Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto usai mengikuti Diklat SDMT di Pusdiklat Penanggulangan Bencana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
SURABAYA-KEMPALAN: Selama 12 hari atau tepatnya sejak Senin (4/5) hingga Sabtu (16/5), Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengikuti pendalaman kapasitas kebencanaan, melalui Diklat Senior Disaster Management Training (SDMT). Kegiatan ini digelar BNPB di Pusdiklat Penanggulangan Bencana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
SDMT angkatan ke-3 yang diikuti 68 Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia ini dibuka Kepala BNPB Letjen TNI Dr Suharyanto dan ditutup Sekretaris Utama BNPB, Dr Rustian.
Dalam sambutannya, Kepala BNPB menegaskan, Indonesia merupakan salah satu dari 35 negara dengan tingkat potensi risiko bencana tertinggi di dunia, dan peringkat keempat negara dengan paparan bencana tertinggi di dunia.
Bahkan, menurutnya, dunia internasional menjuluki Indonesia sebagai “laboratorium bencana”. Predikat itu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, melainkan menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan dalam penanggulangan bencana.
Karenanya, Suharyanto menekankan pentingnya peningkatan kapasitas para pemimpin penanggulangan bencana di daerah, untuk membaca situasi secara cepat dan tepat, serta mampu mengambil keputusan terukur saat menghadapi kondisi darurat.
Berbagai materi dan praktik diberikan selama pelatihan SDMT, di antaranya tentang pengenalan sistem penanggulangan bencana, kepemimpinan saat krisis, manajemen informasi & komunikasi kebencanaan, manajemen rehabilitasi & rekonstruksi, manajemen pengelolaan logistik & peralatan, hingga gladi posko.
Selain materi dan praktik, peserta SDMT juga memperkaya pola koordinasi dan komunikasi lintas sektor saat terjadi bencana di masing-masing daerah.
Bagi Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto, pelatihan SDMT ini sangat penting untuk mereview kembali pola penanganan bencana di masing-masing daerah, khususnya di Jatim.
Salah satu poin menarik dari kegiatan SDMT, menurut Gatot, adalah saat acara peninjauan ke berbagai lokasi untuk melihat success story penanganan bencana di berbagai bidang, salah satunya, pengolahan sampah pasca bencana di TPS Cijantung, Jakarta.
Di lokasi ini, Kalaksa BPBD Jatim bersama kelompoknya meninjau Motah, yakni, Mesin Olah Runtah (sampah) yang digunakan untuk pengolahan sampah pasca bencana, seperti, pasca banjir, longsor atau puting beliung.
Keunggulan mesin ini, tidak butuh listrik dan bahan bakar, suhu pembakaran tinggi dan ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan banyak asap.
“Ini salah satu teknologi yang bagus dan efisien. Teknologi ini sudah kami laporkan ke Ibu Gubernur. Rencananya, kita akan ujicobakan satu unit di Kabupaten Tuban,” ujar Kalaksa Gatot Soebroto.
Bagi Gatot, selain beberapa hal tersebut, banyak pengalaman dan pengetahuan penting yang didapat sepanjang pelaksanaan SDMT untuk diaplikasikan di daerah masing-masing.
“Namun yang terpenting, jangan pernah lelah belajar di posisi manapun Anda saat ini. Karena perubahan dan tantangan ke depan tidak semakin mudah. Jangan lupa juga, perbanyak jejaring kemitraan. Karena bencana tidak bisa ditangani sendiri oleh pemerintah. Butuh kolaborasi dengan berbagai unsur dan komunitas di masyarakat,” pesannya. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi