Minggu, 3 Mei 2026, pukul : 04:53 WIB
Surabaya
--°C

MBG: Miskin, Bodoh, dan Gemoy

Terutama ketika rakyat dalam keadaan bodoh dan miskin sambil kesenangan menikmati lantunan ok gas, ok gas. Asyik memang asyik. Gemoy banget dan kisah negeri di antah berantahnya tak bersambung, cukup sampai di sini.

Oleh: Yusuf Blegur

KEMPALAN: Miskin, bodoh, dan gemoy (MBG) itu bukan sebuah program. Tapi, menyatunya orang dan sistem dalam niat jahat yang mengorbankan rakyat dan Negara.

Ini cerita tentang tentang negeri unik di antah berantah. Diangkat dari kisah yang bukan kejadian nyata tapi juga bukan fiksi. Mungkin saja hanya sekadar imajinasi walau berasal dari perenungan realita.

Drama keseharian yang bersumber dari negeri para pemimpin penuh ilusi. Anggap saja sedang bertutur mengungkapkan angan-angan atau lamunan antara ada dan tiada.   Begitulah sejak awal terurai deskripsi dongeng logikanya. Tetap santai, ringan, dan sesekali absurd.

Alkisah, di sebuah negara yang pemerintahannya merangkap sistem presidensial dan monarki sekaligus komunis. Kenapa tiga rangkap? Karena sistemnya campur aduk, ada agama, kapitalisme dan atheisme.

Ada konstitusi praktiknya hukum rimba. Demokrasi sarat dengan transaksi dan terasa kental oligarki. Nilai-nilai Pancasila hilang dihempas gelombang asusila. Kehidupan para pemimpin dan rakyatnya nyaris tak pernah berhenti dari kegaduhan. Sering terlihat pemimpin yang berulah konyol. Namun seiring itu, tidak jarang rakyatnya juga berperilaku kurang afdol.

Pucuk pimpinannya dipilih karena memiliki skil joged yang mumpuni, hobi ngoceh alias omon-omon, dan kelincahan yang dipaksa menutupi kerentaan fisiknya. Menyebut dirinya sendiri dengan diksi gemoy.

Hasil pemilihannya pun lahir dari proses tipu daya yang memesona. Sementara itu di lain sisi, rakyatnya gemar mendapat hadiah dan oleh-oleh secukupnya, namun rela dan ikhlas menukar miliknya yang lumayan bernilai.

Sepertinya, ada prinsip dan tradisi kuat yang mengakar lama berupa asal rakyat senang, bukan asal bapak menderita.

Saban hari pemimpin alias penguasa negeri pesta-pora. Rakyatnya juga terlihat seolah-olah ikut bergembira. Meskipun kenyang dengan pajak, berlimpah aturan, dan bekerja bagai Samson di musim Rodi dan Romusha zaman baheula.

Bagai disiplin dan konsisten mengikuti ajaran lama berupa langkah rakyat adalah penderitaan, sedangkan jalan pemimpin adalah kebahagiaan dan kemasyhuran.

Rakyat sepertinya tidak ingin rumit dalam memilih dan memiliki pemimpin. Ngga butuh intelektual yang penting bisa membual. Juga ngga perlu tegas yang penting modal buas dan beringas. Ngga penting amanah dan adil, cukup pidato sambil mengancam dan marah-marah, selanjutnya bikin rakyat takluk dengan bedil.

Begitupun juga dengan rakyatnya, yang penting bisa makan, apapun makanannya. Makanan bergizi boleh, makanan beracun pun juga tidak dilarang. Masa bodoh dengan halal haramnya. Jika perlu makan sampai mati.

Pendidikan bebas juga, ganti-ganti kurikulum dengan anggaran minim dipotong-potong juga ngga masalah.

Rakyat dikasih makan seadanya tapi lapangan kerja sempit, bergantung seperti pengemis yang lama-lama sakit sampai tak sanggup lagi hidup di dunia. Rakyat disuruh sekolah setingi-tingginya tapi keilmuannya tidak dihargai, lalu putus asa dan kabur ke luar negeri mencari penghidupan yang layak tanpa gelar nasionalis dan patriotis.

Korupsi sambil menghipnotis rakyat dengan iming-iming dan janji kesenangan. Penguasa tak selalu menggunakan pendekatan kekerasan dan tangan besi. Cukup manipulatif memanfaatkan psikopolitik rakyat yang butuh hiburan, kenyamanan dan kepercayaan.

Segala cara dilakukannya, mulai dari konspiratif merangkul gerakan kritis hingga menggandeng artis untuk meyakinkan rakyat bahwa penguasa tersebut baik. Kini pemimpin punya banyak cara mengamankan kekuasaannya dan korupsinya. Bisa represif, bisa juga elaboratif dan kolaboratif.

Negeri di antah berantah memang unik, janggal dan penuh begal. Kisahnya tidak pernah habis untuk menampilkan dagelan sekaligus  ironi. Semua hal yang terjadi penuh rekayasa, dramatis namun miris dan tragis.

Rakyat bukanlah siapa-siapa, hanya bisa menjadi keset dari alas kaki penguasa. Sedangkan pemimpinnya adalah sesuatu yang penting, utama, dan previllage. Seseorang secara individu maupun berkelompok bisa sesuka hati menjadi tak manusiawi.

Terutama ketika rakyat dalam keadaan bodoh dan miskin sambil kesenangan menikmati lantunan ok gas, ok gas. Asyik memang asyik. Gemoy banget dan kisah negeri di antah berantahnya tak bersambung, cukup sampai di sini.

Dan, berakhir, sebentar lagi.

*) Yusuf Blegur, Kolumnis dan Mantan Presidium GMNI

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.