Kahfi Rossi (kiri) foto bersama pemain Myanmar sebelum latihan. (Foto: Istimewa).
SURABAYA-KEMPALAN: Demi menggapai mimpi menjadi pemain sepak bola profesional, Kahfi Rossi rela terbang dari Kota Buaya, Surabaya, menuju Negeri Gajah Putih, Thailand.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya ini bahkan mengambil cuti satu semester untuk fokus menjalani trial di luar negeri.
“Saya sengaja mengambil cuti satu semester dan pihak kampus mengizinkan,” kata Rossi saat ditemui menjelang keberangkatannya ke Thailand.
Ia mengaku belum memiliki bekal finansial yang cukup jika harus tinggal lama tanpa kepastian klub. Namun, bagi Rossi, doa orang tua dan teman-temannya sudah lebih dari cukup.

Kahfi Rossi di Kantor Federasi Sepak Bola Thailand.
“Bekal saya cuma doa dari kedua orang tua dan teman-teman. Buat saya itu sudah cukup,” ujarnya.
Selama berada di Thailand, seluruh biaya hidup Rossi ditanggung oleh Romanus, termasuk tiket pulang-pergi Surabaya–Thailand dan transportasi lokal.
Nama “Rossi” Terinspirasi Legenda MotoGP
Ayah Rossi, Haroen, mengungkapkan nama lengkap putranya adalah Muhammad Kahfirossi Satria Hantaliandy. Ia lahir 12 Agustus 2006 di Gunung Anyar, Rungkut, Surabaya.
Nama “Rossi” merupakan usulan sang kakak, Kafila Besar Ramadhan Hantaliandy, yang merupakan penggemar berat Valentino Rossi.
“Kebetulan kakaknya penggemar berat Valentino Rossi, pembalap MotoGP asal Italia,” ujar Haroen.
Semasa SMP, Rossi sempat menunjukkan ketertarikan besar pada dunia otomotif. Motor yang dibelikan orang tuanya kerap dibongkar dan dimodifikasi agar melaju lebih kencang.
Namun, kecintaannya pada sepak bola akhirnya lebih dominan, mengikuti jejak sang ayah dan kakaknya yang juga berkecimpung di dunia si kulit bundar.
Dukungan penuh juga datang dari sang ibu, Cinta Amalia, yang setia mendampingi sejak Rossi menimba ilmu di sekolah sepak bola (SSB).
Perjuangan Turunkan Berat Badan
Rossi mulai menekuni sepak bola sejak kelas tiga SD dengan bergabung di SSB Rungkut FC. Awalnya ia berposisi sebagai penjaga gawang. Namun, setelah mengalami kenaikan berat badan drastis hingga mencapai 94 kilogram saat kelas dua SMP, ia sempat dilanda kegelisahan.
Tekad menjadi pemain profesional membuatnya menjalani latihan ekstra dan diet ketat. Ia rutin jogging di lapangan KONI Jatim dan Gelora Pancasila (THOR), serta menjalani latihan push up, skipping, dan juggling di bawah bimbingan pelatih Setiawan.
“Alhamdulillah, bobot Rossi akhirnya turun. Sekarang 75 kilogram dengan tinggi 176 sentimeter,” tutur Haroen.
Gagal di Banyak Seleksi
Kariernya terus berkembang saat bergabung dengan kelompok usia Persebaya Surabaya U-15. Di sana, pelatih Totok Risantono memuji tendangan kerasnya yang disebut mirip mendiang Eri Irianto, legenda Persebaya Surabaya yang dikenal dengan tendangan “geledek”.
Selain itu, Rossi dikenal memiliki kemampuan long passing yang baik dan kerap dipercaya sebagai eksekutor bola mati. Ia juga pernah memperkuat Persebaya Suratin U-17 dengan berbagai posisi, mulai bek kanan, sayap, gelandang bertahan, gelandang serang, hingga striker.
Perkembangannya semakin matang ketika mendapat sentuhan pelatih Fakhri Husaini yang dikenal tegas dalam membentuk karakter pemain muda.
Namun, perjalanan Rossi tidak selalu mulus. Ia beberapa kali gagal di tahap akhir seleksi, termasuk seleksi Timnas U-16 zona Surabaya, Bhayangkara U-15 dan U-18, hingga Diklat Jatim. Alasan yang kerap muncul adalah persoalan berat badan.
“Hampir semua seleksi diikuti Rossi, tapi pada tahap akhir selalu dinyatakan gagal. Alasannya hampir semua karena berat badan,” jelas Haroen.
Trial di Liga 3 Thailand
Kini, Rossi memilih mengambil langkah berani dengan menjalani trial di Thailand. Salah satu klub yang akan ia coba adalah Minburi City FC yang berlaga di Liga 3 Thailand.
Sebagai orang tua, Haroen dan istrinya hanya bisa mendoakan yang terbaik. Meski demikian, kepergian Rossi meninggalkan duka tersendiri bagi sang ibu.
“Hampir tiap hari ibunya menangis. Sejak bayi sampai dewasa tidak pernah berpisah. Apalagi Rossi sangat manja dengan ibunya,” pungkas Haroen.
Kini, dari Kota Buaya menuju Negeri Gajah Putih, Kahfi Rossi membawa satu tekad: membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir dari perjuangan, melainkan batu loncatan menuju mimpi. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi