Sabtu, 18 April 2026, pukul : 23:38 WIB
Surabaya
--°C

Banjir Lamongan Meluas, Enam Kecamatan Terendam

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com)

SURABAYA-KEMPALAN:  Banjir yang melanda Kabupaten Lamongan sejak 17 Desember 2025 hingga kini masih terjadi dan bahkan meluas ke enam kecamatan. Tingginya debit Sungai Bengawan Solo membuat pintu air Bengawan Jeruh belum dapat dibuka sehingga genangan air belum surut.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menjelaskan, banjir di Lamongan sangat dipengaruhi kondisi air di Sungai Bengawan Solo yang masih tinggi.

“Selama debit Bengawan Solo masih tinggi, pintu Bengawan Jeruh belum bisa dibuka. Kalau sudah dibuka dan airnya menyusut, banjir di Lamongan pasti berkurang,” katanya di Surabaya, Jumat (13/3).

Wilayah Terdampak Bertambah

Ia menjelaskan, jumlah wilayah terdampak kini bertambah dari sebelumnya lima menjadi enam kecamatan. Enam kecamatan tersebut, yakni Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, Glagah, dan Karanggeneng.

Rinciannya, Kecamatan Kalitengah terdapat delapan desa terdampak, Kecamatan Turi sembilan desa, Kecamatan Karangbinangun delapan desa, Kecamatan Deket empat desa, Kecamatan Glagah sembilan desa, serta Kecamatan Karanggeneng tiga desa.

Menurut Gatot, posisi Lamongan yang berada di hilir Sungai Bengawan Solo membuat daerah tersebut sangat dipengaruhi kondisi hujan di wilayah hulu. Selama masih terjadi hujan di daerah sepanjang bantaran sungai, genangan di Lamongan berpotensi bertahan.

Pemprov Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca

Untuk mengantisipasi potensi hujan yang masih tinggi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkoordinasi dengan BMKG. Berdasarkan informasi BMKG, hujan masih berpotensi terjadi di wilayah Lamongan maupun daerah yang dilalui Bengawan Solo seperti Bojonegoro dan Tuban.

Atas kondisi tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memerintahkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 16–26 Maret 2026.

“OMC dilakukan untuk mengantisipasi wilayah rawan banjir maupun longsor selama masa angkutan Lebaran. Hujan akan dialihkan sementara ke laut agar tidak menimbulkan potensi bencana,” jelasnya.

Antisipasi Bencana Saat Arus Lebaran

Selain banjir, BPBD Jatim juga mengantisipasi potensi bencana lain seperti longsor di kawasan wisata pegunungan serta lahar dingin dari Gunung Semeru akibat hujan lebat.

BPBD Jatim telah menyiapkan Posko Tanggap Darurat di 38 kabupaten/kota serta Posko Induk di kantor BPBD Provinsi Jawa Timur untuk mempercepat koordinasi jika terjadi bencana.

Saat ini tidak ada warga yang mengungsi karena sebagian besar masih bertahan di rumah masing-masing. Ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 60 sentimeter, meski di beberapa wilayah mulai berangsur surut karena intensitas hujan berkurang.

BPBD Jatim juga menyiapkan alat berat bekerja sama dengan instansi terkait untuk mengantisipasi kemungkinan tanggul jebol maupun longsor selama musim hujan dan masa angkutan Lebaran. (Dwi Arifin)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.