Dalam kasus Libya dan Suriah, ketika kekuatan global telah gagal menggulingkan penguasa yang dipandang melawan skema kapitalisme global gagal total melalui perang asimetris yang sejatinya bersifat non-kekerasan dan non-militer.
Oleh: Hendrajit
KEMPALAN: Seturut dengan melemahnya negara sebagai aktor nasional maupun internasional di hadapan kekuatan swasta dan konglomerasi multinasional, negara dan individu bukan saja seimbang, dan bahkan pada perkembangannya sistem globalisasi bisa mendorong konglomerasi multinasional menguasai negara.
Korporasi bukan hanya sekadar kelompok penekan terhadap negara, bahkan pada perkembangannya semakin menegara baik di eksekutif, legislatif dan pelaksana yudikatif.
Begitulah. Seturut berakhirnya Perang Dingin 1991, Sistem Internasional baru bernama Globalisasi, tembok dan dinding yang menyekat antar negara memang runtuh.
Namun dari sini pula, integrasi dan homogenisasi Tatanan Dunia Baru Pasca Perang Dingin disatukan secara simultan melalui teknologi: Komputerisasi, Digitalisasi, miniaturisasi, komunikasi satelit serat optik dan tentu saja internet.
Inilah tren global yang di luar dugaan dan tak terbayangkan sebelumnya pada Pasca Perang Dingin: Individu sontak mampu tampil sebagai kekuatan di pentas dunia yang mampu mengimbangi dan mengungguli negara dan pasar.
Individu sebagai kekuatan super yang mampu bertindak secara global tanpa wewenang dan perantaraan negara.
Alhasil, di era Pasca Perang DIngin, muncul hubungan timbal-balik dan saling bertaut yang cukup kompleks dan rumit: Negara benturan dengan Negara, Negara benturan dengan Pasar Utama, Pasar Utama benturan dengan individu-individu dengan kekuatan super.
Perang Hibrida, Konsekwensi Strategis Dari Sistem Globalisasi
Seperti saya singgung tadi, Sistem Globalisasi merupakan benih-benih tumbuhnya Skema Penjajahan Gaya Baru yang mendayagunakan sarana-sarana nonmiliter (Ideologi, Politik-Ekonomi, Sosial-Budaya, Pertahanan-Keamanan), namun jika kepepet dan terpojok, akan kembali menggunakan metode konvensional (invasi militer).
Dalam kasus Libya dan Suriah, ketika kekuatan global telah gagal menggulingkan penguasa yang dipandang melawan skema kapitalisme global gagal total melalui perang asimetris yang sejatinya bersifat non-kekerasan dan non-militer.
Kemudian perang dinaikkan skalanya menjadi perang saudara (civil war) yang mendayagunakan sarana-sarana militer.
Maka dari Perang Asimetris yang non-militer, kemudian menjelma jadi Perang Hibrida.
Yaitu suatu kombinasi antara Perang Konvensional yang sejatinya Perang Fisik dan Perang Non-konvensional yang mendayagunakan sarana nonmiliter (tekanan ekonomi, sabotase ekonomi, Dis-informasi lewat perang siber, serta menciptakan zona abu-abu yang sulit dideteksi secara kasat mata. (Bersambung Bag-3)
*) Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi