupun perang konvensional yang biasanya mengandalkan pasukan militer, sebagai konsekuensi logis dari Skema Penjajahan Gaya Baru yang berkedok Sistem Globalisasi, aktor negara dan aktor non-negara didayagunakan secara simultan.
Dengan tujuan strategis: Mengguncang Stabilitas Nasional negara-negara yang dipandang musuh oleh kekuatan global (baik negara, pasar utama maupun individu dengan kekautan super, dan menciptakan ketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah atau otoritas negara dalam lingkup yang seluas-luasnya.
Melawan Sistem Globalisasi, Memanfaatkan Jaringan Sebagai Platform Untuk Menyusun Kekuatan Kontra Hegemoni
Pentingnya memandang dunia melalui multi-lensa untuk mengurai kerumitan benang kusut, dan memperoleh sudut pandang dan cara baru melihat masalah-masalah internasional yang berdampak secara langsung atau tidak langsung terhadap negara kita.
Dengan cara menghubungkan titik-titik dan kepingan-kepingan informasi yang terpisah-pisah dalam isu politik, kebudayaan, perdagangan, keuangan, keamanan nasional, lingkungan hidup dan teknologi, dalam satu tarikan nafas.
Untuk memperoleh gambaran baru dalam memahami konstelasi global. Inilah cara pandang baru dalam memahami informasi di era digital.
Sebab, di era digital yang mana berita benar yang bersumberkan apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana dan mengapa (5W1H), maupun berita palsu yang sama sekali mengabaikan 5W1H, sama-sama dipercaya dan diandalkan sebagai informasi, maka cara baru dalam mengartikan informasi mutlak perlu.
Untuk membangun kemampuan memandang dunia melalui pendekatan multi-lensa, maka kita perlu memahami salah satu karakteristik sekaligus cara kerja sistem globalisasi yang mengandalkan jaringan (web) yang digunakan kekuatan global untuk memaksakan integrasi dah penyeragaman global di seluruh dunia.
Hanya saja kali ini, kita gunakan sebagai sarana menyusun kontra skema. Yaitu dengan cara merajut jaringan informan dan informasi yang luas, sehingga kemudian mampu mengetahui bagaimana menyusun kepingan-kepingan informasi maupun titik-titik isu yang terpisah-pisah, yang terkandung dalam penyebaran berita, menjadi sebuah gambaran baru untuk memahami situasi dan kondisi.
Dalam menerapkan pola pikir ini, dunia harus dipandang sebagai jaringan (web), sehingga yang semula kita sangka terpisah-pisah dan tak berkaitan satu sama lain, ternyata terhubung satu sama lain.
Di mana peristiwa yang berlangsung di Washington, bisa menciptakan efek domnino yang tak terduga di New Delhi, Tokyo, atau Jakarta. Ini kerap oleh Nassem Thaleb disebut Dinamika Black Swan.
Maka itu agenda strategis Gen Z dan Gen Y saat ini dan kelak adalah membangun perangkat strategis untuk menguasai informasi seluas-luasnya dengan menyelami kodratnya Sistem Globalisasi, yaitu Jaringan.
Maka dari itu dalam tradisi literasi maupun dalam bermasyarakat dan bernegara, hindari untuk berpikir terpilah-pilah, hindari pula larut dalam berita-berita yang menggiring kita untuk memandang perkembangan dunia dalam serpihan-serpihan kecil.
Ketika Dunia internasional dengan bertumpu pada jaringan (web) ini, pembatas antara politik luar negeri dan politik dalam negeri sudah runtuh, maka lewat jaringan itu pula Generasi Z dan Generasi Y harus membangun kekuatan kontra hegemoni dengan menggunakan platform tersebut, untuk membangun Aliansi Global.
Pentingnya Geopolitik Untuk Mengenali Medan Tempur Yang Kita Hadapi Dalam Perang Asimetris Maupun Perang Hibrida
Tantangan besar kaum muda adalah menjadi pemenang tanpa harus menjadi penakluk. Untuk itu Geopolitik merupakan perangkat strategis sekaligus sarana untuk mewujudkan tiga hal: Kenal Diri, Tahu Diri, Tahu Harga Diri. Bagaimana geopolitik bisa mewujudkan tiga hal itu dalam konteks negara bangsa?
Geopolitik dalam arti sederhananya, merupakan upaya mengenali kekuatan sekaligus titik lemah kita sebagai negara bangsa maupun masyarakat.
Karakteristik geografis harus dikenali lewat: Pemetaan Lokasi Geografisnya, Pemetaan Sumberdaya Alamnya, Pemetaan Sumberdaya Manusianya, dan Pemetaan Kondisi lingkungannya (Apakah daerah pesisir-maritim, pedalaman-pertanian, atau pegunungan).
Pemetaan bahasa, lambing-lambang/simbol, dan kitab-kitab leluhur yang diyakini ikut membentuk watak kolektif masyarakat pada suatu daerah tertentu.
Geopolitik juga menjadi penting dan vital untuk mengenali konektivitas atau keterhubungan antara kondisi fisik lingkungan dengan karakter kolektif/bersama masyarakatnya.
Input-input geopolitik melalui item-item tersebut tadi, akan menjelma menjadi geostrategi ketika input-input geopolitik tersebut dituangkan menjadi dasar penyusunan strategi nasional maupun kebijakan strategis terkait 7 dimensi yang saya sebutkan tadi.
Geopolitik penting dan vital untuk mengetahui potensi-potensi nasional maupun masing-masing daerah negeri kita sendiri, sehingga kita sebagai negara bangsa berhasil maju dan modern bukan karena meniru model negara-negara maju di Barat maupun Timur, melainkan sesuai karakteristik geografis negara kita sendiri.
Dengan begitu, Geopolitik Sebagai Ilmunya Ketahanan Nasional, ditantang untuk Mereaktualisasi Tradisi dan kearifan lokal Nusantara sebagai sumber inspirasi dan tuntunan menghadapi arus globalisasi dan modernisasi.
Yang di belakangnya menumpang Skema Penjajahan Gaya Baru untuk menguasai dimensi politik, keamanan nasional, perdagangan, keuangan, lingkungan, serta teknologi dan kebudayaan.
*) Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi