Erupsi Semeru Berakhir, Kalaksa BPBD Jatim: Status Awas Masih Berlaku!
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto saat meninjau Posko Pengungsian Semeru. (Foto: Istimewa).
LUMAJANG-KEMPALN: Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim Gatot Soebroto menjelaskan bahwa erupsi Gunung Semeru sudah berakhir pada hari Rabu (19/11), pukul 19.56 WIB. Kendati demikian, status Awas masih diberlakukan.
“Pada pkl. 19.56 WIB getaran banjir sudah tidak terekam. Erupsi berakhir, namun status Awas tetap diberlakukan,” kata Gatot Soebroto dalam laporannya, Kamis (20/11).
Gatot menerangkan, pada hari Rabu, 19 November 2025 pukul 14.13 WIB, telah terjadi Awan Panas Guguran (APG) pada Gunung Api Semeru, Kab. Lumajang.
“Awan Panas Guguran pada pukul. 14.13 WIB hingga pukul 18.11 WIB, dengan Amplitudo Maksimum 45 mm, durasi 14.283 detik dengan luncuran lebih dari 13 km mengarah ke Tenggara Selatan (Besuk Kobokan,” ujarnya.
Pada pukul 19.56 WIB, lanjut Gatot, getaran banjir sudah tidak terekam dan erupsi berakhir, namun status Awas tetap diberlakukan.

Karena itu, Bupati Lumajang kemudian menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Semeru selama 7 hari. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Bupati Lumajang Nomor 100.3.3.2/595/KEP/427.12/2025.
Saat ini, kata Gatot, terdapat beberapa rumah warga Dsn. Sumbersari (wilayah kamar A) dan Dsn. Umbulan Sumbersari, Ds. Supiturang, Kec. Pronojiwo (wiilayah dekat dengan aliran lahar) mengalami kerusakan sedang hingga berat akibat banjir lahar.
Selain itu, terdapat 1 korban dengan luka bakar di bagian kaki, warga Dsn. Umbulan Sumbersari, Ds. Supiturang, Kec. Pronojiwo yang terjebak di dalam rumah, pada hari Kamis (20/11). Namun, korban berhasil dievakuasi dan dilarikan menuju RSUD Pasirian.
Gatot juga menyampaikan bahwa sebagian warga yang rumahnya aman telah kembali ke rumah masing-masing, namun warga yang berada di zona terdampak langsung masih memilih bertahan hingga kondisi lebih stabil.
Sementara itu, Tagana Dinsos Kab. Lumajang telah membuka Dapur Umum di Balai Desa Sumberurip, Kec. Pronojiwo, dengan menyiapkan 200 nasi bungkus untuk pagi ini.
Sedang PMI Kab. Malang membuka Dapur Umum di Balai Desa Oro-Oro Ombo, Kec. Pronojiwo, dengan menyiapkan 300 nasi bungkus. “Pendakian Gunung Semeru Ditutup Sementara,” tegas Gatot.
Data Pengunsi
Berdasarkan data yang masuk, saat ini di Kec. Pronojiwo tersebar di beberapa tempat. Di
Balai Desa Oro-Oro Ombo jumlah pengungsi ada 5 jiwa. Di SDN 04 Supiturang tercatat ada 64 jiwa, dan di Masjid Ar-Rahmah, Ds. Oro-Oro Ombo nihil (warga terlaporkan sudah pulang ke rumah masing-masing). Dan di Masjid Nurul Jadid, Ds. Supiturang tercatat ada sekitar 115 jiwa.

Sementara di Kec. Candipuro, tercatat ada 7 jiwa di SDN 02 Sumberurip, lansia 2 jiwa, dan ibu hamil 1 jiwa. Sedang di Kantor Kecamatan Candipuro tercatat ada 101 jiwa, rumah kepala Desa Sumbermujur terdapat 55 jiwa, masing-masing dewasa 23 jiwa, anak-anak 28 jiwa, dan balita 4 jiwa. Total jumlah pengungsi sekitar 346 jiwa (data sementara).
Selain itu, ada tiga korban yang mengalami luka bakar, yakni Hosen (L/44), warga RT.10/RW.04 Dsn. Umbulan Sumbersari, Ds. Supiturang, Kec. Pronojiwo. Saat ini dirawat di RSUD Pasirian (korban akibat banjir lahar Gunung Semeru dan terjebak di dalam rumah).
Kemudian Haryono (L/49), warga Dsn. Maron, Ds. Maron, Kec. Banyakan, Kab. Kediri. Korban dirawat di RSUD Haryot (korban tergelincir tumpukan material panas saat melintas di sekitar Gladak Perak).
Satu lagi Normawati (P/42), warga Dsn. Maron, Ds. Maron, Kec. Banyakan, Kab. Kediri. Dia dirawat di RSUD Haryoto (korban tergelincir tumpukan material panas saat melintas di sekitar Gladak Perak)
“Untuk rumah rusak sedang – berat di Dsn. Sumbersari (wilayah kamar A) dan Dsn. Umbulan Sumbersari, Ds. Supiturang, Kec. Pronojiwo, saat ini sedang dalam proses pendataan,” kata Gatot.
Rencana pada hari Kamis(20/11), Tim TD (Tanggap Darurat) Badan Geologi menerjunkan tambahan personel ke PPGA Semeru guna mendukung peningkatan kegiatan pemantauan serta respons terhadap aktivitas vulkanik yang sedang berlangsung,” pungkasnya.(dwi arifin)









