Keheningan Kreatif dan Hujan Kasih
Oleh: Yudi Latif
KEMPALAN: Saudaraku, kota-kota ketidakbahagiaan bersitumbuh di tengah gebyar lahir kemajuan. Kehidupan metropolitan dirasuki kelimpahan kesepian (loneliness), namun paceklik keheningan (solitude). Kesepian menandakan kerapuhan, sedang keheningan memancarkan keteguhan.
Jalan spiritual sejatinya bukan jalan pelarian dari kesepian – yang melahirkan ekspresi keagamaan yang eksesif, melainkan jalan kreatif keheningan dalam menjinakkan keriuhan dan ketidakpastian.
Bahwa untuk penjernihan dan penguatan, kita harus menghikmati keheningan. Jalaluddin Rumi berkata, “Hening adalah lautan. Ucapan adalah sungai. Saat lautan mencarimu, jangan melangkah memasuki sungai. Dengarkanlah lautan.”
Keheningan adalah relung pemurnian dan pemulihan jiwa. Dalam hening, rohani menyuling inspirasi, memulihkan daya cipta. Tanpa keheningan agung tersebut tak mungkin dilahirkan karya agung.
Hanya dalam hening, Tuhan sebagai bahasa kebenaran punya ruang untuk hadir di relung hati, menemani kita dalam sunyi. Bunda Teresa berkata, “Tuhan adalah karib kesunyian. Pepohonan, bunga, dan rerumputan tumbuh dalam kesunyian. Tengok juga bintang, bulan, dan matahari, semua bergerak dalam sunyi.”
Saat kata-kata tak membuat orang saling memahami, lebih baik berpaling pada keheningan. Keheningan mengendapkan buih kata-kata menjadi inti makna; mengurai benang kusut jadi tali ikatan. Keheningan mendekatkan manusia pada kebenaran ketimbang kebisingan verbalisme yang menjauhkan orang dari kesejatian, bahkan dari kejujuran nuraninya sendiri.
Dalam hening, menghikmati kesunyian, manusia modern punya harapan untuk keluar dari kemiskinan spiritual.
Dalam hening kesunyatan, kebatinan mikrokosmos menyatu dalam kebatinan makrokosmos; tak ada oposisi, kesenjangan, dan perbedaan antara ego dan kosmos: bahasa jiwa merupakan vibrasi semesta.
Dalam hening ada bening. Dalam bening ada eling.
Hujan Kasih
Saudaraku, sekali hujan turun, rerumputan kering menghijau kembali. Ketulusan memberi dan melayani menumbuhkan spontanitas daya bangkit bagi semesta kehidupan.
Mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri adalah kaidah emas bagi kebahagiaan hidup.
Kebahagiaan tertinggi tak dapat direngkuh melalui penumpukan kenikmatan, melainkan dalam penemuan makna yang membuat hidup layak dijalani.
Manusia dianugerahi kesadaran yang menjadikannya pencari makna. Dengan itu, manusia bukan hanya merasakan hidup, tetapi juga menyadari kebingungan, penderitaan, dan tragedi yang menyertainya.
Tanpa makna yang lebih dalam, kesadaran ini bisa menjadi beban yang menekan batin dan menjerumuskannya ke lembah putus asa. Karena itu, kesadaran perlu ditambatkan terhadap sesuatu yang melampaui diri, di sanalah makna hidup menjelma melalui welas asih.
Ketulusan welas asih yang dipancarkan para dermawan, relawan sejati, dan para pamong teladan ibarat tetes hujan yang jatuh di tengah kemarau etika dan rasa kemanusiaan.
Pelayanan mereka menyirami kembali kebun kehidupan yang lama mengering oleh keserakahan, korupsi, penimbunan harta, dan tabiat mementingkan diri sendiri, saling membohongi, mengkhianati, dan membenci.
Dalam impitan kesulitan yang melilit kehidupan rakyat, para pemuka bangsa dituntut untuk mawas diri.
Dari mawas diri akan tampak bahwa terhambatnya kebahagiaan warga kerap bersumber dari tabiat elit yang terjebak dalam suatu kebahagiaan rendah – kebahagiaan semu yang lahir dari rangkaian ambisi dan kerakusan yang tak kenal henti.
Sejarah etika umat manusia telah lama memberi peringatan. Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang dikenang karena kesederhanaan dan keadilannya, menegaskan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang hidup paling megah, melainkan mereka yang paling sedikit melukai rakyatnya.
Ketika kekuasaan gagal menghadirkan keadilan, menahan diri dari kezaliman menjadi bentuk tanggung jawab moral yang paling mendasar.
Pemimpin tulus bekerja bak hujan berkah: menghidupkan kembali bumi dari kematiannya. Keteladanan semacam ini memantik kepercayaan publik perlahan pulih.
Berkat pulihnya kepercayaan dan harapan rakyat, musim bunga kebagiaan bisa disongsong.
*) Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi