Senin, 27 April 2026, pukul : 23:41 WIB
Surabaya
--°C

Indonesia Terlalu Lama Tersesat

Di parlemen, kebodohan disulap menjadi kepandaian lewat retorika kosong di televisi. Korupsi dikemas sebagai pengabdian di panggung publik, penindasan disebut ketertiban.

Oleh: Sutoyo Abadi

KEMPALAN: L’ histoire se repete terasa benar adanya. Ya, sejarah berulang. Dan sejarah adalah guru terbaik kata Cicero, Kaisar Agung Romawi.

Indonesia telah terjerumus dalam politik kekuasaan liberal, praktik demokrasi dan moral menguap terasa makin kelam. Indonesia benar-benar terperosok terlalu lama setelah UUD 1945 asli dikudeta CIA dengan dukungan para profesor yang linglung menggulung negara tanpa pedoman dan kompas yang jelas.

Jika kita jujur menatap cermin, yang tampak ini bukan republik yang sedang tumbuh, tapi kebun binatang kekuasaan, tempat para oportunis berseragam pejabat berakrobat dengan dalih demokrasi dan moralitas.

Ini adalah negara yang dikuasai oleh para medioker, di mana kebodohan dijadikan tiket masuk kekuasaan dan integritas dianggap pengkhianatan.

Artikel singkat dari Prof. Daniel M Rosyid pagi ini (30/3/2026), sangat terasa ada sebuah kegelisahan tanpa ujung bahwa: UUD 10/8/2002 telah membuat bangsa ini kekenyangan demokrasi sebagai eskpor AS yang paling mematikan.

“Bukan rudal atau pesawat tempur dan kapal induk moralitas yang dihancurkan menjadi Bangsa yang tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Bangsa ini perlu mlungsungi dari maksiat kebangsaan ini dengan puasa demokrasi untuk kembali pada fitrah cita negara proklamasi sesuai UUD 18/8/1945.”

“Syahwat demokrasi itu telah melahirkan korupsi dan fragmentasi sosial, ekonomi, dan politik secara sistemik yang jika dibiarkan akan menjadi neraka kebangsaan yang mengancam eksistensi NKRI.”

Negara ini menjadi teater demokrasi dan moral yang kacau. Para pejabat berpidato tentang integritas, sementara rekening mereka terus membengkak tanpa malu.

Di parlemen, kebodohan disulap menjadi kepandaian lewat retorika kosong di televisi. Korupsi dikemas sebagai pengabdian di panggung publik, penindasan disebut ketertiban.

Ini bukan sekadar kesalahan dalam memilih pemimpin – ia adalah patologi kolektif, penyakit peradaban yang lahir dari kebiasaan mengorbankan kebenaran demi kenyamanan.

Indonesia terlalu lama tersesat dalam simbol ketika ada yang waras dianggap berbahaya, dan yang bejat dianggap biasa.

*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.