Rabu, 1 Juli 2026, pukul : 23:01 WIB
Surabaya
--°C

Hidup itu Mengalir Bersama, Bertumbuh Bersama

KEMPALAN: Kehidupan tidak pernah berdiri di atas satu kaki. Ia selalu bertumpu pada lebih dari satu kekuatan. Tidak ada manusia yang menjadi utuh sendirian. Tidak ada lembaga yang kokoh tanpa kerja bersama. Dan tidak ada kota yang maju jika warganya berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, hidup sejatinya adalah kolaborasi.
Kita sering terpesona pada hasil. Pada capaian. Pada gelar dan posisi. Padahal yang paling menentukan kualitas diri seseorang bukanlah hasil akhirnya, melainkan proses yang dijalani.

Proses itu seperti fase bulan. Saat sabit, ia belum bulat. Saat separuh, ia belum sempurna. Namun justru dalam perjalanan menuju purnama itulah keindahannya terletak.

Bulan tidak melompat dari gelap menjadi bulat penuh. Ia tumbuh perlahan. Ia menerima setiap fase. Ia tidak tergesa-gesa.
Begitu pula manusia.
Kematangan lahir dari penempaan. Kedewasaan lahir dari pengalaman.

Kenikmatan sejati bukan hanya pada pencapaian, tetapi pada perjalanan yang membentuk diri menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bijaksana.

Beberapa waktu lalu, Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya digelar di Gedung Balai Pemuda, (14/2/2026). Ada yang mempertanyakan mekanismenya. Ada yang merasa kurang puas. Ada suara-suara yang muncul dari luar ruang sidang.

Itu hal yang wajar.
Setiap orang membawa sudut pandang masing-masing. Usia berbeda, pengalaman berbeda, kepentingan berbeda, maka tafsirnya pun berbeda.

Saya sendiri menjadi salah satu dari 114 peserta yang dinyatakan memenuhi syarat administrasi. Setelah itu kami diminta menulis esai seribu kata. Lalu mengikuti voting.

Dari sana terpilih 23 orang untuk kembali diuji oleh tim fasilitator. Sebagian orang bertanya, mengapa setelah voting masih ada seleksi lagi? Bukankah voting sudah cukup?

Pertanyaan itu sah. Tetapi dalam banyak proses kelembagaan, seleksi berlapis adalah hal biasa.

Voting adalah bagian dari mekanisme, bukan garis akhir. Dalam dunia profesional, tahapan seperti ini lazim dilakukan untuk memastikan kualitas dan kesesuaian peran.

Kita boleh berbeda pendapat. Tetapi alangkah baiknya jika perbedaan itu diletakkan dalam kerangka memahami sistem, bukan sekadar menilai dari luar.

BACA JUGA  Guru Besar ITS Gaungkan Urgensi Manufaktur Berkelanjutan bagi Industri

Kedewasaan bukan berarti selalu sepakat. Kedewasaan adalah kemampuan menerima kenyataan tanpa buru-buru menyalahkan.

Lalu muncul pertanyaan lain: jika keputusan akhir tetap berada di tangan wali kota, bagaimana sikap yang tepat?

PERINTAH UNDANG UNDANG

Saya menjawab dengan satu kata sederhana, “Ngintir.”

Ngintir bukan hanyut tanpa arah. Ngintir adalah mengikuti alur dengan kesadaran penuh. Kita tau ke mana air mengalir, kita memilih berjalan bersamanya, tetapi tetap sadar dan tegak.

Kita hidup dalam negara hukum. Ada Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 5 A Tahun 1993 tentang pembentukan Dewan Kesenian Daerah.

Ada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menjadi payung hukum pemerintah daerah untuk memfasilitasi peran masyarakat dalam kebudayaan.

Artinya, pemerintah kota memiliki kewenangan dalam membentuk, mengubah, atau mentransformasikan lembaga kebudayaan. Itu adalah bagian dari tanggung jawab administratif dan politik pemerintahan.

Memahami konteks ini penting agar kita tidak salah tafsir. Musyawarah bukan sekadar ajang perebutan posisi, melainkan bagian dari proses membangun instrumen kebudayaan yang selaras dengan kebijakan kota.

Pada titik inilah makna kolaborasi diuji. Selama puluhan tahun saya menyaksikan dinamika Dewan Kesenian Surabaya.

Banyak energi besar di dalamnya. Banyak talenta. Namun sering kali berjalan sendiri-sendiri. Komunitas hidup menurut iramanya masing-masing.

Akibatnya, banyak yang kuat di lingkungannya sendiri, tetapi tidak tumbuh menjadi kekuatan bersama bagi kota.

Surabaya tidak kekurangan orang berbakat. Yang sering kurang adalah sistem yang terdata dan terarah.

Jika mau serius, langkah pertama adalah pendataan yang akurat: siapa seniman, siapa pekerja seni, siapa perajin.

Dari situ bisa disusun program pembinaan yang tepat. Bisa dirancang skema pengembangan sumber daya manusia. Bisa dibuat tolok ukur melalui pesta kesenian kampung setiap peringatan hari jadi kota.

Tanpa data, kebijakan mudah menjadi wacana. Tanpa kerja bersama, potensi besar hanya menjadi cerita.

BACA JUGA  RSJ Menur Direbranding Jadi RSD Prof dr Moeljono, Layanan Makin Diperluas

Kolaborasi berarti duduk bersama. Berbagi peran. Mengurangi ego.
Ia seperti dua telapak tangan yang hendak bertaut. Masing-masing harus rela mengurangi sedikit ruangnya.

Kalau keduanya kaku dan tidak mau bergeser, tidak akan pernah terjadi genggaman yang utuh.

Begitu pula dalam dunia kebudayaan. Tidak mungkin satu kelompok merasa paling benar, sementara yang lain dipinggirkan.

Tidak mungkin satu generasi merasa paling senior tanpa memberi ruang kepada yang muda. Dan yang muda pun tidak bisa tumbuh tanpa menghormati pengalaman yang lebih dahulu menapaki jalan.

Dalam perjalanan berkesenian, ada tahapan yang perlu disadari. Tahap pertama adalah keterampilan. Orang menguasai teknik, panggung, karya. Itu penting. Namun belum cukup.

Tahap berikutnya adalah intelektualitas. Di sini seseorang mulai membaca zaman, memahami konteks, dan berpikir kritis.

Tahap puncaknya adalah spiritualitas. Bukan dalam arti sempit, tetapi kesadaran batin bahwa karya bukan hanya untuk diri sendiri. Bahwa kemampuan yang dimiliki adalah titipan untuk diabdikan bagi kehidupan.

Jika masih di tahap keterampilan, kita cenderung sibuk menunjukkan diri membanggakan eksustensi.
Jika sudah matang secara intelektual dan spiritual, kita hadir untuk memberi manfaat. Itulah fase esensial

Kolaborasi hanya mungkin terjadi jika orang-orangnya memiliki jiwa pelayan. Bukan jiwa penguasa. Jiwa pelayan berarti siap bekerja untuk komunitas, bukan sekadar untuk nama pribadi.

Kehidupan tidak pernah meminta kita menjadi sempurna seketika. Ia hanya meminta kita bertumbuh bersama.

Seperti bulan yang tidak keberatan memulai dari sabit kecil. Seperti dua telapak tangan yang rela merapat untuk saling menguatkan.

Kita tidak hidup untuk berjalan sendiri. Kita hidup untuk saling melengkapi.
Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah kota bercahaya bukanlah satu bintang yang paling terang, melainkan langit yang dipenuhi cahaya yang saling menyinari.

Di situlah arti kolaborasi:
Mengalir bersama.
Bertumbuh bersama.
Menerangi bersama.

Esai:
Rokimdakas
16 Februari 2026

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.